Istri Yang Tergadaikan

Istri Yang Tergadaikan
Teror


__ADS_3

Mendengar Alika berteriak, pak Yohannes yang berdiri di depan kelas segera melesat masuk


Segera di peluknya Alika yang wajahnya memucat, dan Alika yang mengetahui jika yang memeluknya pak Yohannes, langsung memeluk erat pinggang bodyguard yang sejak setahun ini menjaganya


Bu guru yang tadi kaget ketika membuka kantong kresek, sekarang telah mundur dan kembali ke mejanya, duduk dengan wajah menegang


Teman sekelas Alika yang semula berkerubung mendengar Alika berteriak sebagian kembali ke kursi mereka masing-masing dan wajah mereka juga menyiratkan ketakutan


"Silent please...." ucap bu guru dengan suara bergetar


Pak Yohannes yang melirik isi kantong kresek segera menenangkan Alika dan membujuk gadis itu untuk duduk kembali


Setelah Alika duduk, dengan cepat Pak Yohannes mengambil kantong kresek hitam tersebut dan membawanya keluar


Sampai di samping sekolah segera dibukanya kembali isi kantong tersebut


Di dalam kantong kresek hitam tersebut terdapat sebuah kepala domba lengkap dengan tanduknya


Dengan menahan geram pak Yohannes berdiri lalu membuang kantong kresek tersebut ke tong sampah


Diambilnya hp yang ada dalam saku celananya, menghubungi dua bodyguard yang lain


"Pagi ini ada kepala domba di kantong kresek, yang diletakkan di laci nona Alika" lapornya pada kedua bodyguard yang lain


"Kalian cepat bergerak, jangan sampai nona Khayla dan nona Mutiara mengalami teror yang sama"


Begitu mendapat laporan dari pak Yohannes, pak David dan pak Ibram langsung masuk ke kelas Khayla dan Mutiara


"Bapak kenapa?" tanya Khayla kaget ketika pak Ibram masuk langsung menuju ke mejanya


"Excuse me sir" ucapnya ketika beliau masuk dan langsung menuju meja Khayla


"Nona Alika mendapat teror, saya tak ingin nona juga mengalami hal yang sama"


Wajah Khayla langsung menegang begitu mendengar perkataan pak Ibram


Dia segera berdiri dan memberi ruang pada bodyguardnya tersebut untuk memeriksa laci mejanya


"Tidak ada apa-apakan pak?" ucap Khayla meyakinkan bodyguardnya tersebut bahwa lacinya kosong


Pak Ibram mengangguk kearah Khayla, lalu sedikit menganggukkan kepalanya kearah guru yang memandang curiga padanya, kemudian pak Ibram keluar dari kelas tersebut


Sampai di luar kelas, dia langsung memberi laporan pada pak Yohannes jika Khayla aman


Sedangkan di tempat lain, pak David melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan pak Ibram, tapi sama seperti Khayla, Mutiara juga aman


"Bagaimana ini?, apa kita perlu lapor bos?"


"Iya, karena jika nona Alika yang memberitahu Bos, kita yang habis dimarah oleh Bos"


"Jadi siapa yang akan memberitahu bos?"


"Kamulah Nes, kan kamu yang menjaga Nona Alika"


"Baiklah jika begitu"


Akhirnya setelah kembali melihat kedalam kelas, dan dilihatnya jika Alika kembali seperti biasa, Pak Yohannes segera menghubungi Hendri


Dan Hendri yang saat itu sedang fokus bekerja, segera menoleh kearah hpnya saat benda tersebut berdering


"Ada apa?" tanyanya dingin


"Begini bos, nona Alika mendapat teror"


Hendri langsung membenarkan posisi duduknya

__ADS_1


"Teror apa?"


Lalu pak Yohannes menceritakan apa yang terjadi pada Alika. Dan wajah Hendri yang mendengarkan langsung berubah tegang, rahangnya mengeras dan dia langsung berdiri dari kursinya, bergegas keluar dari kantor


Marko yang melihat bosnya berjalan tergesa, segera berdiri dan berlari dari ruangannya


"Bos?" teriak Marko


Hendri tak menjawab apalagi menoleh kearah Marko yang berlari di belakangnya


"Handle sebentar pekerjaan saya, saya mau ke sekolahan Alika"


Marko langsung mengerti ketika Hendri menyebut nama anaknya, itu artinya masalah pribadi, dia tak berani ikut campur


Wajah dingin dan marah Hendri ketika berjalan keluar dari kantor membuat karyawan yang melihatnya langsung menundukkan kepala mereka


Dengan cepat Hendri masuk kedalam mobilnya lalu bergegas keluar dari area kantor


Melajukan mobil dengan ngebut menuju sekolah Alika. Dan langsung bergegas turun begitu sampai di sekolah tersebut


Wajah garang Hendri dipaksakan nya bersikap ramah ketika pihak keamanan sekolah menanyakan apa tujuannya


Dan security yang telah tahu apa yang terjadi pada Alika langsung membawa Hendri menuju ruang kepala sekolah


Saat berhadapan dengan kepala sekolah, kembali Hendri berusaha sekuat tenaganya menahan emosinya


Dan pihak sekolah meminta maaf atas keteledoran mereka sehingga insiden yang tidak seharusnya terjadi akhirnya bisa menimpa Alika


"Tolong periksa cctv pak, saya mau tahu siapa yang telah berani meneror anak saya"


Pihak sekolah akhirnya menuruti permintaan Hendri, dan secara bersama-sam mereka memeriksa rekaman cctv


Hendri mengumpat dalam hati ketika wajah orang yang masuk kedalam kelas anaknya tidak terlihat karena pria itu memakai masker dan juga saat dia masuk bertepatan dengan tengah malam


"Tolong ditingkatkan lagi keamanan sekolahnya, jika sekali lagi terulang, sekolah ini akan saya tuntut" ucapnya dingin sambil berdiri


"Saya antarkan pak, kebetulan saya wali kelasnya" jawab seorang perempuan


Hendri menoleh pada perempuan itu, lalu menganggukkan kepalanya


Hendri berjalan dengan gaya maskulinnya dan menatap dingin pada pak Yohannes yang segera berdiri tegap ketika dilihatnya Hendri berjalan kearahnya


"Bos....?" sapanya


Hendri hanya melirik kearah pak Yohannes, sedangkan perempuan yang mengaku wali kelas Alika tadi masuk ke kelas dan keluar sambil memegang bahu Alika


"Papi...." teriak Alika ketika dilihatnya papinya berdiri di samping kelasnya.


Hendri langsung menangkap tubuh Alika yang berlari menghambur ke pelukannya


"Tenang sayang ya, jangan takut. Ada papi"


Alika masih terus memeluk Papinya


"Bisa anak saya, saya bawa pulang duluan bu?"


Wali kelas Alika mengangguk, dan beliau kembali masuk kedalam kelas mengambilkan tas Alika yang langsung diambil oleh pak Yohannes


"Maaf ya bu, Alika nya saya bawa pulang duluan" pamit Hendri


Wali kelas Alika mengangguk dan mengusap kepala Alika


Dengan menggenggam sayang tangan Alika, Hendri membawanya masuk kedalam mobil


"Kamu yang bawa mobil!" ucapnya sambil memberikan kunci mobil pada pak Yohannes

__ADS_1


Hendri yang duduk di bagian tengah dengan Alika, begitu mereka duduk langsung meraih kepala anak gadisnya dan diletakkannya di dadanya, dengan sayang Hendri menciumi puncak kepala Alika, dan Alika hanya diam, tampak sekali dia masih ketakutan


"Kekantor apa ke rumah bos?" tanya Pak Yohannes ketika mereka telah di jalan raya


"Langsung ke rumah"


Pak Yohannes mengangguk. Dan tak menunggu waktu lama, mobil yang dikendarai pak Yohannes telah berada di depan pagar istananya


Pak Yohannes segera mengklakson yang membuat pak Puji yang berjaga segera berlari


Tapi langkahnya seketika berhenti ketika tepat di depan pagar dia menemukan sebuah kardus besar


Pak Yohannes yang sejak tadi melihat kardus besar tersebut juga melihat kekagetan di wajah pak Puji


Dengan agak kesusahan pak Puji menarik paksa kardus besar tersebut agar menjauh dari depan pagar


"Ada apa?" tanya Hendri dingin karena sejak tadi mobil belum juga masuk


"Di depan pagar ada kardus besar tuan"


"Kardus?, kardus apa?"


"Tidak tahu tuan, tapi pak Puji telah menyingkirkannya"


Saat mobil masuk, Alika melongok kan kepalanya keluar jendela dan melihat kardus besar yang sekarang berada agak di tepi


Saat mobil berhenti, Hendri menoleh kearah Alika dan menatap gadis kecilnya dengan dalam


"Alika naik duluan ya nak, papi mau lihat apa isi kardus itu"


"Tapi pi?" tampak sekali khawatir di wajah Alika


Dengan sayang kembali Hendri mengusap kepala Alika


"Tidak akan ada apa-apa sama papi, ya?"


Alika mengangguk lalu dengan ragu dia turun dari mobil.


Pak Yohannes yang sejak tadi telah membuka pintu mobil langsung membawa Alika masuk dan langsung memberikannya pada bik Ning yang tampak kaget ketika melihat anak majikannya sudah pulang


Begitu Alika telah di dalam dengan bik Ning, Pak Yohannes langsung berlari cepat kearah Hendri dan pak Puji yang tampak memandang curiga pada kardus yang saat ini sedang dirobohkan oleh pak Puji


Di atas kardus tersebut tertulis kepada siapa kardus tersebut di tujukan


"Khayla Malengka"


Rahang Hendri langsung mengeras ketika membaca tulisan dari spidol hitam yang ada di atas kardus


"Biar kami yang buka bos" cegah pak Yohannes ketika tangan Hendri terulur hendak menarik lakban yang merekat di kardus tersebut


Tangan Hendri yang telah terulur ditariknya kembali


Dengan cepat dan tanpa merasa takut, pak Yohannes langsung menarik kasar lakban yang merekat kuat di atas kardus


Wajah Hendri seketika menegang ketika kardus tersebut dibuka, di dalam kardus tersebut ternyata berisi sebuah manekin yang wajahnya telah di coret-coret


Dan ketika isi kardus tersebut di tumpahkan, ternyata isinya bukan hanya manekin ternyata ada juga benda lain yang mirip potongan kayu dan ada juga beberapa pecahan kaca, bahkan manekin tersebut sudah tidak utuh lagi bentuknya, tangan dan kakinya tampak dilepas dengan sengaja


"Dear Khayla, ini juga akan terjadi padamu jika kamu berani macam-macam sama saya"


Hendri meremas kertas tersebut dengan emosi sampai rahangnya mengeras dan wajahnya merah padam


Dipungutnya manekin tersebut, ternyata selain manekin ternyata ada juga beberapa lembar foto Khayla


"Kurang ajar, berarti orang ini telah lama mengincar anakku" geramnya karena itu adalah foto Khayla saat sekolah dan juga saat dia hang out dengan adik-adiknya dan juga saat dia hang out dengan teman-temannya

__ADS_1


"Ibram, jaga Khayla, jangan sedetikpun dia lengah dari pengawasanmu!" ucapnya dengan menggeram menahan marah ketika menelepon pak Ibram


__ADS_2