
Ketiganya lalu saling toleh, kemudian mereka menoleh pada ketiga bodyguard mereka yang langsung berdiri di depan mereka, seakan melindungi ketiganya dari Nia
Sementara Nia setelah melihat ketiga anaknya menatapnya segera melihat ke kanan ke kiri jalan sebelum akhirnya dia menyeberang
Dengan setengah berlari dan menutupkan kedua tangannya keatas kepala, Nia berlari kecil ketika menyeberangi jalan
Ketiga bodyguard makin merapatkan barisan mereka, bahkan tangan pak David dan pak Yohannes seperti membuat lingkaran melindungi Khayla dan Mutiara yang ada di pinggir
Nia berhenti dan menatap ketiga orang pengawal anaknya dengan wajah marah
"Minggir kalian!"
Ketiga bodyguard bergeming masih dengan posisi mereka semula
"Nak...." panggil Nia berusaha melongok kan kepalanya di sela-sela tubuh ketiga bodyguard yang menghalanginya
Khayla merapatkan tubuhnya di belakang pak Yohannes, mencengkeram kuat baju pak Yohannes dan pak Yohannes makin sadar jika anak bos besarnya ketakutan
"Nak, ini mami...." ulang Nia berusaha menarik paksa tubuh Pak David
"Kalian masuklah, biar mami kalian bapak bertiga yang urus" ucap pak Ibram
Khayla segera melepas cengkeramannya pada baju pak Yohannes, lalu segera menggenggam tangan kedua adiknya
"Cepat dek" ucapnya gemetar
Mutiara dan Alika menurut, mereka segera masuk setengah berlari karena Khayla menyeret tangan keduanya
Alika terus menoleh kebelakang, kearah maminya yang terus berteriak memanggil nama mereka bertiga
"Ayo dek...." Khayla kembali menarik paksa Alika yang masih terus menoleh
Sampai di kamar, Khayla langsung mengunci pintu, melepas jaket tebalnya lalu segera duduk di atas kasur dengan jantung berdebar keras
Wajah Alika tampak murung, sedangkan Mutiara hanya bisa duduk terdiam di atas sofa, menatap keluar jendela, dimana salju terus turun.
"Sini dek...." panggil Khayla pada Alika yang duduk diam di dekat Mutiara
Alika bangkit lalu masuk ke pelukan Khayla
"Kita sudah terbiasa tanpa mami, mami hampir satu tahun meninggalkan kita, dan selama itu kita baik-baik saja kan?"
Alika dan Mutiara diam, bahkan mata Alika mulai berkaca-kaca
"Tapi aku kangen kak sama mami"
Khayla mengeratkan pelukannya pada Alika yang mulai tersedu
"Kita punya papi dek, papi sangat menyayangi kita, dan papi tidak pernah meninggalkan kita seperti mami"
Mutiara mendekat, ikut memeluk Khayla
Khayla memejamkan matanya, sehingga buliran bening jatuh di wajahnya
_Sementara di bawah_
Nia yang tak bisa bertemu ketiga anaknya karena mereka masuk, hanya menelan kekecewaan mendalam
__ADS_1
Walau dia terus meneriakkan nama ketiga anaknya, tapi mereka terus saja berlari masuk, tidak menghiraukan bagaimana dia berjuang menerobos pertahanan tubuh besar ketiga bodyguard anaknya
"Nyonya silahkan pergi dari sini" ucap Pak Ibram sambil menangkap tangan Nia yang mendorong kasar tubuhnya
Nia memandang pria besar itu dengan wajah marah
"Aku mami mereka, aku berhak bertemu mereka"
Tiga bodyguard masih bergeming dan terus menghalangi Nia yang terus berusaha masuk
"Tolong nyonya kooperatif, jika nyonya tidak bisa diajak baik-baik, kami akan menyuruh pihak keamanan hotel ini untuk mengusir nyonya" jawab pak David
Nia berpindah menatap lelaki kurus tinggi tersebut
"Kamu siapa, hemm?, apa hak kamu melarang saya bertemu mereka, kamu itu hanya kacung mereka, bukan papi mereka"
"Justru karena kami kacung merekalah maka kami melakukan tugas ini"
Wajah Nia makin kesal mendengar jawaban pak David
"Awas kalian, akan aku pastikan kalian bertiga akan menyesal melakukan ini padaku" geram Nia yang kembali mendorong dada mereka dengan kasar, lalu masih dengan menahan marah Nia pergi dari sana
Ketiga bodyguard itu masih berdiri di tempat mereka sampai akhirnya mereka lihat jika Nia segera kembali ketempat dia muncul tadi, lalu muncullah seorang lelaki yang langsung merangkul tubuh Nia
Secepat kilat Pak Ibram yang sejak tadi mengarahkan ponselnya kearah Nia segera mengambil beberapa foto lalu tersenyum dingin melihat hasilnya
Setelah memastikan jika Nia dan kekasihnya pergi naik taksi, barulah ketiganya naik kelantai atas
Saat berada di depan pintu kamar Khayla dan kedua adiknya, pak Ibram mengetuk pintu
"Ini saya pak Ibram, nona...."
Ketiganya langsung menarik nafas panjang, dan Mutiara langsung berdiri dari sofa yang didudukinya lalu berjalan membukakan pintu
Di depan pintu berdiri ketiga bodyguard mereka, yang langsung melongok kan kepala mereka kedalam kamar
"Boleh masuk?" tanya pak Ibram
Mutiara membuka lebar daun pintu, sehingga ketiga bodyguard mereka masuk
Alika begitu pak Yohannes masuk, langsung berlari kearah bodyguardnya tersebut yang langsung menangkapnya dan mendekapnya
"Jangan takut Alika cantik, bapak akan selalu melindungi kamu"
Alika mendongakkan kepalanya sementara pak Yohannes tersenyum dan mengelus kepalanya dengan sayang
"Apa mami sudah pergi?" tanya Khayla
"Sudah nona"
Khayla menarik nafas panjang
"Kearah mana tadi mami perginya?"
"Kearah tempat beliau muncul tadi nona"
"Mami sendiri?"
__ADS_1
Pak David menggeleng, lalu pak Ibram menyerahkan hp miliknya kepada Khayla
Wajah Khayla langsung menegang dan degup jantungnya kembali berdegup kencang
"Pria ini.....?" ucapnya gemetar
"Iya, mami nona dengan pria yang dulu pernah ingin melecehkan nona, tapi nona Khayla jangan khawatir, selama kami hidup, pria itu tidak akan bisa mendekati nona"
Khayla menarik nafas panjang, lalu dengan tangan gemetar dikembalikannya hp milik pak Ibram, lalu Khayla kembali ke dekat jendela, menatap keluar
"Apa kita perlu kasih tuan besar?"
Mutiara langsung mengangguk cepat
"Benar pak, papi harus kita kasih tahu, aku nggak ingin papi marah jika kita tidak memberitahunya"
Ketiga bodyguard itu mengangguk setuju
Lalu Pak Yohannes yang masih mendekap Alika segera menghubungi bos besarnya
Dan Hendri yang masih termangu di dalam kamarnya malam ini hanya menoleh sekilas kearah hpnya yang menyala
Dilihatnya jika yang menelepon adalah bodyguardnya Alika, dengan cepat diraihnya benda tersebut
"Kenapa?"
"Tadi ada nyonya Nia, bos"
Hendri langsung berdiri dari sofa, wajahnya langsung terlihat marah dengan rahang yang mengeras
"Bagaimana keadaan ketiga anakku?"
Mereka baik-baik saja tuan
"Kalian cepat berkemas, bawa segera ketiga anakku pulang"
"Baik tuan"
Hendri langsung menggeram marah, terlebih ketika dilihatnya pesan gambar yang dikirimkan pak Ibram
"Tuan besar bilang kita semua harus pulang sekarang juga"
"Sekarang?" tanya Khayla kaget
"Iya"
"Papi benar, bukan tidak mungkin jika mami akan datang lagi kesini, terlebih karena mami telah mengetahui jika kita menginap di hotel ini" jawab Mutiara
Semuanya mengangguk setuju. Akhirnya ketiga bodyguard membantu ketiga anak bos besarnya berkemas, setelah selesai keenamnya turun lalu pak Yohannes melakukan check out di lobby, sedangkan pak Ibram mencari taksi yang akan membawa mereka ke bandara
Hingga akhirnya dua jam selanjutnya mereka telah berada di dalam pesawat yang membawa mereka pulang ke tanah air
Sementara Nia dan kekasihnya yang kembali lagi ke hotel ketika malam harus menelan kekecewaan karena ketiga anaknya ternyata telah check out siang tadi
Dan dengan menangis sedih Nia hanya bisa merutuki ketidakberuntungannya bertemu dengan ketiga anaknya padahal mereka sudah sama-sama berada di depan mata
"Kurang ajar kamu Hendri" geramnya
__ADS_1