
"Sudah kubilang, kamu itu kacung ku, bawahanku, kamu harus menuruti semua perintahku, ngerti kamu??!"
"Iya Hen, maaf..." lirihku
Hendri masih tak memperdulikan kesakitanku, dia terus saja mencengkeram kuat rahangku
"Tolong lepas Hen, sakit...."
Hendri menepis kasar wajahku lalu dengan suara memburu dia menendang sofa
Aku segera mengangkat kedua tanganku melindungi wajahku ketika Hendri berbalik ke arahku
Kali ini Hendri tak lagi menarik rahangku, melainkan menarik kasar tanganku dan mendorong kuat hingga aku terduduk kasar di atas sofa
"Kalian sama anak-anak itu?"
Aku yang telah terisak segera mengangkat wajahku dengan tegang
"Tolong jangan Hen...." mohon ku memelas ketika kulihat Hendri berbicara di hp
Hendri menepis tanganku yang menarik tangan kirinya
"Arahkan kamera pada mereka bertiga!"
Aku menggeleng kuat ketika kulihat ketiga anakku bersama dua pria besar yang duduk di kanan kiri mereka
"Tolong jangan Hen..."
Aku segera menjatuhkan diriku di kaki Hendri
"Aku minta maaf Hen, tolong maafkan aku"
"Aku janji, aku tidak akan berbicara dengan lelaki manapun juga, aku janji. Aku mohon Hen jangan sakiti mereka"
Hendri menarik kakinya yang kupeluk dan aku tak tinggal diam, aku terus merangkak ke kakinya, kembali memeluk kakinya dan menangis meminta pengampunannya
"Aku yang bersalah Hen, bukan mereka. Mereka tidak tahu apa-apa. Jika kamu marah, kamu siksa saja aku, jangan mereka"
Hendri kembali menarik kakinya dengan kasar yang membuatku jatuh kebelakang
Aku segera bangkit dan mengejarnya yang berjalan kearah pintu
Dengan cepat Hendri mengunci pintu dan aku hanya bisa memukul keras pintu sambil terus berteriak memanggil namanya
"Tolong Hen, jangan sakiti mereka" lirihku frustasi dengan merosot kan tubuhku kelantai dengan berurai air mata
Aku segera berjalan kearah lemari mengambil hp yang sejak kemarin aku tinggalkan
Segera mendial nomor Hendri, tersambung tapi tak diangkatnya. Dengan perasaan campur aduk aku terus mendial nomornya
Dan Hendri yang berada di dalam mobil hanya membiarkan hpnya berdering ketika dilihatnya jika yang menelepon adalah Linda
"Ada apa denganmu Hendri, kenapa kamu marah tanpa sebab pada perempuan itu" makinya dalam hati
Aku hanya bisa menelungkupkan tubuhku di atas kasur ketika Hendri tidak menjawab teleponku
"Ya Tuhan jagalah ketiga anakku" ratap ku pilu
Sementara di tempat lain, Rihanna dan kedua adiknya sedang bermain di taman yang tak jauh dari rumah mereka dengan pengawalan tiga orang anah buah Hendri
Ketiga anak itu sudah akrab dengan tiga pengawal mereka, karena mereka telah diberitahu oleh uncle mereka, Hendri, jika mereka memiliki pengawal pribadi mulai sekarang
__ADS_1
Alasan yang diberikan Hendri pada mereka adalah karena ayah mereka sibuk di kantor sehingga tidak ada orangnya menjaga mereka, karena mama mereka sekarang tidak serumah lagi dengan mereka
...----------------...
Semalaman aku tak bisa tidur, aku hanya membolak balikkan badanku dengan gelisah
Kembali bayangan ketiga anakku ketika kulihat di hp Hendri tadi melintas di kepalaku
Karena aku masih tak tenang aku kembali mencoba menghubungi nomor Hendri
Aku yakin Hendri belum tidur, dan aku yakin dia masih berada di ruang kerjanya
Hendri kembali mendecak kesal melihat kearah hp dan mereject panggilan tersebut
Aku hanya menatap nelangsa pada hp karena Hendri mengabaikan panggilanku
Hen aku minta maaf, tolong masalah ini jangan libatkan ketiga anakku
Bukankah aku telah berjanji untuk menuruti apapun perintahmu? lantas mengapa kau masih menggunakan ketiga anakku untuk mengancam ku?
Aku mohon Hen, tolong jangan apa-apakan anakku. Kamu boleh melakukan apapun padaku, tapi tidak pada mereka
Terkirim dan centang dua
Hendri kembali menoleh kearah hpnya, lalu membuka pesan masuk. Membaca pesan yang dikirim Linda lalu meletakkan kembali hp tanpa berniat sedikitpun membalasnya
Aku yang melihat jika pesanku sudah terbaca berharap jika Hendri akan membalas pesanku, tapi hingga beberapa menit dan sampai dini hari tak juga ada pesan balasan darinya
Dengan menarik nafas panjang aku yang hanya bisa menonton tivi segera menarik selimut dan menekan tombol off hingga layar tivi menjadi gelap
Aku berusaha memejamkan mataku tapi sedetikpun aku tak bisa memicingkan mataku
Hingga akhirnya pagi datang aku yang duduk di tepi jendela segera membuka jendela dan menarik nafas dalam-dalam
Lampu yang berada di luar hotel dan jalan raya mulai padam dan aku masih duduk di tempatku dengan memeluk lututku
Pintu diketuk dan muncul anak buah Hendri
"Kami mendapat tugas untuk menjaga mbak lagi" ucap mereka
Aku membuang mukaku mendengar ucapan mereka dan kembali menatap kosong keluar jendela
Karena aku tak memperdulikan mereka, ketiganya pergi dan berganti pelayan yang masuk dengan mendorong meja troli
"Ini mbak sarapannya"
Aku tak menyahut, apalagi menoleh, bahkan ketika pintu ditutup kembali aku masih saja menatap kosong keluar jendela
Bayanganku menerawang tentang kebahagiaan ku dan keluarga kecilku, perhatian dan kasih sayang Agung padaku, sifat manja ketiga anakku, makin membuat dadaku sesak
Sepuluh tahun bersama tentulah begitu banyak kenangan antara aku dan Agung. Kami yang dulu saling mencintai akhirnya melabuhkan cinta kami dalam pernikahan
Aku kembali hanya bisa mengusap air mata yang mengalir di wajahku ketika teringat bagaimana teganya Agung memberikanku pada Hendri
Aku makin terisak karena aku makin tak bisa bertemu dengan ketiga anakku, apalagi ditambah dengan ancaman keselamatan mereka dari Hendri yang makin membuatku stress
BRAAKKKK!!!!
Aku langsung berdiri ketika pintu didobrak kasar dari luar. Dengan cepat aku mengusap wajahku ketika kulihat Hendri berdiri di depan pintu dengan menatap marah padaku
"Jadi kamu belum siap??!"
__ADS_1
Aku tercekat, dengan cepat aku berlari masuk kedalam kamar mandi dan dengan terburu aku menyiramkan air ke seluruh tubuhku
Selesai itu aku langsung keluar dari dalam kamar mandi dan langsung membuka lemari dengan terburu pula
Mengambil baju dan underwear lalu kembali masuk kamar mandi dan berganti baju di sana
Semuanya kulakukan dengan terburu. Sama halnya dengan memakai make up dan hand body, aku memakainya juga dengan terburu
Segera aku berlari mengambil sepatu dan memakainya lalu berdiri di depan Hendri yang duduk santai di sofa
Hendri mendongak melihat ke arahku yang telah siap, menatap dengan tajam lalu berdiri
Kembali wajahku dicengkeramnya dan aku hanya menelan ludah dengan ketakutan
Hendri memiringkan wajahku ke kanan ke kiri lalu melepasnya dan berjalan mendahuluiku
Aku menarik nafas dalam ketika Hendri tidak menyakitiku dan segera berjalan terburu mengekor di belakangnya
Kembali di dalam mobil kami hanya diam tak bersuara. Hingga akhirnya mobil sampai di kantor dan aku segera turun dan berdiri di samping mobil menunggu Hendri turun
Setelah Hendri turun aku segera berjalan di belakangnya dengan menundukkan kepalaku
Kembali pandangan aneh aku terima dari karyawan yang melihat kami masuk
Bahkan ketika kami masuk lift pandangan takut dan penasaran mereka masih aku tangkap dengan jelas
Aku terus menundukkan kepalaku saat kami berjalan kearah ruangan Hendri
Begitu sampai di ruangannya Hendri segera duduk di kursinya dan aku segera mengambil laptop lalu kembali membuka dokumen yang kemarin aku pelajari
Saat aku fokus menatap layar laptop, pintu diketuk dan aku yang duduk di lantai segera mendongakkan kepalaku kearah Marko yang masuk
"Maaf bos, laptop mbak Linda sudah saya letakkan di ruangan bos"
Hendri hanya mengangguk dan melirik ke arahku yang terus menunduk
Dapat kulihat Marko melihat ke arahku dengan menganggukkan kepalanya dan tersenyum ke arahku
Aku tak membalas anggukan kepala dan senyumannya padaku melainkan aku terus menatap layar laptop dengan degup jantung yang berdebar kencang
Aku terus mempelajari dokumen yang kemarin diajarkan Marko padaku
Sedangkan Marko yang kembali ke ruangannya dapat melihat dengan jelas perubahan sikap dingin Linda padanya
"Pasti telah terjadi sesuatu pada Linda, jika tidak, tidak mungin dia secepat ini berubah padaku"
Aku yang ketakutan terus fokus bekerja, tanpa memperdulikan sekitarku lagi
Entah sudah berapa jam aku berkutat dengan dokumen ini, dan akhirnya lama kelamaan aku mengerti juga
Hendri yang memperhatikan Linda dari tempat duduknya hanya melirik dengan tatapan tajam dan dingin
Aku menutup mulutku yang berkali-kali menguap dan berusaha melotot kan mataku agar tak tertidur
Bahkan aku harus bolak balik kamar mandi membasuh wajahku agar kantuknya pergi
Dan Hendri yang memperhatikan Linda keluar masuk toilet dengan wajah basah semakin yakin jika perempuan itu tidak tidur semalaman
Apalagi ketika tadi pagi dilihatnya mata wanita itu sembab dengan kantung mata panda yang jelas sekali terlihat
Aku kembali duduk di depan laptop dan kembali berusaha mati-matian menahan kantuk hingga akhirnya aku yang kalah dan tertidur
__ADS_1