
Aku terbangun ketika aku merasa kaget akan terjatuh. Aku langsung melihat selimut yang menutup di tubuhku
Lalu aku berpaling kearah ranjang, kosong. Tak ada Hendri di sana. Lalu aku menyibakkan selimut dan duduk sambil mengerjap-ngerjapkan mataku
Aku memasang telingaku lamat-lamat, siapa tahu Hendri di kamar mandi, tapi suasana kamar sepi
Dengan memberanikan diri aku bangkit dan berjalan kearah kamar mandi
Perlahan aku menempelkan telingaku ke daun pintu berusaha menguping jangan-jangan ada Hendri di sana. Masih hening
Dengan pelan aku mengetuk pintu dan memanggil nama Hendri
"Hen...?, Hen, kamu di dalam?"
Sepi tak ada sahutan, kembali aku mengetuk dan memanggil nama Hendri, tapi masih tak ada sahutan
Dengan ragu aku mendorong pintu kamar mandi, dan aku menarik nafas lega karena kamar mandi itu kosong, itu artinya Hendri sudah pergi
Lalu aku berjalan kearah ranjang, merapikan seprai yang sedikit kusut, dan aku tertegun ketika kulihat ada sebuah cincin yang aku temukan di bawah bantal
Aku amati cincin tersebut
"Bagaimana bisa dia melupakan cincin ini?" gumamku sambil meletakkan cincin tersebut kedalam lemari
Dan aku kembali ragu apakah aku harus memberitahu Hendri jika cincinnya ketinggalan atau biarlah nanti akan aku memberikan padanya ketika dia kesini
Karena ragu dan takut akhirnya aku menyimpan cincin tersebut dan menutup lemari
Kulihat di luar sudah mulai gelap dan aku menutup jendela kamar, dan kembali duduk di dekat sofa
Kulihat meja troli bekas Hendri makan tadi masih ada sisa makanannya
Dari pada makanan ini terbuang, mending makanan ini aku makan nanti untuk makan malamku, batinku
Kembali aku duduk melamun, terpikir dengan ketiga anakku
......................
Sementara ketiga anak Linda di rumah mulai bertanya terus pada papa mereka tentang keberadaan mama mereka
"Mama kalian pergi meninggalkan kita" selalu itu jawaban Agung
Tapi ketiga anaknya tidak ada yang percaya, mereka tetap yakin jika mama mereka tidak mungkin meninggalkan mereka
"Mama kemana pa, kami mau ketemu mama"
Agung yang mulai frustasi dengan desakan ketiga anaknya mulai emosi
Dia membentak ketiga anaknya yang membuat 3R, Rihanna, Roshan, dan Raihan jadi ketakutan
"Mulai sekarang jangan pernah bertanya kemana mama kalian, mulai sekarang kalian tinggal dan hidup sama papa. Lupakan mama kalian!!!"
Ketiganya menangis dan berlari masuk kamar mereka dan tinggallah Agung yang mengusap kasar rambutnya dengan serba salah
Sedangkan Hendri di rumahnya hanya mengobrol dan bercengkrama dengan Alika, kedua anak gadisnya lebih memilih naik ke kamar mereka, dan Nia, istrinya sama seperti dua anak gadisnya, sibuk berselancar di dunia maya
Bahkan terkadang Nia sibuk berbelanja online.
Hendri hanya melirik sesekali kearah istrinya yang terkadang senyum-senyum sendiri bahkan sampai cekikikan di depan hp
"Papi besok mau ke kota B, Alika mau oleh-oleh apa?"
Alika yang duduk dipangkuan Hendri kembali melingkarkan kedua tangannya di leher sang papa
"Alika cuma pengen papa pulang cepat terus setiap hari, biar Alika ada teman di rumah"
Hendri tersenyum sambil menempelkan hidungnya kehidung Alika, dalam hati dia merasa kasihan pada gadis bungsunya yang tidak mempunyai teman di rumah kecuali asisten rumah tangga
Mami dan kedua kakaknya jika di rumah akan lebih sibuk dengan smartphone mereka masing-masing
__ADS_1
Belum lagi Nia, sang mama akan lebih sibuk keluar dan berkumpul dengan teman sosialitanya
"Papa perginya lama?"
Hendri tersenyum dan mengangguk. Wajah Alika langsung berubah masam
"Papi janji, ketika papi pulang, papi akan meluangkan waktu sebanyak-banyaknya untuk Alika"
Wajah Alika langsung berubah cerah kembali, dan Hendri hanya tersenyum melihat anak gadisnya tersenyum sumringah
Ketika sudah jamnya tidur, Hendri masih dengan manja menggendong gadis bungsunya
Membawanya kedalam kamar, dan ikut berbaring di sebelah Alika, membelai rambut Alika dengan sayang hingga akhirnya gadis itu terlelap
Setelah Alika terlelap, Hendri mengecup keningnya dan menyelimuti Alika, barulah setelah itu dia keluar dari kamar Alika dan masuk keruang kerjanya
Kembali Hendri fokus menatap laptop. Hingga berjam-jam dia di ruang kerjanya
Nia yang sudah hafal kebiasaan suaminya jika sudah berada di ruang kerjanya bisa sampai besok pagi, membiarkan saja dan memilih tidur sendiri
Sedangkan asisten rumah tangga yang dimintai Hendri untuk mengantarkan kopi cappuccino keruang kerjanya telah pergi dari tadi dari sana
Saking fokusnya bekerja, Hendri sampai mendecak kesal ketika mengangkat cangkir yang ternyata kosong
Dengan segera diraihnya hp yang terletak dipinggir laptop, lalu mendial nomor istrinya.
Karena Hendri tahu, hp istrinya itu diletakkannya di atas meja sebelah ranjang setiap dia mau tidur
Tersambung tapi tak diangkat, dilihatnya lagi oleh Hendri pukul berapa sekarang sehingga istrinya tidak mengangkat panggilannya
Jam di hp menunjukkan pukul 02.00 dini hari, dan dilihatnya juga jika istrinya terakhir aktif di WhatsApp setengah jam yang lalu
Dengan menarik nafas dalam akhirnya Hendri mengalah dan turun kebawah
Berjalan menuju dapur dan menyeduh kopi sendiri, setelah selesai dia naik lagi keatas
Iseng, didialnya nomor Linda.
Dan aku yang nyenyak sontak terjaga ketika hp berdering, dengan malas aku menjulurkan tanganku meraih hp di atas meja yang ada di pinggir ranjang, melihat jam jika sekarang pukul 02.15
"Ya Tuhan, Hendri nggak ada kerjaan lain apa?" gerutuku
"Ya Hen?"
Hendri menjauhkan hp dari telinganya dan meyakinkan dirinya jika memang panggilannya di jawab Linda
Setelah dilihatnya waktu panggilan berjalan, yakinlah dia jika panggilannya memang diangkat Linda
Aku menatap hp bengong karena tidak ada sahutan dari Hendri. Karena penasaran aku kembali meletakkan hp di telinga dan memanggil Hendri lagi
"Halo Hen, kamu di sana kan?, ada apa?"
Hendri diam tak menjawab, dia hanya mendengarkan suara Linda saja
"Hen?" ulang ku
Tiba-tiba khawatir menyelimuti dadaku. Jangan-jangan yang meneleponku Nia, bukan Hendri
Secepat kilat panggilan Hendri aku putus dan aku meletakkan kembali hp di atas meja dengan takut
Hendri kembali menatap hp karena panggilannya diputus sepihak.
Kembali dia mengulangi panggilan, dan aku yang baru saja meletakkan hp kembali kaget ketika layar hp menyala dan tampil nama Hendri
Kali ini aku mengabaikan panggilan Hendri karena aku masih deg-degan, dan akhirnya panggilan berakhir dan aku menarik nafas lega
Hendri kembali menatap layar hpnya dan mendecak kesal karena panggilannya diabaikan Linda
Karena teleponnya tak diangkat, Hendri mengetik pesan
__ADS_1
Kenapa jam segini kamu belum tidur?
Ting...
Aku mengambil hp ketika benda itu berdenting tanda pesan masuk, dan membuka pesan dari Hendri
Sekedar membaca tanpa berniat membalas
Hendri yang melihat jika pesannya centang dua dsn berwarna biru cuma tersenyum, dan berharap jika Linda membalas
Tapi hingga lima menit berikutnya masih juga tak ada balasan dari Linda
Dengan menarik nafas panjang dan senyum tipis dia kembali meneruskan pekerjaannya hingga satu jam berikutnya
...----------------...
Seperti biasa Nia akan membuka matanya ketika ketiga anaknya berpamitan padanya
Kali ini Khayla anak pertamanya yang duduk di kelas dua belas seperti celingukan karena tidak melihat papinya di sebelah maminya
"Papi pasti di ruang kerja" decak Mutiara memutar matanya dengan malas
Ketiganya masuk keruang kerja papinya, dan benar di sana mereka mendapati papinya tidur di sofa
Dengan sayang Alika mencium kedua pipi papinya, yang membuat Hendri refleks membuka matanya
Hendri memasang senyum ketika dilihatnya ketiga anaknya berdiri di depannya
Secara bergantian ketiga anak gadisnya mengecup pipi Hendri dan Hendri membalas dengan mengusap sayang kepala mereka
"Papi jadi keluar kota?" tanya Alika
Hendri menurunkan kakinya ke lantai sambil mengangguk
Khayla dan Mutiara langsung memasang wajah cemberut
"Hanya satu minggu" lanjut Hendri demi dilihatnya wajah kedua anak gadisnya cemberut
Khayla dan Mutiara tak perduli lagi, mereka segera ngeloyor pergi dengan wajah masih ditekuk
Setelah ketiga anaknya keluar, Hendri pun keluar dari ruang kerjanya. Masuk kedalam kamar pribadinya dan melihat jika istrinya masih di dalam selimut
"Nia, siapkan pakaianku, aku akan keluar kota pagi ini"
"Hemmmm" hanya itu jawaban Nia
Karena istrinya telah menjawab, Hendri segera masuk kedalam kamar mandi dan mengguyur badannya
Lima belas menit kemudian ketika dia keluar ternyata istrinya masih di dalam selimut
"Nia bangun, siapkan pakaianku, aku akan keluar kota!"
Masih tak ada sahutan. Dengan kesal Hendri membuka lemari dan berganti pakaian, lalu segera mengambil koper dan menyiapkan sendiri pakaian yang akan dipakainya
Lalu dia keluar dari dalam kamar dan berjalan keruang kerjanya.
Mengambil laptop, lalu turun kebawah. Ketika dia tiba di bawah, Marko, tangan kanannya telah ada di ruang tamu
Melihat Hendri menuruni tangga, dengan cepat Marko berlari kecil dan mengambil koper dan laptop yang Hendri bawa lalu bergantian dia yang membawanya sekarang
Hendri yang rambutnya di kuncir cepol makin tampak gagah karena dia memakai kaos oblong dipadukan dengan jeans, terlihat sangat santai namun sangat berkelas
"Semua sudah kamu urus?"
Marko mengangguk cepat
"Sudah semua pak"
Hendri segera masuk kedalam mobil pribadinya yang kali ini dikemudikan oleh supir, karena dia minta diantar ke bandara
__ADS_1