
Hendri menepis tanganku lalu dia bangkit. Melihatnya berdiri aku pun berdiri
Hendri mendorongku hingga membentur tembok. Dengan kuat di tekannya bahuku
"Siapa yang menyuruhmu berpakaian seperti ini?"
Aku menarik nafas lega karena dia marah padaku karena pakaianku bukan karena aku menangisinya
"Sengaja kamu berpakaian seperti ini biar Marko senang melihat paha dan leher kamu?"
Aku bengong mendongak menatap wajah marahnya
Melihatku bengong kembali Hendri menekan kuat bahuku
"Sakit Hen, kurang ajar kamu" ucapku marah sambil menginjak kakinya kuat
Aku tercekat karena Hendri seperti tak merasakan apa-apa, dan dia semakin menekan kuat pundakku
"Sumpah, jika aku tahu kamu akan menyakitiku seperti ini aku tidak akan mau menemui kamu, biar kamu mati sekalian"
Hendri melepas tangannya dari bahuku, wajahnya masih datar dan dingin menatap ke arahku, lalu dia membalikkan badannya.
Tanpa kuduga dia melepas bajunya yang membuatku menggeser badanku dan ketika aku akan berlari tangannya menangkap tanganku
Degup jantungku berdebar ketika Hendri membalikkan badannya menghadap ku, tangannya yang mencengkram tanganku menarik tubuhku mendekat kearahnya
Aku mendongakkan wajahku menatap wajahnya yang semakin dekat ke wajahku
Aku memejamkan mata ketika wajahnya tinggal beberapa centi lagi dari wajahku
Aku membuka mata ketika kurasakan ada ikatan di pinggangku. Aku menunduk dan kulihat Hendri mengikatkan kemeja yang dilepasnya ke pinggangku
Setelah itu wajah Hendri kembali datar dan menatap dingin padaku. Aku langsung gelagapan ketika pintu didorong dan kulihat pemuda yang membawaku tadi masuk bersama seorang dokter
Kulihat dokter itu tertegun menatap seluruh ruangan yang porak poranda seperti habis kena gempa
Dengan cepat, pemuda yang membawaku tadi mengangkat kursi yang terbalik dan mempersilahkan dokter untuk duduk
Dan aku ikut pula mengambil kertas yang berserakan dekat kaki dokter dengan berjalan menjinjit karena sakit akibat tadi aku menginjak pecahan kaca
Sedangkan pemuda yang tadi disebut Hendri dengan nama Marko kembali membalikkan satu kursi dan meminta Hendri duduk di sana
Setelah Hendri duduk, aku dan Marko berdiri ditempat kami masing-masing dengan menatap serius kearah dokter yang sedang memeriksa tangan Hendri
kulihat wajah datar Hendri masih tak berubah dan terus menatap dingin ke depan
Aku dan Marko yang berdiri berjauhan sesekali saling lirik kemudian sama-sama kembali fokus menatap kearah dokter
Aku hampir melangkah ketika kudengar Hendri seperti menggeram, tapi kemudian aku mengurungkan niat tersebut karena ini nanti pasti akan bermasalah untukku
Kembali terdengar Hendri seperti mendesis, aku yakin dia kesakitan
Dengan telaten dokter membalut kedua tangan Hendri dengan perban hingga akhirnya dokter kembali melihat ke sekeliling ruangan
Aku tersenyum basi ketika mata dokter tertumbuk padaku
"Bersihkan ruangan ini nanti, anda office girl disini kan?"
Mulutku ternganga mendengar ucapan dokter, lalu aku melirik kearah Hendri yang menatap tajam ke arahku
"Baik dokter, nanti akan saya bereskan" jawabku cepat
Dokter itu mengangguk, lalu berdiri.
"Lain kali pakai samsak, anda beli samsak, terus gantung di ruangan ini, olahraga disela kesibukan itu juga penting untuk kesehatan"
Aku menunduk menahan tawa mendengar dokter menyindir Hendri
__ADS_1
"Kena kau" batinku
"Oh iya untuk anda nona, coba kemari!"
Aku menelan ludah ketika dokter memanggilku untuk mendekat kearahnya
Dengan menjinjit kan kaki, aku berjalan pelan kearah dokter
"Duduk!"
Aku menurut, aku duduk di kursi dokter tadi
Lalu dokter berjongkok dan mengangkat kakiku
Dengan susah payah aku membenarkan baju tidurku yang sebatas lutut karena terangkat ketika dokter mengangkat kakiku untuk melihat telapak kakiku
Aku menjerit tertahan ketika dokter menekan lukaku yang mengakibatkan darah keluar cukup banyak
Baru setelahnya dokter mengambil tissue dan mengelap darah di telapak kakiku
"Justru pecahan kaca yang halus inilah yang berbahaya" ucap dokter santai sambil membuang tissue bekasnya mengelap lukaku
"Jika anda office girl, kenapa pakaian anda seperti ini?"
Aku tersenyum kaku
"Saya yakin anda bukan OG di kantor ini, wajah anda tidak menunjukkan jika anda OG"
"Dia...."
"Saya asisten rumah tangga tuan Hendri dokter" jawabku cepat memotong ucapan Hendri
Dokter itu tampak mengangguk sekilas tapi aku yakin tatapannya tak yakin
"Ya sudah, saya pergi dulu, dan iya tuan Hendri, seperti yang tadi saya bilang, samsak diperlukan di ruangan ini"
Hendri membuang muka mendengar ucapan dokter itu. Dan hanya Marko yang mengantarkan dokter tersebut sampai di depan pintu
"Kamu mau kemana?"
Aku menghentikan langkahku dan menoleh kearah Hendri yang masih duduk di kursi
"Pulang lah, ngapain aku disini, hanya jadi bahan kemarahan kamu saja"
"Kamu pulang ke rumah ku, tugasmu sekarang adalah menjadi asisten pribadiku"
"What?, jangan gila kamu Hen, aku nggak mau"
Marko yang melihat kearah kami hanya menatap bingung, dan aku yakin dari pancaran matanya dia sangat ingin mengetahui ada hubungan apa antara aku dan Hendri
"Kamu tidak bisa menolak perintahku Linda!!!"
Aku menarik nafas panjang lalu kembali duduk dengan wajah ditekuk
"Marko, kamu hubungi OB, suruh mereka membersihkan dan merapihkan ruangan ini, aku mau pulang"
Marko mengangguk, sedangkan Hendri segera berdiri
Wajahku masih ditekuk dan aku tak berniat sedikitpun untuk bangun dari kursi.
Hendri menghentikan langkahnya ketika disadarinya jika aku tidak mengiringi langkahnya
Dia menoleh dan menatap tajam ke arahku
"Cepat"
Aku mendecak dengan kesal, mau tak mau aku menuruti perintahnya
__ADS_1
"Tapi cuma mengantar, nggak tinggal di rumah kamu" ucapku dengan cemberut
Hendri tak menggubris ucapanku, dia terus berjalan dengan angkuhnya, dan aku mengekor di belakangnya dengan pasrah
Sementara Marko yang tinggal sendirian hanya tercenung
"Wanita itu tadi siapa?, kenapa dia bisa menangis untuk tuan Hendri?"
"Dan kenapa dia berani membantah semua omongan tuan Hendri dan menurut dalam jarak yang tak lama?"
"Sepertinya ada yang tidak beres antara mereka berdua" gumamnya
"Berarti wanita ini penyebab utama yang membuat tuan Hendri pulang sewaktu kami di kota B bulan lalu" lanjutnya sambil manggut-manggut
Marko mengusap wajahnya dengan bingung dan segera menghubungi pihak OB untuk masuk keruangan pimpinan
Segera lima orang OB masuk dan tatapan heran mereka langsung terlihat ketika mereka masuk keruangan bos besar di perusahaan tempat mereka bekerja
Tanpa perlu diberi arahan lagi, kelimanya segera berjibaku membersihkan dan merapihkan ruangan
Sementara Marko menyusun setiap lembar berkas yang berserakan sesuai dengan filenya masing-masing
Sementara di lift, aku yang saat ini bersama dengan Hendri hanya saling diam tak saling bersuara sedikitpun
Ketika kami keluar dari dalam lift dan berjalan menuju luar kembali kulihat tatapan para karyawan tertuju pada kami
Tapi kali ini tatapan mereka takut-takut dan hanya menoleh sekilas lalu segera berjalan cepat tak menoleh lagi pada kami
Bahkan beberapa yang berpapasan dengan kami hanya menganggukkan kepala mereka kemudian berjalan menunduk
Sampai di halaman parkir khusus, Hendri segera membuka pintu mobil, kemudian dia berjalan memutari mobil lalu membuka pintu sebelah kiri kemudian dia masuk
Aku hanya bengong melihatnya. Lalu aku membuka pintu bagian tengah mobil kemudian duduk
Melihatku duduk, Hendri segera memutar badannya menghadap ke arahku
"Ngapain kamu duduk di sana?, sini ke depan, kamu yang menyetir!"
Mulutku langsung ternganga
"Aku nyetir?"
"Iya, siapa lagi kalau bukan kamu? sudah aku bilang tadi, mulai hari ini kamu asisten pribadi aku, jadi seluruh pekerjaan yang tidak bisa aku kerjakan itu kamu yang ambil alih"
"Tapi Hen?"
"Nggak ada tapi-tapian, berani membantah, atau kamu ingin anak kamu....?"
Aku menarik nafas frustasi
"Oke semuanya aku nurut apa kata kamu, tapi kalau kamu nyuruh aku bawa mobil, aku nggak bisa Hen, aku nggak bisa nyetir, mau kamu dapat gelar almarhum?"
Hendri menghembus nafas kesal dan memukul dashboard dengan keras, lalu kemudian dia menjerit kesakitan sendiri
Aku yang melihat hanya melengos kesal
"Marko kamu turun!"
Kulihat Hendri menempelkan hp ke telinganya saat dia berkata seperti itu
"Ada jaman sekarang perempuan tidak bisa menyetir" gerutunya kesal yang jelas tertangkap oleh telingaku
"Ada, aku buktinya" jawabku ketus
Kulihat Marko berjalan kearah mobil
"Ya bos?"
__ADS_1
"Bawa mobil antar kami pulang!"
Marko menangguk tak membantah, dia segera naik dan duduk di belakang stir, di tolehnya aku sekilas sebelum akhirnya dia memakai sabuk pengaman