
Wajah dingin Hendri yang masuk kedalam kantor disambut dengan anggukan hormat seluruh karyawan yang berpapasan dan melihatnya
Hari ini Hendri menggunakan pakaian semi formal tanpa jas, dan rambutnya yang biasa di sisir rapi dan diikat kebelakang, dibiarkannya terurai dan bergelombang
Marko yang memang selalu on time begitu melihat bos besarnya masuk kedalam ruangannya segera menyusul
"Ada hal penting?" tanya Hendri dingin
Marko menatap dalam mata Hendri dan meyakinkan dirinya jika semuanya baik-baik saja
Dan Hendri balas menatap mata Marko dengan dalam
"Ngomong, saya yakin ada banyak hal yang ingin kamu bicarakan sama saya"
Sebelum menjawab Marko menarik nafas dalam
"Teman saya yang seorang copilot melihat nyonya di bandara dini hari tadi"
Hendri yang tubuhnya menyandar di kursi langsung maju dan menatap serius wajah Marko
"Jam berapa?"
"Sekitar jam tiga dini hari" sambil berkata begitu Marko memamerkan sebuah foto yang ada di dalam hpnya pada Hendri
Wajah Hendri terkesiap dan tangannya terkepal kuat
"Kau tanya kemana tujuan penerbangannya?"
"Luar negeri bos, Amerika"
Hendri langsung menghembus nafas panjang lalu mengusap kasar wajahnya
Marko makin menatap dengan dalam dan penuh tanda tanya
Detik berikutnya Hendri menelepon dua anak buah yang diperintahkan nya mencari keberadaan selingkuhan Nia
"Bagaimana?"
"Apartemennya kosong bos, sudah tidak ada apa-apa disini"
Hendri menghempaskan hpnya ke meja dan langsung menepis kasar benda yang ada di atas meja sehingga seluruh yang ada di atas meja kerjanya berhamburan jatuh
Marko menelan ludahnya melihat kemarahan di wajah bosnya itu
"Marko, cepat kau cek kartu kredit Nia, dan juga cek seluruh kartu perbankan nya, jangan ada satupun yang terlewat"
Marko dengan cepat bergerak, segera dia menghubungi pihak bank dan tak lama telah keluar hasil dalam bentuk email
Kembali rahang Hendri mengeras demi melihat hasil seluruh transaksi pengeluaran dan penarikan Nia selama ini hingga pagi tadi
"Blokir semua!" bentak Hendri
Marko mengangguk, dan tak lama kembali dia telah menerima laporan bahwa seluruh akses Nia terblokir
Hendri kembali menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi dengan mendongakkan kepalanya keatas
"Marko, hubungi pengacara pribadi saya, suruh dia menyiapkan gugatan perceraian saya untuk Nia"
Kembali Marko mengangguk dan segera menghubungi pengacara pribadi Hendri
__ADS_1
"Baik pak Marko, sekarang juga akan saya siapkan"
Marko menoleh kearah Hendri setelah mendapatkan jawaban dari pengacara di seberang
"Tolong tinggalkan saya sendiri"
Marko mengangguk dan segera bangkit dari kursinya. Lalu menutup rapat pintu
Sepeninggal Marko, Hendri mengepalkan tangannya dengan keras lalu bangkit dan kembali memukul keras tembok hingga berkali-kali dan berteriak keras
Marko yang mendengar teriakan bosnya segera berlari lagi kedalam dan tercekat ketika melihat jika ruangan itu hancur berantakan
Dan lebih shock lagi ketika dilihatnya Hendri dalam keadaan kacau dengan tangan penuh darah
"Bos....?" ucapnya tercekat dengan langsung mengangkat tubuh Hendri yang bersandar di tembok dengan menundukkan kepalanya
"Keluar kamu Marko!!!"
"Tidak bos, aku tidak akan meninggalkan bos"
"Keluar aku bilang, jika tidak ku pecahkan kepalamu!!!"
Marko mundur, tapi tetap berada di ruangan itu
Kembali Hendri berteriak kencang dan mengusap wajahnya dengan kacau
Marko yang melihat hanya bisa menatap tanpa tahu harus berbuat apa
"Kamu pergi ke hotel yang ada di jalan Merpati, bawa orang yang ada di kamar 20 sekarang juga kesini!"
Marko mengangguk dan segera melesat kebawah dengan cepat. Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya menyingkir ketika mereka lihat jika Marko berlari kencang
Sepuluh menit kemudian dia telah sampai di hotel, dan melihat anak buah Hendri di bawah, Marko hanya menoleh sekilas pada mereka dan segera berlari kelantai dua
Masih dengan langkah cepat dicarinya kamar dengan nomor 20. Begitu sampai di depan kamar, segera dia mengetuk
Aku yang sedang bengong menatap layar tv hanya menarik nafas kesal karena itu pasti anak buah Hendri yang ingin memeriksa keberadaan ku
"Iya sebentar..." teriakku karena suara ketukan di pintu berubah gedoran kencang
Wajahku langsung terkejut ketika aku melihat wajah orang asing di depanku, begitu juga dengan pria yang berdiri di depanku, kulihat wajahnya juga terlihat kaget
"Ada apa ya mas?" tanyaku ragu
"Ini benar kamar nomor 20 kan?" ucapnya tak yakin sambil melihat ke nomor yang tertempel di sebelah pintu
Aku mengangguk ragu dengan sedikit khawatir
"Saya diutus tuan Hendri untuk membawa nona padanya"
"Hendri?, kenapa lagi dengan dia?"
Pria di depanku tak menjawab melainkan segera menarik cepat tanganku
"Hei, nanti dulu, aku ganti baju dulu" teriakku padanya yang menarik kasar tanganku
"Ini urgent nona, menyangkut nyawa bos kami"
"Hah?, kenapa lagi dengan dia?"
__ADS_1
Aku turut khawatir dan menurut saja ketika dia menarik ku
Sampai di bawah ketiga anak buah Hendri menghentikan langkah kami
"Bos yang memerintahkan saya kesini untuk membawanya kekantor"
Ketiga orang yang biasanya mengawasi ku langsung mundur dan memberi jalan ketika pria itu memundurkan mobilnya
Di dalam mobil pikiranku ikut kacau dan berkecamuk pikiran buruk tentang Hendri
"Hendri kenapa? apa yang terjadi sama dia?"
Pria yang sedang mengemudi di sebelahku tak menjawab melainkan terus melajukan mobil dengan kencang
Saking ngebutnya aku sampai memejamkan mataku ketakutan. Hingga akhirnya mobil berhenti di depan sebuah gedung pencakar langit.
Mataku menatap nanar melalui kaca jendela mengagumi gedung tinggi tersebut
"Ayo cepat turun!"
Aku mengangguk dan segera turun. Kembali pemuda itu menarik tanganku dengan cepat
Kulihat bagaimana orang-orang yang ada di dalam ruangan ini menatap heran pada kami
Terlebih karena saat ini aku hanya menggunakan baju tidur tipis dan tanpa memakai alas kaki pula
Segera kami masuk kedalam lift dan setelah lift terbuka kembali pemuda tadi menarik tanganku
Di depan sebuah ruangan bertuliskan pimpinan, pemuda yang menarik tanganku mendorong kasar pintu dan aku sontak menghentikan langkahku ketika aku melihat ruangan ini amat sangat berantakan.
Kulihat meja kursi terbalik dan ada pecahan kaca juga, belum lagi kertas yang berserakan
Disudut kulihat Hendri menyandarkan tubuhnya ke tembok sambil menengadahkan wajahnya dengan menatap kosong keatas
Spontan aku langsung melangkahi kertas yang berhamburan dan aku sedikit menjerit tertahan ketika kakiku menginjak pecahan kaca
Aku berjalan menjinjit karena aku yakin pecahan kaca yang kecil masuk kedalam daging kakiku
"Kamu kenapa Hen?" secepat kilat aku berjongkok di depannya sambil menangkup wajahnya
Kulihat wajah Hendri basah dan matanya sangat merah
"Kamu kenapa lagi? tanyaku panik dan tanpa sadar air mataku mengalir
Lalu kuangkat tangannya, dan betapa kagetnya aku ketika kembali kulihat jika tangan Hendri kembali luka dan kali ini sangat parah
Tangisku langsung pecah dan aku refleks mengelap lukanya dengan bajuku
"Kamu jangan hanya berdiri, cepat panggil dokter!!!" teriakku pada pemuda yang sejak tadi berdiri terpaku
Pemuda itu berlari sedangkan aku kembali mengelap luka di tangan Hendri dengan masih terus menangis
"Bisa nggak kamu jangan menyakiti diri kamu Hen"
Hendri hanya diam melihatku menangis, dan tak berbuat apa-apa ketika aku mengelap lukanya
"Kamu selalu buat aku khawatir, kamu pikir kamu siapa, hah?"
Hendri masih diam mendengar ku mengomelinya. Kulihat dia meringis kesakitan ketika aku mengelap lukanya
__ADS_1
"Kamu buat aku khawatir Hen...." isak ku