
Acara tivi yang biasa aku tonton kali ini tak menarik perhatianku, aku benar-benar merasa bosan dan kesal
Aku menoleh kearah luar ketika kudengar ada langkah kaki masuk
Dokter Grace dan Hendri masuk, dan tangan dokter Grace menggelayut manja di lengan Hendri yang berjalan di sebelahnya
"Nonton apa kamu Lin?"
Aku tidak menjawab pertanyaan dokter Grace melainkan menunjuk kearah tivi dengan daguku
"Kami mau makan siang, kamu mau ikut?"
Aku menggeleng dan melirik kearah Hendri yang masih saja bersikap dingin ke arahku
"Dia nggak mau Hen, yuk kita aja" kembali dokter Grace menggandeng lengan Hendri yang membuatku terus menatap kepergian mereka
Sepeninggal mereka aku kembali berusaha fokus menatap ke layar tivi yang acaranya makin tak menarik hatiku lagi
Dengan menarik nafas panjang, aku memutar kembali kursi roda lalu menjalankannya kearah kamar.
Sampai di kamar aku turun dari kursi roda lalu berjalan tertatih kearah lemari, membuka lemari dan mengambil hp
"Aku harus menghubungi bibi Ni Luh, kenapa sampai siang seperti dia belum juga pulang" gumamku sambil mencari kontak bibi Ni Luh dan mendialnya
"Ya nyonya?" terdengar suara Bibi Ni Luh ketika panggilan tersambung
"Bibi dimana, kok belum kembali ke villa?"
"Oh, bibi dan yang lain sedang liburan nyonya, kami dapat jatah liburan selama satu minggu dari tuan besar, ini kami sedang bersantai di pantai"
"Ya Tuhan, satu minggu?" batinku dengan langsung menggigit bibirku panik
"Jadi sebelum satu minggu, bibi dan yang lain nggak pulang?"
"Ya tidaklah nyonya, tuan sudah membayar seluruh biaya hotel dan liburan kami, dan ini adalah liburan pertama kami, jadi akan kami gunakan sebaik-baiknya"
Terdengar sekali rasa bahagia dari suara bibi Ni Luh ketika berkata seperti itu
"Tapi bi aku nggak ada temannya di villa"
"Loh, tuan besar kemana?"
"Dia sama dokter Grace, aku sendirian"
Terdengar suara cekikikan dari bibi Ni Luh yang membuat wajahku makin cemberut
"Itu dokter benar-benar tidak pengertian, padahal kami saja diungsikan oleh tuan besar agar tidak mengganggu waktu tuan besar dan nyonya"
Aku tersenyum getir mendengar jawaban bi Ni Luh
Dan melongok kan kepalaku kearah jendela ketika kudengar suara deru mesin mobil
Aku lihat Hendri melambaikan tangannya dan dokter Grace juga melambaikan tangannya juga lalu memundurkan mobilnya dan meng klakson sekali barulah setelah itu mobil tersebut pergi
"Sudah dulu bik, dokter Grace nya sudah pulang, aku nggak ingin Hendri marah sama aku"
__ADS_1
"Cobalah panggilannya dirubah jangan menyebut nama"
Aku terkekeh
"Memangnya kenapa bik kalau aku panggil nama?"
"Ya canggung saja nyonya, masa sama suami manggilnya nama"
Kembali aku terkekeh
"Lah emang dari dulu aku itu manggilnya nama bik"
"Itukan waktu sebelum tuan besar jadi suami nyonya, tapi sekarangkan sudah berubah, tuan besar sudah menjadi suami nyonya, masa masih panggil nama, nggak sopan loh..."
Aku yang tadi terkekeh langsung terdiam mendengar jawaban terakhir bibi Ni Luh
"Maaf nyonya, bukan maksud bibi menggurui" terdengar jelas suara penuh penyesalan dari bi Ni Luh
"Oh nggak apa-apa bik, aku justru terima kasih karena telah dinasehati" jawabku terburu, khawatir beliau panik
Dan pintu kamar yang terbuka tiba-tiba, membuatku kaget dan memaksaku segera menghentikan obrolan
"Nanti aku telpon lagi bik, dahhhh" tutup ku lalu terburu meletakkan hp
"Ayo makan!" ucap Hendri yang mendekat dengan membawa sepiring nasi dan segelas air, aku hanya mengangguk dan menerima piring yang disodorkannya ke arahku
Karena tak ingin Hendri marah, aku segera menyuapkan nasi ke mulutku dan makan dengan pelan
"Nelpon siapa tadi?"
"Nelpon bibi Ni Luh"
Hendri bergeming dan aku kembali menunduk melanjutkan makanku
"Katanya kamu mau menghapus nomor beliau, kok belum dihapus?"
Aku menghentikan kunyahan ku lalu memandangnya dengan takut
"Apa harus?"
"Iya, aku nggak suka sama orang yang tidak bisa dipegang omongannya"
"Tapi Hen?"
"Tapi apa?"
Aku meletakkan piring di atas meja lalu menatapnya kembali yang masih dingin menatapku
"Aku nyimpen nomor bibi Ni Luh karena hanya dia yang bisa bantu aku disini, itu saja, nggak ada maksud lain"
Kulihat Hendri mengambil hp ku lalu membukanya
"Sosial medianya sudah aku hapus semua, sumpah" lirihku lagi dengan takut
Lalu Hendri kembali meletakkan hp ku dan kembali menatap ke arahku
__ADS_1
"Kamu takut sama aku?"
Aku tak menjawab melainkan terus menunduk dan meremas ujung dress ku
"Jawab pertanyaanku Lin, kamu tidak tuli"
Aku mengangguk
"Apa yang membuatmu takut?, padahal semalam kau selalu menyebut namaku"
Seeeerrrrr
Tiba-tiba aku merasa pipiku panas mendengar kalimatnya, aku langsung menutup mataku dan memutar sedikit tubuhku menghindarinya yang terus menatapku
Aku tidak melihat bagaimana dia tersenyum menyeringai melihatku yang malu, karena jujur saja aku sangat malu bila teringat kejadian semalam
"Habiskan makan mu, karena kamu harus banyak tenaga untuk melayaniku"
Sehabis berkata seperti itu Hendri berdiri dan keluar dari dalam kamar, dan tinggallah aku sendiri yang ketakutan mendengar ucapannya
"Ya Tuhan aku harus bagaimana ini?" keluhku
"Habiskan makannya cepat!!!"
Teriakan Hendri dari luar semakin membuatku gugup dan segera meraih piring yang tadi aku letakkan lalu makan dengan cepat
...----------------...
Suasana malam di villa besar ini terasa sangat sunyi dan mencekam. Hanya suara jangkrik dan hewan malam lainnya yang terdengar oleh telingaku
Sekarang aku sedang duduk sendirian di depan tivi, menonton. Dan Hendri aku tidak tahu dimana keberadaannya, karena selesai makan malam tadi dia langsung menghilang
Aku sudah menekan remote berkali-kali mencari channel mana yang menarik hatiku, karena lagi-lagi tidak ada acara tivi yang menarik hatiku
Aku hanya bisa menarik nafas panjang dan merebahkan kepalaku di sandaran sofa lalu kembali menatap layar televisi
Berkali-kali sudah aku menguap dan sudah berkali-kali pula aku menolehkan kepalaku kearah tangga bahkan kearah ruangan yang lain berharap jika Hendri muncul
Hingga akhirnya aku benar-benar sudah tak tahan lalu memberanikan diri untuk berdiri dan setelah aku yakin jika aku bisa berjalan, maka aku mulai melangkah dengan pelan berjalan menuju kamar
Sebelum tidur aku masuk toilet dulu, baru setelahnya aku mulai merebahkan tubuhku, merapatkan selimut ke seluruh tubuhku lalu mulai memejamkan mataku
Mataku terbuka dengan cepat ketika aku merasakan ada gerakan di tubuhku
"Ya Tuhan....." aku langsung tercekat ketika kulihat Hendri telah berbaring di sebelahku dan tangannya sedang bergerilya di atas tubuhku
Hendri yang sadar jika aku terbangun segera mencium lembut mataku
Aku yang kembali mendapat perlakuan lembutnya hanya menatapnya tanpa berkedip
"Boleh ya Lin?"
Aku tak menjawab pertanyaannya karena Hendri telah menurunkan ciumannya ke wajah dan leherku
Dan kembali dengan mudahnya Hendri membuatku polos dan merintih tak karuan akibat gerakan liarnya
__ADS_1
Dan kembali setelah Hendri berteriak tertahan, dan jatuh di sebelahku, dia melakukan hal yang sama seperti malam kemarin, mencium keningku dengan dalam dan menarik tubuhku dalam dekapannya, hingga akhirnya aku kembali nyenyak dalam pelukan suami dinginku itu