
Pak David dan pak Ibram saling toleh dan pak Yohannes kembali meminta pak David mengulang rekaman cctv kearah pria yang berlari kearah motor
"Postur tubuhnya seperti kekasih gelap nyonya Nia"
Pak David dan Pak Ibram mengangguk setuju
"Kita harus selidiki ini" ucap pak Ibram
Ketiga temannya yang lain mengangguk
Dengan cepat pak David mengeluarkan hp, lalu menghubungi temannya yang bekerja di bandara
"Saya bisa minta bantuan kamu memeriksa kedatangan penumpang dari Swiss?"
"Untuk apa bro, ini rahasia"
"Tolonglah, kamu kan tahu pekerjaanku"
"Iya, iya, oke...." jawab temannya sambil terkekeh
"Kamu nyari nama siapa?"
"Ada tidak yang bernama Nia...."
"Bentar....Nia, Nia, Nia...., nggak ada bro"
"Serius kamu?"
"Iya serius"
"Yang penerbangan dari Amerika?"
"Bentar..."
"Nggak ada juga bro"
"Serius?"
"Iya beneran, serius"
"Ya udah, makasih bro"
Lalu pak David menggeleng kearah ketiga temannya
"Nggak usah kita kasih tahu bos, kita selesaikan saja sendiri, jika memang serius baru kita kasih tahu bos" usul pak Ibram yang langsung disetujui oleh yang lain
Akhirnya keempatnya tidak tidur, mereka terus berjaga sampai pagi.
Dan ketika telah pagi, pak Ibram dan dua bodyguard yang lain segera mandi dan bersiap mengantarkan ketiga anak gadis Hendri ke sekolah mereka masing-masing
Sementara Hendri yang juga telah siap berangkat ke kantor mencium kening ketiga anak gadis cantiknya ketika ketiga gadis cantik itu akan masuk ke dalam mobil
"Jangan jauh-jauh dari ketiga anakku, aku tidak yakin jika Nia tidak berniat buruk pada ketiganya"
Ketiga bodyguard tersebut mengangguk kemudian saling lirik mendengar kalimat terakhir Hendri
"Tajam juga feeling bos kita" gumam pak Yohannes sambil masuk kedalam mobil
Sepanjang perjalanan, ketiga anak gadis Hendri bersikap seperti biasanya seperti tak terjadi apa-apa, dan ketika Khayla yang turun duluan, mereka saling berpelukan hangat dan keduanya melambaikan tangan ketika Khayla dan pak Ibram berjalan beriringan
Sekolah internasional tempat Khayla sekolah sekarang sudah terbiasa melihat pak Ibram karena mereka sekarang sudah tahu semua jika Khayla dikawal seorang bodyguard kemanapun dia pergi
Begitupun ketika akhirnya Mutiara dan pak David yang turun selanjutnya, Mutiara mencium dengan gemas pipi adik bungsunya
"See you at home" ucapnya ketika mencium pipi Alika yang dibalas Alika dengan mencubit pipi chubby Mutiara
Dan terakhir yang sampai di sekolah adalah Alika, dengan sigap pak Yohannes menggandeng erat tangan gadis kecil yang beranjak remaja itu
Alika melambaikan tangan dengan ceria kearah pak Paino yang akan kembali ke rumah
Saat Alika melambaikan tangan, secara tak sengaja dia melihat orang berdiri di seberang jalan yang memakai kaca mata hitam dan hoodie menatap kearahnya
"Bapak itu siapa?" tunjuk Alika
Dengan cepat pak Yohannes mengikuti tunjuk Alika, tapi yang dilihatnya hanyalah orang-orang yang berangkat kerja yang berlalu lalang
"Mana nak?"
"Tadi ada di sana, pakai kaca mata hitam, kan mencurigakan pak, pagi-pagi kok pakai kaca mata hitam, dia melihat kearah Alika"
Pak Yohannes langsung memanjangkan kepalanya, berusaha mencari sosok yang tadi disebutkan Alika
"Kita masuk saja nak, ada bapak yang menjaga kamu, kamu jangan takut"
Alika mengangguk dan kembali melingkarkan tangannya ke lengan besar pak Yohannes
Sedangkan Hendri yang mengendarai sendiri mobilnya ke kantor saat ini telah berada di dalam kantor
Di bagian depan, semua karyawan seperti biasa akan sedikit menganggukkan kepalanya kearah Hendri ketika lelaki bertubuh tinggi dan berisi itu masuk
Dan seperti biasa Hendri hanya akan melirik sekilas kearah mereka lalu segera masuk kedalam, berjalan kearah lift. Lalu berjalan menuju ruangannya
__ADS_1
Ketika tiba di depan ruangan Marko, Hendri berhenti sebentar, menoleh kearah dalam dimana dilihatnya Marko telah datang dan saat ini tengah menyesap teh hangat
Hendri tersenyum segaris lalu melanjutkan langkahnya masuk kedalam ruang kerja yang telah satu minggu ditinggalkannya itu
Begitu sampai di ruang kerjanya, Hendri tak langsung bekerja melainkan segera mengeluarkan hp yang ada di dalam tasnya, segera menghubungi seseorang
Dan aku yang baru saja selesai berganti baju langsung kaget ketika mendengar ada suara hp berdering di dalam lemari pakaianku
Aku menoleh kearah bibi Niluh yang saat ini masih berada di dekatku
"Bibi dengar?"
Beliau mengangguk
"Apa hp mas Hendri ketinggalan ya bik?"
"Mungkin saja nyonya"
"Waduh...." aku seketika panik, karena aku yakin sekali jika itu hp Hendri, sudah barang tentu itu panggilan penting
"Cepat ambil bik, kayanya dalam lemari"
Bibi Niluh cepat berjalan kearah lemari, dan kulihat dia sedikit menjinjit
"Tapi disini tertera namanya Suamiku Sayang"
"Hah?" aku kaget karena itu bukanlah hp milik Hendri
Suara panggilan masuk berhenti ketika hp tersebut berada di tanganku. Lalu aku dan bibi Niluh kembali saling pandang ketika hp tersebut kembali berdering
Dan benar yang dikatakan bibi Niluh di sana tampil nama yang menelepon Suamiku Sayang
"Angkat saja nyonya, siapa tahu itu dari tuan"
Aku menggeleng
"Bibi kan tahu hp aku sudah hancur oleh Hendri"
"Lah terus ini hp siapa?"
Aku mengangkat bahuku
"Angkat saja Nya"
Aku mengangguk, lalu dengan ragu aku menarik icon berwarna hijau keatas
"Iya, selamat pagi ini siapa?" aku kembali menoleh kearah bibi Niluh dengan khawatir
Keningku berkerut begitu aku mendengar suara orang di seberang
"Sudah bangun sayang?"
"Hah?" jawabku kaget
"Ini siapa?" tanyaku ragu, karena aku tak berani menyebut jika saat itu yang meneleponku adalah Hendri
"Di hp tadi siapa namanya?"
"Suamiku Sayang" jawabku polos
"Iya istriku sayang....."
Mataku berputar meyakinkan diriku jika saat ini yang meneleponku beneran Hendri
"Mas Hendri?"
Terdengar suara tawa, dan aku semakin yakin jika itu Hendri
"Ubah mode video" ucap suara di seberang
Aku menurut, dan kembali menekan icon berwarna biru keatas
Begitu aku ubah mode video, tampil wajah Hendri
Aku kembali mendongak kearah bibi Niluh yang berdiri di belakangku, dan beliau tersenyum
"Bibi keluar dulu" ucapnya yang tak sempat aku cegah karena beliau sudah langsung pergi
"Lagi apa Lin?"
Aku merasa sangat canggung ketika Hendri masih berwajah sumringah menatapku
"Hei, ditanya kok malah diam?"
"Baru selesai mandi"
"Anakku mana?"
Aku tersenyum malu dan membuang wajahku menghindari tatapannya yang menurutku sangat nakal
"Linda, aku kangen sama anakku"
__ADS_1
"Iya, ini....." ucapku menjauhkan hp agar Hendri bisa melihat perutku
"Dekatkan hpnya aku mau menciumnya"
"Ya Tuhan mas, kamu apa-apaan sih?" jawabku sambil tertawa malu
"Ayo dekatkan!"
Dengan sedikit mendecak aku menurut, ku letakkan hp di depan perut besar ku
"Sayang jangan nakal ya...., papi sayang sama kamu...."
Selesai berkata begitu aku langsung menarik hp ke dekat wajahku lagi
"Mas di kantor?"
Hendri mengangguk
"Mengapa ketika jauh kamu memanggilku dengan sebutan mas, tapi ketika dekat malah Han Hen, Ham Hen"
Aku menggigit bibirku menahan tawa mendengar Hendri protes
"Ya maaf....."
Hendri melengos
"Mas kok malah nelpon aku, bukannya kerja?"
"Iya nanti"
"Kerja lah dulu, nanti telpon lagi"
"Oke jika kamu maunya gitu, tapi kamu jangan stress ya, jangan lupa makan dan minum susunya"
"Iya"
Hendri lalu tersenyum, dan senyumnya sanggup membuat jantungku berdebar kencang
"Oh iya mas"
"Kenapa?"
"Ini hp siapa?"
"Hp kamulah, sengaja aku beli buat kamu, biar kalau aku kangen sama anak kita, aku bisa nelpon kapanpun"
"Kok aku nggak tahu kalau ada hp"
"Kalau aku kasih tahu, bukan surprise dong namanya"
Kembali aku tersenyum malu
"Makasih ya mas...."
"Iya sayang...."
Aku langsung menutup wajahku mendengar rayuannya
"Ya sudah, aku kerja dulu ya Lin"
Aku mengangguk, dengan melambaikan tangan akhirnya obrolan kami berakhir
Hendri masih tampak tersenyum menatap hpnya ketika sebuah deheman mengagetkannya
"Sejak kapan kamu ada disini?" bentaknya pada Marko yang menahan tawa
"Sejak bos sayang-sayangan dengan mbak Linda"
"Kurang ajar kamu!" kembali Hendri membentak dan membuang wajahnya karena malu ketahuan dengan anak buahnya jika dia bucin layaknya anak abg yang sedang jatuh cinta
"Sudah berapa bulan bos?"
"Apanya?" nada suara Hendri masih terdengar kesal ketika menjawab pertanyaan Marko
"Itu, yang tadi bos mau cium"
"Marko......!!!" geram Hendri sambil melemparkan map kearah Marko yang ternyata telah berlari kabur menghindari kemarahan bosnya
Sepeninggal Marko, Hendri tersenyum-senyum sendiri dan menggelengkan kepalanya karena kekonyolannya
...----------------...
"Ahhhhhhh....." Alika berteriak kencang
Seisi kelas langsung berdiri dan sebagian langsung berlari kearahnya, begitupun dengan guru yang sedang mengajar di dalam kelas
"What's wrong?"
Alika yang wajahnya menegang hanya menunjuk ke lantai
Dan guru yang mengajar di kelasnya langsung berjongkok, mengambil sebuah bungkusan kantong plastik yang telah terbuka ikatannya, kemudian membuka lebar kantong plastik tersebut
__ADS_1
"Astaga...." gumamnya yang juga refleks menjatuhkan kantong kresek tersebut