
Setelah berkata begitu Hendri menatap dingin ke arahku
"Bisa ku pastikan seminggu ke depan kamu sudah jauh lebih baik dan keluar dari rumah sakit ini"
"Iya" jawabku pelan
Hendri menepuk pipiku pelan sambil tersenyum menyeringai lalu meninggalkan ruangan
Di luar kembali dia berwajah datar ketika berhadapan dengan Gerry
"Rawat dia dengan baik, usahakan dia pulih secepatnya"
Dokter Gerry tak menjawab melainkan juga membalas menatap dingin pada Hendri
Setelah itu Hendri berlalu, dan dua bodyguard yang berjaga di luar yang berdiri ketika dia keluar ruangan segera berdiri dengan sigap ketika Hendri mendekati mereka
"Jaga terus ruangan ini, jangan sampai lengah"
Keduanya mengangguk dan Hendri kembali berjalan
...----------------...
Satu Minggu Selanjutnya
"Ger, aku harus pulang hari ini"
Gerry menatap tak percaya padaku
"Tolong kamu siapkan semua keperluan selama aku rawat jalan, apa saja yang aku butuhkan"
Aku yang sejak tiga hari ini mulai duduk, menarik tangannya
"Ini semua demi anak-anakku Ger, tolong aku"
Gerry menarik nafas panjang dan aku kian menatapnya dengan memelas
"Tapi mereka baik-baik saja Lin, aku lihat sendiri"
Aku tersenyum getir. Kami refleks menoleh kearah pintu ketika pintu tersebut didorong keras dan terbuka
Aku yang saat ini masih memegang tangan Gerry, refleks melepasnya dan menatap kearah Hendri yang masuk
"Bagaimana keadaan kamu?"
Aku berusaha tersenyum padanya
"Kata dokter Gerry aku bisa pulang hari ini, ya kan dokter?"
Hendri yang berdiri di sebelahku menatap dingin kearah Gerry
"Iya, kamu bisa pulang, tapi kamu tidak bisa beraktivitas seperti dulu sebelum kamu benar-benar sembuh"
Aku mengangguk
"Ya sudah, jika semuanya telah selesai, sekarang saja pulangnya, bisa kan?"
"Oh, No. Tidak bisa begitu, pasien harus kami periksa terlebih dahulu, terutama kepala dan tulangnya yang patah"
Hendri melirik ke arahku
"Kalau begitu periksa dia sekarang. Aku akan menunggu"
Karena tak ada pilihan lain, Gerry akhirnya menurut dan mulai memeriksa tangan dan kakiku
Ketika Gerry mengangkat tanganku, aku menjerit tertahan, begitupun ketika dia mengangkat kakiku, aku hanya bisa meringis kesakitan dan menggigit bibirku karena rasanya sangat sakit
Hendri refleks memegang tangan kananku ketika Gerry tadi mengangkat tangan kiriku yang bahunya patah
Bahkan saking sakitnya aku meremas jarinya dengan kuat
Ketika Gerry selesai memastikan keadaan bahu dan kakiku, aku melepaskan genggamanku pada jari Hendri dan menatap takut kearahnya
"Kita bawa keruangan atas untuk dilakukan ct scan"
Perawat yang ikut masuk dengan Gerry tadi mengangguk ketika Gerry berkata padanya
Segera dia melepas selang infus di tanganku, lalu mulai mendorong brankar
Hendri ikut berjalan di sebelahku dengan menatap lurus ke depan, sementara Gerry yang berada di samping kiriku sesekali menundukkan kepalanya menatap ke arahku
Kedua anak buah Hendri tak ketinggalan ikut berjalan pula. Keduanya berjalan di belakang kami
__ADS_1
Ketika kami masuk kedalam lift, keduanya tidak ikut masuk tapi memilih naik lift yang lain
Begitu sampai di ruangan khusus untuk ct scan, Hendri masih berdiri tak jauh dariku
Hingga selesai semua rangkaian pemeriksaan, barulah Gerry kembali membawaku keruangan perawatanku tadi
"Aku ijinkan Linda pulang, tapi seperti yang kukatakan tadi, dia tidak bisa beraktifitas seperti biasa sampai dia benar-benar pulih, dan sering-seringlah bawa dia kontrol, jika anda sibuk, anda bisa memberitahu saya, saya yang akan datang"
Aku menatap pada Hendri yang menatap dingin ke arahku
"Baiklah, aku akan membawanya kontrol sesering mungkin, dia bisa pulih seperti sedia kala dua sampai tiga bulan, kan?"
Gerry mengangguk sambil menjawab ya dengan menatap tak yakin padaku
"Terima kasih ya Ger" ucapku sambil menatap kearah Gerry sambil tersenyum haru
"Linda, entah apa yang terjadi sama kamu, tapi saya yakin kamu perempuan hebat"
Aku mengangguk haru, dan ku lirik rahang Hendri mengeras ketika mendengar ucapan Gerry
"Sudah selesaikan?"
Gerry menoleh cepat kearah Hendri dan mengangguk
Seorang perawat masuk dengan membawa kursi roda. Dan aku yang sudah duduk sejak kembali keruangan ini berusaha menurunkan kakiku ketika kursi roda itu mendekat
Kembali aku menjerit tertahan dan memejamkan mataku ketika kurasakan sakit yang luar biasanya di kakiku
Ketika aku masih mengatur nafasku karena rasa sakit yang mendera, kurasakan sebuah tangan mengangkat tubuhku
Mataku nyaris keluar ketika aku melihat siapa yang mengangkat tubuhku
Aku hanya menatap bengong pada Hendri yang dengan ringannya mengangkat tubuhku lalu meletakkan ku di atas kursi roda
Masih dengan dinginnya dia mendorong kursi roda berlalu dari hadapan Gerry
"Gerry, thank you so much" teriakku ketika aku tak sempat menjabat tangan Gerry karena Hendri telah mendorong kursi roda keluar
Saat tiba di luar, kedua bodyguard berjalan dibelakang kami dan Hendri terus mendorong kursi rodaku
Aku hanya menggigit bibirku ketika kami jadi perhatian orang di rumah sakit ini ketika kami tiba di bawah
Hendri langsung menghentikan kursi roda dan mengeluarkan hpnya
Aku hanya mendongakkan kepalaku menatapnya. Dan Hendri sedikitpun tak melihat ke arahku
Sampai sebuah mobil yang aku kenali adalah mobilnya Hendri berjalan kearah kami
Ketika mobil itu berputar kembali dengan tanpa permisi, Hendri mengangkat tubuhku. Aku yang kaget dengan aksinya hanya bisa diam dan memandangi wajah dinginnya
Aku melirik kearah orang yang ada di rumah sakit ini, bagaimana mereka tersenyum bahkan ada yang memandang iri pada kami
"Ya Tuhan mereka tidak tahu bahwa yang saat ini menggendongku adalah iblis berwajah malaikat" batinku
Dengan santai Hendri berjalan dengan mengangkat tubuhku, lalu kedua anak buahnya berlari cepat dan membukakan pintu mobil
Dengan pelan Hendri meletakkan ku di bagian tengah, dan dia segera memutar badannya lalu masuk lewat pintu sebelah kanan
Setelah aku dan Hendri masuk, dua bodyguard itu menyusul masuk, mereka duduk di bagian belakang
"Ke bandara pak"
Aku dengan susah payah menoleh kearah Hendri, tapi aku tak berani bertanya, aku tak ingin sikap lembutnya yang beberapa detik lalu berubah menjadi sikap kaku dan kejam lagi
Mobil yang dikemudikan pak Paino membelah jalan dan mulai masuk ke area bandara
Kembali Hendri bersikap lembut padaku, dengan sigap kembali dia mengangkat tubuhku dan membawaku masuk kedalam bandara
Kembali kami menjadi pusat perhatian, dan aku hanya bisa menundukkan kepalaku menahan malu
"Yang cepat Hen jalannya, aku malu" lirihku
Hendri seakan tak mendengar, dia masih berjalan seperti tadi, masih dengan wajah dingin tanpa menoleh padaku yang menahan malu dengan menyembunyikan wajahku di dadanya
Kembali aku mendengar gumaman dan pujian orang-orang pada perhatian dan kasih sayang Hendri padaku
"Sumpah, aku iri banget sama wanita itu"
Aku hanya melirikkan mataku pada seorang perempuan yang memandang takjub kearah kami
Aku kembali mendongakkan wajahku menatap kearah Hendri
__ADS_1
Hingga akhirnya Hendri berhenti dan tampak memutar matanya
"Pak Marko nya ada di sana, tuan"
Mataku membulat mendengar ucapan salah seorang anak buah Hendri
"Marko?, ya Tuhan..."
"Hen, turun...."
Hendri bergeming dan seakan tak mendengar ucapanku
"Hen, turun...."
Hendri menunduk dan menatap dingin padaku
"Diam jangan banyak komentar, kamu pikir aku tidak berat apa sejak tadi menggendong kamu"
Aku langsung merapatkan mulutku. Dan Hendri kembali berjalan, dan aku hanya bisa menelan ludah dengan wajah yang makin malu ketika kami berdiri berhadap-hadapan dengan Marko
Tangan kananku yang melingkar di leher Hendri refleks aku lepaskan dan tersenyum kaku kearah Marko yang menatap ke arahku
"Bagaimana keadaannya mbak?"
Aku kembali tersenyum kaku
"Belum sehat sepenuhnya" jawabku pelan
Lalu Marko mengeluarkan tiket dari dalam balik jasnya
"Sudah siap semuanya bos"
"Bagus, jam berapa penerbangannya?"
"Kalau tidak delay, satu setengah jam lagi"
Hendri mengangkat alisnya lalu menoleh pada dua bodyguardnya
"Kalian pulanglah, jaga rumah dan ketiga anakku yang benar!"
"Siap bos!"
Kedua anak buah Hendri mengangguk hormat lalu mundur perlahan baru setelahnya membalikkan badan mereka
Marko merentangkan tangannya dengan sedikit membungkukkan badan, meminta kami berjalan masuk duluan
Masih dengan menggendongku Hendri berjalan masuk ke waiting room
Ketika sampai di sana, Hendri meletakkan pelan tubuhku di sebuah kursi dan aku menarik nafas lega
Marko mengulurkan sebuah sandwich ke arahku, dan aku menggeleng
"Perlu bantuan?"
Aku melirik kearah Hendri yang hanya diam menatap lurus ke depan tanpa memperdulikan ku lagi
"Boleh" jawabku mengangguk
Lalu aku memajukan sedikit kepalaku ketika Marko mengarahkan sandwich ke mulutku
Aku dengan pelan mengunyah sandwich tersebut dan melirik kearah Hendri yang masih tak bereaksi
Dan Marko terus menyuapiku karena dilihatnya Hendri seperti tak peka dengan keadaanku.
Setelah sekian menit Marko menyuapiku, kulihat rahang Hendri mengeras dan mataku bergerak cepat memberi kode pada Marko
Baru saja Marko hendak menyuapiku lagi, dengan kasar Hendri merebut sandwich tersebut dan menyuapiku
"Jangan manja!"
Wajahku cemberut mendengar ucapannya, dan kulihat Marko tersenyum simpul
Hingga akhirnya penerbangan kami tiba, dan kembali Hendri mengangkat tubuhku
Kembali aku harus menahan malu karena menjadi pusat perhatian orang satu pesawat.
Masih dengan pelan Hendri meletakkan tubuhku di kursi dan memasangkan save belt ke pinggangku
Saat dia memasangkan save belt ke pinggangku, wajah kami hanya berjarak beberapa inci
Dan aku dengan takut-takut menatap wajahnya yang sangat dekat denganku itu
__ADS_1
"Kenapa?, aku tampan?"
Dengan cepat aku menelan ludahku dan menunduk. Kemudian Hendri duduk di sebelahku dan ketika pesawat take off secara cepat dia menggenggam erat tanganku dan mata kami saling beradu dalam diam