
"Lihat ke depan bukan kebelakang"
Marko tercekat dan terburu menghidupkan mesin mobil
"Seat belt nya tuan?"
Hendri dengan kesusahan menarik seat belt, karena tak bisa akhirnya Marko yang memakaikannya setelah sebelumnya dia meminta maaf terlebih dahulu
Setelah itu Marko memundurkan mobil dan melaju kejalan raya
"Hen, bisa kan antar aku ke hotel dulu, pakaian aku seluruhnya di hotel"
Hendri diam tak menjawab, dan kembali kulihat Marko melirik ke arahku melalui spion
Aku melipat kedua tanganku di depan dada dengan wajah yang ditekuk
"Atau begini saja Hen, aku bolak balik saja dari hotel ke rumah kamu, jadi kan itu lebih baik, iya kan? jika aku di rumahmu apa kata istri kamu, dia bisa curiga kan?"
Hendri masih tak menjawab. Aku kembali harus menarik nafas panjang
"Terserah kamulah Hen...." ucapku akhirnya dengan pasrah
Ketika mobil yang dikendarai Marko melewati sekolah ketiga anakku, aku segera membuka kaca mobil dengan lebar
"Mas tolong berhenti sebentar"
Marko kembali melirik ke arahku, dan dia menepikan mobilnya. Saat kakiku telah siap untuk turun suara dingin Hendri menghentikan gerakanku
"Kamu mau kemana, hah?"
Aku melepaskan tanganku yang telah siap membuka pintu mobil
"Melihat ketiga anakku" jawabku polos
Hendri tersenyum menyeringai
"Kamu tidak boleh kemana-mana, kamu ingat kan posisi kamu?"
"Tapi Hen, please sebentar saja"
"Marko jalan!"
Marko menurut dan kembali menjalankan mobil, sementara aku hanya bisa melongo kan kepalaku saja keluar berharap jika ada anakku dan mereka melihatku
"Hen, itu anakku Hen, tolong berhenti Hen...." teriakku panik ketika aku melihat Roshan
Marko menoleh gelisah antara aku dan Hendri
"Terus Marko!"
Marko mengangguk tak berani membantah sedangkan aku berteriak memanggil Roshan
"Roshan... Nak..., ini mama nak..."
Marko menatap serba salah pada Linda yang ada di belakang terlebih ketika dilihatnya Linda berteriak memanggil nama anaknya
Karena mobil terus berjalan, aku dengan pasrah memasukkan kepalaku dan menutup wajahku. Seketika itu juga air mataku langsung mengalir deras
"Kurang ajar kamu!" dorongku keras pada punggung Hendri kemudian aku kembali menutup wajahku
Hendri masih dengan sikap dinginnya tak memperdulikan bagaimana aku menangis sesenggukan di belakang
Sedangkan Marko hanya bisa menarik nafas dalam tak berani berkata sepatah katapun
Hingga akhirnya mobil tersebut melambat dan klakson keras dari mobil membuat pak Puji berlari membuka pagar. Dan aku yang baru sekali ini ke rumah Hendri menatap takjub pada rumah besar dan megah ini
Marko turun dan membukakan pintu mobil untuk Hendri. Lalu saat dia hendak membuka pintu untukku, pintu tersebut telah aku buka lebih dulu
Aku membetulkan baju tidurku dan kembali mengencangkan ikatan kemeja yang tadi Hendri ikatkan agar tak lepas
Seorang asisten berlari saat kami masuk
"Tuan kenapa?"
Hendri hanya tersenyum segaris dan segera berjalan naik ketangga diikuti Marko
"Kamu juga naik!"
__ADS_1
Aku kembali melongo dan tak berani membantah, dengan diiringi tatapan heran dari perempuan paruh baya itu aku melangkah menaiki tangga
Marko dengan sabar menuntun tangan Hendri, dan berhenti di depan sebuah kamar
Kulihat Hendri menarik nafas panjang ketika berdiri di depan kamar tersebut
"Bawa saya keruang kerja saya saja"
Marko mengangguk, dan aku kembali berjalan di belakang dua orang lelaki yang ada di depanku saat ini
Marko membuka pintu lalu kami masuk, Hendri segera duduk sedangkan aku dan Marko masih berdiri
Kulihat tatapan mata Hendri kosong, aku dan Marko saling lirik
"Apa saya bisa kembali kekantor sekarang bos?"
Hendri tak menoleh kearah Marko saat menjawab dia hanya fokus menatap ke depan
"Temui pengacara saya, suruh secepatnya menyiapkan yang saya perintahkan"
"Baik bos, siap laksanakan"
Lalu Marko mengangguk sekilas ke arahku sebelum akhirnya dia keluar dari ruangan kerja Hendri
Sepeninggal Marko aku beringsut berjalan mengelilingi ruangan besar ini
Melihat di tembok ada gambar dengan pigura besar terpajang di sana. Berisikan Hendri bersama istri dan ketiga anaknya
Aku tersenyum menatap foto itu lalu aku kembali berjalan, dan aku berhenti pada sebuah jendela yang kacanya pecah lalu aku melihat kearah Hendri yang masih terpaku
"Berarti tangannya luka karena dia meninju kaca ini" batinku sambil mengangguk
Lalu aku menyentuh kaca itu, dan segera menarik tanganku ketika kudengar Hendri berdehem
"Ngapain kamu di sana?"
Aku menjauh dari jendela itu dan berdiri di dekat meja kerjanya
"Ganti baju kamu, aku nggak suka lihatnya"
Aku membekap mulutku kaget
Aku lalu melihat kearah pintu yang terbuka, dan perempuan yang tadi berjumpa denganku di bawah masuk dengan membawa baju di tangannya
"Mungkin ini muat dengan mbak, maaf baju seadanya"
Aku menerimanya dengan tersenyum kaku
Lalu aku memandang memutari ruangan ini kembali dan segera berjalan menuju pintu yang ku yakini adalah kamar mandi
Segera aku masuk dan berganti baju di sana, setelah selesai barulah aku keluar
Kulihat Hendri menatap ke arahku, dan aku hanya menelan ludah saja dengan takut
"Pantes juga kamu memakai baju itu"
Aku mendecak kesal mendengar ucapan Hendri tapi aku tak ada pilihan lain, dari pada nanti matanya bergerak bebas melihat kaki dan leherku, akan lebih baik jika aku memakai baju asisten rumah tangganya yang panjang
"Kamu akan terus berdiri di sana?"
Aku mendekat
"Apa tugasku?"
"Buatkan aku makanan, aku lapar"
Aku menurut, bukan hal sulit untukku, karena selama sepuluh tahun ini itu tugas sehari-hariku
Aku dengan santai keluar dari ruangan kerja Hendri lalu menuruni tangga. Karena ini adalah pertama kalinya aku masuk ke rumah ini, jadi aku agak kebingungan arah mana yang ku tuju
"Mbak mau kemana?"
Aku yang terlonjak kaget langsung menoleh kearah sumber suara
Aku mengulurkan tanganku kearah perempuan paruh baya tersebut
"Saya Linda" sapaku sambil tersenyum
__ADS_1
"Panggil saya bibi dengan sebutan Bik Ning"
Aku mengangguk
"Mbak pembantu baru?"
Aku nyengir dan mengangguk pelan
"Tugasnya?"
"Saya asisten pribadinya Hendri, oh maksud saya tuan Hendri, iya tuan Hendri" ralat ku cepat ketika kulihat wajah bik Ning seperti kaget
"Dan sekarang tuan Hendri ingin aku memasak untuknya"
Bik Ning masih memasang wajah bengong
"Kok tumben tuan minta orang lain yang masak, padahal setiap hari selalu makan masakan bibi" gumamnya
"Kan seperti yang saya bilang tadi bik, saya asisten pribadinya jadi bisa dikatakan apapun keinginan tuan Hendri harus saya turuti"
Bik Ning tampak mengangguk bingung sambil mengajakku berjalan ke dapur
"Biasanya tuan Hendri sukanya makan apa bik?"
"Tuan jarang makan di rumah, tapi biasanya apapun yang bibi masak tuan suka"
Aku mengangguk. Lalu aku membuka kulkas melihat stok bahan makanan yang akan aku siapkan untuk Hendri
"Tuan suka sup nggak bik?"
"Suka"
Segera aku mengeluarkan tulang yang ada di dalam freezer lalu merendamnya dengan air agar tidak membeku lagi
Kemudian aku mencari kentang, dan ternyata ada
Setelahnya aku menyiapkan segala bumbu yang aku butuhkan
"Nggak ada cobek bik?"
Bik Ning menggeleng
"Bumbunya akan lebih sedap kalau digiling menggunakan cobek" lirihku sambil mengambil blender dan memasukkan segala bumbu yang hendak ku haluskan
Setelah air rebusan daging mendidih aku segera memasukkan bumbu yang sebelumnya telah aku tumis
Sambil menunggu daging tulangnya empuk, aku menyiapkan nasi dan menyiapkan mangkuk
Setelah sup nya matang, aku segera mengisi mangkuk yang tadi telah aku persiapkan
Aku mengambil nampan lalu menata sup beserta nasi di atas nampan tak lupa dengan segelas air putih ditambahkan pula sebotol air sebagai tambahan jika nanti Hendri haus
Setelah selesai aku segera membawanya naik keruangan Hendri
Aku meletakkan nampan di lantai lalu mengetuk pintu, baru setelahnya aku mendorong pintu hingga terbuka lebar dan setelahnya baru aku mengambil nampan dan meletakkannya di atas meja, tepat di depan Hendri
Lalu aku kembali menutup rapat pintu
"Maaf ya jika kamu menunggu lama"
Hendri masih bergeming dan hanya melirik ke arahku yang duduk di depannya
"Ayo dimakan, katanya lapar" kataku menatapnya serius
"Kamu tidak lihat apa jika seluruh tanganku diperban?!" bentaknya
Aku menelan ludah dengan kaget dan buru-buru mengambil piring nasi lalu berpindah duduk di sebelahnya
Dengan tegang aku mulai menyuapinya makan. Sambil sesekali aku mengelap mulutnya
Tatapan mata Hendri masih sama seperti tadi, dingin dan datar
Walaupun dadaku diliputi rasa dongkol padanya tapi aku terus saja menyuapinya
Aku hanya berharap satu hal, jika kebaikanku ini nantinya akan membuatnya tidak lagi mengancam keselamatan ketiga anakku
"Papi......"
__ADS_1
Aku refleks menoleh ke arah pintu dimana kulihat anak Hendri masuk, aku langsung pindah ke kursi di tempatku tadi dan membiarkan anak gadis tersebut memeluk erat Hendri
"Ini siapa pi?"