
Hendri membuka matanya dan tersenyum simpul sambil menoleh kearah Linda yang sudah berbaring di atas ranjang
"Ternyata dia perhatian juga" batinnya sambil menarik selimut agar menutupi seluruh tubuhnya
Kepala Hendri masih menoleh kearah ranjang dimana Linda telah terlelap
Dipandanginya terus perempuan yang saat ini terbungkus rapat selimut
Lalu Hendri menarik tangannya dari dalam selimut, memperhatikan ikatan kain kasa pada lukanya yang tadi dipakaikan Linda
Kembali bibirnya menyunggingkan senyum. Lalu kembali mengeratkan selimut ke tubuhnya dan mulai memejamkan mata
......................
Aku yang lebih dulu terbangun ketimbang Hendri. Dengan hati-hati aku turun dari tempat tidur lalu masuk kedalam kamar mandi, dan mengguyurkan air ke seluruh tubuhku
Saat itu aku tak menyadari jika Hendri sudah terbangun, kupikir dia masih tidur
Jadi dengan tubuh yang hanya terbalut handuk aku keluar dari dalam kamar mandi dengan santai, dan mengeringkan rambutku dengan handuk kecil
Aku membuka lemari dan segera mengeluarkan handbody lalu mulai memakaikan di tanganku
Ketika memakaikan di kaki, aku duduk di ranjang dengan menaikkan kakiku.
Hendri yang melirik menelan ludahnya dengan susah payah.
Selesai memakai handbody aku segera melepas handuk dan langsung berganti baju
Dan kembali Hendri harus menelan ludahnya ketika untuk pertama kalinya dia melihat tubuh polos Linda
"*****!" geramnya dalam hati
Sementara aku yang telah selesai berganti baju segera duduk di depan meja hias, memoles sedikit bedak dan memakai lipstik warna nude, dan menyemprotkan parfum ke belakang telingaku
Setelah selesai, barulah aku membereskan tempat tidur dan berjalan kearah telepon
"Tolong antar sarapan ke kamar nomor 20 sekarang ya"
"Mau makanan apa bu?"
"Aku nggak tahu saudara aku sukanya makan apa, tapi bawakan saja menu spesial dari hotel anda"
Hendri kembali tersenyum segaris mendengar ucapan Linda
Selesai menelepon, aku segera mendekat kearah sofa, berdiri dengan bingung
Hendri yang mengintip Linda yang berdiri dibawah kakinya segera membuka mata dan menggerakkan tubuhnya
Aku langsung menoleh ketika kulihat Hendri bergerak dan langsung aku mundur ketika kulihat dia duduk.
Hendri langsung mendorong meja agar kakinya bisa menginjak lantai, lalu Hendri menatap tajam ke arahku, rambut gondrong sebahunya yang bergelombang sedikit berantakan, tapi itu malah membuatnya terlihat cool
"Kenapa melihatku seperti itu?"
Aku menelan ludah dengan takut ketika mendengar suara dingin Hendri
"Aku hanya berniat membangunkan kamu, itu saja"
Hendri bangkit dan segera berjalan masuk ke kamar mandi. Aku menarik nafas lega ketika kulihat dia berlalu dari hadapanku
__ADS_1
Pintu diketuk dan aku segera membuka pintu karena aku yakin itu dari pelayan yang akan membawakan sarapan
"Bawa dekat meja saja mbak" ucapku
Pelayan itu mengangguk, dan aku mengucapkan terima kasih ketika dia hendak keluar
Kulihat Hendri keluar dengan wajah basah, dan aku segera menyingkir ketika dia kembali duduk di sofa
"Apa kamu tidak akan sarapan?"
Aku menoleh dan menggeleng. Lalu Hendri dengan santai mengambil sendok dan mulai mengambil sarapan di atas meja troli
Kulihat dia seperti kesusahan karena memakai tangan kiri, karena tangan kanannya tertutup kain kasa
Berkali-kali Hendri mencoba menyendok makanan tapi hanya terkumpul sedikit dan dengan sedikit kesusahan dia menyuapnya
Aku dengan menarik nafas panjang mendekat kearahnya dan langsung duduk dan dengan berani mengambil piring yang ada di hadapannya
"Jangan membantah" ucapku cepat ketika kulihat mulutnya terbuka hendak protes
Hendri memandangi wajah Linda yang duduk di sebelahnya, biru di kening dan pipinya masih terlihat walau sudah sedikit samar
Dalam hati Hendri merutuki dirinya karena dialah yang menyebabkan lebam itu
"Ayo buka mulutnya!"
Hendri menurut, baru kali inilah seumur hidupnya dia menurut dengan perempuan selain ibunya
Aku memandang ke depan ketika Hendri mengunyah lalu tak lama pintu kembali diketuk. Dan aku bangkit membuka pintu.
Wajah Hendri langsung berubah datar ketika dilihatnya dokter yang pernah menolong Linda masuk
Dan aku tahu perubahan wajah Hendri itu, apalagi ketika dia menatap tajam ke arahku
Aku kembali menyuapi Hendri tetapi sendok yang ku arahkan ditolaknya, dan aku hanya menarik nafas panjang lalu meletakkan sendok kembali ke piring
Segera aku menjauhkan meja troli dan mempersilahkan dokter memeriksa Hendri
Dengan segera dokter membuka kain kasa yang ku lilit semalam. Dan langsung memeriksa dan memberikan obat pada luka tersebut
"Luka robeknya cukup dalam, kalau saya boleh tahu ini karena apa?, karena disini saya juga lihat jika jari anda lebam"
Hendri diam tak menjawab dan aku yang memandang turut penasaran dengan penyebab lukanya
"Lukanya kita jahit, ya?"
Wajah Hendri langsung menegang dan dengan cepat dia menggeleng
"Tidak usah dokter, ini cuma luka kecil"
Dokter menoleh ke arahku, dan aku hanya mengangkat bahu
"Oleskan saja obat ini kalau begitu, tapi sekarang kain kasanya saya ganti dengan yang baru"
Sambil berkata begitu dokter segera mengoleskan obat lalu membalut luka Hendri lalu memperbannya
"Lukanya jangan terkena air dulu biar cepat kering"
"Bagaimana saya bisa mandi dokter jika tidak boleh basah"
__ADS_1
Dokternya terkekeh
"Suruh istri anda memandikan anda"
Hendri langsung melirik ke arahku dan wajahku langsung menegang mendengar ucapan dokter
Hendri tak menjawab, dia hanya menatap ke arahku saja, aku hanya menelan ludah dengan tegang ditatapnya seperti itu
Selesai dengan memperban tangan Hendri, dokter berpamitan dan aku segera menutup pintu
Baru saja aku membalikkan tubuhku, wajahku langsung menabrak dada Hendri yang tahu-tahu berdiri tepat di belakangku
Aku mengelus keningku dan mundur selangkah dengan gugup, tapi Hendri dengan cepat menangkap tanganku menggunakan tangan kirinya
"Dari mana dokter itu tahu jika aku terluka?"
Aku berusaha menarik tanganku yang dicengkeramnya
"Dari mana??!" Hendri membentak ku
"Aku chat beliau tadi, dan memintanya untuk kesini" jawabku takut-takut
Hendri makin kencang mencekal tanganku
"Lepas, sakit Hen!"
Hendri memandang mataku dengan tajam
"Sudah aku bilang, cuma nomor aku yang ada di hp kamu, tak boleh ada nomor orang lain!"
Aku menelan ludah dengan tegang dan memandang wajah Hendri dengan takut
"Dari mana kamu dapat nomor dokter itu?"
Aku diam
"Dari mana?!" Hendri makin kencang mencekal tanganku
"Akan ku sakiti kamu jika berani membantahku!" geramnya
"Dokter itu yang memberikannya padaku waktu dia memeriksaku kemarin" jawabku takut
Hendri melepaskan cengkeramannya dari tanganku dan berganti mencekal rahangku
Aku meringis kesakitan ketika kurasakan cengkeramannya begitu kuat
"Berani kamu ya?!"
Aku menggeleng dengan susah payah
"Sudah kubilang kan kamu tidak boleh berhubungan dengan orang luar, masih membantah kamu?, tidak sayang dengan nyawa ketiga anakmu??!"
Sekuat tenaga aku menarik tangannya yang mencengkeram rahangku, lalu mendorong kasar tubuhnya
"Ancam terus aku, ancam terus Hen, ancam terusss...!!" teriakku sambil berlinang air mata
"Kamu mau membunuh ketiga anakku, iya?, bunuh mereka Hen, bunuh, setelah itu kamu bunuh juga aku, kamu mutilasi tubuhku, kamu cincang-cincang dan kamu lempar kelaut, puas kamu??!!!!"
Setelah berkata seperti itu, aku berlari masuk ke kamar mandi dan menangis kencang di sana
__ADS_1
"Bajingan kamu Agung.....!!!, bajingan kamu Hendriiiii...!, aku sumpahi kalian berdua tidak akan menemukan kebahagiaan seumur hidup kalian.....!!!"
Hendri yang emosi tertegun mendengar teriakan Linda. Dia terduduk dengan wajah kacau di sofa. Obat yang ditinggalkan dokter di atas meja di buangnya dengan kasar