
"Marko, saya tidak jadi kembali ke kantor, handle semua pekerjaan hari ini!"
"Tapi bos? ini kolega kita sudah di ruangan meeting, bukankah hari ini ada meeting yang bos cancel karena bos liburan ke Swiss minggu lalu? mereka sudah datang jauh-jauh dari Eropa"
Hendri menarik nafas panjang, berfikir sejenak
"Baiklah jika begitu"
"Oke bos"
Hendri segera masuk kedalam rumah, menemui Alika yang sedang menceritakan kejadian yang menimpanya pada bibi Ning
"Sayang, papi kembali kekantor, ya?"
Alika mengangguk
"Di rumah saja, ada pak Yohannes dan juga pak Puji di rumah ini, jadi Alika nggak usah takut"
"Iya pi"
Setelah mengecup kening anak bungsunya dengan sayang, Hendri bergegas kembali ke mobilnya
Dan ketika melewati pak Yohannes dan pak Puji, Hendri menurunkan kaca mobilnya
"Bakar paket itu, jangan bilang apa-apa pada Khayla"
"Baik tuan"
Hendri menaikkan kembali kaca mobilnya, lalu segera tancap gas
"Ya Tuhan kenapa harus ada meeting hari ini" keluhnya di tengah perjalanan
Sekitar setengah jam karena jalanan macet, akhirnya Hendri sampai juga kembali di kantornya
Dan sama seperti sebelum-sebelumnya, karyawannya akan menundukkan kepala ketika melihat Hendri
Hendri langsung masuk kedalam lift, menekan angka lantai ruang meeting, tak menunggu waktu lama, lift telah berhenti dan Hendri bergegas keluar dari lift, kembali berjalan dengan tegap dan sedikit angkuh menuju ruang meeting
Benar yang dikatakan Marko, di dalam ruangan tersebut telah ada lima orang koleganya, yang begitu Hendri masuk langsung berdiri dan mereka saling berjabat tangan
Setelah Hendri mengungkapkan permintaan maafnya karena terlambat dan juga kembali meminta maaf karena meeting yang sempat di cancel, akhirnya meeting segera di mulai
Hendri langsung fokus memimpin meeting hari itu. Seluruh laporan mega proyek kerja sama mereka dengan para investor langsung dilaporkannya dengan detail, lengkap dengan keuntungan yang akan didapatkan mereka yang akan langsung Hendri transferkan hari ini juga
Penjelasan dilanjutkan oleh Marko, dan pada sesi tanya jawab baik Marko dan Hendri semuanya bahu membahu menjelaskan pada para investor
Saat Marko sedang menjelaskan, hp Hendri berdenting tanda pesan masuk. Hendri mengerling sekilas kearah hpnya
"Bibi Niluh?" batinnya
Dengan cepat diambilnya hp tersebut, dan segera dibukanya pesan yang dikirimkan bibi Niluh
Hendri tanpa sadar tersenyum ketika dilihatnya pada foto yang dikirim bibi Niluh, di sana terdapat gambar Linda, saat itu Linda sedang bersandar pada dinding kolam renang, bagian atas tubuhnya saja yang terlihat
"Bagaimana bos?" tanya Marko yang membuyarkan perhatian Hendri pada hp yang saat ini dipegangnya
"Apa?, oh itu.. Iya"
Lalu Hendri kembali dengan lugas menambahi keterangan Marko yang membuat Marko tersenyum dalam hati karena berhasil membuat bos nya kembali fokus
Ternyata foto Linda yang dikirimkan bibi Niluh adalah mood booster tersendiri untuk Hendri, dia menjadi lebih semangat dari tadi dan itu jelas sekali terlihat oleh Marko
Dua jam meeting tak berasa apa-apa buat Hendri, dirinya kembali semangat, dan lupa akan kejadian teror yang menimpa kedua anaknya hari ini
...----------------...
Secepat kilat Khayla dan Mutiara turun dari mobil, dan langsung berlari masuk kedalam rumah
Tujuan mereka berdua sama, kamar Alika
Secara berebutan keduanya membuka kamar Alika, dan mereka dapati jika adik bungsu mereka tengah tidur siang
Keduanya lalu berjalan pelan kearah ranjang Alika, Khayla dan Mutiara sama-sama meletakkan tas mereka di lantai lalu masih dengan pelan keduanya mengusap kepala dan kaki Alika
Alika refleks membuka matanya dan langsung memeluk erat Khayla yang tengah mengusap kepalanya
"Adik takut kak...." lirihnya
Mutiara membuang mukanya mendengar suara ketakutan yang keluar dari mulut Alika
Sedangkan Khayla mengusap-usap punggung Alika sambil menciumi pelipisnya
__ADS_1
Tanpa diminta, Alika langsung menceritakan kejadian yang menimpanya juga pada kardus yang dilihatnya di depan
"Adik tahu apa isinya?"
Alika menggeleng
"Papi nyuruh aku masuk, jadi aku nggak tahu isinya apa"
Khayla dan Mutiara saling toleh
"Ya sudah, kakak berdua mau ganti baju dulu, ya?"
Alika mengangguk lalu menatap kepergian kedua saudarinya, setelah kedua saudarinya keluar Alika segera merebahkan tubuhnya lagi
Ternyata Khayla dan Mutiara yang keluar dari kamar Alika tidak memilih masuk ke kamar mereka, keduanya langsung berjalan kearah pos keamanan
Tiga bodyguard dan pak Puji yang tampak mengobrol serius langsung diam ketika melihat kedua gadis cantik itu mendekat
"Ya nona?" sapa pak Puji
Mutiara yang wataknya mirip Hendri menatap dingin kearah pak Puji dan pak Yohannes
"Paket apa kata Alika tadi?"
Dua orang itu saling toleh, bahkan dua bodyguard yang baru pulang yang mengetahui cerita dari pak Yohannes dan pak Puji hanya bisa diam
"Tidak ada nona, hanya paket biasa"
Mutiara makin menatap pak Puji dengan dingin
"Yakin?"
"Iya nona"
"Mana paketnya?"
"Sudah kami bakar nona"
"Bakar?"
Khayla bertanya dengan nada kaget
Khayla menganggukkan kepalanya tapi tidak dengan Mutiara
"Kalian bakar dimana?"
Pak Puji dan pak Yohannes menelan ludahnya
"Di belakang nona, tapi semuanya telah jadi abu"
Mutiara melirik kearah Khayla yang tampak tertegun
"Gimana kak?, mau lihat?"
"Nggak lah dek, untuk apa juga"
Ketiga bodyguard dan juga pak Puji menarik nafas lega
"Kok kalian kaya lega gitu?" Mutiara cepat bereaksi
"Nggak nona, kami lega karena yang dikatakan nona Khayla itu benar"
Mutiara hanya menaikkan alisnya lalu mengajak kakaknya masuk kembali ke dalam rumah
"Apa hasil cctv?" tanya pak David
"Di sana terlihat jika tadi ada pemulung yang menurunkan kardus tersebut dari gerobaknya"
"Pemulung?"
"Kayanya sih gitu"
"Nggak yakin saya"
"Kita harus ekstra waspada sekarang, karena dua teror hari ini mengincar kedua anak bos"
Yang lain mengangguk mendengar ucapan pak Yohannes
...----------------...
Hendri yang begitu selesai meeting, bercengkerama sebentar dengan pada koleganya sebelum rombongan itu kembali ke hotel masing-masing
__ADS_1
Dan ketika para koleganya kembali, Hendri kembali membahas hasil meeting mereka pada Marko
Selesai dari sana barulah dia menghubungi ketiga bodyguard anaknya
"Bagaimana, sudah dapat informasi siapa yang meneror kedua anakku?"
"Ini masih kami selidiki bos, kami juga telah melibatkan beberapa pihak termasuk detektif profesional untuk mengungkap kasus ini"
"Bahkan, kami juga telah bergerak mencari pemulung yang meletakkan kardus di depan pagar"
"Baguslah, cepat selesaikan, saya tidak ingin masalah ini berlarut-larut"
"Baik bos, secepatnya akan kami selidiki"
Hendri lalu meletakkan hp, mengusap sebentar wajahnya lalu meletakkan kepalanya ke sandaran kursi, berusaha merilekskan otaknya
"Linda....." desisnya
"Ah, mengapa aku jadi kepikiran terus dengan perempuan itu, dulu aku sama sekali tidak mencintainya, aku hanya kasihan pada nasibnya, tapi kini aku semakin tergila-gila padanya"
Sambil bergumam demikian, Hendri meraih hp lalu menghubungi nomor Linda
Aku yang sedang berada di ruang tivi, menoleh kearah bibi Niluh yang juga duduk di sebelahku
"Tolong bik, hp ku sepertinya berbunyi"
Bibi Niluh yang sedang fokus menatap layar hp segera beranjak masuk kedalam kamar
"Ya mas?" jawabku setelah hp berada di tanganku
Hendi tersenyum senang ketika suara lembut Linda menyapa telinganya
"Tidak ada apa-apa, mas ke pikiran saja sama kamu"
Aku tersenyum
"Belum pulang?"
"Nanti, mas masih banyak kerjaan, mungkin lembur"
Aku ber O panjang mendengar jawaban Hendri
"Anak mas nggak nakal kan?"
Kembali aku tersenyum
"Tidak, dia sedang menghitung hari kapan akan bertemu dengan papinya lagi"
Hendri menarik nafas panjang mendengar jawaban manja Linda
"Secepatnya mas akan kesana, oh iya, jangan sering-sering berenang, mas takut kaki kamu sakit lagi"
Aku bengong, berpikir dari mana Hendri tahu jika aku berenang
"Mas tahu?" tanyaku sambil melirik kearah bibi Niluh yang kembali fokus menatap layar hp
"Iya, mas tahu, bibi Niluh tadi yang mengirim gambarnya"
Aku tersenyum
"Pengen aja berenang, lebih tepatnya mandi di kolam renang" jawabku lalu terkekeh
"Tapi kaki kamu?"
"Mas, kaki aku yang tidak berfungsi itu cuma yang sebelah kiri, yang kanan kan normal, jadi bisalah aku bawa masuk ke kolam, lagian aku jarang pakai kursi roda, aku lebih sering pakai tongkat"
"No, jangan Lin, bahaya, bagaimana jika kamu jatuh?"
Hendri seketika panik mendengar jawaban Linda
"Mas tahu tidak, bahwa wanita hamil itu dijaga dan didoakan oleh para malaikat, jadi mas jangan khawatir"
"Tidak, tidak, whatever you say mas tetap aja khawatir"
"Tahu gini nyesel aku ngasih tahu mas" jawabku dan langsung mematikan telepon
Wajahku langsung ku tekuk dan aku menggerutu
Dan Hendri yang masih protes hanya mampu menatap hp nya dengan bengong
"Mood wanta hamil....." lirihnya sambil tersenyum
__ADS_1