Istri Yang Tergadaikan

Istri Yang Tergadaikan
Kaburnya Nia


__ADS_3

Setelah meyakinkan jika nak gadisnya telah nyenyak, Hendri keluar dari dalam kamar Khe, berjalan dengan nafas memburu kearah kamar pribadinya


Dengan kasar didorongnya pintu hingga terbuka lebar. Tapi kamar itu kosong


Dengan menahan amarahnya Hendri mengelilingi seluruh isi kamar, bahkan sampai di kamar mandi dan di bawah ranjang


Tapi keberadaan Nia tak juga ditemukannya. Lalu dia berpindah ke kamar Mutiara dan Alika, sama saja. Dikedua kamar anak gadisnya dia tidak menemukan keberadaan Nia


Kemarahannya kian memuncak, rasanya kepalanya sudah siap meledak saking panasnya kepala itu


Dibukanya aplikasi cctv didalam smartphonenya, dia yakin jika keberadaan istrinya di rumah ini bisa dilihatnya dari sana


Dilihatnya jam yang ada di dalam smartphone, pukul dua dini hari lebih, dan diingatnya lagi, semalam dia pulang jam berapa ketika Ibram meneleponnya


Dibukanya panggilan masuk, jam sebelas kurang. Dipercepatnya cctv ke jam sebelas malam, di sana masih terlihat jika Nia masih ada di ruang tamu


Lewat sepuluh menit barulah dilihatnya jika Nia keluar dari dalam rumah.


Lalu Hendri bergegas keluar menuju ruangan keamanan dimana ada pak Puji dan tiga bodyguard yang berjaga


Dilihatnya jika dua penjaga rumah tidur nyenyak sedang yang dua lagi tak ada, mungkin sedang berkeliling


Hendri tak mempermasalahkan hal itu, segera dilihatnya layar komputer yang ada di sana


Menyadari jika ada bos besarnya di dalam ruangan tersebut, pak Puji langsung terlonjak kaget dan segera duduk


"Lanjutkan istirahatnya pak, saya cuma mau periksa cctv jam sebelas tadi"


Pak Puji tidak menuruti kata bos besarnya, beliau langsung berdiri tak jauh di belakang bos besarnya


Dan Hendri langsung fokus menatap layar komputer yang memperlihatkan seluruh bagian rumahnya, baik bagian luar maupun bagian dalam


Rahangnya mengeras ketika dilihatnya Nia sedang membentak pak Puji


Pak Puji menelan ludahnya dengan ketakutan ketika Hendri memutar kursi menghadap kearahnya


"Apa yang dia katakan?"


"Nyonya memaksa saya membuka pagar tuan, jika tidak saya akan ditikamnya"


Hendri memejamkan matanya sebentar menahan marah. Detik berikutnya dilihatnya lagi gambar dimana Nia seperti mengacungkan sesuatu kearah pak Puji yang mundur


"Maafkan saya tuan" lirih pak Puji


Selagi Hendri terus menatap layar komputer, dua bodyguard masuk dan mereka langsung berdiri sigap setelah sebelumnya mengangguk hormat pada bos besar mereka


"Maafkan kami tuan, waktu nyonya pergi kami sedang berada di atas"


Hendri mengangguk tanpa menoleh kearah keduanya karena terus fokus menatap layar komputer


Dilihatnya ada sebuah mobil berwarna putih berhenti di depan pagar dan Nia segera berlari lalu langsung masuk kedalam mobil tersebut yang langsung melaju kencang


Hendri segera memutar ulang bagian mobil tersebut, lalu men zoom plat mobil tersebut


"Catat plat mobilnya!"


Segera pak Puji mengeluarkan hpnya lalu membidikkan kamera hpnya kearah layar komputer


"Sudah pak" jawabnya takut


Hendri lalu berdiri dari kursi menatap ketiga anak buahnya


"Mulai besok jangan bukakan pagar rumah ini untuk Nia, biarpun dia mengancam kalian"


"Dan anda pak Puji, besok bapak akan saya beri senjata api, jika Nia mengancam bapak, bapak bisa langsung tembak dia"


Pak Puji terkesiap dan menelan ludahnya dengan ketakutan

__ADS_1


Lalu Hendri menoleh pada dua bodyguardnya yang lain yang tetap bersikap siaga


"Kalian juga, jika ada yang membahayakan nyawa kalian dan keluarga saya, langsung kalian tembak, urusan belakang biar menjadi urusan saya"


Keduanya mengangguk cepat. Dan Hendri kembali menarik nafas berat lalu menepuk pundak kedua bodyguardnya lalu meninggalkan ruangan itu


Ketiga penjaga keamanan tersebut langsung menarik nafas lega ketika Hendri meninggalkan mereka, lalu kedua bodyguard masuk kedalam ruangan lain, dimana pak Ibram pulas tertidur


"Hei Ibram, kurang ajar kamu ya, malah enak-enakan tidur"


Pak Ibram membuka matanya dan melotot tajam pada kedua temannya


"Aku baru saja tidur, sekarangkan giliran kalian yang berjaga"


"Tadi ada bos kesini, kamu malah enakan tidur, anak buah kurang ajar"


Pak Ibram langsung berdiri cepat


"Sekarang bos kemana?"


"Ya pergi lagi masuk kedalam rumah"


"Kenapa kalian tidak membangunkan ku, terutama anda pak Puji"


"Tuan yang melarang saya, tadi saja tuan menyuruh saya melanjutkan tidur ketika saya terbangun"


Pak Ibram menarik nafas panjang dengan lega


"Ada perintah apa dari bos besar?"


"Jangan suruh nyonya masuk kedalam rumah ini lagi apapun alasannya, bila perlu tembak saja jika nyonya mengancam nyawa kita"


Wajah pak Ibram kaget mendengar jawaban temannya


Lalu beliau menguap lebar dan kembali merebahkan tubuhnya


Pak Puji mengangguk, dan ikut merebahkan tubuhnya. Sementara dua bodyguard yang lain segera keluar dari dalam ruangan tersebut, dan duduk di luar


Sementara di tempat lain, Nia yang sedang bersama selingkuhannya, seorang pemuda yang jarak umurnya sepuluh tahun dengannya itu sedang diperjalanan menuju luar kota


"Kita akan kemana ini sayang?" tanya pemuda itu


"Pokoknya kita pergi jauh dari kota ini, saya yakin saat ini pria arogan itu sudah tahu jika aku kabur dari rumah"


"Dan aku juga yakin, dia tidak akan melepaskan kita berdua"


Wajah pemuda itu menegang


"Jadi kita harus bagaimana?"


"Pergi sejauh-jauhnya, bila perlu kita keluar negeri"


Pemuda itu mengangguk, lalu kembali mempercepat laju mobilnya


Nia merogoh smartphone dalam tas branded nya, lalu mengeluarkan kartu selular, dan mematahkannya


"Apa yang kamu lakukan?"


"Biar tak ada seorangpun yang bisa melacak keberadaan kita"


Kembali pemuda itu setuju, lalu dia memberikan smartphone miliknya pada Nia


"Patahkan juga kartu saya sayang, biar orang juga tidak mengetahui keberadaan saya"


Nia mengangguk, dengan menggunakan jarum bross mahal yang menempel di dress nya, Nia mengeluarkan kartu selular dari hp kekasihnya lalu mematahkannya dan melemparkannya keluar


Keduanya saling toleh dan saling menyatukan jari mereka, saling menggenggam erat tangan mereka berdua dengan senyum bahagia

__ADS_1


"Sekarang tak ada lagi yang akan menghalangi kita berdua" lirih Nia


Pemuda itu mengangguk dan tersenyum penuh arti pada Nia


Sementara Hendri yang masuk kedalam rumah segera masuk kedalam ruang kerjanya dan segera menghubungi anak buahnya yang diperintahkan nya untuk mencari keberadaan selingkuhan Nia


"Ada perkembangan?


"Kami telah menemukan apartemennya bos, besok kami akan menyergapnya dan membawanya pada bos"


Hendri lalu mematikan hpnya dan duduk terhenyak di sofa


Dilemparnya asbak rokok ke tembok hingga hancur berkeping-keping lalu dia membalikkan meja dengan emosi


Tangannya terkepal kuat dan kembali dengan keras dia memukul tembok, tak puas sampai di sana, kembali tangannya yang terkepal meninju kaca jendela hingga hancur


Bodyguard yang berjaga segera mendongak keatas ketika mereka dengar ada suara kaca yang pecah, dan keduanya hanya bisa saling toleh ketika ada kepingan kaca yang jatuh berderai ke tanah


Dada Hendri naik turun menahan marah, sekuat tenaga dia menahan suaranya yang hendak berteriak kencang


Rahangnya mengeras dengan mata yang memerah, sementara darah yang mengucur dari tangannya tak dipedulikannya


Dengan dada yang dipenuhi emosi dan amarah yang memuncak, Hendri turun dari ruang kerjanya berjalan kearah mobil


Dengan sigap pak David membuka pagar lalu dengan cepat mobil Hendri melesat keluar dari rumah besar itu


Setelah mobil Hendri pergi, pak David segera menutup kembali pagar dan kembali berjaga


"Tidak kusangka bos dingin itu kacau juga hatinya akibat dikhianati istrinya" ucap pak Yohanes


Pak David hanya menarik nafas dalam


"Itulah yang namanya perasaan bro, bos besar memang terkenal dingin, tapi kita lihat sendirikan bagaimana perlakuannya pada ketiga anak dan istrinya?, nyonya saja yang tidak bersyukur"


Pak Yohanes mengangguk setuju.


Sementara Hendri yang keluar dari dalam istananya melajukan mobil dengan ngebut menuju hotel dimana Linda terkurung di sana


Jika biasanya dia membutuhkan waktu nyaris setengah jam untuk sampai di hotel tersebut, ini hanya lima belas menit mobilnya telah masuk kedalam area hotel


Hendri segera turun dari dalam mobil, dan anak buahnya yang bertugas mengawasi Linda segera berlari menghampirinya


"Bos" sapa mereka


Hendri menoleh sekilas lalu segera masuk kedalam hotel


Tiga anak buah Hendri saling toleh ketika melihat tangan Hendri yang berdarah


Hendri setengah berlari ketika menaiki tangga menuju lantai dua, dan ketika sudah sampai di depan kamar nomor 20, dia menarik nafas panjang terlebih dahulu sebelum akhirnya mengambil kunci dan membuka pintu


Dengan pelan Hendri masuk dan dilihatnya jika Linda yang terbungkus selimut tak menyadari kedatangannya


Hendri segera masuk kedalam kamar mandi, dan menyiramkan air pada luka yang ada di tangannya


Aku segera membuka mataku ketika mendengar ada suara air jatuh di lantai kamar mandi. Aku memasang telingaku dengan seksama, dan benar terlebih ketika kulihat pintu kamar mandi terbuka


Dengan cepat aku bangun dan berjalan dengan degup jantung yang berdebar kencang kearah kamar mandi


Kulihat Hendri menengadahkan kepalanya dengan memejamkan matanya sementara tangannya di dalam gayung


"Hen?"


Hendri terkejut dan menoleh ke arahku, dengan cepat dia membuang air di dalam gayung lalu berjalan dengan angkuh melewati ku yang berdiri menatap heran padanya


Dengan cepat aku menyusulnya yang duduk di sofa


"Tangan kamu kenapa lagi?" pekikku tertahan ketika kulihat kedua tangannya berdarah

__ADS_1


__ADS_2