Istri Yang Tergadaikan

Istri Yang Tergadaikan
Pencarian


__ADS_3

Hendri yang masih menahan amarahnya keluar dari dalam kamar Linda, kembali keruang tengah dimana seluruh penghuni villa sedang berkumpul


"Sini saya lihat!" ucap Hendri sambil menarik layar monitor yang merekam seluruh area villa ini


Giginya gemeletuk ketika dilihatnya Linda ditampar dan dijambak Nia serta diseret paksa oleh dua lelaki yang membawanya naik kedalam mobil


"Pastikan jika malam ini kita telah mengetahui dimana Nia membawa istriku" geram Hendri


"Polisi sudah bergerak bos, dan juga teman-teman saya sudah saya perintahkan bergerak"


"Terus ngapain kalian masih ada di sini??!" teriak Hendri


Kedua bodyguard itu diam dan menundukkan kepala mereka


"Hen, mereka disini karena mereka yakin, kamu pasti butuh mereka" jawab Grace pelan kembali mencoba menenangkan saudara kembarnya tersebut


"Kalian adalah orang pertama yang akan aku siksa jika sedikit saja tubuh istriku terluka"


Kedua bodyguard tadi terus menundukkan kepala mereka tanpa berani berkata sedikitpun


"Kan sudah saya bilang, jangan tinggalkan istri saya barang sedetikpun, kan kalian tahu teror di rumah saya, mengapa kalian masih teledor?"


Seluruh penghuni villa diam, tidak ada satupun yang berani mengangkat kepala mereka


"Kalian tahu, istriku sedang hamil tua, jika terjadi sesuatu pada istriku dan calon anakku kalian semua aku pastikan akan menerima akibatnya"


Grace menarik nafas panjang mendengar Hendri meneriaki para pekerjanya, tak mungkin bagi Grace untuk dapat menenangkannya dengan mudah


Seumur hidup Grace, Hendri menangis hanya karena dirinya, tapi kali ini Hendri menangis karena Linda, dan Grace yakin jika Hendri benar-benar mencintai wanita itu


Terlebih ketika bagaimana tadi Grace melihat Hendri yang menangis sambil memeluk dress Linda


"Bos, kami akan bergerak, bos di rumah saja" ucap Marko


Hendri menggeleng


"Aku akan pergi bersama kalian, ke ujung dunia pun aku akan pergi" geram Hendri sambil berjalan mendahului Marko dan dua bodyguard


Supir pribadi ikut berjalan cepat, dan segera berlari masuk kedalam mobil ketika Hendri telah lebih dulu masuk


Dua bodyguard menaiki motor besar mereka, sedangkan Marko ikut masuk kedalam mobil dan duduk di sebelah supir


Segera dua bodyguard mendahului mobil keluar dari dalam villa, keduanya sebagai penunjuk arah kemana saja kira-kira tempat berbahaya dan tempat penyamun biasanya bersembunyi


...----------------...


Aku gelagapan ketika kurasakan dingin di wajahku akibat guyuran air


"Bangun!!!!" teriak sebuah suara yang memaksaku sadar dari pingsan ku


Kembali aku melihat dua lelaki yang tadi menyeret ku sekarang telah berdiri di depanku, salah satu dari mereka memegang ember air yang kembali menumpahkan isinya keatas kepalaku

__ADS_1


"Bagaimana Linda, apa kamu masih berpikir untuk terus menjadi istri Hendri?"


Aku yang lemas akibat air yang terus ditumpahkan keatas kepalaku tadi tidak menjawab pertanyaan Nia


"Sekarang masih air yang aku suruh tumpahkan keatas kepala kamu, tapi besok, bisa jadi bensin yang akan mengalir dari atas kepala kamu" ucap Nia dingin sambil mencengkeram daguku


"Cukup Nia, jangan kau siksa terus wanita itu, ini sudah tengah malam, biarkan dia istirahat" ucap Agung


Aku hanya melirik kearah Agung yang berdiri dari kursi dan sekarang berjalan ke arahku


Nia menepis daguku lalu gantian Agung yang menarik wajahku, dielusnya wajahku yang membuatku menggerakkan wajahku menghindari tangannya


"Jangan munafik Linda, sepuluh tahun kau menjadi istriku dan aku sudah tahu luar dalam tubuhmu"


Aku menggeleng dan terus menghindari tangannya


"Sudah lama sekali aku tidak menyentuhmu" bisik Agung pelan di telingaku yang mampu membuatku bergidik ngeri


Kembali dengan kuat aku menggeleng


"Kau mau apa?!" teriakku ketika kurasakan tangan Agung berjalan di tengkukku


Agung menyeringai mendengar ku berteriak marah, lalu dengan cepat dia menarik tengkukku dan melahap bibirku


Aku terus berusaha menggerakkan kepalaku menghindari bibirnya yang terus berusaha melahap bibirku


Sampai akhirnya dengan kuat aku menggigit bibirnya yang membuatnya terpekik dan mendorongku


"Kurang ajar!!" geramnya sambil kembali berusaha menarik tengkukku


"Lepaskan!!!" teriakku


Agung tak memperdulikan teriakanku, dia terus saja berusaha mengulangi perbuatannya


"Mas Hendriiiii.... Maaassss.... tolong aku....." teriakku kencang


"Lindaaaaa!!!"


Supir yang membawa Hendri dan Marko sontak ngerem mendadak ketika didengarnya Hendri berteriak kencang


Marko yang duduk di depan langsung menoleh cepat kearah Hendri yang tampak mengusap kasar wajahnya


"Ya Tuhan, Marko cepat kita harus menemukan istriku, aku yakin Linda sedang dalam bahaya" gumam Hendri panik sambil terus bergerak gelisah


"Sabar bos, bos tadi tertidur" ucap Marko menatap khawatir pada Hendri yang masih tampak kacau


"Kita sudah dimana sekarang?"


"Kita sudah jauh ke ujung propinsi bos, dan tadi dua bodyguard juga sudah melapor jika ada preman yang melihat mobil yang membawa istri bos lewat arah sini, dan sekarang mereka sudah duluan"


"Ayo cepat, mengapa berhenti?" teriak Hendri yang menyadarkan supir bahwa mereka harus melanjutkan perjalanan mereka

__ADS_1


Kembali mobil melaju kencang


Kami sudah di lokasi, dan ada mobilnya terparkir di bagian belakang


Marko menarik nafas panjang membaca pesan yang dikirim bodyguard


Langsung berpencar, kepung tempat itu, usahakan mbak Linda baik-baik saja


Sedangkan di tempat penyekapan, aku yang terus berteriak memanggil nama Hendri hanya mendapatkan tertawaan dari Agung dan yang lainnya


Bahkan Agung yang tadi mencoba melecehkan ku kembali berniat melakukan itu


"Agung!!!" bentak Nia marah


Agung yang telah mencengkeram daguku menoleh kearah Nia dengan menyeringai


"Ingat, perempuan itu sedang hamil, apa yang kau lihat dari perempuan hamil?"


Agung tersenyum sekilas


"Tahukah kau Nia, bahwa wanita hamil itu sangat seksi, begitu mempesona"


Nia mencibir mendengar ucapan Agung


"Pokoknya aku tidak mau tahu, jangan kau apakan perempuan itu, tujuan kita membawanya kesini bukan untuk kau tiduri, mengerti?!"


Agung kembali menyeringai dan sekarang berganti mengelus wajahku kembali


"Kamu masih ingatkan Linda bagaimana dulu aku sangat bergairah jika melihat perutmu yang membuncit?"


Aku melengos, rasanya sangat jijik mendengar ucapannya, dan Agung hanya tertawa menyeringai melihatku membuang wajah


"Bibirmu masih terasa manis seperti dulu Linda, tidak berubah"


"Agung!!!" kembali Nia berteriak yang akhirnya memaksa Agung membalikkan badannya dan berjalan mengikuti Nia, keluar dari tempat ini


Aku menarik nafas lega ketika keempat orang yang menyekap ku pergi.


Lalu aku meludah berkali-kali dan berusaha mengelap mulutku dengan pundakku


"Hiiii....." ucapku bergidik karena merasa jijik dengan bekas ciuman Agung tadi


Setelah itu aku kembali berusaha menggerakkan tangan dan kakiku, berharap jika ikatannya akan mengendur


Tapi semuanya sia-sia karena ikatannya sangatlah kuat.


Akhirnya aku hanya kembali pasrah, menatap kosong pada ruangan yang tak ku kenali ini


"Aku dimana?" lirihku sedih


"Mas.... kamu dimana mas?, tolong aku mas....." kembali aku bergumam berharap jika Hendri akan segera datang dan menolongku

__ADS_1


"Selamatkan aku mas, selamatkan anak kita" lanjut ku lagi sambil terisak


__ADS_2