
"Aku akan pergi dari sini, dan aku tidak akan kembali lagi!" geram Hendri yang segera mengambil jas yang sejak kemarin ada di sandaran sofa
Aku menarik nafas panjang ketika pintu kamar dibanting keras, dan segera memandang kearah pintu.
Setelah cukup lama tidak ada tanda-tanda Hendri akan masuk, aku segera menjalankan kursi roda kearah lemari, berusaha mengambil pakaianku
Berusaha sekuat tenaga untuk berganti baju. Saat aku telah selesai mengganti seluruh pakaianku, pintu kamar terbuka dan aku mendengar suara langkah kaki terburu
Aku menoleh, dan ku dapati Hendri kembali masuk. Segera diambilnya hp yang tergeletak di atas ranjang, mengarahkannya ke arahku, lalu membantingnya keras kelantai hingga benda tersebut hancur berkeping-keping
Aku hanya menatap kosong pada hp yang sudah tak berbentuk itu lalu diam tak bersuara saat Hendri kembali membanting keras pintu
Tak lama terdengar suara mesin mobil yang menjauhi villa dan aku yakin jika Hendri pergi
Suasana villa kembali hening, tidak ada suara teriakan lagi, tidak ada suara benda yang dibanting lagi, semuanya hening
Pintu kamarku diketuk, dan kudengar suara bibi Niluh memanggil namaku
"Iya bik...." jawabku
Segera pintu terbuka dan muncul bibi Niluh yang langsung menghambur ke arahku
Beliau segera memelukku dan kembali menangis
"Sudah bik, aku nggak apa-apa" lirihku
Beliau terus terisak dan mengusap-usap punggungku
"Sakit ?" ucap beliau sambil memegangi wajahku
Aku menggeleng
Beliau mengusap kasar wajahnya, memperhatikan wajahku tak yakin
"Mengapa nyonya tidak mengatakan yang sebenarnya?
Aku diam. Beliau kembali menatap dalam mataku
"Nyonya jangan hanya diam, nyonya harus melawan, jika nyonya terus diam, maka tuan akan terus menyiksa nyonya"
Aku tersenyum samar
"Tidak ada gunanya aku bicara bik, Hendri tak akan mempercayai omonganku, dia hanya akan terus menyiksaku"
Bibi Niluh menggeleng, memutar kursi rodaku kearahnya yang sekarang duduk di tepi ranjang
"Seberat inikah beban yang nyonya rasakan hingga air mata pun tak lagi keluar?" tanyanya
Aku tersenyum samar
"Air mataku telah kering bik, begitu banyak yang sudah aku tumpahkan, hingga aku tak menyisakannya lagi sedikitpun"
"Aku akan menahan semua siksaan dari Hendri bik, apapun itu. Karena ini semua demi ketiga anakku, aku tak ingin dengan aku melawannya lagi nyawa ketiga anakku terancam"
__ADS_1
Bibi Niluh menarik nafas panjang, lalu matanya tertumbuk pada bajuku yang basah yang teronggok di lantai dan juga pada hp yang hancur lebur di lantai
"Ya Tuhan, jadi tuan mengurung nyonya di kamar mandi?"
Aku tersenyum samar, dengan cepat beliau mengambil bajuku yang basah, membawanya ke kamar mandi lalu kembali lagi memungut hp yang telah berserakan di lantai lalu membuangnya ke kotak sampah
"Ini nomor dan memorinya bibi letakkan di dalam laci"
Aku mengangguk, lalu bibi Niluh membawaku keluar dari kamar, membawaku menuju dapur
Diisinya nasi dan lauk kedalam piring lalu segera menyuapiku
"Makan yang banyak, karena sekarang bukan hanya kesehatan nyonya yang harus nyonya pikirkan, tapi juga pada jabang bayi yang ada di perut nyonya"
Aku berhenti mengunyah dan memandang kearah beliau
"Bibi tahu jika nyonya sedang hamil" lanjutnya sambil kembali menyuapiku
"Jangan kasih tahu Hendri ya bik" ucapku sambil memegang tangannya
"Kenapa? tuan harus tahu, agar tuan berhenti menyiksa nyonya"
Aku menggeleng
"Perutku akan terus membesar bik, tanpa kita harus memberitahu Hendri, dia juga akan tahu suatu hari nanti"
"Tapi nyonya?"
Aku menggeleng
"Aku ingin Hendri menyesal karena telah menyakitiku, dan aku berjanji saat penyesalan Hendri datang, saat itu aku sudah tidak ada lagi di dekatnya"
Bibi Niluh meletakkan piring di tangannya, dan langsung memelukku sambil kembali menangis
"Entah mengapa Tuhan memilihku menanggung ini bik, sejujurnya aku tidak sanggup" lirihku tercekat
Bibi Niluh terus terisak yang membuatku kembali meneteskan air mata
...----------------...
Lima bulan sudah Hendri tak datang lagi ke villa, dan kehamilanku sudah cukup besar, dan setiap bulan aku periksa kehamilan memakai uang bibi Niluh
Beliau selalu ikhlas ketika uangnya yang selalu dipakai untuk periksa. Dan aku selalu meminta struk bukti pembayaran dari rumah sakit, menyalinnya kedalam buku lalu struk aslinya aku simpan. Biar jika suatu hari nanti Hendri bertanya dari mana aku dapat uang dan mana buktinya aku memiliki bukti tersebut
Bibi Niluh menuruti perintahku untuk tidak pernah memberitahu Hendri tentang kehamilanku, selain dengan alasan kesehatan mental, aku tak ingin kedatangan Hendri membuatku stress dan mengganggu perkembangan janinku
Dan Hendri yang pergi marah malam itu, sesampainya di bandara ibukota, dia langsung masuk kedalam mobil yang dikemudikan pak Paino
Khayla kaget ketika di pagi harinya melihat papinya telah siap berangkat ke kantor
Hendri memberi alasan jika pekerjaannya telah beres karena itulah dia cepat kembali ke ibukota
Begitu juga dengan Marko, dia yang lebih kaget lagi. Hendri bilang jika dia akan pergi selama seminggu tapi baru sehari telah kembali lagi
__ADS_1
Dan kecurigaan Marko makin besar ketika tingkah Hendri sebagai pekerja keras kembali kambuh dengan selalu lembur dan selalu perfeksionis
Sehingga proyek yang seharusnya akan selesai dalam jangka waktu tiga bulan, dalam waktu dua bulan telah rampung, sempurna sesuai dengan seluruh planning mereka
Mega proyek yang melibatkan berbagai investor luar negeri itu sekarang telah berjalan dengan pesat. Dan kehebatan Hendri sebagai pimpinan perusahaan besar makin diacungi jempol oleh seluruh koleganya
Dan hari ini, ketika Hendri sedang berlibur di luar negeri bersama ketiga anak gadisnya, tak sengaja matanya tertumbuk pada seorang perempuan yang nyaris menyerupai Linda
Bentuk tubuhnya, rambutnya hingga wajahnya nyaris seperti Linda.
Hendri mengumpat dalam hati ketika ingatannya kembali pada wanita yang telah ditinggalkannya selama lima bulan yang lalu itu
Diakuinya sejak meninggalkan Linda dalam kemarahan, sejak itulah Hendri memutus semua hubungan dengan wanita itu, bahkan hanya sekedar ingin mengetahui bagaimana kabar wanita itu saja Hendri tidak sudi lagi
Tapi hari ini berbeda, hatinya kembali porak poranda ketika dia melihat wanita yang sekilas mirip sekali dengan Linda
Hingga sepulangnya mereka ke kamar hotel, Hendri segera menghubungi bibi Niluh
Bibi Niluh yang saat itu sedang tidur segera terbangun ketika mendengar hpnya berdering. Dan wajahnya sedikit kaget ketika dilihatnya jika yang menelepon adalah tuan besarnya
"Bagaimana keadaan Linda?"
Bibi Niluh yang tidak pernah lagi memberi kabar tentang Linda pada tuan besarnya hanya bisa menarik nafas panjang ketika Hendri bertanya tentang keadaan Linda
"Nyonya baik-baik saja tuan, begitu juga dengan kehamilannya"
Duaarrrrr!!!
Serasa petir menyambar ketika Hendri mendengar kalimat terakhir bibi Niluh
"Apa?, hamil?, Linda hamil?"
Bibi Niluh menarik nafas panjang
"Iya tuan, sudah enam bulan lebih"
Nyuuutttt.....
Hati Hendri langsung berdenyut sakit mendengar jawaban bibi Niluh
"Enam bulan lebih?" tanyanya dengan bergetar
"Iya tuan, terakhir kali tuan kesini itu sebenarnya nyonya sedang hamil, tapi nyonya sengaja tidak memberitahu tuan"
Hendri mengusap wajahnya, kembali teringat bagaimana dihari itu dia kembali menyiksa Linda, bagaimana jika terjadi apa-apa dengan janinnya?, batinnya
Dilihatnya jam yang melingkar di pergelangan tangannya, segera dia berlari keluar dari dalam kamarnya masuk kedalam lift dengan cepat
"Khe papi pulang duluan ke Indonesia, kamu dan adik-adik biar sama bodyguard dulu, nanti ketika kalian mau pulang segera beritahu papi"
Khayla yang mendapat telepon mendadak dari papinya hanya terbengong tak tahu harus menjawab apa. Padahal liburan mereka masih tiga hari lagi
Dan Hendri yang melesat keluar dari hotel segera menghentikan sebuah taksi
__ADS_1
"Go to airport!" ucapnya cepat pada supir yang menanyakan tujuannya