Istri Yang Tergadaikan

Istri Yang Tergadaikan
Bertengkar


__ADS_3

Jam sepuluh malam mobil Hendri masuk ke halaman rumah


Tiga bodyguard yang berada di pos keamanan berdiri ketika mobil Hendri melintas, dan Hendri hanya membunyikan klakson pada mereka


Setelahnya Hendri langsung memasukkan mobil ke garasi dan turun dari mobil


Di tolehnya ketiga bodyguard yang masih berdiri menatap kearahnya, memberi senyum segaris lalu setelahnya dia berjalan masuk


Jika biasanya ketika dia pulang akan melihat Nia sedang bermain hp, berbeda dengan malam ini


Nia yang mendengar suara klakson mobil Hendri segera turun dari atas dan berdiri di ruang tamu menyambut Hendri pulang


Senyum manis yang disuguhkan Nia tak menarik perhatian Hendri lagi. Jas yang diselempangkan nya dipundak sedikit bergerak mengikuti langkahnya menaiki tangga


Nia tak mau kalah, dia segera berlari kecil menyusul Hendri


"Pi, mami sudah masak, masakan kesukaan papi, papi makan ya?"


Hendri bergeming dan terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun pada Nia yang ada di sampingnya, membuka ruang kerjanya lalu segera menutupnya rapat


Nia menatap kecewa pada pintu yang telah tertutup, ditariknya nafas panjang lalu mengetuk


"Pi, papi?"


Hendri masih tak menggubris, dia segera meletakkan jas di kursi, mengendurkan dasi lalu terhenyak di sofa


Menyandarkan kepala dan memijit keningnya, sementara Nia yang masih berdiri di depan pintu terus mengetuk


Hendri membuang nafas kasar lalu melepas sepatu yang masih melekat di kakinya


Dipandanginya seluruh ruangan kerjanya yang telah rapih. Dia ingat sebelum berangkat kerja tadi pagi ruangan tersebut masih seperti kapal pecah, dan sekarang ketika dia pulang semuanya telah rapi


Dan Nia yang masih berdiri di depan pintu terus mengetuk tanpa berhenti, Hendri yang merasa terganggu segera bangkit dan membukakannya


Wajah Nia langsung berubah manis ketika melihat wajah Hendri muncul


"Makan ya pi?"


Hendri menatapnya dingin


"Mami akan panaskan dulu kalau begitu" sambungnya masih dengan wajah ceria


"Tidak perlu repot-repot, aku sudah makan di luar tadi" ucap Hendri dingin menghentikan langkah Nia yang sudah berjalan meninggalkan depan pintu


Nia menoleh dan wajahnya kembali murung


"Atau mau mami buatkan cappuccino?"


Hendri masih menatap dingin kearah Nia, lalu kembali Hendri menutup rapat pintu


Nia kembali berjalan kearah pintu dan kembali mengetuk

__ADS_1


"Pi? mami minta maaf pi"


Hendri kembali menghembus nafas dalam mendengar suara Nia


"Mami mohon pi, mami janji mami nggak akan mengulanginya lagi, pi?"


Hendri melengos dengan kesal dan kembali bangkit, kembali berjalan kearah pintu dan segera menarik kasar lengan Nia


Nia sedikit terhuyung ketika ditarik kasar oleh Hendri, sesampainya di dalam ruangan, Hendri segera mendorong kasar tubuh Nia


"Mau bilang apa lagi kamu, hah?"


Nia diam dan memandang wajah Hendri dengan tegang


"Ayo ngomong!"


Mata Nia tampak berkaca-kaca ketika Hendri membentaknya


"Ayo ngomong, jika tidak silahkan kamu keluar dari ruangan ini, aku capek kerja seharian, aku mau istirahat"


Air mata lolos dari kedua mata Nia


"Mami cuma mau minta maaf pi, mami janji, mami bakal berubah dan tidak akan mengulanginya lagi"


Hendri menyeringai sambil tersenyum sinis


"Maaf kamu tidak berarti buatku Nia, sampai semua bukti aku kumpulkan tentang perselingkuhan kamu, kamu bisa tinggal di sini, tapi setelah itu, jangan harap kamu bisa menginjakkan kaki di rumah ini lagi"


"Keluar!"


Nia bergeming, dia masih berdiri di tempatnya


Hendri tak menggubris lagi, segera dia berjalan ke sofa dan kembali duduk terhenyak di sana


Nia mendekat, dan duduk di sebelah Hendri dengan memegang lengan Hendri


Hendri yang menengadahkan kepalanya refleks menoleh dan membuang kasar tangan Nia, lalu dia berpindah tempat duduk


"Pi, mami minta maaf, tolong pi maafkan mami, mami janji pi, mami nggak akan ngulangin lagi, sumpah"


Hendri menarik nafas panjang lalu berdiri dari sofa dan berjalan keluar dari ruang kerjanya


Nia kembali mengejar dan terus menarik tangan Hendri minta didengarkan penjelasan nya, tapi Hendri yang telah terlanjur kecewa tidak memberikan kesempatan pada Nia


"Papi egois!!!" teriak Nia frustasi


Hendri tak menggubris dan terus saja melangkah menuruni tangga


"Keegoisan papi inilah yang membuat mami akhirnya memilih mencari kenyamanan di luar, papi tidak pernah memberi rasa nyaman pada mami, apa mami salah pi jika mencari kenyamanan di luar?"


"Mami lakukan ini hanya ingin menyadarkan papi, agar papi tidak hanya memikirkan bisnis, bahwa ada istri yang harus diperhatikan, yang butuh kasih sayang, butuh tempat berbagi, bukan dengan selalu ditinggal"

__ADS_1


Hendri menghentikan langkahnya dan memutar badan menghadap Nia


"Jangan berteriak di rumah, ada anak-anak, aku tidak ingin anak-anak shock melihat kita bertengkar"


"Biar, biar anak-anak tahu semuanya tentang hubungan kita yang sudah tidak sehat ini, biar anak-anak tahu bagaimana papi mereka memperlakukan mami mereka!!!"


Hendri mendekat dengan mata menyala, nafasnya memburu


"Hebat kamu ya, kamu melemparkan kesalahan kamu padaku, dan menyalahkan aku semua atas yang terjadi dengan hubungan kita, iya?"


"Kamu benar, hubungan kita memang sudah tidak sehat lagi, oleh karena itulah makanya kamu mencari kenyamanan dan kehangatan di luar, iya?"


Nia memandang Hendri dengan menelan ludah dipenuhi kegugupan


"Sana, pergi pada selingkuhanmu itu, cari kenyamanan yang kamu mau, aku tidak akan menghalangi kamu sedikitpun, aku bahkan akan dengan suka rela memberikan kamu pada kekasih gelap mu itu"


"Jangan kau pikir aku tidak bisa melakukan hal yang sama dengan yang kau lakukan padaku Nia, mudah. Sangat mudah bagiku mendapatkan gadis perawan yang ku mau, bahkan aku bisa mendapat perempuan yang ku mau detik ini juga"


"Kamu sendiri tahu, aku tampan, aku banyak uang, aku kaya raya, aku bos perusahaan besar, tentu akan banyak gadis bertekuk lutut di depanku"


"Tapi aku bukanlah lelaki kebanyakan Nia, aku menjaga nama baikku, menjaga reputasiku, menjaga nama baik leluhurku, dan yang paling penting adalah aku menjaga kebaikan untuk ketiga anakku"


"Kamu tahu Nia, setiap bulan aku keluar negeri, bertemu dengan banyak perempuan cantik dari seluruh dunia, dengan segala macam bentuk dan warna"


"Apa kamu pikir aku tidak tertarik pada mereka?, aku tertarik pada mereka, apalagi badan mereka bagus-bagus dan mereka sangat


cantik-cantik"


"Tapi apa kamu pikir, aku pernah sekalipun meniduri perempuan lain selain kamu?, tidak Nia. Aku masih punya Tuhan dan aku sadar dengan dosa"


"Tapi kamu?, apa yang kamu lakukan ketika aku tak di rumah, hah?"


"Kamu mabuk-mabukan dengan teman tak jelas mu itu, kamu membawa masuk lelaki lain ke kamar kita, dan kamu menyerahkan tubuhmu dengan sukarela padanya"


"Menjijikkan sekali, bahkan sekedar untuk membayangkannya saja aku tak sanggup, aku tak menyangka jika kamu serendah ini Nia"


Nia hanya berdiri terpaku dengan menangis terisak


"Kamu kecewa dengan sikapku karena lebih memprioritaskan pekerjaan dibanding kamu, iya?"


"Pernahkah kamu berpikir bahwa ada ribuan karyawan yang bergantung padaku saat ini, dan mereka semua bergantung padaku, bergantung pada perusahaan yang aku pimpin"


"Dan kamu, aku beri kebebasan dengan hanya tinggal di rumah mengurus tiga anak saja tidak becus, apa pernah aku marah ketika kamu sering berkumpul tak jelas dengan teman sosialita mu itu, pernah?"


"Seberapa banyak uang yang kamu minta selalu aku kasih tanpa bertanya uangnya untuk apa, kamu gunakan untuk apa, tidak pernah kan?"


"Dan sekarang semua kesalahan ini kamu lemparkan padaku, seakan akulah penyebab ini semua terjadi. Akulah yang membuatmu berselingkuh"


"Bukan, aku tidak bersalah dalam hal ini Nia. Kamu saja yang terlalu murahan"


Wajah Nia menegang dan memucat ketika Hendri mengucapkan kalimat terakhir yang mengatakan jika dia murahan.

__ADS_1


__ADS_2