Istri Yang Tergadaikan

Istri Yang Tergadaikan
Hendri Datang Kembali


__ADS_3

Aku hanya bisa menarik nafas panjang ketika tak terdengar lagi suara mobil


"Sarapan?"


Aku menggeleng mendengar pertanyaan bi Ni Luh


"Diluar masih gerimis kita tidak bisa jalan-jalan"


Aku mengangguk dengan wajah sedih


"Aku mau ke teras saja bi, mau lihat halaman"


Bi Ni Luh segera mendorong kursi rodaku dan membawaku ke teras


Terdengar suara panggilan dari dalam yang memanggil bi Ni Luh


"Saya kedalam sebentar nyonya"


Aku mengangguk tanpa menoleh kearahnya , dan terus saja memandangi halaman yang basah


Tatapanku kosong dan pikiranku melayang. Tentu saja saat ini yang kupikirkan adalah ketiga anakku


Sementara Hendri dan Marko yang telah sampai di bandara segera menunggu di waiting room menunggu jam penerbangan mereka


Marko yang sejak dari mobil hingga sekarang, saat mereka duduk bersebelahan masih tak berani bertanya mengapa bosnya tersebut memilih kembali ke ibukota padahal dia sendiri yang berkata jika akan seminggu berada di kota ini


Hingga akhirnya mereka duduk di dalam pesawat dan pesawat telah mengudara barulah Marko memberanikan diri untuk bertanya


"Bukankah bos sudah ijin cuti satu minggu?"


Hendri hanya menoleh sekilas pada Marko yang duduk di sebelahnya


"Sudah kukatakan mega proyek kita jauh lebih penting"


Marko akhirnya hanya bisa mengangguk dan duduk diam


...----------------...


Sudah dua minggu aku berada di villa ini, dan sekalipun Hendri tak pernah menghubungiku bahkan hanya untuk mengirimiku pesan


Dan aku yang sadar dengan posisiku hanya sebagai istri kontraknya hanya tersenyum getir ketika aku berharap setiap hari jika Hendri akan menelepon dan bertanya tentang kabarku


Untuk membunuh kesepianku, selain berjalan di taman luas villa ini aku juga belajar menggerakkan tangan dan belajar berjalan


Walau awalnya masih sangat sulit karena sakit yang masih sangat terasa tapi aku tak putus asa


Sampai akhirnya di hari ketujuh aku berada di villa ini datang seorang dokter cantik yang memperkenalkan dirinya dengan nama Grace, yang menjelaskan padaku jika dia diutus oleh Hendri untuk mengontrol keadaanku


Kepada dokter inilah aku belajar menggerakkan tangan dan kakiku sesuai arahannya


Setiap hari dokter Grace akan datang ke villa ini, memeriksa keadaanku dan menuntunku berjalan


Dan kepadanya lah aku mulai berlatih berdiri seperti hari ini, walau nafasku tersengal karena kakiku masih terasa sakit tapi aku tak putus asa.


Aku harus sembuh, aku tak ingin Hendri makin marah padaku dan yang paling penting untukku adalah agar aku cepat terbebas darinya


Saat aku sedang berlatih berjalan, kami lihat mobil hitam masuk. Aku yang sedang berjalan dengan dituntun dokter menghentikan gerakan kami


Degup jantungku berpacu cepat ketika kulihat Hendri turun dari dalam mobil


Kaca mata hitam, tuxedo yang tidak dikancing sehingga kemeja putihnya kelihatan


Dokter Grace yang sedang memapah ku melepaskan pegangannya pada tangan dan bahuku lalu aku berusaha untuk berdiri sendiri dengan sedikit limbung, dan dengan cepat aku berpegangan pada bahu dokter tersebut agar aku tak jatuh


Menyadari jika aku akan jatuh, dokter tersebut kembali memegangi tanganku

__ADS_1


"Oh, maaf..." ucapnya cepat


Hendri berdiri di depan kami, melepas kacamatanya lalu menatap dokter Grace yang juga menatap kearahnya


"Tidakkah kau ingin memelukku Hen?"


Aku menelan ludahku mendengar ucapan dokter cantik itu


Hendri tersenyum segaris lalu maju dan memeluk dokter tersebut


Aku kembali harus berusaha berdiri dengan satu kaki lurus sempurna dan kaki kiri sedikit menjinjit karena dokter tadi kembali melepaskan tangannya dari tanganku


Aku hanya melihat bagaimana Hendri mengusap punggung dokter tersebut dan dokter tersebut tersenyum


"Cukup lama ya kita tidak bertemu" ucap dokter tersebut


Hendri mengangguk, lalu menoleh ke arahku yang sejak tadi hanya memperhatikan mereka berdua


"Bagaimana keadaannya?"


"Oh, perkembangannya cukup baik, niatnya untuk sembuh sangat kuat"


"Terima kasih untuk bantuanmu Grace"


Dokter itu mengangguk dan kembali tersenyum


"Latihannya selesai dokter?" tanyaku karena sejak tadi aku lihat mereka berdua terus saling tatap


"Ah iya...." jawab dokter tersebut cepat


Aku segera menoleh kearah teras dimana bibi Ni Luh berada


"Bi sudah" ucapku cukup keras


Bibi Ni Luh segera datang dengan mendorong kursi roda lalu aku segera berusaha duduk


Lalu kursi roda yang didorong bi Ni Luh bergerak meninggalkan Hendri dan dokter Grace


Ketika sampai di dalam aku meminta bibi Ni Luh segera membawaku ke kamar karena tiba-tiba perasaanku jadi tak enak


"Aku bisa bik" ucapku ketika bibi Ni Luh berniat membantuku turun


Setelah duduk ditepi ranjang, aku meminta bibi Ni Luh meletakkan bantal untukku bersandar


Selesai dengan meletakkan bantal di sandaran ranjang, aku meminta bantuan bibi Ni Luh untuk membantu mengangkatkan kaki kiriku


Dengan kembali meringis akhirnya kaki kiriku berhasil juga diangkat keatas ranjang dan aku kembali meminta bantuan bibi Ni Luh untuk menutupi kakiku dengan selimut


"Terima kasih bi" ucapku lega karena akhirnya semuanya selesai


"Mau bibi ambilkan minum?"


Aku mengangguk, lalu bibi Ni Luh keluar dari kamar dan aku menoleh kearah jendela, dimana aku bisa melihat keluar


Kulihat dokter Grace tertawa renyah di sebelah Hendri yang mengangkat-angkat tangannya sepertinya menjelaskan sesuatu


Aku tersenyum kecut memperhatikan kedekatan keduanya, terlebih ketika mereka kembali berpelukan hangat


Kulihat dokter Grace melambaikan tangannya, tak lama kemudian terdengar suara deru mobil


Kembali aku tersenyum dengan menggelengkan kepalaku ketika aku merasa lega mengetahui dokter Grace pulang


Suara pintu yang terbuka membuatku menoleh dan kulihat bibi Ni Luh membawa segelas jus buah untukku, meletakkannya di atas meja tepat di dekatku


"Masih ada lagi yang nyonya inginkan?"

__ADS_1


Aku diam lalu melihat kearah meja hias yang ada di kamar ini


"Tolong ambilkan hp ku bik"


Perempuan paruh baya tersebut langsung memutar badannya mengambil hp lalu mengulurkannya padaku


"Terima kasih bik, aku rasa semuanya cukup. Nanti jika aku butuh sesuatu, aku bakal nelpon bibi"


Bibi Ni Luh mengangguk sambil tersenyum lalu berlalu dari hadapanku


Aku menarik nafas panjang, kembali menoleh kearah pintu berharap jika Hendri akan masuk dan menemui ku


Tapi hingga cukup lama aku menunggu, tidak ada tanda-tanda Hendri akan masuk menemui ku. Kembali aku harus tersenyum getir dan menggelengkan kepalaku


Karena Hendri tak juga muncul ke kamar menemui ku, aku memilih membuka hp dan berselancar di dunia maya


Aku tersenyum ketika melihat postingan teman-teman dunia maya ku atau aku akan memandang takjub ketika melihat postingan keindahan alam Swiss yang aku ikuti akunnya


Entah sudah berapa lama aku berselancar di dunia maya, melihat video yang dibagikan artis favoritku, melihat video thriller film yang akan segera tayang, bahkan melihat video kocak artis favoritku


Tawaku segera terhenti ketika pintu terbuka. Dengan cepat aku meletakkan hp di atas kasur lalu menatap kearah Hendri yang berjalan ke arahku


Dengan kasar Hendri merebut hp yang ku genggam lalu menatap ke arahku dengan tajam


Aku segera menunduk menghindari tatapan tajamnya


"Aku sudah pernah bilang, jangan bermain sosial media"


Aku tak berani menjawab melainkan terus menunduk


"Punya telinga kan?, kamu tidak amnesia ketika kamu mencoba bunuh diri kemarin, kamu hanya patah tulang"


"Iya maaf...."


Hendri melemparkan hp tersebut kembali keranjang dan aku sama sekali tak berani mengambilnya


Aku mengangkat kepalaku ketika kudengar pintu ditutup, dan menarik nafas lega


...----------------...


Seperti biasa, aku akan makan malam dengan seluruh penghuni villa ini, tidak ada batasan antara kami, baik itu asisten rumah tangga, supir, tukang kebun, penjaga rumah bahkan bodyguard


Tapi malam ini terasa berbeda karena mereka semua tak tampak di meja makan, bahkan bibi Ni Luh yang membawaku kemeja makan begitu aku duduk di kursi langsung pergi meninggalkan meja makan


Aku hanya melongo memandang isi meja makan yang telah tertata rapi, dan terus menolehkan kepalaku berharap jika yang lain akan segera datang ke meja makan


Dengan menarik nafas panjang aku berusaha berdiri dan meraih piring lalu mengisinya dengan nasi


Saat aku sedang mengisikan sayur kudengar ada langkah kaki, dan aku segera menoleh. Kulihat Hendri berjalan kearah meja makan dengan terus menatap ke arahku


Hendri lalu menarik sebuah kursi untuknya, duduk dan kembali menatap ke arahku yang masih menatap kearahnya


"Mau sekalian ku ambilkan?" tanyaku pelan


Hendri mengangguk. Piring yang tadi telah ku isi untukku aku singkirkan, lalu aku kembali mengambil sebuah piring lalu mengisinya dengan nasi


"Lauknya mau apa?"


"Apa saja"


Aku mengangguk, lalu mengisikan sepotong daging bistik dan cumi goreng lalu meletakkannya di depan Hendri


Kami makan dalam diam, dan aku makan sambil menunduk tak berani menatap mata Hendri


Selesai makan, aku kembali berusaha berjalan kearah kursi roda dan duduk, lalu menoleh sebentar pada Hendri yang masih duduk di meja makan kemudian aku mendorong sendiri kursi roda, masuk kedalam kamarku

__ADS_1


Dan ketika tiba di kamar, kembali aku berusaha untuk duduk di pinggir ranjang, menarik selimut lalu menutupi kakiku, kemudian bengong tanpa tahu harus melakukan apa. Karena aku tak berani membuka hp, takut dimarahi Hendri lagi


__ADS_2