
"Cantik juga dia" batin Hendri ketika melihat Linda masuk
"Ngapain lihat aku kaya gitu?"
Hendri melengos
"Nanti kamu beli baju kerja, benar yang dikatakan kedua anakku, kamu harus tampil modis, nggak boleh kucel, buat malu aku nanti"
Aku mendecak dengan menatap kesal padanya
"Tapi aku nggak ada uang Hen buat beli baju"
Hendri masih tak bereaksi ketika aku berkata seperti itu
"Ambil hp aku!"
Aku mendekat
"Dimana?"
"Di kantong celanaku"
"Nggak mau, ambil aja sendiri"
"Mata kamu buta apa?"
Aku menelan ludahku ketika Hendri membentak
Dengan mendecak kesal akhirnya aku mendekatkan tanganku kearah kantong celana Hendri
"Ya kamu berdiri dong Hen"
"Bisa nggak kamu jangan panggil aku Hen, Han Hen Han Hen..."
"Lah aku kan kakak iparmu, emang sih usia aku jauh lebih muda dari kamu, tapi kan emang dari awal sesuai urutan keluarga lebih tua Agung dari kamu karena ibu mertua aku, kakaknya mama kamu"
"Tapi aku nggak pernah menganggap kamu kakak iparku, terlebih karena sekarang kamu sudah bercerai dengan Agung"
Wajahku langsung masam
"Itulah ketidaksopanan kamu Hen, kamu itu harusnya menuruti tradisi turun temurun keluargamu, dimana umur bukan patokan siapa yang dipanggil kakak dan siapa yang dipanggil adik, tapi urutan siapa yang lahir duluan dari orang tuanya, adab Hen, adab"
"Sudah nggak usah bawel, kamu sudah mirip mamaku saja"
Aku terpaksa menarik nafas panjang dan segera merogoh kantong celananya dengan ragu ketika dia berdiri
"Awas nanti salah pegang"
Plakkk!!
Tanganku refleks memukul tangannya dengan kesal yang membuat Hendri langsung terduduk dengan kesakitan
"Ya Tuhan, maaf Hen.... sakit ya?"
"Dasar perempuan bodoh, kamu pikir nggak sakit apa?"
Aku yang semula khawatir menjadi cemberut ketika dia kembali membentak dan berkata kasar padaku
"Ambil aja sendiri" ucapku merajuk dan menjauh dari tempat duduknya
"Kamu bilang tadi kamu tidak punya uang, jadi aku akan transfer uang untuk kamu!"
Aku yang duduk di sofa hanya melihat dengan wajah cemberut padanya
"Nggak usah Hen, baju yang di hotel bisa kok aku pakai" jawabku pelan
Hendri diam melihatku menjawab seperti itu
"Berserah kalau itu mau kamu, sekarang juga kamu langsung kerjakan pekerjaan ku hari ini"
Aku mengangguk dan segera berjalan kearah meja kerjanya, segera duduk dan membuka laptop pribadinya
Hendri hanya memperhatikan dari tempat duduknya bagaimana Linda menghidupkan laptop dan telah menatap layar monitor yang telah menyala tersebut
"Apa Hen yang harus aku kerjakan?"
Hendri menatap tajam ke arahku
"Maaf, tuan Hendri...." ucapku melemah
"Kamu buka email, tanya pada Marko"
Aku mengangguk, lalu aku segera membuka email, mengirimi Marko email
Loh kok kamu yang mengerjakan tugas tuan Hendri?
Aku menarik nafas panjang membaca balasan Marko, lalu melirik kearah Hendri
__ADS_1
"Bilang sama Marko, saya yang nyuruh kamu"
Aku mengangguk
"Tajam juga batin laki-laki ini, bagaimana dia bisa tahu jika Marko tidak yakin" batinku
Tapi karena tak berani membantah aku segera menjelaskan apa yang dikatakan Hendri pada Marko
Beberapa menit berikutnya ada beberapa email masuk dari Marko
Pelajari dulu, jangan gegabah, ini proyek besar
Aku mengiyakan email Marko
Aku lalu membaca garis besar mega proyek yang akan perusahaan Hendri adakan
Kepalaku sudah maju mundur cantik membaca banyaknya program kerja dan laporan yang dikirimkan Marko
Berkali-kali aku menarik nafas panjang ketika aku berusaha memahami isi laporan itu
"Ya Tuhan, aku tidak faham" batinku frustasi
Kulihat Hendri yang duduk di sofa terus melihat ke arahku, lalu aku kembali fokus membaca email itu kembali
"Bagaimana?"
Aku menarik nafas panjang
"Masih aku baca, mencoba untuk memahaminya"
Hendri memasang wajah datar mendengar jawabanku
Lalu aku berdiri dan mendekat kearahnya
Tanpa permisi aku mengambil botol air minum yang ada di hadapannya
Langsung aku menenggaknya hingga tandas
Jakun Hendri naik turun ketika dilihatnya leher putih Linda bergerak ketika mereguk air
Apalagi ketika dilihatnya Linda mengelap bibirnya dengan punggung tangannya
"Sengaja perempuan ini" makinya dalam hati
Setelah menghabiskan minum aku kembali ke depan laptop dan kembali fokus mempelajari materi yang dikirim Marko
"Kenapa?"
Aku menggeleng pelan
"Aku bingung Hen..."
Rahang Hendri mengeras
"Kamu bilang dulu asisten manager, masa hanya memahami materi proyek saya saja tidak bisa?"
Aku kembali menarik nafas panjang
"Itu sepuluh tahun yang lalu Hen"
"Apa bedanya dengan sekarang?"
Aku mendecak
"Aku lelah Hen, dan ini juga sudah lebih dari tiga jam aku membaca berkasnya"
"Terus?"
"Aku lapar, aku belum makan"
Hendri mendecak, jelas sekali kutangkap kekesalan di wajahnya
"Iya iya iya, aku kerja lagi" jawabku terburu
Lalu kembali aku fokus membaca laporan berkas yang jumlah halamannya ratusan
Suara perutku yang minta diisi tak ku hiraukan. Aku takut jika Hendri akan marah lagi padaku
Mataku yang meredup pun, sekuat tenaga aku tahan
Ku lirik Hendri telah memejamkan matanya. Dia membaringkan tubuhnya di sofa. Dengan pelan aku bangkit dari kursi dan berjalan berjingkat keluar dari ruangan tersebut
Berlari kebelakang, dan berpapasan dengan bik Ning
"Kenapa mbak?"
Aku nyengir malu
__ADS_1
"Bik, aku dari tadi pagi belum makan, boleh aku minta makan?"
Bik Ning tergopoh membawaku kebelakang dan langsung memberikan piring padaku
Begitu mendapat piring dari bik Ning aku segera mengisinya dan langsung menyuapkan ke mulutku, makan dengan cepat karena aku takut jika Hendri bangun dan melihatku tidak ada dia bisa marah
"Makannya pelan-pelan"
Aku hanya mengangguk kearah bik Ning karena perutku penuh
Secepatnya aku menenggak air minum lalu meletakkan piring di wastafel lalu kembali naik
Kulihat diluar hari mulai gelap, dan kulihat jam di laptop hampir menunjukkan angka tujuh
"Ya Tuhan, ini rumah sepi sekali" batinku mengitari seisi ruangan
"Nia kemana pula ini, dari siang tadi aku disini aku tak melihatnya, apa ini maksud omongan Hendri dan anaknya siang tadi?" gumamku
Aku segera membetulkan posisiku menatap laptop ketika kulihat Hendri duduk
Hendri hanya melihat ke arahku lalu kembali menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi
"Bagaimana?"
Aku menggeleng
Hendri berdiri lalu berjalan ke arahku. Diputarnya laptop menghadap kearahnya
Ditatapnya sekilas layar laptop lalu menatap tajam ke arahku
"Dari tadi kamu tidak faham-faham?"
Aku mengangguk
"Sudah seharian ini?"
Aku kembali mengangguk dengan menatap takut ke wajahnya
"Kamu dulu kuliah dimana?"
Aku menyebutkan nama universitas negeri ternama di kota Y
"IPK kamu berapa?"
Aku menatap wajahnya dengan kesal
"Yang pastinya aku tidak cumlaude, tapi nilaiku besar itulah makanya aku bisa diterima di perusahaan besar"
Kulihat Hendri tersenyum mengejek
"Jika nilai kamu besar kenapa hanya memahami isi dokumen ini saja kamu tidak bisa???"
Aku memalingkan wajahku dan tertunduk takut ketika kembali Hendri membentak ku
"Perhatikan penjelasan saya!!!"
Aku mengangkat wajahku dan melihat kearah laptop yang Hendri putar kembali ke arahku
Lalu dengan nada tinggi Hendri mulai menjelaskan padaku tentang rencana mega proyek yang akan dikerjakannya
Aku hanya mendengarkan tanpa mengerti sedikitpun
Apalagi Hendri menjelaskannya sambil marah-marah, makin membuat aku bingung dan ketakutan
"Sampai disini faham?"
Aku mengangguk cepat karena tak ingin kena marah lagi, padahal aku masih belum juga faham
"Bagus jika sudah faham, kamu kerjakan laporan yang belum selesai ini, aku mau mandi"
Aku menarik nafas panjang ketika Hendri berlalu dari hadapanku
Dan kembali menatap layar laptop dengan fokus
Lalu aku mengirimi Marko email meminta bantuannya, karena sejujurnya aku masih belum memahami arahan kerja yang tadi dijelaskan Hendri
"Lindaaaaa......."
Aku terlonjak dan segera bangkit dari kursi, lalu berlari cepat kearah kamar mandi yang tertutup rapat
"Lindaaaa...." kembali kudengar Hendri berteriak
"Iya Hen, kenapa?"
"Masuk kamu!"
"Hah???!"
__ADS_1
"Masuk!!!"