Istri Yang Tergadaikan

Istri Yang Tergadaikan
Rencana Menikah


__ADS_3

Aku menelan ludahku dan dengan cepat mengalihkan pandanganku ke depan menghindari tatapan tajam matanya


Dengan pelan pesawat mulai mengudara tapi Hendri masih menggenggam erat jariku


"Hen...?"


Hendri menoleh ke arahku


"Kamu membawaku kemana?"


Hendri memutar badannya menghadap ke arahku sambil melepaskan genggaman tangannya padaku


"Membawamu jauh dari Agung"


Aku menarik nafas panjang lalu menolehkan kepalaku kearah jendela kaca, melihat awan yang berkejaran di sampingku


"Terus ketiga anakku?" ucapku setelah cukup lama aku terdiam


"Selagi kau menuruti semua perkataanku, mereka aman"


Kembali aku menarik nafas dalam dan mataku mulai terasa panas


"Aku akan menuruti semua perintahmu Hen, apapun itu"


Air mataku langsung mengalir selesai aku mengucapkan kalimat itu


Lalu aku terus menatap keluar jendela, melihat jauh, jauuuhhhh sekali hingga rasanya aku kian jauh dengan ketiga anakku


"Aku harus secepatnya hamil anak Hendri, biar aku bebas darinya dan bisa berkumpul dengan ketiga anakku kembali" batinku pilu


Suasana di dalam pesawat sangat hening, hanya sesekali terdengar suara pengumuman atau para pramugari menawarkan makanan dan minuman


"Mau minum apa?"


Aku yang terus menatap keluar jendela tak mendengar pertanyaan Hendri sampai sebuah sentuhan di pundak mengagetkanku


"Ya?" tanyaku tergagap


"Mau minum apa?"


Aku menatap pada pramugari cantik yang masih berdiri di samping Hendri yang menampilkan senyum manis padaku


Aku menggeleng lalu melirik pada Hendri


"Beneran tidak haus?"


Aku mengangguk. Lalu Hendri meraih sebuah minuman dan pramugari tersebut pun berlalu dari hadapan kami


Aku kembali menoleh keluar dan kembali larut dalam lamunanku


......................


Sebuah guncangan membuatku tersadar dan membuka mataku. Aku segera menarik kepalaku dengan terburu ketika menyadari jika aku tertidur di bahu Hendri


"Maaf....." lirihku


Hendri tak menjawab melainkan hanya menoleh sekilas padaku


Kulihat Marko telah berdiri di sebelah kursi Hendri dan kembali memasang senyum padaku


"Bagaimana perjalanannya mbak?"


Aku memasang senyum kaku sambil merapikan rambutku


"Nggak usah banyak tanya, kamu silahkan turun duluan"


Marko memasang senyum kecut pada Hendri lalu melambaikan tangannya ke arahku


Aku kembali membalas lambaian tangan Marko dengan senyuman, dan senyumku langsung memudar ketika Hendri menoleh padaku dengan tatapan mata yang tajam


Dengan terburu aku melengos dan berusaha untuk menggerakkan kakiku karena kulihat orang-orang mulai berdiri


Kembali aku harus menggigit bibirku menahan sakit, karena kembali aku merasakan sakit yang teramat sangat ketika kakiku digerakkan


"Tidak usah memaksakan diri, duduklah. Nanti aku akan menggendong mu lagi"


Kembali aku hanya bisa menelan ludah mendengar ucapan Hendri, dan benar saja, belum sempat degup jantungku berhenti, Hendri telah menyambar tubuhku dan langsung mengangkatnya

__ADS_1


Kembali aku mengalungkan tangan kananku pada lehernya dan menatap wajah dinginnya


Sama seperti tadi, Hendri sedikitpun tak menunduk melihat ke arahku, dia terus saja berjalan, antri bersama penumpang lain untuk turun dari pesawat


Kembali dan lagi-lagi kami menjadi pusat perhatian


"Apakah tuan membawa istri tuan untuk honeymoon?"


Aku langsung menoleh pada seorang lelaki yang berdiri di depan kami


Hendri dengan wajah malas hanya menatap pada lelaki paruh baya tersebut


"Kita bisa lanjutkan obrolan kita di bawah" lanjut lelaki tersebut sambil membalikkan badannya dan mulai berjalan menuruni tangga


"Aku berat ya Hen?"


Kali ini Hendri menunduk dan hanya menatap sekilas ke arahku


"Maaf ya karena merepotkan kamu" lanjut ku ketika kulihat Hendri agak kesusahan membawaku turun


"Diam nggak usah bawel, aku pernah gendong kamu, bukan hanya kali ini saja"


Mataku membulat dengan mulut ternganga


"Pernah?, kapan?" batinku


Aku tak berani bertanya melainkan berusaha mengingat kapan Hendri menggendongku


"Ah, mungkin ketika aku ketiduran di ruang kerjanya" batinku


Dan ketika kaki Hendri menginjak landasan bandara, lelaki yang tadi bertanya pada kami di pesawat, mendekat


Melihat ada lelaki paruh baya yang mendekati bos nya, Marko yang telah lebih dulu sampai di bawah segera mendekat


"Maaf pak, tuan saya sedang tidak bisa diganggu, kami sedang terburu-buru"


Lelaki paruh baya tersebut menoleh kearah Marko dan tersenyum ramah


"Oh, maafkan saya kalau begitu. Saya hanya senang melihat perhatian bos anda pada istrinya"


Kembali mataku membulat dan menatap wajah Hendri lagi yang masih tanpa ekspresi


Lelaki paruh baya tersebut langsung menatap penuh padaku dan kembali menatap wajah Hendri


"Oh maaf tuan, saya kira anda datang kesini hendak honey moon"


Hendri berlalu meninggalkan lelaki itu, sedangkan lelaki paruh baya tersebut melanjutkan obrolannya dengan Marko yang setia meladeninya


Kembali aku harus dikagetkan dengan dua orang lelaki besar yang langsung mendekati kami


"Mobilnya telah siap tuan"


"Hemmm..."


Aku hanya mendongakkan wajahku mendengar jawaban deheman Hendri


Dua orang lelaki yang ku yakini adalah anak buah Hendri segera berjalan cepat dan membukakan pintu mobil


Kembali Hendri dengan sangat hati-hati meletakkan ku di dalam mobil


Barulah setelah itu dia masuk, dan kulihat Marko berlari cepat kearah mobil yang menunggu


Marko yang duduk di depan menoleh kebelakang dan kembali memamerkan senyumnya


Kulihat wajah Hendri masih datar dan seakan tak terganggu dengan Marko yang tersenyum


"Cepat jalan!"


Aku kembali harus menahan nafas mendengar suara dinginnya yang memerintahkan supir untuk melajukan mobil


Aku yang mulai faham dimana aku berada sekarang hanya bisa menoleh kejalan melalui kaca jendela yang tertutup rapat


Jalanan yang bersih, pemandangan yang indah, banyaknya bangunan gapura dan patung membuatku yakin jika aku sekarang berada di kota B


Nyaris lebih dari satu jam barulah mobil yang kami tumpangi masuk kesebuah bangunan besar, megah dan indah


Aku masih berada di dalam mobil ketika semua yang ada telah turun. Dan kembali Hendri membuka pintu mobil dan kembali mengangkat ku

__ADS_1


Dua buah motor masuk dan berhenti di sebelah mobil, barulah aku sadari jika mereka adalah dua orang lelaki besar yang kami temui di bandara tadi


Aku mengedarkan pandanganku pada halaman luas ini. Sungguh halaman luas ini sangat indah, berbagai macam bunga dan pohon tertata dengan apik.


Kembali aku menggerakkan kepalaku, ketika kudengar ada suara perempuan


"Selamat datang tuan, nyonya......"


Aku yang berada dalam gendongan Hendri tersenyum kaku pada perempuan paruh baya tersebut


"Sudah siap semua bik?"


"Sudah tuan"


Hendri mengangguk dan mulai berjalan duluan, sedangkan yang lain mengiring di belakang


Kembali aku dibuat kaget ketika masuk kedalam bangunan megah yang ku yakini adalah sebuah villa ini


"Ini maksudnya apa Hen?"


Hendri tak menjawab melainkan terus masuk dan aku yang heran dengan suasana ruangan yang ditata indah semakin penasaran


"Hen?"


Hendri bergeming dan memilih naik dan aku hanya memandang heran pada mereka yang ada di bawah yang menatap kearah kami yang terus menaiki tangga


Kembali aku harus menoleh ketika kembali aku mendengar suara perempuan


"Akhirnya sampai juga yang sudah lama kita tunggu-tunggu......"


Aku hanya menatap pada dua perempuan yang melihat kearah kami


"Dimana ruangannya?" tanya Hendri


"Oh, disini tuan"


Hendri kembali berjalan kearah ruangan yang tadi ditunjuk oleh salah satu dari perempuan tadi


Salah satu dari mereka membukakan pintu dan Hendri segera masuk


Diletakkannya aku dengan hati-hati di sebuah kursi yang menghadap cermin besar


Aku menarik tangannya ketika dia hendak meninggalkan ku


"Kamu mau kemana?"


Hendri kali ini menoleh padaku dan menjawab


"Aku akan turun, dan aku akan menunggumu di bawah"


"Tapi Hen?"


"Mereka semua orang baik, mereka tidak akan menyakitimu"


Aku menoleh pada dua perempuan yang tersenyum ramah padaku


"Dandani dia dengan cantik, dan pastikan aku tidak sia-sia memakai jasa kalian"


Setelah berkata dingin seperti itu Hendri meninggalkan ruangan tersebut


Kini aku hanya bertiga dengan dua perempuan yang tak kukenal sama sekali


"Sudah siapkan mbak untuk kami rias?"


Aku tak menjawab melainkan hanya menatap bengong pada mereka


"Kami sudah sejak tadi pagi menunggu mbak, dan tuan Hendri telah membooking kami sejak tiga bulan yang lalu"


"Booking kalian? untuk apa?" tanyaku bingung


Kedua perempuan muda di depanku ini saling toleh


"Ya kan mbak hari mau menikah dengan tuan Hendri"


Mataku langsung terbelalak mendengar jawaban salah satu dari mereka


"Menikah?"

__ADS_1


Keduanya mengangguk, dan aku menatap nanar pada mereka berdua


__ADS_2