Istri Yang Tergadaikan

Istri Yang Tergadaikan
Hari Yang Sial


__ADS_3

Hendri bangkit dari kursinya dan berjalan kearah sofa dimana Linda tertidur dengan meletakkan kepalanya di jok kursi


Diperhatikannya wajah perempuan yang terdongak keatas itu, lalu dia berpindah ke laptop yang masih menyala


Dilihatnya dokumen yang sedang tampil di layar lalu kembali menatap kearah Linda yang sepertinya sudah benar-benar terlelap


"Apa yang harus aku lakukan untuk menghadapi perempuan ini?" keluhnya menarik nafas panjang sambil duduk di sebelah kepala Linda


Hendri lalu menunduk dan menatap dalam meneliti setiap inci wajah perempuan yang tepat berada di bawah wajahnya


Dengan pelan disentuhnya wajah itu dengan jarinya yang tidak diperban lagi


Linda masih tak merespon dan seolah tak merasakan ada sentuhan di wajahnya


Dengan berani Hendri semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Linda, hingga nyaris hidung mereka bersentuhan


"Linda....?" bisik Hendri


Tak ada jawaban, kembali Hendri mengulangi panggilannya


"Lin...?"


Masih tak ada jawaban, yang ada hanyalah hembusan nafas Linda yang menyapu wajahnya


Hendri memejamkan matanya ketika kembali dirasanya kelelakiannya bergejolak


Dengan kesal diangkatnya wajahnya lalu membuang nafas kasar dan dengan cepat dia berdiri dan kembali ke kursinya


Masih dipandanginya Linda dengan dalam, dan sejenak tubuh wanita itu bergerak, lalu Linda memiringkan tubuhnya dan meletakkan tangannya ke jok kursi, membelakangi Hendri


Hendri tersenyum segaris ketika diingatnya bagaimana tadi dia berniat mengecup bibir wanita itu


Huffff...


Dibuangnya nafas dalam


"Tidak, lama-lama bisa gila aku" keluhnya sambil meraih hp dan menelepon Marko


"Keruangan saya!"


"Baik bos"


Selang beberapa menit pintu diketuk dan muncul wajah Marko


Tatapan Marko langsung tertuju pada Linda yang menelungkupkan tangannya di atas kursi


"Dia tertidur"


Marko hanya tersenyum kaku dan berjalan kearah kursi bosnya


"Duduk!"


Marko segera duduk dan langsung menatap pimpinannya


"Kamu urus surat pernikahanku dengan Linda secepatnya!"


Marko tercekat tapi tak urung dia mengangguk


"Bos serius mau menikahinya?"


Hendri balik menatap Marko dengan tajam


"Maaf bos...." Marko langsung menunduk


"Kau tahu semua kan bagaimana ceritanya Linda bisa denganku?, jadi jangan bertanya lagi"


"Iya bos, maaf...."


"Secepatnya kau urus, dan ingat, aku maunya kami menikah di villa di kota B, bagaimanapun caranya"


Marko kembali mengangguk


"Ya sudah, lanjutkan pekerjaanmu dan besok bisa kau urus semua administrasi pernikahanku"


"Baik bos"


Marko bangkit dari kursinya dan segera meninggalkan ruangan itu

__ADS_1


Dijalan menuju ruangannya, Marko tersenyum getir dan menarik nafas panjang


Sementara Hendri yang masih duduk di kursinya hanya menatap pada Linda yang masih membelakanginya


"Kasihan perempuan itu, tapi aku tak punya pilihan lain selain menikahinya, aku tak mau dia lepas dari tanganku"


Lalu kembali Hendri fokus bekerja, tujuannya untuk menyelesaikan mega proyeknya semakin menggebu, terlebih karena sekarang tujuannya bukan hanya tentang mega proyeknya semata, tapi tentang hidupnya ke depan


Sesekali diperhatikannya Linda yang masih tertidur dengan posisi yang diyakininya pastilah tak nyaman tersebut


Dengan menarik nafas kembali Hendri bangkit dan berjalan kearah sofa


Diangkatnya tubuh Linda dan diletakkannya dengan pelan di atas sofa


Anak rambut yang menutupi sedikit wajah Linda dibenarkan nya kesamping dan kembali ditatapnya wajah itu dengan dalam


Selagi Hendri menatap dalam wajah Linda yang pulas hp di atas mejanya berdering yang memaksanya berdiri dan meninggalkan Linda yang sekarang telah tertidur di atas sofa


"Ya pak, bagaimana?" buka Hendri ketika dilihatnya jika yang menghubunginya adalah pengacara pribadinya


"Sudah semua pak, sidangnya minggu depan"


"Urus lah dengan bapak, saya tidak akan datang ke pengadilan, begitu ketok palu bapak antar langsung surat keputusan pengadilan pada saya"


"Baik pak, siap laksanakan"


Lalu Hendri kembali meletakkan hpnya dan kembali melihat kearah Linda


"Apa yang menyebabkan perempuan itu tak tidur semalaman?, apa karena sikapku yang terlalu kasar padanya?, apa karena kerinduannya pada ketiga anaknya?"


"Andai kau tahu Linda, aku melakukan ini untuk menyelamatkanmu dari Agung yang bajingan itu"


Jam di pergelangan tangan Hendri telah menunjukkan hampir angka dua, tetapi tanda-tanda Linda akan bangun belum juga kelihatan


"Perempuan itu tidur apa mati?" gumam Hendri


Sementara makanan yang dipesannya sudah sejak tadi berada di atas meja


Perutnya pun sudah berteriak minta diisi, tapi dia tak akan makan sebelum Linda bangun


Tiga puluh menit berikutnya masih juga belum ada tanda Linda akan bangun, dengan kesal Hendri bangkit dari kursinya dan berjalan kearah toilet


Aku gelagapan dan segera bangun ketika ada air jatuh menimpa wajahku


Dengan cepat aku mengusap wajahku dan mendongak kearah Hendri yang berdiri dengan terus menyiramkan air keatas kepalaku


Dengan cepat aku menurunkan kakiku, dan menelan ludah dengan ketakutan ketika melihat wajah dingin Hendri yang menatapku


"Maafkan aku Hen, aku minta maaf"


Hendri masih bergeming dan seolah tak mendengar ucapanku


Segera aku berdiri dan kembali mengusap kepala, wajah dan bajuku yang basah


"Sumpah Hen, aku nggak tahu jika aku tidur, aku minta maaf"


Segera aku kembali duduk di lantai dan terburu menghadap laptop yang layarnya telah gelap


Masih dengan ketakutan aku menyalakan lagi laptop dan ketika laptop telah menyala, aku melihat kearah jam yang tampil dengan tak percaya


"What?, hampir jam tiga?!" batinku dengan degup jantung yang kembali berdetak kencang


Sementara Hendri masih di tempatnya tadi, tepat di sebelah kakiku


Dengan menelan ludah karena takut aku mengambil hp di tas yang ada di sebelah laptop dan menekan tombolnya dan kembali aku harus kaget karena memang di hp juga menunjukkan hampir pukul tiga siang


Dengan memejamkan mata penuh ketakutan aku menarik laptop mendekat ke arahku


"Tahu jam berapa sekarang?!"


Aku menunduk ketakutan karena Hendri membentak ku


"Kamu pikir kantor ini tempat tidur?!"


Aku makin tak berani mengangkat kepalaku


"Kamu selalu membuatku marah, kamu makin menambah stress kepalaku!!"

__ADS_1


"Iya Hen, aku tahu. Aku minta maaf" lirihku


"Maaf kamu bilang?, ringan sekali lidah kamu berucap seperti itu!"


Aku menggigit bibirku dengan penuh ketakutan, jika biasanya aku takut karena keegoisan Hendri atau karena ancamannya tapi kali ini aku ketakutan karena kesalahanku sendiri


"Sekarang kamu makan, baru setelah itu kamu lanjutkan lagi pekerjaan kamu!!"


Aku kembali menelan ludahku dan hanya mengangguk cepat ketika Hendri meletakkan kantong makanan dengan kasar di depan mukaku


"Makan cepat!"


Dengan terburu aku menarik kantong tersebut dan segera mengambil makanan di dalamnya. Dan langsung memakannya tanpa berani menoleh padanya yang masih mengawasi ku


"Makan yang cepat, jangan lelet!!"


Aku hanya mengangguk karena mulutku penuh, dan terus memaksa makanan masuk kedalam mulutku


Dengan kesulitan aku memakan semua makanan itu, dan meneguk air untuk memperlancar makanan masuk


"Disuruh kerja malah tidur, kamu pikir kamu siapa?"


Aku hanya mengerjapkan mataku menahan air mata yang siap tumpah


Hendri tersenyum dalam hati melihat Linda makan dengan terburu dan terkesan memaksa.


Kembali aku mengambil botol minum karena kembali aku kesulitan menelan, karena terburu botol yang hendak kuraih malah jatuh dan tumpah di pangkuanku


Dengan cepat aku berdiri yang mengakibatkan kotak nasi tersenggol lututku dan tumpah


Melihat makanan dan minuman tumpah berserakan wajah Hendri berubah marah dan aku yang ketakutan melihatnya segera mengangkat kotak nasi tersebut dan mengambil botol minuman yang tergeletak


"Kamu ceroboh sekali Linda!!!"


"Tidak bisa apa melakukan semuanya dengan pelan??!"


Dengan tangan gemetar aku mengumpulkan sisa nasi yang berserakan dan celingukan mencari lap untuk membersihkan sisanya


Pakaianku yang basah tak ku hiraukan lagi, aku segera berlari kemeja Hendri dan mengambil tissue


Dengan segera aku mengelap lantai yang basah dan kotor dan mengumpulkan bekas tissue kedalam wadah kotak nasi tadi.


Aku sudah tak berani menatap wajah Hendri, bisa ku pastikan jika wajah itu pasti makin sangar saat ini


"Lap pakai baju kamu!"


Aku yang berjongkok membersihkan lantai yang basah menggunakan tissue segera menghentikan gerakan tanganku, dan mendongak menatap wajah Hendri


"Apa Hen, pakai baju aku?"


Hendri tak menjawab melain hanya menatapku tajam


Aku menurut, dan dengan menarik bajuku, aku mengelap lantai dengan meneteskan air mata


"Ya Alloh apakah begini ya nasib kacung?" batinku


Segera aku mengusap wajahku dan berdiri, lalu masuk kedalam toilet


Di dalam toilet aku menangis dengan membekap mulutku. Kelakukan Hendri makin hari makin semena-mena dengan ku


Aku terlonjak kaget ketika terdengar suara gedoran di pintu


"Iya sebentar" teriakku sambil menekan tombol di wc seakan-akan aku menyiramkan air kedalam wc biar Hendri tahu jika aku di dalam memang sedang buang air


Segera aku membasuh mukaku kemudian mengelapnya dengan kedua tanganku


Dan tertegun melihat pakaianku yang kotor dan basah


Kembali suara gedoran terdengar dan aku segera membuka pintu dan mendapati Hendri menatap dingin ke arahku


Aku segera berlari ke meja dimana tadi bekas makanan dan minuman masih di sana lalu segera aku mengambil kantong tersebut dan membuangnya ke tong sampah


Lalu kembali terburu duduk di lantai


"Kamu itu bisa kerja tidak?, jika tidak becus mendingan kamu pergi dari sini!!!"


Aku menatap wajah Hendri dengan air mata yang kembali menetes

__ADS_1


"Hina lah aku sesuka kamu Hen, aku akan tahan semua siksaan dan penghinaan kamu, asalkan nyawa ketiga anakku selamat" jawabku dengan bibir gemetar


__ADS_2