
Aku membelalakkan mata mendengar permintaan Hendri
"Cepat masuk!"
"Nggak mau!!!" teriakku
"Ya Tuhan, awas kamu jika aku sudah sembuh"
Aku menggigit bibirku dengan ragu mendengar ancaman Hendri
"Cepat masuk Lin!"
"Mau ngapain Hen?"
"Aku bilang masuk, masuk!!"
Aku sudah mau menangis mendengar perintahnya
"Tapi Hen?"
"Cepat atau aku telpon anak buahku untuk membunuh ketiga anakmu??!"
BRAKKK
Dengan cepat aku mendorong pintu dan menatap marah pada Hendri
"Kenapa manggil aku?, kurang apa marah-marahnya sampai kamu di dalam kamar mandi masih juga berteriak memarahiku?
Hendri dengan kasar mendorong tubuhku dengan badan besarnya. Aku memejamkan mataku karena dada besarnya menekan kuat dadaku
"Kamu itu kacung ku, tahu?"
Air mata langsung mengalir dari sudut mataku mendengar makiannya
"Ingat, kamu itu sudah aku beli dari Agung, jadi terserah mau aku apakan"
Dengan berlinang air mata aku menatap mata Hendri yang menatap tajam ke arahku
"Aku tahu, tapi tolong jangan terlalu merendahkan aku Hen"
Hendri membuang mukanya dengan mendengus mendengar ucapanku. Dan aku hanya bisa menatap dengan hati yang terluka padanya
Sebenarnya yang dikatakan Hendri benar, aku adalah budaknya karena aku telah dijual Agung padanya, tapi entah terkadang sudut hatiku masih tak bisa menerima kenyataan jika aku adalah budak dan kacungnya Hendri
Aku masih berani melawan dan membantah, tapi ketika makian yang merendahkan derajatku sebagai manusia rasanya aku tak terima, rasanya aku benar-benar terhina
"Mandikan aku!!!"
Mataku terbelalak tak percaya, mau menolak tak bisa, mau menerima juga rasanya berat
Tapi aku tak ada pilihan lain selain mengangguk pelan. Kulihat Hendri masih menatap sinis padaku, namun perlahan, dia menarik tubuhnya dari dada, lalu dia membalikkan badannya
Dengan menarik nafas dalam aku berdiri di depannya, menarik pelan kaos oblong yang melekat di tubuhnya
Hendri jelas melihat air mataku, karena saat itu air mataku tak berhenti mengalir
Ingin sekali rasanya aku berteriak mendapati penghinaan ini, tapi aku harus kuat, taruhannya adalah nyawa ketiga anakku
Jika aku menolak perintah Hendri sama halnya dengan aku membahayakan mereka bertiga
"Semuanya akan mama pertaruhkan nak, asal kalian selamat" ratap ku pilu
Aku membuang mukaku ketika melepas resleting celana yang dikenakan Hendri
Air mataku kian deras mengalir
"Kamu harus bayar ini Agung" batinku marah
Dengan cepat aku mengambil handuk dan melilitkan ke pinggang Hendri
"Sudah" lirihku
Hendri lalu berjalan kearah bath up, ketika dia melepas handuk di pinggangnya aku kembali membuang wajahku
Karena Hendri telah siap masuk kedalam bath up, aku segera berjalan hendak keluar dari dalam kamar mandi
"Mau kemana kamu?"
Aku menghentikan langkahku
"Tugas kamu belum selesai"
Aku membuang nafas panjang, mendongakkan kepalaku keatas dengan mengerjap-ngerjapkan terus mataku
"Sini!"
Aku memejamkan mataku dan membalikkan badanku, kembali berjalan pelan kearah Hendri
Aku membuang wajahku karena tak ingin melihat Hendri yang polos di dalam bath up
"Ambil sabun dan gosokkan ke badanku!"
Aku tak menjawab selain berjalan kearah sabun dan shampo yang berjejer rapi
Kedua tangan Hendri diletakkannya di luar bath up, itu dilakukannya karena dia tak ingin perbannya basah yang bakal mengakibatkan lukanya menjadi makin parah
__ADS_1
Dengan pelan aku berjongkok dan mulai menyiramkan air ke tubuh Hendri
Hendri masih menatap tajam padaku yang hanya pasrah sambil sesekali terisak
Tanganku gemetar ketika aku menumpahkan sabun cair ke telapak tanganku
Dan makin gemetaran ketika dengan pelan aku mengusapkan tanganku di punggungnya
"Hen, sabunnya ditumpahkan di dalam bath up saja ya?" ucapku takut-takut
Hendri menoleh kebelakang dan menatap tajam ke arahku
"Lakukan saja tugas kamu jangan banyak protes"
Aku kembali hanya bisa menelan ludah
"Beri shampo di kepalaku!"
Dengan menarik nafas panjang aku kembali berdiri dan mengambil shampo
Lalu dengan pelan aku menyiramkan air ke kepala Hendri. Cukup lama aku membasahi kepalanya karena rambut panjangnya
Setelah selesai barulah aku menuangkan sampo keatas kepalanya dan memijit pelan kepalanya
Selama melakukan ini aku berkali-kali menarik nafas panjang dan menyeka air mata yang mengalir dengan punggung tanganku
Sedangkan kulihat Hendri memejamkan matanya seperti menikmati pijatan lembut di kepalanya
"Sudah Hen?"
"Heemmmm...."
Aku kembali menarik nafas panjang lalu kembali menyiramkan air ke kepalanya
Setelah yakin jika punggung, tangan dan kepalanya bersih aku segera bangkit mengambil handuk yang tergeletak di lantai
Masih dengan membuang wajah, aku memakaikan handuk ke pinggang Hendri
Lalu mengambil handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya
"Selesai"
Hendri menggerakkan rambut basahnya hingga menciprat ke wajah ku
Lalu aku membukakan pintu untuk Hendri dan ikut keluar, berjalan di belakangnya
"Siapkan bajuku!"
Kali ini aku benar-benar frustasi
"Hen, telponlah istrimu, suruh dia yang menyiapkan, jangan aku"
Aku mundur karena aku yakin kali ini dia bakal menyakitiku lagi
"Aku maunya kamu, ngerti!!!"
Aku mengangguk dengan ketakutan. Lalu aku keluar dari ruangan tersebut dan berlari kearah kamar Khayla
Sampai di depan kamar Khayla, aku mengetuk lalu membuka pintu ketika kudengar jawaban dari dalam
"Loh tante belum pulang?"
Khayla yang melihatku masuk langsung turun dari atas ranjang dan berjalan ke arahku
Aku menggeleng dan berusaha menyembunyikan tangisku
"Kenapa Tan?"
"Papi kamu mau ganti baju, tapi tante bingung mau ambil baju yang mana"
"Tumben papi manja?" jawab Khayla sambil berjalan keluar dari dalam kamarnya
Aku mengekor di belakang Khayla dan ikut masuk kedalam kamar pribadi Hendri
Kulihat kamar itu sangat luas dengan ranjang yang mewah dan besar
"Ini tante" Khayla memberikan baju piyama padaku
Aku mengangguk dan menerima baju tersebut
"Khe bisa bantu tante?"
Khayla menatap serius padaku
"Tante nggak mungkin memakaikan baju sama papi kamu, Khe bisa bantu?"
Khe yang terus menggenggam hp di tangannya meletakkan benda tersebut ke telinganya
"Pak Ibram, naik keruangan papi sekarang, tolong gantikan baju papi!"
Aku menarik nafas lega karena Khayla cepat tanggap
Lalu aku kembali mengikuti Khayla keluar dari kamar besar tersebut. Jika Khayla kembali ke kamarnya, maka aku kembali lagi keruangan kerja Hendri
Dengan menarik nafas dalam aku mengetuk pintu dan mendorong pintu tersebut lalu masuk
__ADS_1
"Kenapa lama?"
"Aku minta bantuan Khayla"
Hendri melengos mendengar jawabanku
Tak lama kembali pintu diketuk, dan aku segera meletakkan piyama yang tadi kubawa, dan segera membukakan pintu
Muncul seorang lelaki tinggi besar yang aku yakini adalah lelaki yang tadi ditelpon Khayla
"Ya bos?"
Hendri menatap dingin kearah lelaki itu lalu melirik tajam ke arahku
"Siapa yang nyuruh kamu kesini?"
"Tadi nona Khayla yang memintaku untuk kesini, katanya saya diminta mengganti baju tuan"
Mata Hendri makin menatap tajam ke arahku
"Keluar kamu, aku tidak butuh bantuan kamu!"
"Tapi bos?"
"Keluar!!!"
Lelaki itu keluar tanpa berani lagi menjawab sedangkan aku berusaha menghentikan langkahnya
"Kamu menolak perintahku?"
Aku diam dan menunduk dalam
"Tidak sayang dengan...."
"Iya Hen, iya. Aku yang akan memakaikan mu baju"
Dengan cepat aku mengambil baju yang tadi diberikan Khayla
Kembali aku harus menahan malu dan risih ketika memakaikan pakaian ke tubuh Hendri
"Sudah" ucapku pelan ketika telah selesai
Hendri kembali menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri
"Keringkan rambutku!"
Aku kembali harus menarik nafas panjang dan hanya bisa menurut.
Handuk kecil yang tadi ku gunakan untuk menutupi punggungnya aku ambil
Lalu aku berdiri di belakang sofa dan mulai mengeringkan rambut Hendri dengan handuk yang ada di tanganku
"Sisirnya dimana?"
"Cari sendiri!"
Aku menghembuskan nafas dengan kasar lalu berjalan kearah lemari yang ada di ruangan ini, membukanya tapi tak ada.
Kembali aku berjalan ke lemari satunya lagi dan membuka dan akhirnya aku menemukan banyak sekali pomade dengan berbagai merk, parfum dan juga roll on di dalam sana
Juga berbagai warna dan bentuk sisir. Lalu aku mengambil satu dan menyisir pelan rambut Hendri
"Kamu lanjutkan mempelajari dokumennya!"
Aku tak menjawab melainkan segera berjalan kembali kemeja kerja dan kembali fokus menatap layar laptop
Sesekali aku menyeka air mata yang lolos di pipiku, entah rasanya aku sangat sedih
Walau begitu aku terus membaca dan memahami dokumen yang tertera di layar laptop
Sambil sesekali aku menulis di atas kertas agar memudahkan ku untuk memahami maksud dan tujuan apa yang diinginkan dari dokumen tersebut
"Aku lapar, ambilkan aku makan"
Aku bangkit dan keluar dari dalam ruangan tersebut dan berjalan kearah dapur
"Tante masih kerja?"
Aku mengangguk kearah anak bungsu Hendri
"Papi sedang apa?"
"Nggak sedang ngapa-ngapain, ada tuh di atas"
Gadis kecil tersebut segera berlari naik tangga, sedangkan aku berjalan masuk dapur
Kulihat sup yang tadi ku masak masih di atas kompor, lalu aku menghangatkannya
Sambil menunggu sup hangat, aku mengisi piring dengan menambahkan lauk yang dimasak bik Ning
Menatanya di atas nampan, dengan kembali memasukkan satu mangkuk sup hangat
Setelah itu aku kembali naik keatas. Mengetuk pintu lalu membawa nampan masuk dan meletakkannya di depan Hendri
Kulihat anak gadis Hendri terus memperhatikan gerakanku
__ADS_1
"Gadis cantik bisa nyuapin papinya kan?"
Gadis cantik itu menoleh secara bergantian ke arahku dan arah Hendri