Istri Yang Tergadaikan

Istri Yang Tergadaikan
Kamu Itu Berharga Khe


__ADS_3

Hendri membuka matanya yang sejak tadi terpejam, tersenyum segaris lalu menatap lekat pada wajah Linda yang terpejam sambil menyandar


Tangannya lalu berpindah ke atas perut Linda, memeluk perut itu dengan tangan kirinya, lalu dia juga ikut memejamkan matanya


Entah sudah berapa lama aku terpejam, ketika aku membuka mata, betapa kagetnya aku karena aku berada di dekapan Hendri


Dengan cepat aku membuang tangannya yang memelukku dari belakang dan aku langsung turun dari ranjang


Hendri yang kaget karena tadi aku membuang tangannya membuka mata


"Kamu kenapa?"


Aku membetulkan bajuku yang berantakan


"Kamu kenapa bisa peluk aku?"


Hendri diam dan seolah berpikir


"Kapan?"


"Tadi waktu tidur"


"Mana aku tahu jika aku peluk kamu, kan aku tidur duluan"


"Jangan ngelak deh kamu Hen, kamu emang sengaja kan ingin peluk aku?"


Hendri bangun dan menyandarkan tubuhnya. Rambutnya berantakan dan itu terlihat manis sekali di mataku


"Coba deh kamu ingat lagi, tadi sebelum aku tidur kamu menyender kesini kan, terus kok tahu-tahu kamu bisa di pelukan aku kalo kamu nggak merosot apa itu namanya?, atau jangan-jangan kamu memang sengaja ingin aku peluk?"


Aku menggidikkan bahuku dengan geli lalu menjauhi ranjang, langsung berlari masuk ke kamar mandi


Aku segera menyiram seluruh tubuhku dan menggosok kuat tubuhku seakan aku merasa kotor habis dipeluk Hendri tadi


Dan Hendri yang aku tinggalkan masuk ke kamar mandi hanya tersenyum segaris dengan memandang dalam padaku


Kulihat Hendri masih menyandar di tempatnya ketika aku keluar dari dalam kamar mandi, dan aku yang hanya mengenakan handuk berdiri mematung di depan pintu


"Kamu ke sofa dulu sana Hen, aku mau ganti baju"


Hendri bergeming dan terus menatap tajam ke arahku yang membuat jantungku kian berdebar kencang


"Please Hen...."


"Kamu kan calon istri aku, kenapa harus malu?"


Kembali aku menggedikkan bahuku.


"Tolong Hen, aku kedinginan"


"Kedinginan?, mau aku hangatkan?"


"Hiii jangan ngarang kamu" jawabku dengan cepat


Hendri hanya membalas ucapanku dengan tatapan tajamnya seakan dia ingin menerkam ku saat ini


"Baiklah, aku pindah sekarang" ucap Hendri akhirnya


Aku menarik nafas lega melihat Hendri turun dari ranjang dan duduk di sofa dengan membelakangi ku

__ADS_1


Aku cepat membuka lemari dan mengambil pakaian, lalu memakaikan handbody ke seluruh tubuhku


Dan kembali Hendri mengumpat dalam hati ketika pantulan tubuh Linda terlihat jelas dari smartphone yang ada di tangannya


"Lama disini bisa khilaf aku" lirihnya frustasi


Aku menoleh cepat ketika kulihat Hendri berjalan cepat ke arahku


"Kamu mau ngapain Hen?" ucapku tercekat sambil berdiri dari kursi dan tersudut di meja


Tanpa kusangka Hendri melingkarkan tangannya melewati tubuhku


Aku memejamkan mataku dengan takut ketika Hendri mendekatkan wajahnya kearah wajahku


Dengan cepat aku memalingkan wajahku seketika, dan dapat ku hirup aroma tubuh Hendri, terlebih ketika rambutnya menyentuh wajahku


Degup jantungku berdebar keras dan rasanya seperti mau pecah.


Dan aku membuka sedikit mataku ketika kurasakan jika Hendri tak melakukan apa-apa padaku


Dan aku mendorong dadanya dengan cepat ketika dia berdiri di depanku sambil memakaikan jam di tangannya


"Kurang ajar kamu!"


Hendri terbahak dalam hati ketika melihat betapa kesal dan pucat nya wajah Linda tadi


"Kamu pikir aku mau ngapain tadi?"


Aku menggeleng dan menarik cepat selimut untuk menutupi tubuhku yang masih terlilit handuk


"Berganti lah cepat, jangan sampai aku berubah pikiran dan menerkam mu"


Aku menelan ludah dengan susah payah dan makin mengeratkan selimut di tubuhku


Aku tak menjawab melainkan mendecak kesal


Dan aku langsung terhenyak di kursi ketika Hendri telah keluar, dan menghembuskan nafas lega


......................


Wajah Khayla masih murung dan menolak untuk berangkat ke sekolah. Akhirnya hanya dua adiknya dan dua bodyguard saja yang berangkat, sedang pak Ibram berjaga di depan pintu kamar Khayla yang tertutup rapat


"Pak Ibram, papi mana?"


Pak Ibram langsung menoleh ketika Khayla membuka pintu


"Oh, bos besar sudah kekantor sejak tadi pagi non"


Khayla hanya mengangguk dan kembali masuk kedalam kamar. Diraihnya hp dan mendial nomor papinya


Hendri yang sedang diperjalanan menuju rumahnya segera meletakkan headset bluetooth ke telinganya ketika dilihatnya jika yang menelepon adalah Khayla


"Ya sayang?"


"Papi sudah di kantor?"


Hendri diam sesaat tak menjawab


"Kenapa nak?"

__ADS_1


"Khe di rumah, nyari papi, tapi papi nggak ada, kata pak Ibram papi sudah sejak tadi berangkatnya"


Hendri meremas rambutnya sejenak berpikir alasan yang masuk akal agar Khayla tak curiga


"Iya nak, tapi ini papi pulang lagi ke rumah, nggak jadi ke kantornya, sudah mampir sebentar tadi"


Wajah Khayla berbinar mendengar jika papinya pulang kembali ke rumah


"Sebentar lagi papi sampai"


Khayla menatap hp dengan tersenyum. Tak pernah dia merasa sebahagia ini jika papinya lebih memilih pulang ketimbang kekantor hanya karena papinya mengkhawatirkan keadaannya


Dan benar saja, tak lama setelah itu mobil Hendri telah masuk kedalam garasi dan Hendri bergegas turun


Ibram menganggukkan kepalanya memberi hormat ketika melihat Hendri berjalan kearah kamar Khayla


Hendri mengetuk pintu kamar Khayla sebelum dia masuk, hal yang baru dilakukannya sekarang. Biasanya dia akan nyelonong masuk


Sepertinya sindiran Linda tadi pagi mengena di hatinya


"Papi boleh masuk?"


Khayla langsung bangkit dan berlari kearah papinya


Hendri menangkap tubuh Khayla yang menubruk badan besarnya, lalu mendekapnya erat


"Papi jangan pergi"


Hendri mengangguk dan membelai rambut Khayla dengan sayang


Hendri lalu menuntun Khayla duduk di tepi ranjang, dan Khayla kembali dengan manja meletakkan kepalanya di dada Hendri


Dengan manja Khayla menarik tangan Hendri yang menggenggamnya erat. Hendri meringis kesakitan ketika genggaman erat Khayla mengenai lukanya


Khayla langsung mengangkat kepalanya dan dengan segera melihat kearah tangan papinya yang terluka


"Tangan papi kenapa?" tanya Khayla panik sambil mengangkat kedua tangan papinya


Hendri tersenyum sambil menggelengkan kepalanya


"Hanya luka kecil nak, tidak apa-apa"


Mata Khayla berembun dengan cepat dipeluknya tubuh Hendri dan langsung terisak


"Apa ini ada hubungannya dengan Khe?"


Hendri menggeleng sambil terus mengusap rambut panjang anaknya


"Papi bohong, jika tidak kenapa tangan papi terluka?, apa papi berkelahi?"


Kembali Hendri menggelengkan kepalanya


"Maafkan Khe ya pi, karena Khe tangan papi jadi terluka, karena Khe akhirnya papi sama mami berantem, karena Khe..."


Hendri langsung menarik bahu anaknya, menggenggamnya kuat


"Justru karena Khe akhirnya papi tahu kelakuan mami kalian selama ini, Khe jangan merasa bersalah atas apa yang terjadi pada papi dan mami, bagi papi Khe jauh lebih berharga dari seluruh bisnis papi"


"Keselamatan Khe dan adik-adik Khe adalah prioritas papi, justru yang harus disalahkan disini adalah papi, jika papi lebih sering ada di rumah dan tidak selalu mengurusi pekerjaan dan bisnis, hal buruk tidak akan terjadi pada Khe"

__ADS_1


"Maafin papi Khe, papi benar-benar minta maaf"


Khayla segera memeluk erat papinya dan langsung menangis tersedu mendengar permintaan maaf yang terucap dari mulut papinya itu


__ADS_2