
Sejak kejadian teror yang menimpa kedua anak gadisnya, Hendri semakin meningkatkan keamanan ekstra untuk mereka bertiga, selain itu Hendri juga meningkatkan keamanan di lingkungan rumahnya
Kepada pak Puji yang selalu stay di rumah, begitu juga pak Paino yang pergi ketika mengantar dan menjemput ketiga anaknya, Hendri menitipkan keamanan rumah pada mereka
Dan Hendri pun setiap jam akan memeriksa rekaman cctv melalui hpnya, untuk memastikan jika rumahnya dalam keadaan aman
Dan benar saja, teror itu hanya terjadi hari itu saja, karena setelahnya tidak ada hal-hal aneh yang terjadi pada ketiga anak gadis Hendri, semuanya berjalan seperti sedia kala
Bahkan di rumah juga, tidak ada lagi kiriman paket atau orang yang berniat memanjat pagar rumah mewah itu lagi, semuanya telah berjalan kondusif
Tapi hal tersebut tidak membuat Hendri cepat lega, dia yakin peneror itu sengaja membuat keadaan aman terlebih dahulu
Ketiga bodyguard pun berpikiran yang sama dengan Hendri, mereka adalah bodyguard profesional yang bukan kali ini saja bekerja menjaga dan melindungi anak orang kaya, jadi mereka sudah banyak mengenyam asam manis tentang tindak kejahatan
"Tetap waspada dan jangan lengah" begitu pesan Hendri pada ketiga bodyguard anaknya
Dan week end ini, Hendri yang tidak ke kantor, memilih menghabiskan waktu bersama ketiga anaknya di rumah, karena rencananya malam nanti mereka akan hang out bersama
Alika, si bungsu sedang tidur-tiduran di paha papinya yang terus mengelus-elus kepalanya
Sedangkan Mutiara memilih menghabiskan siang harinya dengan memasak resep makanan yang ditemukannya di internet
Dan Khayla sama seperti Alika, dia tidur-tiduran di paha papinya sambil bermain hp, dan sesekali memainkan rambut gondrong papinya
"Hai guys, udah jadi nih...." teriak Mutiara sambil membawa nampan besar dan di belakangnya menyusul bibi Ning yang membawa nampan berisi es sirop
Khayla dan Alika dengan cepat duduk, sedangkan Hendri tersenyum lebar kearah gadis besarnya yang wajahnya tampak sangat sumringah
"Nih...." ucap Mutiara langsung meletakkan nampan, Alika dan Mutiara yang sejak tadi menunggu langsung menyerbu, sedangkan Hendri begitu Mutiara selesai meletakkan nampan, langsung merentangkan kedua tangannya
Dan Mutiara langsung masuk kedalam dekapan papinya
Dengan sayang Hendri mencium puncak kepala Mutiara dan tangannya menghapus keringat yang mengalir di kening anak gadisnya tersebut
"Cobain deh pi, enak banget" ucap Alika sambil mencomot makanan yang dimasak Mutiara, mengarahkan ke mulut Hendri
Mutiara melihat kearah papinya dengan antusias
Senyum kembali mengembang di bibir Hendri dan Mutiara kembali memeluk papinya
"Makasih papi...."
"Wah, kalo begini sih adek beneran bakalan jadi chef ini Pi" ucap Khayla dengan mulut penuh
"Jadi apapun juga selama itu baik menurut kalian papi akan mendukung" jawab Hendri
"Beneran aku boleh jadi chef, pi?"
"Why not?"
"Aaahhh, makasih papi"
Alika tak memperdulikan bagaimana Mutiara yang kegirangan karena papinya menyetujui cita-citanya, gadis kecil itu terus melahap makanan yang memang sangat lezat tersebut
...----------------...
Aku sore ini sengaja membantu bibi Niluh masak di dapur, hari ini adalah hari jum'at sore, dan menurut janji Hendri waktu dia pulang dua minggu yang lalu dia akan pulang malam ini
Dan ketika menjelang malam aku makin tak sabar menunggu kedatangannya, bahkan supir pribadi yang masih ada di rumah terus ku paksa untuk ke bandara
"Tuan belum memberitahu jika beliau akan kesini nyonya" jawab beliau pelan ketika aku terus memaksanya pergi
Aku menelepon Hendri ketika jam di dinding menunjukkan angka delapan malam, tapi hpnya tidak aktif, dan aku kembali melihat kearah seisi penghuni villa yang saat ini kami tengah berkumpul bersama setelah kami selesai makan malam
__ADS_1
"Apa mas Hendri ada menghubungi kalian?"
Semuanya menggeleng, dan aku hanya bisa menarik nafas panjang
"Tapi Hendri nggak mungkin bohong" batinku kecewa
Hingga jam sembilan malam, masih juga hpnya tak aktif, akhirnya aku memilih masuk ke dalam kamar, berusaha membaringkan tubuhku
Sebelum benar-benar terpejam aku kembali membuka hp, berharap jika pesan yang sejak siang tadi ku kirim dibaca oleh Hendri, atau minimal dia aktif
Aku semakin gelisah karena sampai larut, Hendri belum juga datang, hingga akhirnya pintu kamarku di buka seseorang dan muncul wajah Hendri
"Hendri?, serius ini kamu?" tanyaku berusaha duduk dan meraih tongkat ketiak yang bersandar di dekat ranjang
Segera aku berjalan kearahnya yang langsung menangkap tubuhku.
"Kesal karena nunggunya lama?" tanya Hendri sambil mendekap ku
Aku hanya bisa mendongakkan kepalaku menatap wajahnya yang makin hari semakin tampan menurutku
"Maafkan aku ya sayang" kembali Hendri berkata lembut sambil mendaratkan sebuah kecupan manis di keningku
"Ayo sini" ajak ku mendahuluinya berjalan
Hendri hanya terpaku menatapku yang berjalan dengan tongkat bahkan ketika aku sudah duduk pun dia masih berdiri di tempatnya
"Kenapa?" tanyaku heran
Hendri berjalan ke arahku, berjongkok lalu memegang kedua tanganku
"Aku akan membawamu keluar negeri, aku akan meminta dokter di sana untuk membuatmu kembali berjalan normal" ucapnya
Aku mengusap wajahnya sambil mengangguk
"Kenapa?" Hendri langsung terlihat panik
"Ada yang merasa diabaikan...." jawabku masih sambil meringis karena anak di dalam perutku bergerak terus
"Ya Tuhan, maafkan papi sayang...." Hendri langsung dengan cepat menciumi perutku sambil mengusap-usap dengan lembut
"Saking rindunya sama mamamu, papi sampai lupa jika kamu cemburu"
Aku terkekeh dan mengusap kepala Hendri yang masih menempel di perutku
"Kok malam sampai sini?"
"Pesawatnya delay"
Aku ber O panjang.
Lalu Hendri duduk di sebelahku, kembali meraih tanganku, meletakkannya di lehernya, ternyata itu adalah modusnya untuk mencium bibirku
Aku setengah tertawa ketika bibirnya menyesap lembut bibirku, dalam begitu dalam hingga aku yakin bahwa ini bukan ciuman rindu tapi lebih dari itu
Benar dugaanku, Hendri segera membaringkan tubuhku tapi ciumannya tak juga lepas dari bibirku, tangannya mulai bergerilya dan aku sudah melenguh tak karuan
"Maafkan papi sayang" bisik Hendri di atas perutku ketika dia memiringkan posisiku
Dan aku kembali merasakan getaran aneh setiap Hendri menghentak di atas tubuhku, berkali-kali hingga suara yang tadi ku tahan, akhirnya keluar menjadi rintihan
Hingga akhirnya Hendri makin bergerak bebas di atas tubuhku dengan suara aneh yang juga keluar dari mulutnya, sampai akhirnya tubuhku kian terguncang dan Hendri jatuh di samping tubuhku
Tangannya yang lemah mengelus perutku berkali-kali sambil menggumam
__ADS_1
"Maafkan papi nak yang tidak bisa menahan diri"
Aku yang telah memejamkan mataku hanya tersenyum mendengar suaranya. Lalu menarik tangannya agar memelukku dari belakang
Dan Hendri sepertinya mengerti dengan kodeku, dia langsung mendekap ku dan menyembunyikan wajahnya di tengkukku
...----------------...
"Pakeeettt....." teriak seorang kurir
Pak David yang mendengar langsung membuka pagar dan melihat seorang kurir berjaket hijau berdiri di luar pagar sambil memegang sebuah kotak
"Apa itu?" tanya pak David curiga
"Tidak tahu apa pak, saya hanya mengantarkan saja"
Pak David memiringkan bibirnya ke samping sambil menaikkan satu alisnya
"Pengirimnya?"
"Japanese food"
Tangan pak David terulur lalu dia segera membaca tulisan di luar kotak tersebut
"Terima kasih, ya" ucap pak David sambil mengangkat sedikit kotak yang ada di tangannya
"Nona Mutiara, haduh gadis itu makan saja yang ada di otaknya" ucap pak David sambil berjalan masuk
"Apa itu pak?" tanya Khayla saat dia melihat pak David masuk
"Paket makanan untuk nona Mutiara"
"Oh, sini pak, biar aku saja yang ngasih sama Tia"
Pak David mengangguk lalu Khayla yang telah berdiri mengambil kotak yang diulurkan pak David padanya
Dengan segera Khayla berjalan kearah kolam renang, dimana Mutiara sedang berenang di sana
"Dek, ini paket Japanese food nya sudah sampai"
"Iya kak, taruh saja di sana"
Khayla duduk di gazebo, sambil melihat Mutiara yang terus berenang
Tak lama Mutiara keluar dari dalam kolam renang, meraih handuk dan mengelap tangannya, lalu segera duduk di tepi gazebo, dan tangannya langsung terulur kearah kotak makanan yang belum dibuka sama sekali
"Ahhhh...." ucapnya antusias ketika meraih sebuah sushi, kemudian langsung memasukkannya kedalam mulutnya
"Kakak nggak mau?" ucapnya tidak jelas karena mulutnya penuh
"Nggak, kakak lagi fokus belajar" jawab Khayla tanpa menoleh kearah Mutiara yang terus melahap sushi
Mutiara menenggak air ketika dirasanya tenggorokannya panas, tapi bukan hanya tenggorokannya yang sakit sekarang, perutnya juga melilit
"Kaaaakkkk....." panggilnya tercekat sambil memegangi tenggorokannya
"Hemmmm?" Khayla hanya menjawab singkat karena dia yang sedang berbaring dan fokus menatap layar hp tidak melihat jika Mutiara mengerang kesakitan
Bruuughhh
Khayla langsung terlonjak kaget dan terburu duduk demi didengarnya suara benda besar jatuh
"Adeeekkkkk......." teriaknya keras
__ADS_1