
"Jangan kamu bunuh dia Grace, aku tak ingin kamu mengotori tanganmu dengan membunuh wanita bejat itu!" ucap Hendri pelan
Grace menggeleng
"Wanita ini adalah penyebab kau menyakiti Linda, kau membalaskan sakit hatimu padanya dengan orang yang tak bersalah, jadi wanita ini harus mati, terlebih karena dia tega meneror ketiga anakmu"
Hendri memejamkan matanya mendengar semua bukti yang dikatakan Grace
"Aku sudah tahu Grace jika Nia dalangnya, tapi kamu jangan mengotori tanganmu, toh sekarang Nia juga tidak mendapatkan apapun dari usahanya itu"
"Kamu tidak tahu bagaimana liciknya dia Hendri, aku jauh lebih mengenal Nia dari pada kamu!"
Hendri mengusap wajahnya
"Grace, aku tidak ingin kamu dipenjara karena membunuh Nia, aku tak ingin berpisah denganmu karena kamu di penjara, aku lebih rela kita dipisahkan negara bukan dengan jeruji besi"
Nia memejamkan matanya mendengar suara pelan Hendri, dengan perlahan diturunkannya pistol dari kening Nia, lalu
PLAAAKKK
Tamparan keras melayang ke wajah Nia yang menyebabkan perempuan itu memejamkan matanya
"Pergi kamu dari sini sebelum aku ledakkan kepalamu!!!" bentak Grace yang membuat Nia langsung berlari kencang
"Sekarang giliranmu Agung" geram Grace berjalan kearah Agung yang menunduk di hadapan kakeknya
BUGHH PLAAKK...
Pukulan serta tamparan mendarat ke wajah dan tubuh Agung berkali-kali
"Pengecut, lelaki tak bermoral, dimana otak kamu saat kamu menjual istri mu hah?!" kembali Grace membabi buta memukuli Agung
"Linda memang wanita murahan, makanya dia ku jual!!!" teriak Agung
PLAAAKKK
Kali ini pukulan keras dari tangan Hendri melayang ke kepala Agung
"Apa kata kamu, murahan? Linda murahan? Iya??" teriak Hendri sambil menarik kencang kerah baju Agung lalu kembali melayangkan tinju besarnya ke kepala Agung
Mama Marisa dan mama Giska terpekik melihat kedua anak lelaki mereka berkelahi
"Kamu tahu sendiri berapa milyar yang aku keluarkan untuk membeli Linda" geram Hendri sambil terus memukuli Agung
"Tak akan aku biarkan satu orangpun menghina istriku, ingat Agung, Linda sekarang istriku, tanggung jawabku, satu kata kotor tentang Linda keluar dari mulutmu, aku potong lidah kamu!!" ucap Hendri sambil tak hentinya memukuli Agung
Sepupu-sepupu Hendri yang lain berusaha memegangi pundak dan tangan Hendri agar dia berhenti memukuli Agung
"Stop, cukup semuanya!!!" bentak sang kakek yang mampu membuat ruangan yang semula gaduh hening tiba-tiba
"Marisa, Giska, apa kalian tidak mengajari persaudaraan dengan kedua anak kalian, hah?!"
"Agung bukan saudaraku, saudaraku cuma Grace" jawab Hendri yang masih terus dipegangi dengan sepupu-sepupunya
"Memalukan, baku hantam hanya karena seorang perempuan!" kembali sang kakek berteriak marah
"Ini bukan tentang seorang perempuan kakek, tapi ini tentang harga diri seorang perempuan yang telah dilecehkan oleh Agung!" jawab Grace lantang
"Jangan lancang kamu Grace, apa yang kamu pelajari di Jerman sampai kamu sejak tadi berani berteriak dengan kakek mu, hah?!" bentak anak tertua kakek mereka
"Banyak yang saya pelajari Om, terutama bagaimana caranya membungkam mulut orang agar dia tidak bisa bersuara lagi untuk selama-lamanya" jawab Grace berani
Jawaban berani Grace mampu membuat yang ada di ruangan ini menelan ludahnya
"Marisa, bawa pulang anakmu, lama-lama dia disini, dia juga nanti yang menerima pukulan ku" geram sang kakek dengan marah
"Pulang semua kalian, masalah ini telah selesai, kita semua telah melihat sendiri buktinya, dan kamu Agung, jangan pernah kamu menginjakkan kaki kamu di rumah kakek lagi, bahkan jika nanti kakek meninggal, kamu tidak usah datang!!"
"Ayah...." ucap mama Marisa tercekat
Setelah itu sang kakek berjalan mendahului semuanya keluar dari ruangan home theater ini diiringi pandangan seluruh anak cucunya
Sepeninggal kakek mereka, seluruh sepupu Agung dan Hendri yang perempuan berdiri di depan Agung, menatap benci pada Agung yang wajahnya telah membiru bekas pukulan keras Hendri
"Kami sangat tidak menyangka jika kamu begitu rendah Agung" lirih mereka
Lalu mereka mendekat takut-takut kearah Grace yang masih menggenggam pistol di tangannya
Grace segera meletakkan pistol kedalam blazernya kemudian merentangkan kedua tangannya, dan sepupu-sepupunya langsung menyerbu kearahnya
__ADS_1
"Welcome Grace...." ucap mereka hangat sambil bergantian memeluk Grace
Grace mengangguk sambil tersenyum mendekap mereka dengan hangat
"Kapan kita bisa ngobrol?" tanya mereka
"Not now, kalo sekarang aku masih ingin bersama Hendri dulu"
Keenam saudara sepupu Grace mengangguk dan menoleh kearah Hendri yang masih ditenangkan dengan sepupu mereka yang laki-laki
"Sepertinya memang cuma kamu Grace yang bisa menenangkan Hendri" lanjut mereka lagi
Grace mengangguk dan tersenyum, kembali mereka bergantian mendekap Grace sebelum akhirnya perempuan cantik itu berjalan mendekat kearah Hendri
"Hen....." panggil Grace lirih
Hendri menoleh, segera bangkit lalu memeluk Grace
"Entah bagaimana aku Grace tanpa kamu...." ucap Hendri sendu
"Nggak usah lebay, aku melakukan ini juga demi diriku, aku tak ingin badan dan otak aku ikut sakit akibat kamu"
Hendri terpaksa tersenyum dan mengusap kasar wajahnya, lalu dia menoleh kearah sepupu-sepupunya yang masih menatap kearah mereka berdua
"Adakah kalian bersaudara akrab dan saling menyayangi seperti kami?"
Sepupu Hendri saling toleh dan mengangguk
"Tapi kami tidak menyangka jika persaudaraan kalian jauh lebih kental dari kami"
Grace dan Hendri sama-sama tersenyum
"Itu karena kami lahirnya bersamaan dan dipisahkan bertahun-tahun, sehingga kami merasakan bagaimana sakitnya dipisahkan" jawab Hendri kembali
Dan Grace dengan manja segera melingkarkan tangannya di lengan Hendri
"Grace....." lirih mama Giska
Grace menoleh kebelakang, dimana mama papanya telah berdiri tak jauh dari mereka
Hendri menganggukkan kepalanya kearah Grace, dan Grace menarik nafas panjang
"Aku nanti akan menyusul, sekarang aku mau bicara dengan tante Marisa dan om Heru, aku mau meminta maaf pada mereka karena aku telah memukuli anak mereka"
"Tidak usah, aku tak ingin nanti mereka memukulmu"
Hendri menggeleng
"Tidak akan, aku yakin mereka tidak akan berani, apa kau lupa dengan ancamanmu?"
Grace memukul lengan Hendri sambil tertawa
"Bicaralah dulu sama mama dan papa, mereka sama sepertiku, sangat menyayangi dan merindukan mu"
Grace kembali menarik nafas panjang sampai akhirnya dia mengangguk
Hendri mengusap kepala Grace lalu dia menghampiri mama Marisa, mamanya Agung yang saat itu tampak sedang menangis
"Tante..." panggil Hendri
Tante Marissa dengan cepat mengusap kasar wajahnya lalu melengos tak mau melihat wajah Hendri, begitupun dengan suaminya
"Aku minta maaf tante, om, karena akuu telah memukuli Agung, tapi sumpah om, tante, itu aku lakukan karena aku tidak terima dia menghina Linda"
Mama Marissa masih memasang wajah masam mendengar permintaan maaf Hendri, begitupun dengan suaminya
"Hen, sini nak....!" panggil papanya
Hendri kembali mengucapkan permintaan maafnya sebelum akhirnya dia meninggalkan orang tua Agung yang masih tak mau melihat kearahnya sampai dia pergi
"Kita temui kakek" ucap mama Giska
Hendri mengangguk, tapi Grace langsung memasang wajah masam
"Grace......" bujuk Hendri
Dengan mendecak kesal akhirnya Grace menuruti langkah kaki kedua orang tuanya dan Hendri yang berjalan keluar dari ruang home theater itu
Sampai di depan kamar ayahnya, mama Giska mengetuk pintu dan memanggil-manggil ayahnya, tapi tak ada sahutan
__ADS_1
Sampai akhirnya Hendri yang turun tangan
"Kakek, kami masuk ya?, ini aku bersama Grace juga...."
Masih tak ada sahutan, sampai akhirnya Hendri menarik gerendel pintu dan mendorongnya
Tampak oleh mereka sang kakek duduk membelakangi pintu
"Ayah.....?" panggil mama Giska
Kakek Hendri bergeming, dan Hendri langsung berjongkok di depan beliau, menatap wajah keriputnya yang ternyata basah oleh air mata
"Kakek.....?" ucap Hendri tercekat
Kakek Hendri langsung mengulurkan kedua tangannya layaknya anak kecil, dan Hendri segera masuk kedalam pelukan kakeknya
"Kakek minta maaf Hen, kakek minta maaf....."
Mama Giska mengusap wajahnya karena tanpa terasa air matanya telah mengalir melihat ayahnya menangis
"Kakek tidak salah, yang salah aku, karena menyembunyikan semua ini dari kakek"
Kakek Hendri melepas dekapannya lalu memandang dalam pada kedua mata Hendri
"Grace mana...?" ucapnya berusaha memutar tubuhnya
Grace memutar matanya dengan malas mendengar sang kakek menyebut namanya
"Grace...." panggil Hendri
Grace menggeleng kuat
"Nak....?" ucap papanya
"Kalau kata aku tidak mau, ya tidak mau pa. Jangan paksa aku"
Kakek Hendri yang telah duduk menghadap Grace dan kedua orang tuanya hanya menatap sendu pada Grace
"Grace......" panggil kakeknya
Grace bergeming
"Kakek minta maaf Grace...." ucap kakeknya tersedu yang membuat mama Giska kembali terisak
Dan Hendri dengan cepat langsung memeluk kakeknya dari samping, mengelus-elus lengan kakeknya berusaha menenangkannya
"Grace....?" panggil sang kakek lagi
Grace menarik nafas panjang
"Kakek tidak pernah tahu apa yang aku rasakan, umur tujuh tahun kakek memaksa aku dan Hendri berpisah hanya karena kami kembar"
"Kakek tidak tahu bagaimana aku dan Hendri menangis setiap hari dan sepanjang malam karena kerinduan kami" suara Grace melemah karena dia berusaha kuat menahan tangisnya
"Berbulan-bulan aku dan Hendri sakit sampai akhirnya uncle Bram membawaku pulang ke Indonesia dan mempertemukan kami kembali, dan kakek lihat sendiri kan dulu bagaimana keadaan kami ketika kami bertemu, detik itu juga kami sembuh, detik itu juga kami mempunyai semangat untuk hidup kembali"
"Tapi kakek kembali tega memisahkan kami, hingga nyaris tiap hari kami saling telpon, saling menguatkan diri kami masing-masing, begitu terus hingga hari ini"
"Aku dan Hendri itu satu nyawa kek, Hendri jatuh di Indonesia, aku jatuh juga di Jerman, Hendri terluka aku ikut merasakan perih, hingga uncle Bram dan Aunty Kyle faham bahwa aku dan Hendri memiliki ikatan kuat tapi kakek, mama dan papa tidak pernah menyadari itu"
"Aku pernah tenggelam di kolam renang, Hendri di rumah merasakan kehabisan nafasnya hingga mama dan papa kebingungan melihat wajahnya membiru"
"Tapi mama dan papa terlalu takut dengan kakek, sehingga mereka terus memilih menjauhkan aku dan Hendri"
Hendri seperti anak kecil yang menangis kehilangan benda kesayangannya ketika mendengar perkataan Grace
Sedu sedannya terdengar jelas, hingga mama Giska makin tersedu-sedu
"Puluhan tahun kakek kami saling merindukan, walau dunia telah modern, mudah untuk kami berkomunikasi, tapi kami kehilangan momen kebersamaan kami"
"Kami tidak bisa berkelahi lagi, tidak bisa rebutan mainan lagi, tidak bisa tidur bareng-bareng lagi, tidak bisa saling menjahili lagi"
"Dan apakah kakek pernah memikirkan itu?, kakek hanya memikirkan mitos bukan psikis kami"
Papa Hendri mengusap kepala Grace dengan berlinangan air mata
"Kami juga minta maaf nak...." lirihnya tercekat
Grace menggeleng
__ADS_1
"Permintaan maaf kalian tidak bisa mengembalikan masa kebersamaan kami yang telah kalian renggut"
Setelah berkata begitu Grace langsung memutar badannya meninggalkan kamar sang kakek, dimana sang kakek dan kedua orang tuanya masih tampak terpukul