
Mobil berhenti di tepi pantai, dan kali ini dengan kasar Agung menarik paksaku turun
"Agung, aku lagi hamil!!!" teriakku
"Aku tidak perduli!!!" jawabnya sambil berteriak pula
"Biadab kalian berdua!!!" teriakku ketika mereka berdua memaksaku turun dan sekarang menyeret paksa tubuhku
"Merepotkan sekali perempuan ini" kembali Nia menggerutu ketika dia kesusahan membawaku
"Mana Nalendra?" tanya Agung
"Sebentar" ucap Nia
Tapi baru saja Nia meletakkan hp ke telinganya, terdengar suara deru speed boat mendekat
"Nah itu orangnya" ucap Nia sambil kembali menyeret ku
"Nia, jangan seperti ini membawaku, kamu pernah hamil" lirihku karena aku mengkhawatirkan kandunganku
"Diam kamu!!!" bentak Nia
Kulihat seorang pemuda melambaikan tangan kearah kami, begitu speed boat mencapai bibir pantai, dia segera melompat
"Sayang....." ucapnya sambil mengalungkan tangannya ke leher Nia, dan mengecup bibir Nia
"Jadi ini brondong Nia" batinku melihat kearah keduanya yang berpelukan
"Woy, nanti mesra-mesraan nya, Hendri pasti mengejar kita!" bentak Agung tak senang
Nia mencibir kearah Agung, lalu melirik ke arahku yang sejak tadi menatapnya
"Kenapa lihat-lihat?" tanya Nia sinis
Aku segera melengos. Dan sekarang lelaki yang tadi disebut Agung bernama Nalendra memegang kuat bahuku
"Ayo!" bentaknya
Aku kembali berjalan tertatih dengan Nalendra dan Nia yang memegangi ku
Sampai didekat speedboat keduanya kembali kesulitan menaikkan ku, bahkan sampai Agung turun tangan mengangkat tubuhku dan meletakkan ku dipinggir agar memudahkan kaki turun
Setelah aku duduk, mereka bertiga bergegas naik, lalu kembali aku dengan berhati-hati menurunkan kakiku
"Duduk sini!" ucap Nia dingin sambil menarik bahuku
Aku menurut, segera aku duduk agak kedalam agar aku tidak terlalu kedinginan
Bajuku yang disobek Agung bagian dadanya aku ikat menyatu kembali agar aku tidak semakin merasa kedinginan
Perlahan Nalendra menghidupkan mesin speed boat dan saat speed boat mulai ketengah laut aku lihat banyak motor berhenti di tepi pantai
"Mas....." lirihku menatap nanar pada orang-orang yang tertinggal di belakang
Kembali air mataku mengalir, dan aku yang duduk sambil mendekap perutku hanya sesekali melihat kearah Nia yang berdiri di sebelah Nalendra
Dan aku sesekali membuang mukaku ketika keduanya berangkulan dan berciuman
Sementara Agung yang duduk di ujung tampak menatap ke arahku
Aku segera merapatkan kakiku dan bergeser ketika Agung duduk di dekatku
"Kamu kenapa?" tanya Agung
Aku tak menjawab, aku yang merasa mual karena guncangan speed boat yang mengenai air laut kembali membekap mulutku
Karena mualnya semakin mengaduk-aduk perutku, aku segera berjalan cepat kepinggir lalu muntah
"Dasar udik!!" teriak Nia
__ADS_1
Aku tak memperdulikan cemoohannya, aku terus saja berusaha mengeluarkan isi perutku
Selesai muntah aku tak kembali ketempat dudukku semula, aku malah duduk di tempat Agung tadi
"Disini saja, di sana tempatnya terlalu terbuka" ucap Agung yang tak ku gubris
Aku menatap hamparan laut luas berharap jika ada speed boat yang mengejar kami di belakang
Mataku kembali basah karena harapanku untuk diselamatkan Hendri kembali pupus
_Sementara di tepi pantai_
Rombongan Marko dan para preman yang terlambat sampai hanya bisa berteriak dan memaki-maki
Bahkan Marko dan dua bodyguard Hendri sampai berlari masuk kedalam laut
"Sekarang kita harus bagaimana?" ucap Marko frustasi
"Apakah ada diantara kalian yang mempunyai kenalan penyewaan speed boat di dekat sini?"
Semua preman menggeleng
"Ini pulau terpencil tuan, hanya sesekali disinggahi pelancong, dan memang mereka menggunakan speed boat, tapi itu speed boat yang sudah ada penumpangnya"
Marko hanya bisa mengusap wajahnya dengan frustasi ketika mobil yang membawa Hendri berhenti di dekat motor para preman
Dengan cepat Hendri turun dan berlari kearah rombongan preman dan Marko
"Bagaimana, kemana mereka?" tanya Hendri
Semuanya diam, lalu Hendri menatap kelaut luas
"Apa mereka membawa istriku ke tengah laut?"
Marko mengangguk, tangan Hendri mengepal kuat
"Terus apa sekarang plan B nya?" ucapnya lemah sambil mengusap wajahnya
Hendri menggelengkan kepalanya ketika dilihatnya jam di pergelangan tangannya baru menunjukkan angka delapan kurang
"Nyawa istriku dalam bahaya" gumamnya frustasi
"Grace... iya Grace...." ucapnya panik sambil mengambil hpnya
"Grace tolong aku" ucapnya di hp
Yang lain memandang penuh harap pada Hendri yang berdiri tak tenang sambil menempelkan hp ke telinganya
"*****!!!" geram Hendri ketika Grace tak bisa dihubunginya
"Telpon pihak kepolisian!" teriak Hendri
Bodyguard Hendri tampak berbicara di telepon, sedangkan kepala preman juga terlihat berbicara di telepon
"Pihak kepolisian sedang menuju kemari bos, dan mereka juga melibatkan polisi air"
"Saya juga telah menghubungi teman saya agar membawa jet ski kemari bos, sekitar setengah jam mereka akan tiba disini" ucap kepala preman
Hendri menarik nafas panjang mendengar jawaban semua orang yang memberi informasi padanya
Lamat-lamat telinga Hendri mendengar suara deru mesin di kejauhan, dan benar saja, tampak di kejauhan beberapa jet ski, sekitar lima atau enam buah
Wajah Hendri langsung cerah ketika dia yakin bahwa itu adalah bantuan dari pihak kepolisian
"Grace....." desis Hendri berjalan ke tepi pantai sehingga ombak menyentuh sepatunya ketika dilihatnya jet ski yang paling depan hampir mencapai tepi pantai
Dan benar, ternyata salah satu yang membawa Jet ski adalah Grace.
Grace menghentikan jet ski di atas pasir, lalu dia melompat turun, dan langsung memeluk erat Hendri
__ADS_1
"Kamu tidak apa-apa kan?" tanyanya panik melepas pelukannya lalu kembali mendekap Hendri
Seluruh mata preman yang melihat Grace memeluk Hendri saling toleh
"Kembaran bos...." ucap Marko memberitahu mereka agar mereka tidak salah faham, mendengar ucapan Marko semuanya ber O panjang dan tampak mengangguk-anggukkan kepala mereka
Lima jet ski yang lain juga telah sampai, dan mereka juga melompat turun
"Hi, we meet again" sapa seorang bule mengulurkan tangan kearah Hendri
Hendri menatap wajah bule itu, tampak berfikir lalu wajah Hendri langsung berubah datar
"I'm Mike. Do you remember me?"
"Yes, of course" jawab Hendri dingin
"Mike ini orang yang ketemu aku pas aku mau sewa jet ski ini, dan dia heran mengapa aku sewa jet ski pagi-pagi buta, lalu aku cerita jika aku akan menyusul kamu, terus aku cerita semuanya, makanya dia ikut dan mengajak yang lainnya juga" jelas Grace agar Hendri maklum dan tidak memasang wajah dingin lagi
"Ini menyangkut nyawa istri kamu Hen, jadi please, turunkan ego kamu" decak Grace kesal
"Kita tidak punya banyak waktu, ayo!" Grace memberi komando tanpa memperdulikan wajah tak senang Hendri
Segera dia kembali naik keatas jet ski, menyusul Hendri di belakangnya
Marko naik bersama Mike, sedangkan empat orang yang lain, termasuk dua bodyguard dan kepala preman juga naik ke speed boat lainnya, sehingga sekarang mereka ber sepuluh menyusul Nia yang kembali membawa kabur Linda
Sedangkan yang lain menunggu di tepi pantai sesuai dengan instruksi kepala preman terus waspada dan ketika ada speed boat yang singgah segera sewa speed boat tersebut lalu menyusul, atau langsung naik jet ski ketika teman bos mereka yang bos mereka telepon tadi tiba
Grace segera melarikan jet ski dengan kecepatan tinggi. Hendri yang duduk dibelakang memeluk pinggangnya dengan erat
"Aku saja yang bawa Grace....." teriak Hendri
"Aku jauh lebih berpengalaman dibanding kamu Hen" balas Grace tak kalah berteriak
Sementara aku yang entah akan dibawa kemana oleh tiga orang ini sudah terduduk dengan lemah
Aku berkali-kali muntah dan kepalaku juga pusing. Sejak disekap mereka semalam, sebiji nasi bahkan makanan tak mereka berikan padaku
Kulihat Agung berdiri, dan tampak meneropong
"Ada yang mengejar tidak?" teriak Nia
Agung melambaikan tangannya memberi kode tidak ada. Aku kembali menarik nafas panjang mengetahui jika tak ada yang mengejar di belakang
"Kamu pasti datang mas, aku yakin...." bisik hatiku
"Di Sana ada pulau, apa kita bersembunyi di sana?" tanya Nia pada Nalendra
"Tidak sayang, terlalu beresiko bagi kita untuk singgah"
Agung yang masih memakai teropong tampak memutar teropongnya ke lain arah
"Di kejauhan ada helikopter!!!" teriaknya
Nia yang sejak tadi berdiri di sebelah kekasih gelapnya langsung melompat turun dan berjalan cepat kearah Agung, lalu mengambil kasar teropong yang masih digunakan Agung
"Sayang, ngebut lagi!!!" teriak Nia
Nia dan Agung segera berjalan cepat dari tempat mereka ke arahku
"Cepat ikat kakinya!" ucap Agung melemparkan tali kearah Nia yang telah memegang kakiku
Aku berusaha menendang Nia dengan kaki kananku tapi gagal karena aku yang masih lemah
"Jangan membantah!!!" bentak Nia sambil mengikat kuat kakiku
Tak hanya dengan tali, selesai itu Nia juga mengikatkan lakban ke kakiku
Sedangkan Agung yang tadi melemparkan tali dan lakban sekarang memegang kedua tanganku lalu mengikat tanganku dengan lakban kemudian lakban tersebut dipasangnya ke mulutku
__ADS_1
Aku hanya bisa menggerakkan bahuku ketika Agung melakban tanganku kebelakang dan berusaha menghindari tangannya ketika tangannya telah siap melakban mulutku
"Diam!!!" bentak Nia yang menjambak rambutku