Istri Yang Tergadaikan

Istri Yang Tergadaikan
Perjuangan Hendri


__ADS_3

Aku mencium punggung tangan penghulu ketika proses pernikahan kami selesai


Dan para tamu yang ada di ruangan ini secara bergantian menyalami kami


Jika Hendri berdiri lain halnya denganku yang duduk di kursi. Aku memasang senyum pada semua yang ada di dalam ruangan ini


Jumlah mereka tidak banyak, tak sampai dua puluh orang, dan aku yakin mereka semua adalah anak buahnya Hendri, termasuk Marko


Wanita paruh baya yang tadi membantu memegangi tanganku mendekatiku ketika Hendri menjauh dariku dan berjalan kearah Marko


"Nyonya mau makan?"


Aku menggeleng


"Minum?"


Kembali aku menggeleng


Tanpa ku minta perempuan itu duduk di kursi di sebelahku dan ikut melihat semua orang yang sedang makan


"Kami senang akhirnya tuan Hendri membawa istrinya ke villa ini"


Aku tersenyum kaku


"Biasanya tuan Hendri hanya sendirian atau terkadang dengan tuan Marko jika kesini"


"Istri dan ketiga anaknya?"


Perempuan paruh baya itu menoleh dan memandang dalam mataku


"Nyonya mengenal istri tuan Hendri?"


Aku mengangguk


Kulihat wanita paruh baya ini menarik nafas dalam


"Saya Ni Luh. Nyonya bisa panggil saya dengan sebutan itu, semua yang ada disini memanggil saya dengan sebutan itu"


Aku mengangguk


"Benar nyonya tidak ingin apa-apa?"


Aku kembali mengangguk. Saat dia hendak pergi aku menarik tangannya


"Bibi belum cerita mengapa Hendri tidak pernah membawa keluarganya kesini"


Bibi Ni Luh tersenyum ke arahku lalu kembali duduk


"Tempat ini dijadikan tuan Hendri untuk menenangkan dirinya"


Aku menganggukkan kepalaku. Dan kembali fokus menatap kearah Hendri yang masih berbicara pada Marko dan anak buahnya


Bibi Ni Luh segera berdiri ketika dilihatnya Hendri berjalan kearah kami


"Kamarnya sudah siap bi?"


Bibi Ni Luh mengangguk dan tersenyum, dan aku menelan ludah penuh ketakutan


"Tidak ingin makan?"


Aku menggeleng kearah Hendri


"Makanlah karena kamu harus cepat sehat"


"Bi, tolong ambilkan makanan untuknya"


Bi Ni Luh mengangguk dan segera berlalu dari hadapan kami


Aku kembali menatap ke depan, kearah Marko yang tampak tertawa, aku tersenyum melihatnya tertawa


Aku tidak melihat bagaimana mata Hendri berkilat ketika melihatku tersenyum melihat kearah Marko


Bi Ni Luh kembali kehadapan kami dengan membawa sebuah piring yang telah terisi nasi dan lauk pauk


"Saya suapi nyonya?"


Aku menggeleng dan mengambil piring yang ada di tangannya lalu meletakkan di pangkuanku


Dengan pelan aku mulai menyendok nasi dan menyuapkannya ke mulutku.


Hendri mengambil sendok dari tanganku dan mengambil piring dari pangkuanku


"Ayo makan yang cepat"


"Sakit Hen, makanya aku makannya pelan"


Hendri melengos dan menatap ke depan pula


"Apa yang menarik dari Marko sehingga sejak tadi kamu terus menatapnya?


"Hah...?" jawabku kaget


Hendri bergeming dan kembali menyendok kan nasi dan mengarahkan ke mulutku


"Sudah Hen, kenyang" tolak ku ketika kembali dia mengarahkan sendok ke mulutku


Hendri meletakkan piring lalu mengambil gelas air dan aku segera menerimanya


"Terima kasih" lirihku sambil segera meminumnya


Dua perias yang tadi merias ku berjalan mendekati kami


"Kamu permisi dulu tuan, terima kasih karena telah mempercayakan jasa wedding nya pada kami"


Hendri mengangguk lalu tersenyum segaris pada mereka berdua


Kembali keduanya menyalami kami, giliran mereka menyalamiku aku berbisik


"Siapa nanti yang akan membantuku melepas kebaya ini jika mbak pulang?"


Perempuan itu tersenyum dan berbisik pula di telingaku


"Kan ada tuan Hendri, bilang sama tuan Hendri untuk jangan liar karena anda masih sakit"


Refleks aku memukul lengannya yang disambutnya dengan terkekeh


"Kami pamit tuan, sekali lagi happy wedding dan selamat berbulan madu"


Seeerrrrr....

__ADS_1


Wajahku langsung terasa panas mendengar seloroh mereka berdua. Sepeninggal mereka Hendri kembali menoleh padaku


"Jika ingin istirahat kamarnya sudah disiapkan oleh bibi Ni Luh"


Aku mengangguk. Kulihat beberapa perempuan tampak membereskan bekas piring kotor dan membawanya masuk kedalam


Begitu juga yang laki-laki, mereka membersihkan ruangan ini


"Bi, bawa kesini kursi rodanya!"


Bibi Ni Luh yang dipanggil Hendri meletakkan piring kotor yang dibawanya kembali lalu berjalan kearah dalam


Tak lama telah muncul dengan mendorong kursi roda


"Jika kamu belum ingin istirahat, kamu bisa jalan-jalan di luar villa ini"


Aku mengangguk. Dan Hendri segera berdiri dari kursinya dan kembali mengangkat tubuhku dan dengan pelan diletakkannya di atas kursi roda


"Bawa dia jalan-jalan di luar bi"


Bi Ni Luh mengangguk dan mendorong kursi rodaku keluar dari dalam ruangan besar ini


Saat kami akan sampai di depan pintu, Marko berlari kearah kami


"Linda tunggu!"


Aku menoleh, begitu juga dengan bi Ni Luh


"Ya mas?"


Marko mengembangkan senyum padaku


"Sekali lagi, selamat ya" ucapnya mengulurkan tangan ke arahku yang kusambut dengan menjabat tangannya dan tersenyum manis padanya


Kembali aku tidak menyadari tatapan tajam Hendri pada kami


"Kalian mau kemana?"


"Saya mau mengajak nyonya jalan-jalan, disuruh tuan"


Marko menatap kearah Hendri yang memandang dingin kearah mereka


"Oh...." jawabnya singkat sambil menganggukkan kepala


Aku melambaikan tangan pada Marko lalu bi Ni Luh mendorong kursi roda keluar


Marko kembali bergabung dengan anak buah Hendri yang lain dan kembali mereka mengobrol ringan sambil diselingi tawa


Sementara aku yang dibawa bi Ni Luh jalan-jalan diluar menghirup udara segar sebanyak-banyaknya


"Villanya bagus ya bi"


"Iya nyonya, semoga nyonya betah tinggal di sini"


Aku tersenyum getir dan terus mengedarkan pandanganku ke sekeliling halaman


Aku bertanya tentang nama bunga-bunga yang kami lewati bahkan nama pohon, dan dengan sabar bi Ni Luh menjelaskan semuanya padaku


Cukup lama kami berjalan di taman luas ini, dan sekarang kami duduk di bawah pohon


Bi Ni Luh duduk di kursi taman sedangkan aku masih di kursi roda


"Jarang nyonya, untung-untung setahun sekali"


"Hah?"


Bi Ni Luh mengangguk dan tertawa geli mendengar jawaban kaget ku


"Oh iya, tadi bibi belum menjawab dengan lugas mengapa Hendri tak pernah membawa keluarganya kesini"


"Saya tidak tahu nyonya apa alasannya, setahu saya, ini adalah tempat tuan Hendri untuk menenangkan diri"


Aku mengangguk dan pandangan kami mengarah ke arah villa, dimana kami dengar suara deru motor


"Mereka mau kemana bi?"


"Patroli mungkin, karena tuan tidak ingin keamanan villa ini terganggu"


Kembali aku mengangguk


"Kita pulang nyonya?"


Aku mendongakkan kepalaku kearah bi Ni Luh yang telah berdiri dan siap mendorong kursi rodaku


"Bibi mau kan tiap hari ajak aku jalan-jalan di taman ini?"


Beliau mengangguk dan mulai mendorong kursi rodaku


Sampai di dalam villa, kulihat Hendri sedang menatap layar laptop dan tampak menunjuk-nunjuk dan memberi instruksi pada Marko yang menganggukkan kepalanya


Hendri menoleh kearah kami ketika didengarnya suara bi Ni Luh berkata padaku


"Bawa langsung masuk bi!"


Bi Ni Luh mengangguk dan mendorongku masuk kesebuah kamar


Aku melongo ketika kulihat suasana kamar yang didesain seperti layaknya kamar pengantin


"Ini kamar aku bi?"


"Lah iya, kamar pengantin" jawab beliau sambil tersenyum


Aku tersenyum getir. Dan menarik nafas panjang lalu meregangkan kaki dan tangan kananku


"Bibi bisa bantu aku melepas baju?"


Kembali beliau mengangguk, dengan pelan dilepasnya kancing kebaya satu persatu hingga akhirnya lepas dan langsung memakaikan piyama tidur untukku


Ketika akan melepaskan rok beliau agak kesusahan karena posisiku yang duduk


Dengan menopang menggunakan tangan kanan aku berdiri dan kembali dengan pelan bibi Ni Luh melepaskan rok yang kupakai


Ketika akan memakaikan celana piyama kembali beliau kesulitan karena kakiku yang sakit


Aku telah menghembus nafas memburu ketika aku kembali menahan rasa sakit


"Aaarrghhhh......" teriakku ketika bi Ni Luh mengangkat kaki kiriku


Hendri yang mendengar teriakan Linda refleks berdiri dan berlari cepat kedalam kamar

__ADS_1


Aku menunduk memegangi kakiku sambil merintih tertahan


Hendri yang sampai di kamar begitu melihatku kesakitan langsung berjongkok dan memegangi kakiku


"Bibi apakan kakinya?"


Aku cepat mengangkat kepalaku dan menggeleng cepat kearah Hendri


"Aku tadi memaksa mau berdiri, jadi kakiku kembali sakit" bohongku


Kulihat wajah bi Ni Luh menegang dan aku menggeleng kearahnya


"Kamu ini bikin kaget orang saja, kamu kan tahu kakimu ini masih patah, harus hati-hati"


Aku kembali meringis kesakitan ketika Hendri berusaha menaikkan celana piyama


"Sakit..." rintih ku


Karena kesal melihatku yang kesakitan, Hendri melepas celana piyama tersebut dan melemparkannya.


Segera diangkatnya tubuhku yang hanya memakai baju piyama


"Hen...?" ucapku tercekat ketika dia langsung mengangkat tubuhku tanpa memberitahuku lebih dulu


Hendri kembali menggeram dalam hatinya ketika melihat pemandangan yang merusak kesadarannya


Bagaimana dia tidak geram, saat ini Linda hanya memakai underwear dan baju piyama. Otomatis ketika dia mengangkat tubuh itu bagian inti Linda sangat menantangnya


Hendri segera meletakkan ku di atas ranjang, lalu menyelimuti ku


"Beristirahatlah"


Aku hanya mengangguk dan mengeratkan selimut ke tubuhku. Sedangkan bi Ni Luh masih berdiri di tempatnya


"Siapkan air minum bi, kalau-kalau nanti malam Linda terbangun dan haus"


Saat Hendri bangkit dari atas ranjang aku mencegat langkahnya


"Tapi aku belum ngantuk Hen"


"Terus kamu maunya apa?"


"Biarkan bibi Ni Luh disini dulu menemani aku, aku masih pengen ngobrol sama beliau"


Hendri menarik nafas panjang lalu ngeloyor pergi, ketika berpapasan dengan bi Ni Luh yang membawa nampan air, beliau tampak bercakap dan kulihat bi Ni Luh menganggukkan kepalanya


Karena hari masih sore aku terus mengobrol dengan bi Ni Luh, bertanya banyak tentang kehidupannya


Sedangkan Hendri yang berada di luar terus fokus mengerjakan proyeknya dengan Marko


Hingga jam sepuluh malam bibi Ni Luh berpamitan denganku dan keluar dari dalam kamar


Saat berpapasan dengan Hendri, Hendri menghentikan langkahnya


"Apa dia sudah tidur?"


Mata Marko langsung mengerling kearah bosnya begitu mendengar ucapan sang bos


Bibirnya langsung menahan sebuah senyuman dan dia menundukkan kepala takut Hendri melihat senyumnya


"Nyonya mulai mengantuk, karena itulah saya keluar"


Hendri menganggukkan kepalanya lalu kembali fokus menatap layar laptop


"Apa bos tidak akan segera tidur?"


Hendri yang fokus menatap layar laptop mengangkat kepalanya


"Maksud kamu?"


Marko tersenyum penuh arti


"Dia sedang sakit, tentulah dia tidak bisa menjalankan kewajibannya"


Tawa Marko langsung meledak dan Hendri menatap sinis padanya. Sadar jika bos nya tidak suka, Marko dengan terburu meminta maaf


"Jujur saja saya lelah bos, boleh saya istirahat?"


Kembali Hendri menatap dingin kearah Marko


"Serius bos, bukannya saya meledek bos"


Hendri menutup laptopnya lalu berjalan masuk kedalam kamar dimana telah ada Linda di sana, meninggalkan Marko yang terus menahan tawa


Dilihatnya wajah perempuan yang telah sah jadi istrinya itu terlihat tenang


Dengan pelan Hendri mendekat dan memasang bantal di dekat kaki dan tangan Linda yang patah


Dan aku refleks membuka mataku ketika kurasakan ada gerakan di tempat tidur


Degup jantungku langsung berpacu cepat ketika kulihat Hendri menyingkap selimut yang menutupi kakiku


"Aku tidak akan menuntut hak ku sebelum kamu siap"


Aku menelan ludahku mendengar ucapannya


Ternyata Hendri meletakkan bantal di dekat kakiku


"Biar tidak tersenggol"


Aku mengangguk


"Tidurlah!"


Aku kembali mengangguk. Dan Hendri pindah ke sebelah kananku. Dan dia mulai merebahkan tubuhnya


Aku kembali memejamkan mataku dan tak lama aku telah tertidur.


Hendri yang tadi sudah terpejam, perlahan membuka matanya dan terus mengumpat dalam hati ketika dirasakannya gejolak jiwanya seperti meronta-ronta


Diremasnya rambutnya dengan frustasi ketika Linda bergerak yang menyebabkan paha polos Linda menyentuh tangannya


"Aaarrggggghh...." geramnya


Hendri memiringkan tubuhnya menghadap kearah Linda dan membelai wajah wanita itu


Kembali dia harus berusaha mati-matian menahan gejolak di dalam dirinya yang seperti menuntut pelepasan


"Aaarrrgghhh...." geramnya dengan langsung duduk

__ADS_1


Akibat dia duduk, selimut yang menutupi bagian bawah Linda sedikit tersingkap dan Hendri kembali memaki-maki dalam hati melihat pemandangan di depan matanya


__ADS_2