
Hendri mengepalkan tangannya dan menghembuskan nafasnya dengan kesal
Sementara Linda yang tidak mengetahui penderitaan Hendri, tetap terlelap dengan tenangnya
Hendri sedikit membungkuk dan membenarkan selimut agar menutup sempurna bagian bawah tubuh Linda lalu kembali dia menyandarkan tubuhnya
"Aaarggghhhh....." geramnya dengan gigi gemeletuk
Lalu dia menurun kakinya dan duduk di kursi, memandang kearah ranjang dengan kesal
Air yang tadi disiapkan bi Ni Luh dituangkannya kedalam gelas lalu menenggaknya dengan harapan hatinya akan tenang
Tapi ternyata jiwanya kian meronta, berkali-kali dia merasakan jika keperkasaannya menegang dan kian sulit dikendalikan
Dengan frustasi Hendri kembali keranjang. Gerakan kasarnya ketika merebahkan badan membuatku terbangun dengan kaget
Aku langsung membesarkan mataku dan menatap Hendri yang menyilangkan kedua tangannya di bawah kepala
"Hen.....?" lirihku
Hendri melirik sekilas lalu fokus kembali menatap langit-langit kamar
"Kamu belum tidur?"
Hendri diam tak menjawab pertanyaanku, dan aku pun diam. Lalu aku menggerakkan sedikit tubuhku agar tidak terlalu kaku
"Aaahhhh...." aku menjerit tertahan ketika kaki kiriku berdenyut sakit
Hendri dengan cepat duduk dan menatap ke arahku
"Kenapa?, yang mana yang sakit?"
Aku tak menjawab melainkan kembali mencoba memiringkan tubuhku menghadap kearahnya
" Kamu mau apa?"
Aku menatap kearahnya
"Mau miring"
Hendri menarik nafas panjang lalu menyibak selimutku, lalu membantu memegangi tangan dan kakiku, dan aku kembali menggerakkan tubuhku
Hendri meraih bantal guling dan meletakkan diantara kedua kakiku lalu meraih bantal lagi dan meletakkannya di belakangku
"Terima kasih" lirihku
Hendri tak menjawab, wajahnya makin memerah karena kembali kelelakiannya meronta
Bagaimana dia tidak tergoda, sejak Nia pergi dia tidak pernah lagi bisa melalukan pelepasan dan sekarang ketika Linda telah sah menjadi istrinya masih juga hasrat terpendam tersebut belum bisa dia tuntaskan
Aku menatap kearah Hendri yang telah kembali duduk dengan menyandarkan tubuhnya, menatapnya dengan dalam
Kulihat wajah itu merah dan menegang
"Hen, kamu marah?"
Masih tak ada jawaban
"Maafkan aku ya Hen karena belum bisa melaksanakan kewajibanku" lirihku
Masih tak ada jawaban, dan aku yakin Hendri kesal karena itu, jika bukan karena itu, karena apalagi coba? ini adalah malam pertama kami, tapi aku malah tidak bisa melayaninya
"Hen....?" panggilku lagi
"Tidurlah, aku nggak apa-apa"
"Yakin....?"
Hendri menoleh ke arahku, menatapku dengan dalam.
"Linda.... aku lelaki normal, dan ketika melihatmu dalam posisi begini dan telah sah menjadi istriku, apa yang bisa lakukan?"
Aku menelan ludahku, benar kan tebakanku, batinku
"Aku masih punya hati dan aku tak ingin memaksakan kehendak ku sementara kamu masih sakit, untuk itu cepatlah kamu sembuh...."
Aku tersenyum mendengar ucapannya yang lembut, baru kali inilah dia berkata lembut padaku, biasanya dia akan selalu berkata ketus dan membentak
"Sekarang tidurlah lagi"
Aku mengangguk dan terus menatap wajahnya, dan Hendri melirik lalu kembali melihat kearah lain ketika aku masih saja terus memandanginya
Hendri kembali menarik nafas panjang, dan tangannya terulur kearah kepalaku, diusap-usapnya dengan lembut kepalaku dan aku kian mengembangkan senyumku
"Jangan menatapku terus, nanti aku bisa berubah menjadi monster yang akan melahap mu"
Aku menarik nafas panjang karena kembali suara Hendri berubah dingin
Hendri kembali menggerakkan tubuhnya lalu tidur berbaring di sebelahku, dan memiringkan tubuhnya sehingga mata kami kembali beradu
Kulihat Hendri memejamkan matanya, dan tampak sekali olehku ketegangan di wajah itu
__ADS_1
"Kamu kuat nggak Hen?"
Hendri membuka matanya lalu kembali mengusap kepalaku
"Tidurlah, jangan memancingku terus"
Aku diam dan memilih terus memandangi tiap inci wajahnya
"Aaaggghhh....." Hendri menggeram, ditariknya tengkukku lalu dilahapnya bibirku
Dapat kurasakan nafasnya begitu memburu ketika ******* bibirku. Aku yang mendapat serangan tiba-tiba dari Hendri hanya mampu membalas semampuku
"Ya Tuhan, apakah malam ini akan terjadi?" batinku
Hendri masih saja dengan rakusnya menikmati bibirku dan suaranya kian menggumam tak jelas
Aku yang hampir kehabisan nafas berusaha menggerakkan kepalaku agar Hendri melepaskan bibirku
Tapi sepertinya Hendri masih ingin menikmati bibirku dan terus menekan kepalaku
Gejolak kelelakian Hendri kian meronta keras dan Hendri sudah tak tahan dengan itu
Dilepasnya pagutannya padaku lalu dia berjalan cepat kearah kamar mandi
Aku segera menarik nafas sebanyak-banyaknya ketika ciuman ganas Hendri telah lepas dari bibirku. Dan menatap kearah kamar mandi yang pintunya tertutup rapat
"Maafkan aku Hen..." lirihku
Aku kembali berusaha untuk telentang dan akhirnya itu bisa aku lakukan sendiri
Aku mengusap bibirku dengan tanganku lalu aku tersenyum
"Ya Tuhan, tidak pernah aku bayangkan jika akhirnya aku akan menikah dan merasakan ciuman ganas dari adik iparku sendiri" lirihku
Senyumku seketika hilang ketika pintu kamar mandi terbuka, dan kulihat Hendri keluar dengan wajah yang basah
Hendri berjalan ke arahku, tapi bukan hendak merebahkan tubuhnya melainkan mengambil hp miliknya yang ada di atas meja
"Kamu mau kemana?" tanyaku ketika kulihat dia berjalan kearah pintu
Hendri tak menjawab pertanyaanku melainkan terus melangkah pergi. Aku hanya bisa menarik nafas panjang ketika Hendri telah hilang.
Dan Hendri yang berjalan meninggalkan kamarnya segera naik ke kamar biasa tempatnya beristirahat tiap kali dia datang ke villa ini
Segera Hendri duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke depan dan menggelengkan kepalanya dengan kuat
"Ya Tuhan perempuan itu, apa sih mau dia?" gumamnya kesal
Dibukanya hp dan menatap benda yang sekarang layarnya telah menyala
Tampak dia menyungging senyuman ketika dilihatnya gambar ketika dia mengecup kening Linda
"Cepatlah sembuh Linda....." gumamnya
Cukup lama Hendri duduk di sana, memandang jauh ke depan bahkan sesekali mendongakkan kepalanya ke langit yang tampak bercahaya oleh kilat
"Sepertinya akan hujan" lirihnya lagi ketika terdengar suara gledek berkali-kali
Angin mulai berhembus kencang dan benar saja, hujan mulai turun rintik
Segera Hendri masuk kedalam kamarnya, lalu mencoba memejamkan matanya dengan susah payah
Dan aku yang ditinggalkan Hendri hanya bisa menggerakkan kepalaku ke kanan dan ke kiri tanpa bisa melakukan apa-apa
Suara gledek yang bergemuruh membuatku berusaha merapatkan selimut dan akhirnya terpejam
Begitupun dengan Hendri, karena kelelahan membolak balikkan badannya akhirnya dia tertidur nyenyak ketika hujan telah turun dengan sangat derasnya
...----------------...
Marko dan seisi villa ini telah bangun, tapi Hendri dan Linda belum tampak batang hidungnya
Suasana pagi yang basah membuat cuaca makin terasa dingin, terlebih saat itu masih turun hujan walaupun hanya gerimis
"Sarapannya telah siap tuan"
Marko mengangguk kearah bi Ni Luh, lalu kembali dia fokus menatap tablet di tangannya
"Jam berapa kamu pergi?"
Marko mengangkat kepalanya lalu menoleh kearah tangga dimana Hendri berjalan menuruni tangga dan berjalan kearahnya
"Sebentar lagi bos, selesai sarapan saya langsung berangkat"
Hendri menghenyakkan tubuhnya di sofa lalu menarik nafas panjang
"Bos dari atas?"
Hendri tak menjawab melainkan hanya berdehem, dan Marko hanya mengangguk dan ber O panjang
"Bagaimana malam pertamanya bos?" godanya dengan menahan senyum
__ADS_1
Hendri yang semula merebahkan kepalanya ke sandaran kursi melirik tak suka pada Marko
Dan Marko yang menahan senyum sekarang telah tersenyum lebar
"Kamu tanya bagaimana, iya?, tidak berjalan sesuai keinginanku" keluhnya
Mimik muka Marko berubah ketika mendengar jawaban bos nya.
"Linda kutinggalkan sendiri di kamar, dan aku pindah ke kamar pribadiku"
"Kenapa begitu bos?, apa mbak Linda menolakmu?"
Sekali lagi Hendri berdecak kesal
"Dia sedang sakit Marko, mana mungkin dia bisa melayaniku...."
Marko langsung terkekeh yang makin membuat kesal wajah Hendri
"Haduh bos, padahal cuaca semalam sangat cocok sekali untuk malam pertama"
"Kurang ajar kamu!" geram Hendri sambil bangkit dari kursinya
Marko masih tergelak ketika melihat bos nya tersebut berjalan kearah kamar dimana Linda beristirahat
Pintu kamar yang terbuka membuatku segera menoleh, ku dapati wajah kusut Hendri. Ingin sekali rasanya aku menyapanya. Tapi aku tak berani, karena teringat jika semalam dia pergi dari kamar ini dalam keadaan marah
"Mau keluar apa tetap disini?" tanyanya dingin sambil berdiri di ujung kakiku
"Mau bangun" jawabku pelan
Hendri mendekat dan membantuku duduk
"Maaf Hen, apa pakaianku di hotel kamu bawa kesini?"
Hendri mengangguk
"Bisa telponan bi Ni Luh?, aku mau ke kamar mandi, aku mau ...." ucapku menggantung dengan ragu
Hendri faham bisa jadi Linda ingin buang hajat atau juga dia mau membasuh mukanya
"Mau apa?"
"Pipis" jawabku menundukkan kepalaku
Hendri segera berjongkok dan menyibakkan selimutku lalu mengangkat tubuhku
Lalu dibawanya aku masuk kedalam kamar mandi dan mendudukkan ku di atas kloset duduk
"Akan ku panggilkan bi Ni Luh"
Aku mengangguk, dan tak lama muncul bi Ni Luh
"Apa nyonya mau sekalian mandi?"
Aku mengangguk
Dengan pelan bibi Ni Luh melepaskan pakaian yang menempel di tubuhku lalu membantuku berdiri
Aku berjalan dengan satu kaki dan bibi Ni Luh memapah kau berjalan
Bibi Ni Luh memandikanku dan setelah selesai langsung mengeringkan tubuhku dan memakaikan handuk ke tubuhku
Kami berdua lalu keluar dari kamar mandi yang ternyata telah ada kursi roda di depan pintu
Aku segera duduk dan bibi Ni Luh mendorong kursi roda kearah ranjang lalu beliau membuka lemari dan mengambilkan ku pakaian
"Bajunya yang dress saja bi biar nggak susah aku memakainya"
Bibi Ni Luh menurut dan diambilnya dress lalu dengan sangat hati-hati memakaikan ke tubuhku
Setelah selesai semuanya beliau membawaku keluar dari kamar ini dimana aku lihat keadaan villa sepi
Tak lama muncul Marko yang telah rapi, dan tersenyum ketika berjalan ke arahku
Lalu muncul pula Hendri yang juga telah rapi
"Ayo, nanti kita terlambat"
Marko dengan kaget menoleh kearah Hendri
"Bos mau kemana?"
"Pulang, apa kamu lupa jika kita meninggalkan proyek besar kita?"
Aku diam mendengar jawaban Hendri begitu juga dengan Marko
Tapi dia tak berani membantah, dia hanya segera mengekor di belakang Hendri ketika lelaki itu telah berjalan mendahuluinya
Sedikitpun Hendri tak menoleh apalagi berpamitan padaku. Aku hanya mengikuti kepergiannya dengan ekor mataku
Sampai akhirnya terdengar suara mesin mobil dan suara pintu mobil di tutup, dan akhirnya suara mobil yang bergerak menjauh
__ADS_1