
"Nia bangun!!!!" teriak Hendri kencang
Ketiga anaknya yang berada di lantai bawah segera keluar dari kamar mereka masing-masing dan berlari kembali masuk ke kamar pribadi orang tuanya
Hendri yang emosi mengangkat tubuh istrinya yang terpejam rapat. Khayla yang paling dulu masuk melihat kondisi maminya langsung memutar kembali badannya
Begitu juga dengan Mutiara dan Alika. Melihat ketiga anaknya yang memutar kembali badan mereka makin membuat Hendri curiga
"Khayla tunggu!"
Dengan malas Khayla berhenti, begitu juga dengan kedua adiknya
Hendri segera meletakkan kembali tubuh istrinya yang bau alkohol. Dan dapat dilihatnya juga seperti ada bekas muntahan di baju istrinya
"Mami sering pulang dalam keadaan begini?"
Khayla melengos dan mendecak kesal
"Khayla?" tanya Hendri lagi dan makin curiga
"Makanya papi itu jangan kebanyakan di luar, jangan hanya ngurusin bisnis, sampai kebiasaan mami saja papi nggak tahu"
Wajah Hendri langsung mengeras mendengar anak sulungnya yang berani membentaknya
Di pejamkannya matanya menahan marah yang kian membuncah. Lalu ketiga anaknya turun dan membiarkan papi mereka tertegun sendiri
Hendri kembali ketempat tidur memandangi wajah Nia yang terpejam
Marah dan kecewa campur aduk di dadanya
"Apa begini kerjamu Nia jika aku tak di rumah" lirihny
Kekesalan kian memenuhi dada Hendri dan dengan segera dia berdiri, masuk kedalam kamar mandi dan duduk lama di bawah guyuran shower
Setengah jam berikutnya barulah dia keluar dan mengeringkan rambut basahnya
Nia masih tak bergerak, sepertinya efek alkohol yang banyak membuatnya tak sadar-sadar
Hendri memakai celana jeans, dipadukan dengan kaos, dan rambutnya dibiarkannya tergerai
Disambarnya jaket lalu dia turun. Alika yang melihat papinya turun segera menoleh
"Papi mau kemana?"
Hendri menghentikan langkahnya. Dilihatnya Alika duduk sendiri.
"Keluar sebentar nak"
Alika menarik nafas dalam dengan raut wajah yang langsung mendung
"Alika sama kakak saja, ya?"
Alika tak menjawab melainkan menarik nafas dalam lagi
Hendri jadi ragu untuk meninggalkan anaknya sendiri, terlebih ketika jelas dilihatnya wajah Alika mendung. Apalagi sebelum keluar kota Hendri telah berjanji jika akan meluangkan waktu untuk Alika
Hendri lalu beranjak ke kursi, dan duduk di sebelah Alika.
"Alika mau makan malam sama papi?"
Mata Alika membulat dan menatap tak percaya pada papinya. Hendri menganggukkan kepalanya meyakinkan Alika
"Sama kakak juga ya pi?"
Hendri mengangguk. Secepat kilat Alika berlari menuju kamar kedua kakaknya yang tak lama setelahnya terdengar suara gradak gruduk heboh
__ADS_1
"Serius pi?" tanya Khayla tak percaya
Hati Hendri berdenyut tak karuan melihat tatapan tak percaya dan sinar bahagia dari mata putri sulungnya
Hendri mengangguk lalu secepat kilat Khayla mendekap erat tubuh Hendri dengan tak hentinya menciumi wajah tampan papinya
"Ya Tuhan apa sebegitu bahagianya anakku dengan perlakuan kecil ini?" batinnya tak percaya
Tak lama telah muncul Mutiara dengan Alika yang telah rapih, sedangkan Khayla karena memang selalu tampil modis tak perlu berganti pakaian lagi
Segera keempatnya keluar dari rumah. Dan supir pribadi yang mengetahui jika bosnya akan keluar segera berdiri dan hendak menyiapkan mobil
"Nggak usah pak, kali ini saya sendiri yang bawa mobil"
Supir pribadi itu mengangguk dan menyerahkan kunci mobil ke tangan Hendri
Khayla duduk di depan dengan tak hentinya memandang sayang pada papinya yang menyetir
"Kita ke restoran Japanese food ya pi?"
Hendri mengangguk dan tersenyum kearah Khayla
Hingga akhirnya mobil yang dikemudikan Hendri masuk ke kawasan restoran high class dan segera ketiga anaknya turun
Hendri langsung naik ke vvip room private dan dengan segera pelayan memberikan buku menu
"Saya ingin chef nya langsung memasak di sini di depan kami"
Wajah ketiga anaknya kembali sumringah. Dengan segera pelayan keluar dan tak lama telah membawa seorang chef dan beberapa pelayan lain membawa alat memasak dan juga bahan makanan yang tadi dipesan Hendri
Dengan lincah chef langsung memasak makanan di depan keluarga kaya raya tersebut.
Saking antusiasnya, Mutiara sampai ikutan memotong daging yang terus bertanya pada chef tentang menu dan bahan yang akan dimasak
"Pi, Tia bolehkan jadi chef?"
Satu jam berikutnya terhidang lah semua makanan yang mereka pesan.
Dengan lahap ketiga anak Hendri makan, bahkan sesekali Hendri membersihkan mulut Alika yang belepotan
Tak mau kalah, Khayla dan Mutiara minta diperhatikan juga
Akhirnya sudah lebih dari tiga jam mereka berempat di restoran itu. Dan selesai dari sana, mereka tak langsung pulang, Hendri masih mengajak anaknya berjalan-jalan di taman kota
Entah kapan terakhir kali dia mengajak ketiga anaknya jalan-jalan sepertinya itu sudah lama sekali
Hingga hampir jam dua belas malam barulah keempatnya pulang. Tampak sekali kebahagiaan dari wajah ketiga anak gadis Hendri
Dan Hendri pun merasakan hal yang sama. Mungkin karena kelelahan dan juga memang sudah larut malam, ketiga anaknya tertidur ketika diperjalanan menuju rumah
Security segera berlari ketika membukakan pintu pagar ketika didengarnya suara klakson. Dengan segera Hendri memasukkan mobil, dan berhenti di depan
Di gerakkannya tubuh Khayla pelan
"Sayang, bangun nak kita sudah sampai"
Khayla bergeming. Hendri menarik nafas panjang, Khayla sudah hampir setinggi dirinya, tidak mungkin juga dia menggendongnya
Sekali lagi Hendri mengguncang pelan bahu Khayla
"Sayang?"
Khayla masih bergeming, sepertinya gadis cantik itu benar-benar pulas. Karena tak ada pilihan lain, akhirnya Hendri turun, dan membuka pintu sebelah kiri, menggendong Khayla, dan membawanya masuk kedalam rumah
Nia yang sedang duduk di ruang tamu dan sedang menatap layar hp tiba-tiba menoleh dan dia kaget melihat suaminya menggendong Khayla
__ADS_1
Hendri tak melirik sedikitpun kearah Nia, dia segera berjalan menuju kamar Khayla, dan meletakkan anak gadisnya dengan pelan di atas ranjang, menyelimutinya lalu mengecup kening Khayla dengan sayang
Lalu kembali keluar dan lagi-lagi tak memperdulikan Nia. Kembali Hendri membuka pintu mobil bagian tengah, mengangkat tubuh Mutiara. Gadis yang paling berisi tubuhnya seperti dirinya
Hendri agak ngos-ngosan ketika menggendong Mutiara yang bobotnya lumayan berat.
Asisten rumah tangga dan security yang melihat Hendri tampak keberatan berniat membantu tapi dilarang Hendri
"Biar saya saja, sudah bertahun-tahun saya tidak menggendongnya sejak dia SMP"
Dua pekerja itu hanya tersenyum dan menganggukkan kepala
Kembali Nia memandang dengan wajah heran melihat Hendri menggendong Mutiara dengan keberatan
"Kenapa tidak dibangunkan saja pi"
Hendri tak menjawab melainkan terus membawa Mutiara ke kamarnya, meletakkan dengan pelan, menyelimuti dan mengecup keningnya
Kembali dia keluar dan kali ini dengan mudah dia menggendong Alika, anak bungsunya.
Kali ini Nia berinisiatif membuka pintu kamar Alika sehingga Hendri lebih mudah untuk masuk, setelah meletakkan dan menyelimuti serta mengecup kening Alika, Hendri keluar
Tapi tangannya langsung ditarik oleh Nia
"Pi, ada yang harus kita bicarakan"
Dengan dingin Hendri menarik tangannya dan meninggalkan Nia yang hanya menarik nafas panjang
Nia menyusul Hendri naik ke kamar mereka, dan langsung membantu Hendri melepas jaketnya
Hendri masih tak bereaksi dengan perhatian Nia. Hatinya masih kesal dengan perbuatan istrinya sore tadi
"Pi?"
Hendri masih dingin dan segera masuk ke kamar mandi, membasuh wajahnya lalu membaringkan tubuhnya tanpa menoleh sedikitpun kearah Nia yang terus menatap takut kearahnya
"Papi marah?"
Hendri membelakangi Nia dan memejamkan matanya.
"Pi?"
Hendri membuang kasar tangan Nia yang memegang pundaknya
"Nggak sengaja tadi pi, tadi ada teman yang ulang tahun, jadi kita pesta kecil-kecilan gitu"
Hendri duduk dan menatap wajah Nia, melihat bola mata wanita yang telah dinikahinya selama delapan belas tahun ini
"Dia berbohong" bisik batik Hendri
"Mami janji ini adalah yang pertama dan terakhir"
Hendri masih bergeming, dan secara kebetulan hp yang ada di tangan Nia menyala
Dapat Hendri tangkap jika wajah Nia berubah tegang
Secepat kilat Hendri merebut hp itu yang makin membuat tegang wajah Nia
Dengan cepat Nia merebut hp itu, tetapi gagal karena Hendri telah menekan tombol hijau dan menloudspeakernya
"Sayang kamu dimana?, kita sudah menunggu sejak tadi"
Hendri melirik dengan tajam kearah Nia yang matanya melotot kaget.
"Sayang, suami kamu masih diluar kota kan?, kita jadikan malam ini?"
__ADS_1
Dada Hendri kian bergemuruh, dengan cepat dimatikannya hp dan menatap Nia dengan tajam seakan matanya hendak keluar