
"Mama kenapa tidak ikut pulang sama kita saja?"
Kulihat bagaimana wajah ketiga anakku murung ketika Hendri mengajak mereka pulang
Aku menggeleng, sekuat tenaga aku menahan air mataku
"Nanti mama pulang, tapi tidak sekarang ya sayang"
Ketiga anakku memelukku erat, dan air mata yang sejak tadi aku tahan akhirnya lolos juga jatuh berderai
"Mama kenapa tinggal disini, kan kita punya rumah?"
Ku usap kepala Roshan
"Karena disinilah tempat tinggal mama sekarang?"
"Tapi kenapa ma?" desaknya lagi
Aku menatap kearah Hendri yang membalas tatapanku dengan dingin
"Pulang ya nak, sekolah terus, jangan bolos lagi, dan satu lagi, dan ini paling penting, kalau ada orang asing yang ngajak kalian pergi kemana gitu, nggak usah mau, karena berbahaya"
Sambil berkata seperti itu aku menatap mata Hendri, menyindirnya
"Kalau uncle yang ngajak?"
Aku menggeleng
"Di dunia ini orang yang menyayangi kalian cuma mama, yang lainnya jahat semua"
"Jadi mama harap, kalian tidak pergi lagi sama orang asing, ya?"
Ketiga anakku menganggukkan kepala mereka dan kembali ketiganya kupeluk erat
Kucium seluruh wajah ketiga anakku saat akhirnya mereka keluar dengan di tuntun oleh Hendri
Aku terus menatap kepergian mereka dengan berdiri mematung di depan pintu
Hingga akhirnya mereka tak terlihat lagi, aku berlari kearah jendela dan melihat mereka dari atas
Kulihat ketiga anakku sudah masuk kedalam mobil, dan dengan segera Hendri menutup pintu mobil
Kulihat juga Hendri mendongakkan kepalanya ke arahku, lama dia menatap ke arahku sampai akhirnya dia juga masuk kedalam mobil dan segera keluar dari area hotel
Aku menarik nafas panjang ketika mobil Hendri tak terlihat lagi. Dan kembali air mataku mengalir
Sekuat tenaga aku menahan tangisku agar tak meledak kuat. Tapi tak bisa, aku sampai membekap bantal ke wajahku dan berteriak kencang
Sedih dan sakit sekali rasanya hatiku harus kembali berpisah dengan ketiga anakku
"Jahanam kamu Agung....!!" teriakku
Entah sudah berapa lama tangis ini pecah, sejak malam aku digadaikan Agung dengan Hendri maka sejak saat itulah air mataku mengalir setiap hari
Terlebih ketika Hendri selalu mengancam ku menggunakan ketiga anakku
Dan di perjalanan, Hendri yang mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang menatap ketiga keponakannya dari kaca spion
Dapat dilihatnya jelas jika wajah ketiganya murung bahkan ada air mata yang mengalir di pipi mereka
Hati Hendri jadi tak karuan melihat ketiga bocah itu menangis dalam diam
"Uncle janji, uncle akan bawa mama kalian pulang lagi ke rumah kalian"
"Uncle serius?"
Hendri mengangguk. Rihanna dan kedua adiknya menghapus kasar wajah mereka dan saling berpegangan tangan
Kembali hati Hendri trenyuh melihat ketiganya
"Masih ingatkan apa kata uncle?"
"Iya uncle" jawab Rihanna
"Jangan beritahu siapapun dimana keberadaan mama kalian, bahkan sama papa kalian, ya?"
"Kenapa papa nggak boleh tahu?"
Hendri menarik nafas dalam, tak mungkin untuknya memberitahu ketiga bocah ini jika mama mereka telah dijual oleh papa mereka padanya
__ADS_1
"Ya karena mama kalian nggak ingin papa kalian mengetahuinya"
"Gitu ya uncle?"
Hendri mengangguk
"Janji ya?"
"Iya uncle, kita janji"
Hendri kembali menarik nafas dalam dan kembali melajukan mobil menuju rumah kediaman Agung
"Nanti kalau papa kalian bertanya kalian ketemuan dengan mama dimana, jawab saja ketemu mamanya di mall, oke?"
"Oke, siap uncle"
Kembali Hendri memasang senyum segaris dan melajukan mobil yang kian mendekati rumah Agung
Benar saja, saat mobilnya masuk ke halaman rumah asri tersebut, Agung langsung berdiri di depan teras
Wajah Agung begitu dingin ketika dilihatnya ketiga anaknya turun dituntun Hendri
"Masuk!" ucapnya dingin pada ketiga anaknya ketika ketiga anaknya berdiri di depannya
Rahang Hendri langsung mengeras mendengar ucapan dingin Agung
"Dagh Uncle...." ucap ketiganya sambil memeluk Hendri sebelum mereka masuk
Hendri sambil mengusap kepala ketiganya menatap sinis kearah Agung yang memasang wajah marah
Setelah ketiga anaknya masuk, Agung langsung membalikkan badannya pula meninggalkan Hendri, tanpa sapa dan tanpa basa basi. Sebelum dia menutup pintu, kaki Hendri menghalangi pintu
Refleks Agung yang telah siap menutup pintu langsung menatap tajam kearah Hendri
"Awas kalau kamu berani menyakiti ketiga anakmu, aku pastikan nyawamu melayang"
Agung mendengus dan kembali membalikkan badannya dan saling berhadapan dengan Hendri
"Apa urusan kamu?, mereka anakku terserah mereka mau aku apakan"
Hendri tertawa mengejek
Agung balik tertawa mengejek mendengar ucapan Hendri. Sementara Hendri segera mengeluarkan hpnya
"Kalian kesini sekarang!"
Hendri menatap dingin kearah Agung yang masih bersikap santai melihat kearahnya
Tapi wajah santainya hanya bertahan sebentar ketika dilihatnya tiga motor besar masuk kelahamannya
Tiga orang berbadan besar dan berwajah sangar segera turun dari motor mereka dan langsung berjalan kearah Hendri
Sampai di depan Hendri, ketiganya sedikit membungkukkan badan mereka memberi hormat
"Posisi kalian tidak jauhkan dari rumah ini?"
"Tidak bos, bahkan suara tawa ketiga anak itu jelas di telinga kami"
Wajah Agung langsung terkesiap sedangkan Hendri menatapnya dengan sinis sambil tersenyum penuh arti
"Kalian boleh pergi, dan teruslah berjaga, ingat yang saya katakan, sekali saja terdengar teriakan seperti disiksa dari ketiga anak itu kalian hancurkan rumah ini"
"Baik bos"
Kembali wajah Agung terkesiap
"Apa hak kamu memata-matai rumahku?"
Hendri menatap dingin
"Aku tidak punya hak, tapi aku punya kewajiban memastikan jika ketiga anak istriku baik-baik saja saat mereka tidak bersama istriku"
Darah Agung serasa mendidih, sekali lagi dia kalah telak oleh ucapan Hendri
Segera Hendri melenggang meninggalkan Agung yang masih berdiri dengan dada turun naik
Mata Agung hanya bisa menatap tajam kearah mobil Hendri yang keluar dari halamannya, lalu dia menatap tajam kearah tiga anak buah Hendri yang masih berdiri di teras
"Mengapa kalian belum pergi?"
__ADS_1
Ketiga anak buah Hendri tersenyum sinis lalu salah satu dari mereka mendorong dada Agung
"Jangan main-main dengan kami jika masih ingin makan nasi hangat"
Lalu mereka berlalu meninggalkan Agung yang hanya berdiri mematung
Sementara Hendri yang mengendarai mobilnya melajukan mobil menuju rumah
Dilihatnya jam digital di atas dashboard menunjukkan hampir mendekati angka enam
Kembali dia melajukan mobilnya karena tujuannya adalah berkumpul dengan ketiga anaknya
Kembali security berlari cepat membuka pagar ketika Hendri mengklakson beberapa kali
Dan Alika yang berada di dalam rumah begitu mendengar klakson mobil papinya langsung melesat keluar
"Papi....." teriaknya dan langsung menghambur ke pelukan Hendri
"Kakak mana?"
Alika mengangkat bahunya, lalu dengan manja dia segera melingkarkan tangannya ke tangan sang papi
"Mami?"
Kembali Alika mengangkat bahunya. Hendri tersenyum sekilas lalu mengusap kepala Alika
Sampai di dalam keadaan rumah sangat sepi, lalu masih dengan di gandeng Alika, Hendri memeriksa kamar kedua anak gadisnya
Mutiara yang sedang rebahan langsung bangkit dan langsung melompat ke pelukan papinya
"Tangan papi kenapa?"
Hendri hanya melihat sebentar kearah tangannya ketika Mutiara mengangkat tangan kanannya
"Sakit ya pi?"
Hendri menggeleng lalu segera mengajak kedua anaknya pindah ke kamar Khayla
"Kak, tangan papi luka"
Khayla yang juga sedang rebahan langsung turun lalu melihat kearah tangan Hendri
"Kok bisa pa?"
Hendri kembali hanya memamerkan senyum manis kearah ketiga anaknya
"Nggak apa-apa nak, hanya luka kecil"
"Papi semalam kemana, pagi-pagi kamu ke kamar papi, papi nggak ada"
Wajah Alika cemberut ketika berkata seperti itu
"Mami kalian ada?"
Khayla menarik nafas panjang
"Khey?" tatap Hendri menuntut jawaban
"Tadi jam dua mami pergi, dijemput teman-temannya"
Hendri menarik nafas panjang
"Ya sudah jika mami nggak ada yang penting kalian ada"
Ketiga anak Hendri tersenyum penuh cinta menatap papi mereka
Hingga nyaris jam sembilan malam dan ketiga anaknya masuk kembali ke kamar mereka, Nia masih belum juga pulang
Hendri melihat pesan yang dikirimkan istrinya tadi pagi dan membaca hingga habis
"Di pesan berjanji mau berubah, jam segini belum di rumah"
Hendri lalu menyandarkan kepalanya ke sofa, dan memijit-mijit keningnya
Kepala Hendri langsung menoleh kearah pintu ketika didengarnya suara tawa terdengar dari luar
Dengan santai dia berjalan kearah pintu dan berdiri dengan wajah datar ketika dilihatnya istrinya sedang cipika cipiki dengan teman sosialitanya
"Eh, jeng itu suaminya ada di rumah, kamu bilang dia nggak ada..." bisik seorang wanita ke telinga Nia
__ADS_1
Seketika Nia menoleh kebelakang dan wajahnya langsung menegang ketika melihat Hendri berdiri menatap dingin kearah mereka