Istri Yang Tergadaikan

Istri Yang Tergadaikan
Bukti CCTV


__ADS_3

Dengan cepat Nia saling cipika cipiki dengan sesama teman sosialitanya, lalu beberapa wanita cantik itu melambaikan tangan mereka kearah Hendri


"Bye jeng..." teriak mereka ketika semuanya kembali masuk mobil


Nia melambaikan tangannya dan segera menarik nafas panjang ketika diingatnya jika Hendri berdiri di belakangnya


Dengan ragu Nia masuk, wajahnya kian tegang ketika semakin dekat dengan Hendri


"Sayang....?" Nia langsung menarik nafas kecewa karena Hendri mengabaikannya dengan langsung masuk meninggalkannya


Nia mengejar dan menarik tangan Hendri


"Pi, aku minta maaf, iya aku janji nggak bakal ngulangin lagi, ini tadi teman-teman yang jemput ke rumah"


Hendri menarik tangannya yang dipegang Nia, menatap wanita yang berdiri di depannya dengan dingin


"Aku janji pi..." wajah Nia memelas


Hendri menarik tangan kirinya dan melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya


"Hampir jam sepuluh malam, biasanya kamu pulang jam berapa?"


Nia diam, dia memandang wajah dingin Hendri dengan tegang


"Nggak pernah kok Pi aku pulang malam, sumpah!"


Hendri tersenyum menyeringai dan membuka hpnya


Lalu memamerkannya pada Nia, wajah Nia seketika memucat dan kian tegang


"Ternyata kamu tak pernah ada di rumah ketika aku keluar kota"


Nia menelan ludahnya dengan susah payah


"Ini, di sini, terlihat jelas jam berapa kamu pulang dan bagaimana keadaan kamu ketika pulang"


Nia kian menegang ketika dilihatnya jika dia selalu pulang malam dan selalu diantar seorang lelaki


"Ini selingkuhan kamu itu?"


Nia kian terpojok dan makin tak bisa berkata apa-apa lagi


Hendri tersenyum sinis dan memandangi Nia dari atas hingga bawah


"Jijik rasanya aku melihat kamu"


Nia masih diam dan makin menatap gelisah pada Hendri


"Sudah berapa lama hah kamu berselingkuh di belakangku?


Nia menggeleng cepat


"Aku tanya berapa lama?" geram Hendri sambil mencekal erat tangan Nia


Nia meringis karena kesakitan


"Lepas, sakit pi..."


"Berapa lama, hem?"


Nia masih menggeleng dan terus berusaha menarik tangannya


"Aku tanya berapa lama kamu berselingkuh???!!!" bentak Hendri lantang


Nia tercekat mendengar teriakan suaminya, air matanya langsung mengalir


"Jawab aku, sejak kapan kamu berselingkuh, hah?!"


"Aku tidak selingkuh pi, semuanya fitnah, aku tidak pernah selingkuh, sumpah"


"Jangan berani kamu menyebut sumpah, karena sumpah palsu mu itu akan menuntut mu!!!"


"Jawab pertanyaanku Nia sejak kapan kamu berselingkuh????!!!" teriak Hendri seperti kesetanan

__ADS_1


"Papi stop!!!"


Hendri refleks menoleh kebelakang, dilihatnya ketiga anaknya berdiri menatap mereka sambil berlinangan air mata


Terlebih Alika, dia sampai memeluk erat tangan Mutiara sambil menangis sesenggukan


"Papi sama mami sama saja nggak ada bedanya!!!" Khayla berteriak marah


Nia menggeleng dan berlari kearah ketiga anaknya


"Stop mami, jangan sentuh kami. Aku muak dengan perlakuan mami dan papi. Mami dan papi egois!"


Hendri mengusap kasar wajahnya, dia terduduk lemas di kursi. Tak dipedulikannya Khayla yang berteriak kearahnya


Sementara Nia berusaha menenangkan Khayla dengan terus menarik tangannya berusaha untuk memeluk gadis itu


"Papi sama mami nggak ada bedanya, nggak ada waktu untuk kami"


"Papi selalu sibuk, sampai kami lupa bagaimana rasanya pelukan papi, mami juga, setiap hari ngeluyur nggak jelas, kongkow dengan teman sosialita, mabuk-mabukan sama brondong, aku malu miiii...!!!" teriak Khayla kencang


Mendengar kalimat terakhir Khayla, Hendri refleks berdiri dan wajahnya makin angker


"Jadi kamu tahu Khe perbuatan mami mu selama ini?"


Nia kembali menggeleng kuat


"Nggak pi, nggak. Jangan percaya dengan omongan Khayla pi, Khayla mengada-ngada pi, sumpah pi, Khayla bohong"


Khayla langsung memegang erat tangan maminya dengan wajah basah


"Bohong mami bilang?, aku bohong, iya?"


Nia menggeleng dengan mata memelas kearah Khayla


"Tolong mami Khe..."


Khayla menggeleng


Hendri mendekat dan kembali mencengkeram erat tangan Nia dengan mata menyala


"Tia, bawa adik masuk keruang kerja papi...." ucap Hendri menahan marah


"Tapi pi?"


"Bawa Alika masuk nak, jaga adik, kalian jangan keluar sampai papi yang kesana"


Mutiara mengangguk, dengan mata basah dituntunnya Alika yang sesenggukan naik


Melihat Mutiara dan Alika naik, dengan takut-takut, asisten rumah tangga berlari menyusul keduanya. Lalu Alika segera memeluk asisten tersebut sambil kembali terisak


Sementara Hendri yang telah kembali emosi semakin sangar ketika Alika dan Mutiara tak terlihat lagi olehnya


"Bilang semuanya Nia, bilang jika yang dikatakan Khe itu benar"


"Nggak pi, Khe bohong"


Khayla menutup wajahnya


"Pak Painooooo....." teriaknya histeris


Seorang lelaki paruh baya yang sejak tadi berdiri sembunyi di luar segera berlari masuk


Wajahnya tegang ketakutan ketika mendekat kearah Khayla


"Bilang semua apa terjadi sama aku ke papi, biar papi tahu..."


Pak Paino menelan ludahnya dengan ketakutan


Hendri melepas cengkeramannya pada tangan Nia lalu menatap tajam kearah pak Paino


"Bilang pak jangan takut, saya pemimpin di rumah ini, jadi keselamatan anda saya jamin"


Pak Paino menoleh takut-takut pada Nia yang sejak tadi menggelengkan kepalanya

__ADS_1


"Emm anu tuan, emm...."


"Bilang pak, jangan takut, biar papi tahu......" wajah Nia yang basah menatap penuh harap pada Pak Paino


"Tuan lihat sendiri di cctv, saya takut salah bicara"


Secepat kilat Hendri memaksa ketiganya masuk keruang keamanan, security yang selalu stand by 24 jam tersebut memasang wajah tegang ketika melihat Hendri masuk.


Lalu Hendri segera meriksa rekaman cctv, dan matanya nyaris keluar dan giginya gemeletuk ketika dia melihat rekaman cctv seminggu yang lalu


Nia yang berdiri kian menggigil ketakutan. Sementara Khayla menangis terisak


"Kamu dimana saat lelaki itu melecehkan anakku, hah???!, kamu dimana?????!!!!" teriaknya


Didorongnya kasar tubuh Nia hingga membentur tembok lalu Hendri segera memeluk erat Khayla yang terisak dalam


"Mengapa kamu tidak bilang sama papi nak...." lirih Hendri tercekat


Khayla tak bisa menjawab, dia hanya terus terisak


Lalu Hendri melepas dekapannya pada Khayla dan menatap Nia dengan sangar


"Khe, susul adik-adik di atas, papi mau bicara empat mata sama mami"


Khayla menatap takut kearah sang papi yang saat ini kian dekat dengan sang mami


"Khe, keluar sayang" suara Hendri penuh penekanan menahan amarah


"Pak Paino, pak Puji, bapak berdua juga tinggalkan ruangan ini!"


Pak Paino segera keluar dan langsung melesat kembali ke kamarnya, sedangkan pak Puji yang bertugas menjaga keamanan rumah ini langsung berkeliling


Sedangkan Khayla dengan ragu akhirnya juga keluar dari ruangan tersebut dengan terus menoleh takut-takut kearah papinya


Hendri secepat kilat menarik kasar rahang Nia, dan membenturkan tubuhnya kembali ke tembok


"Begini kerja kamu di rumah, hah?, saya keluar kota kamu memasukkan lelaki asing ke rumah ini,"


"Dan kamu lihat sendirikan tadi bagaimana lelaki itu mau melecehkan Khe"


"Keterlaluan kamu Nia!!!" Hendri kian kencang mencengkeram rahang Nia.


Nia yang kesakitan hanya bisa meringis.


"Pernah tidak terpikir oleh kamu seandainya pas kejadian pak Paino dan pak Puji sedang tak ada di rumah"


"Terpikir tidak oleh kamu???!!!"


Nia menggeleng dengan air mata yang deras mengalir


"Sekali lagi terulang hal yang tidak-tidak pada ketiga anakku, kamu akan aku tembak, aku pastikan nyawamu melayang di tanganku"


Setelah berkata begitu Hendri membuang kasar wajah Nia. Lalu dengan kasar dia menarik Nia dan mendudukkannya dengan kasar di depan layar komputer yang khusus memantau seluruh keamanan di rumah ini


"Kamu lihat ini, biadab kamu Nia. Kamu memasukkan lelaki itu ke kamar kita???"


Refleks Hendri menjambak kuat rambut panjang Nia hingga wanita itu terdongak keatas


"Apa yang kalian lakukan di dalam kamar, hem?!"


Nia yang terdongak hanya bisa meringis kesakitan dan menggumam


"Nggak ada Hen, dia cuma mengantarkan aku yang mabuk itu saja"


Hendri melepas jambakannya lalu memutar kursi yang diduduki Nia hingga menghadap kearahnya


"Kamu pikir aku bodoh?, iya?"


PLAAAKKKK.....!!!!


Sebuah tamparan keras mendarat mulus di wajah Nia.


Nia langsung memegangi wajahnya yang terasa perih, sedangkan air matanya kian deras mengalir

__ADS_1


__ADS_2