Istri Yang Tergadaikan

Istri Yang Tergadaikan
Aku Bukan Perempuan Murahan


__ADS_3

Aku duduk di lantai dan sedang fokus menatap layar laptop di atas meja ketika pintu ruangan Marko di dorong kuat


Aku mengangkat kepalaku dan tampak olehku Hendri


Aku tidak bangun, melain tetap duduk di lantai dan kembali menatap layar laptop seolah tak terpengaruh dengan kedatangannya


Ku lirik kantong kresek putih yang diletakkan Hendri di atas meja


"Makan siang untuk kalian Marko"


Marko yang begitu Hendri masuk segera bangkit dari kursinya kini berdiri di belakang pria itu, mengangguk


"Kamu tidak punya telinga apa?"


Aku mengalihkan mataku dari layar laptop melihat kearah Hendri yang duduk di depanku


"Kami sudah makan tadi" jawabku singkat lantas kembali lagi menatap monitor


Aku tak memperdulikan lagi bagaimana bentuk wajah Hendri yang kesal


"Mas Marko kalau mau makan, makan aja, aku masih kenyang"


Hendri langsung menatap tajam kearah Marko yang menganggukkan kepalanya lalu menoleh kearah Linda yang masih menekan-nekan keyboard


"Kamu manggil apa tadi pada Marko?"


"Mas...." jawabku tanpa mengalihkan mataku


Terdengar Hendri seperti mendecak mengejek


"Kenapa? nggak boleh?, mas Marko aja nggak nolak, iya kan mas?"


Marko mengangguk, dan aku tersenyum, sedangkan Hendri kembali memasang wajah datar


"Dua jam lagi jam kantor habis, cepatlah kau pelajari dengan benar konsep kerja proyek kami ini"


"Iya" jawabku malas


"Mas Marko, ini maksudnya apa ya?"


Marko mendekat dan duduk di sofa yang ada di belakangku. Kembali dengan sabar dia menjelaskan padaku


Hendri yang melihat Marko membungkuk tepat di pundak kanan Linda hanya memandang tanpa berkedip


Lalu aku terus bertanya sambil menunjuk-nunjuk layar laptop, dan kembali Marko menjelaskan dengan detail


"Caranya seperti ini"


Marko akhirnya turun dari kursi dan duduk tepat di sebelahku. Aku memutar laptop agar menghadap kearahnya dan mataku serius mengikuti gerakan kursor saat Marko menjelaskan dengan mengklik icon


Aku sudah tidak memperdulikan adanya Hendri di depan kami, aku terus saja serius mengikuti arahan Marko, bahkan kami berdua akan tertawa jika aku salah mengklik sehingga tidak sesuai dengan rancangan awal


"Mas, minuman tadi masih ada?"


Kembali rahang Hendri mengeras karena lagi-lagi Linda lebih memilih bertanya pada Marko ketimbang padanya


"Habis mbak"


"Yaaa aku haus mas"


Marko berdiri dan Hendri hanya memperhatikan ketika Marko membuka kantong kresek yang tadi dibawanya


"Ini ada mbak yang dibawakan bos"


"Tolong minta satu mas"


Marko memberikan cup minuman padaku lengkap dengan pipetnya


"Makasih ya mas" ucapku mengambil minuman yang diberikan Marko padaku lalu menyedot minuman itu sambil menatap kearah Hendri yang memandang tajam ke arahku


"Mas, mas pulang apa lembur?"

__ADS_1


Marko yang kembali kemejanya menoleh ke arahku, begitu juga dengan Hendri


"Kenapa emangnya mbak?"


"Nanya aja, karena aku kan baru sehari kerja dan masih kagok belum ngerti semua, kalau mas lembur aku juga lembur deh biar mas ngajarin aku lagi"


Hendri mengangkat dagunya dengan angkuh dan memandang dingin pada Linda


"Sengaja perempuan ini" geramnya dalam hati


"Baiklah, jika maunya kamu lembur, kamu aku persilahkan lembur, tapi cuma kamu sendirian"


Aku mendecak mendengar jawaban Hendri


Sedangkan Marko diam tak berani menjawab


"Ya udah kalau mas nggak lembur, tapi besok ajarin aku lagi ya mas?"


Marko mengangguk dan tersenyum. ke arahku


"Kamu nggak balik keruangan kamu Hen?"


Hendri memajukan badannya dengan menatap tajam ke arahku. Refleks aku nyengir takut dengan memundurkan tubuhku hingga menyentuh kursi di belakangku


"Ini kantor ku, terserah aku mau dimana"


Aku mengangguk cepat dan Marko yang melihat kilatan marah dimata bosnya hanya menarik nafas dalam


...----------------...


Aku berdiri dari lantai dan meregangkan pinggang serta tanganku yang terasa kaku karena nyaris seharian duduk


Hendri sudah sejak tadi kembali ke ruangannya. Dan Marko kulihat membereskan meja kerjanya


"Kita pulang mas?"


Marko mengangguk. Aku lalu mematikan laptop lalu meletakkannya di meja Marko


Aku yang telah siap berjalan kearah pintu menoleh kembali pada Marko


"Ke hotel tempat dimana kemarin mas menjemput ku"


"Pulangnya pakai apa?"


Aku kembali terdiam dan menggelengkan kepalaku, lalu aku menarik nafas dalam


"Aku tidak punya uang sepeserpun, nyaris tiga bulan ini aku tinggal di hotel, mas kan tahu, aku tidak punya pekerjaan jadi dari mana aku dapat uang"


Marko mendekat


"Jika begitu mbak pulang sama saya"


Aku tersenyum dan melangkah kearah pintu


"Mbak tunggu!"


Aku kembali menoleh


"Mbak nggak pakai sepatu?"


Aku kembali menggeleng


"Kemarin kan pas mas jemput itu aku nyeker, kan aku udah bilang aku mau ganti baju dulu mau ambil sandal dulu, ehh malah mas bilangnya urgent"


Marko terkekeh dan menepuk keningnya


"Kalau begitu mbak tunggu disini"


Aku kembali duduk di sofa saat Marko masuk kedalam toilet. Tak lama Marko telah keluar dengan membawa sandal jepit


"Pakai ini mbak"

__ADS_1


Aku mengangguk dan segera memakaikan sandal jepit itu ke kakiku


Baru setelah itu kami sama-sama keluar dari ruangan dan langsung menuju lift


Ketika sampai diluar lift, dan berjalan kearah luar kembali tatapan karyawan tertuju padaku


"Dia asisten bos, kalian jangan macam-macam padanya" ucap Marko pada karyawan yang menatap curiga padaku


Kulihat kekagetan di wajah mereka, tapi aku dan Marko tak memperdulikan itu kami terus saja berjalan menuju parkiran


Ketika Marko akan membukakan pintu untukku, panggilan Hendri menghentikan gerakan tangannya


"Linda akan pulang sama saya Marko"


Marko membalikkan badannya dan mengangguk hormat pada Hendri yang menurunkan kaca mobil


Aku menelan ludah dengan perasaan khawatir saat mendengar suara dinginnya


Marko mengangguk ke arahku dan aku ikut mengangguk juga, lalu Marko membukakan pintu mobil untukku dan aku segera masuk


Aku duduk di sebelah Hendri dengan degup jantung berdebar kencang. Setelah aku duduk, supir mulai menjalankan mobil dengan pelan


Sepanjang jalan kami tidak ada yang bersuara, dan aku hanya menunduk takut, hanya sesekali saja menatap ke depan


"Ke hotel dijalan Merpati pak"


"Baik tuan"


Aku menarik nafas lega saat Hendri mengatakan kalimat tersebut, itu artinya aku tidak lagi di rumahnya, aku akan kembali ke hotel. Aku lega, itu artinya aku bebas dari tugasku memandikannya


Tak berselang lama, mobil berhenti dan aku telah bersiap untuk turun, ketika tanganku dicengkeram kuat dengan Hendri


Dengan menelan ludah karena kaget dan takut aku menoleh pada Hendri


Hendri turun ketika supir pribadi membukakan pintu mobil untuknya. Dan aku menyusul kemudian


Hendri berjalan di depanku dengan gaya angkuhnya dan aku yang berada di belakangnya hanya menarik nafas dalam penuh ketakutan


"Mati aku" batinku kalut


Ketika sampai di depan pintu kamar, Hendri segera mengeluarkan kunci dari kantong celananya dan membuka pintu


Ketika pintu telah terbuka dengan cepat Hendri menarik ku kedalam dan menutup pintu dengan segera dan menguncinya


Aku yang tahu jika dia marah hanya menunduk dalam


Benar dugaanku, setelah pintu tertutup Hendri segera mendorong kasar tubuhku hingga menyandar di tembok


Ditekannya kuat kedua bahuku, dan aku dengan takut menatap matanya yang berkilat marah


"Sudah biasa kamu bersikap manis kepada semua lelaki, hah?"


Aku menggeleng kuat


"Apa maksud kamu bersikap manis pada Marko, hah?, kamu sengaja??!"


"Ternyata kamu sama dengan perempuan murahan lainnya!"


Tesssss, air mataku langsung mengalir mendengar ucapan kasarnya


"Aku bukan perempuan murahan Hen" lirihku tercekat


Kulihat Hendri tersenyum sinis sambil terus menekan kuat bahuku


"Aku tidak bermaksud apa-apa sama mas Marko, sumpah!"


Hendri beralih mencengkeram rahangku, kembali kurasakan sakit ketika tangan besarnya mencengkeram keras rahangku


"Sa... kiiitt Hen..."


Hendri tak memperdulikan rintihanku, dia semakin kencang mencengkeram rahangku hingga wajahku terdongak keatas

__ADS_1


__ADS_2