
"Kamu kenal sama mantan suamiku?" tanyaku curiga pada Marko
Kulihat Marko mengangguk pelan, dan aku hanya menarik nafas panjang
"Dua lelaki bajingan yang membuatku hidupku kacau" gumamku pelan
Dan aku tergagap ketika kudengar Marko bertanya aku ngomong apa
"Sudahlah mas, jangan bahas mantan suamiku, pusing aku jika ingat dia"
Masih kulihat Marko tersenyum samar mendengar jawabanku
"Ayo mas, katanya mau ngajarin aku, buruan"
Marko mengangguk. Dan mulailah dia membawa laptop kerjanya dan meletakkannya di depanku
Mulailah dia menjelaskan dengan pelan konsep kerja yang sedang mereka bahas
Jika ada yang kurang ku pahami, aku tak segan bertanya dan Marko akan menjelaskan kembali hingga aku benar-benar mengerti
Bahkan Marko juga mengajariku bagaimana menggunakan aplikasi khusus yang ada di laptop ini untuk memudahkan ku dalam mengerjakan tugas jika nanti Hendri menyuruhku mengerjakan tugasnya
Karena Marko menjelaskan denganku dengan pelan dan penuh kesabaran, akhirnya aku lebih mengerti kemana arah tujuan kerja mega proyek ini
Tidak seperti Hendri yang menjelaskan sambil membentak-bentak sehingga bukannya nyantol di otakku, malah mental keluar karena saking ketakutannya
"Pelajari dulu mbak, jika ada yang kurang faham mbak bisa tanya sama aku"
Aku mengangguk kearah Marko yang kembali ke meja kerjanya
Hingga jam dua belas lewat barulah aku bangkit dari kursiku dan meregangkan otot
"Mas, maaf ya, aku lapar"
Kulihat Marko mengangkat kepalanya ketika mendengar aku berkata
"Sebentar mbak, pesanan sedang diantar keruangan kita"
Aku tersenyum malu. Dan benar saja ada seorang kurir masuk membawa dua buah box yang terletak dalam kantong
Marko segera membayar dan kurir tersebut keluar. Aku yang memang lapar segera mengambil satu box dan langsung membukanya
"Aku duluan mas" ucapku sambil segera memasukkan makanan tersebut ke mulutku
"Mbak kaya orang kelaparan" ucap Marko sambil terkekeh
Aku meraih minuman dingin yang tadi ada bersama makanan ini, menyeruputnya dengan nikmat lalu menjawab perkataan Marko
"Emang aku kelaparan mas, mas bayangin aja seharian kemarin aku kena marah sama Hendri terus dikatain bodoh, hadeeehhh..."
Kulihat Marko hanya terkekeh mendengar aku ngomel
"Aku baru makan itu mas sudah jam lima itupun ketika Hendri tidur, entah jika dia nggak tidur-tidur mungkin aku nggak akan makan"
"Mas kok betah sih kerja sama dia?, lelaki nggak punya hati"
Marko yang tersenyum hanya menatap penuh arti pada Linda yang meluapkan emosinya
"Mas sudah berapa lama kerja sama dia?"
"Kira-kira lima belas tahun"
Aku menghentikan suapanku dan memandang tak percaya pada Marko
__ADS_1
"Lima belas tahun?"
Marko mengangguk
"Hadeh, aku yang baru sehari saja rasanya sudah mau mati" keluhku
Sementara di tempat lain, Hendri yang menemui pengacara pribadinya saat ini sedang membaca draft pengajuan gugatan perceraian yang akan diajukan pengacara ke pengadilan agama
"Proses secepatnya, aku tidak ingin ada halangan apapun"
"Siap tuan, hari ini juga akan kami sampaikan"
Hendri mengangguk dan segera menandatangani surat gugatan yang akan diajukan oleh pengacaranya
"Anda saja yang menyelesaikan sampai tuntas, dan temui saya ketika semuanya telah beres dan ketuk palu"
Pengacara pribadinya mengangguk dan menjabat hangat tangan Hendri, dan mengantarkan Hendri sampai di depan mobilnya
Ketika didalam mobil Hendri mengeluarkan hpnya
"Ketiga anak saya sudah di sana semua?"
"Sudah bos"
"Bagus, saya on the way sekarang juga"
"Iya bos"
Lalu Hendri meletakkan hp di sebelahnya duduk selanjutnya mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang
Dan berhenti disebuah restoran favorit ketiga anaknya, restoran Japanese food
Karena sudah sering kesini, semua karyawan resto ini membungkukkan kepala mereka ketika Hendri masuk
Tiga bodyguard anaknya segera mengawal Hendri ketika mereka melihat Hendri masuk
Tatapan pengunjung kian takjub ketika Hendri dikawal tiga lelaki besar dan ketiganya berhenti ketika Hendri masuk kedalam ruang vip
Khayla dan ketiga adiknya langsung berdiri dan memeluk papi mereka ketika mereka lihat papi mereka masuk
Hendri mengelus kepala ketiganya dengan sayang
"Loh, tangan papi sudah sembuh?"
Wajah Hendri langsung berubah seperti kesakitan yang membuat Mutiara yang bertanya berubah kaget
"Makanya nggak usah elus kepala kami pi"
Hendri mengangguk dan wajahnya masih mengekspresikan kesakitan
"Terus gimana papi makan?"
"Kalian saja yang makan, nanti yang papi dibungkus biar papi bawa kekantor"
Ketiga anak gadis itu mengangguk lalu mulai menyuapkan sushi kedalam mulut mereka
Mutiara yang sangat perhatian, menyuapkan sushi ke mulut papinya
Setelah cukup lama ketiga anaknya selesai makan barulah Hendri menyatakan niatnya mengajak mereka makan siang
"Ada yang mau papi bicarakan pada kalian bertiga"
Ketiganya menatap serius wajah papi mereka yang juga serius menatap mereka
__ADS_1
"Papi sudah tahu dimana keberadaan mami kalian"
Ketiganya menarik nafas dalam dan wajah mereka langsung menegang
Hendri lalu memberikan hpnya pada ketiga anaknya, dan Khayla segera mengambil hp yang diberikan papinya lalu memegang hp tersebut
Ketiganya kembali menarik nafas panjang ketika mereka melihat rekaman cctv yang memperlihatkan mami mereka kabur di malam Khayla mengurung dirinya akibat perbuatan maminya
Dan kembali ketiganya menarik nafas dalam ketika Khayla menggeser video yang memperlihatkan mami mereka di bandara
"Mami kalian di Amerika, tepatnya di Florida, bersama selingkuhannya"
Air mata Khayla langsung menetes, ketika kembali dia mendapatkan foto-foto maminya dengan lelaki yang ingin melecehkannya kemarin
"Mereka bersenang-senang di Florida" ucap Hendri pelan
Alika bangkit dan segera memeluk papinya dari samping
"Papi jangan nangis..."
Hendri tersenyum getir
"Tidak nak, air mata papi terlalu berharga untuk menangisi pengkhianatan mami kalian"
Khayla dan Mutiara ikut bangkit dan secara bersama-sama mereka memeluk papi mereka
"Papi tidak sendiri, kami ada bersama papi, kami akan support papi"
Kembali Hendri tersenyum getir dan mengusap kepala ketiga anaknya
"Jika kalian mensupport papi, kalian jangan nangis, kita hadapi hari-hari kita bersama, ya?"
Ketiganya mengangguk. Dan Hendri menarik nafas panjang sambil menatap bingung pada ketiga anak gadisnya yang kini duduk di dekatnya sambil memegang tangannya
"Ada lagi yang ingin papi sampaikan?"
Hendri menarik nafas panjang lagi mendengar pertanyaan Khayla
"Papi ingin minta pendapat kalian, apa yang harus papi lakukan dalam menyikapi perbuatan dan perilaku mami kalian ini?"
Ketiganya saling toleh dan kembali wajah mereka berubah mendung
"Apapun yang akan papi lakukan, seperti yang kami bilang tadi, kami semua mendukung papi" jawab Khayla
"Termasuk jika papi berniat menceraikan mami kalian?"
Air mata langsung mengalir deras dari ketiganya. Dan Hendri yang melihat ketiga anak gadisnya menangis hanya mampu mengusap kasar rambut panjangnya
Lalu berganti dengan mengusap kasar wajah dan menutup mulutnya dengan tangannya yang menopang di atas meja
Ketiga anaknya masih terisak dan Hendri hanya diam tanpa tahu harus berbuat apa
"Kami ikhlas pi, kami ikhlas papi menceraikan mami, karena mami memang pantas diceraikan karena mami telah mengkhianati papi" Mutiara yang menjawab setelah menghapus kasar wajahnya
Hendri menatap dalam pada wajah Mutiara yang matanya berkilat marah, lalu Hendri mendekap bahu anaknya sambil menciumi puncak kepalanya
"Tia benar pi, mami memang wajar diceraikan karena mami telah kabur dan lebih memilih selingkuhannya ketimbang kita" sambung Khayla
"Alika nggak faham pi, tapi jika melihat video dan gambar tadi Alika jadi benci sama mami"
Hendri mengulurkan tangannya kearah Alika yang segera duduk di pangkuannya
"Yang penting kami punya papi" lirihnya sambil mengalungkan kedua tangannya dileher papinya
__ADS_1
Hendri menarik nafas lega karena ketiga anaknya telah memberi lampu hijau untuknya menceraikan Nia. Itu artinya jika nanti dia telah bercerai maka ketiga anaknya sudah mengetahui status kedua orang tua mereka yang telah resmi berpisah