Istri Yang Tergadaikan

Istri Yang Tergadaikan
Keluar Kota


__ADS_3

Aku terbangun ketika aku merasa kaget akan terjatuh. Aku langsung melihat selimut yang menutup di tubuhku


Lalu aku berpaling kearah ranjang, kosong. Tak ada Hendri di sana. Lalu aku menyibakkan selimut dan duduk sambil mengerjap-ngerjapkan mataku


Aku memasang telingaku lamat-lamat, siapa tahu Hendri di kamar mandi, tapi suasana kamar sepi


Dengan memberanikan diri aku bangkit dan berjalan kearah kamar mandi


Perlahan aku menempelkan telingaku ke daun pintu berusaha menguping jangan-jangan ada Hendri di sana. Masih hening


Dengan pelan aku mengetuk pintu dan memanggil nama Hendri


"Hen...?, Hen, kamu di dalam?"


Sepi tak ada sahutan, kembali aku mengetuk dan memanggil nama Hendri, tapi masih tak ada sahutan


Dengan ragu aku mendorong pintu kamar mandi, dan aku menarik nafas lega karena kamar mandi itu kosong, itu artinya Hendri sudah pergi


Lalu aku berjalan kearah ranjang, merapikan seprai yang sedikit kusut, dan aku tertegun ketika kulihat ada sebuah cincin yang aku temukan di bawah bantal


Aku amati cincin tersebut


"Bagaimana bisa dia melupakan cincin ini?" gumamku sambil meletakkan cincin tersebut kedalam lemari


Dan aku kembali ragu apakah aku harus memberitahu Hendri jika cincinnya ketinggalan atau biarlah nanti akan aku memberikan padanya ketika dia kesini


Karena ragu dan takut akhirnya aku menyimpan cincin tersebut dan menutup lemari


Kulihat di luar sudah mulai gelap dan aku menutup jendela kamar, dan kembali duduk di dekat sofa


Kulihat meja troli bekas Hendri makan tadi masih ada sisa makanannya


Dari pada makanan ini terbuang, mending makanan ini aku makan nanti untuk makan malamku, batinku


Kembali aku duduk melamun, terpikir dengan ketiga anakku


......................


Sementara ketiga anak Linda di rumah mulai bertanya terus pada papa mereka tentang keberadaan mama mereka


"Mama kalian pergi meninggalkan kita" selalu itu jawaban Agung


Tapi ketiga anaknya tidak ada yang percaya, mereka tetap yakin jika mama mereka tidak mungkin meninggalkan mereka


"Mama kemana pa, kami mau ketemu mama"


Agung yang mulai frustasi dengan desakan ketiga anaknya mulai emosi


Dia membentak ketiga anaknya yang membuat 3R, Rihanna, Roshan, dan Raihan jadi ketakutan


"Mulai sekarang jangan pernah bertanya kemana mama kalian, mulai sekarang kalian tinggal dan hidup sama papa. Lupakan mama kalian!!!"


Ketiganya menangis dan berlari masuk kamar mereka dan tinggallah Agung yang mengusap kasar rambutnya dengan serba salah


Sedangkan Hendri di rumahnya hanya mengobrol dan bercengkrama dengan Alika, kedua anak gadisnya lebih memilih naik ke kamar mereka, dan Nia, istrinya sama seperti dua anak gadisnya, sibuk berselancar di dunia maya


Bahkan terkadang Nia sibuk berbelanja online.


Hendri hanya melirik sesekali kearah istrinya yang terkadang senyum-senyum sendiri bahkan sampai cekikikan di depan hp


"Papi besok mau ke kota B, Alika mau oleh-oleh apa?"


Alika yang duduk dipangkuan Hendri kembali melingkarkan kedua tangannya di leher sang papa


"Alika cuma pengen papa pulang cepat terus setiap hari, biar Alika ada teman di rumah"


Hendri tersenyum sambil menempelkan hidungnya kehidung Alika, dalam hati dia merasa kasihan pada gadis bungsunya yang tidak mempunyai teman di rumah kecuali asisten rumah tangga


Mami dan kedua kakaknya jika di rumah akan lebih sibuk dengan smartphone mereka masing-masing

__ADS_1


Belum lagi Nia, sang mama akan lebih sibuk keluar dan berkumpul dengan teman sosialitanya


"Papa perginya lama?"


Hendri tersenyum dan mengangguk. Wajah Alika langsung berubah masam


"Papi janji, ketika papi pulang, papi akan meluangkan waktu sebanyak-banyaknya untuk Alika"


Wajah Alika langsung berubah cerah kembali, dan Hendri hanya tersenyum melihat anak gadisnya tersenyum sumringah


Ketika sudah jamnya tidur, Hendri masih dengan manja menggendong gadis bungsunya


Membawanya kedalam kamar, dan ikut berbaring di sebelah Alika, membelai rambut Alika dengan sayang hingga akhirnya gadis itu terlelap


Setelah Alika terlelap, Hendri mengecup keningnya dan menyelimuti Alika, barulah setelah itu dia keluar dari kamar Alika dan masuk keruang kerjanya


Kembali Hendri fokus menatap laptop. Hingga berjam-jam dia di ruang kerjanya


Nia yang sudah hafal kebiasaan suaminya jika sudah berada di ruang kerjanya bisa sampai besok pagi, membiarkan saja dan memilih tidur sendiri


Sedangkan asisten rumah tangga yang dimintai Hendri untuk mengantarkan kopi cappuccino keruang kerjanya telah pergi dari tadi dari sana


Saking fokusnya bekerja, Hendri sampai mendecak kesal ketika mengangkat cangkir yang ternyata kosong


Dengan segera diraihnya hp yang terletak dipinggir laptop, lalu mendial nomor istrinya.


Karena Hendri tahu, hp istrinya itu diletakkannya di atas meja sebelah ranjang setiap dia mau tidur


Tersambung tapi tak diangkat, dilihatnya lagi oleh Hendri pukul berapa sekarang sehingga istrinya tidak mengangkat panggilannya


Jam di hp menunjukkan pukul 02.00 dini hari, dan dilihatnya juga jika istrinya terakhir aktif di WhatsApp setengah jam yang lalu


Dengan menarik nafas dalam akhirnya Hendri mengalah dan turun kebawah


Berjalan menuju dapur dan menyeduh kopi sendiri, setelah selesai dia naik lagi keatas


Iseng, didialnya nomor Linda.


Dan aku yang nyenyak sontak terjaga ketika hp berdering, dengan malas aku menjulurkan tanganku meraih hp di atas meja yang ada di pinggir ranjang, melihat jam jika sekarang pukul 02.15


"Ya Tuhan, Hendri nggak ada kerjaan lain apa?" gerutuku


"Ya Hen?"


Hendri menjauhkan hp dari telinganya dan meyakinkan dirinya jika memang panggilannya di jawab Linda


Setelah dilihatnya waktu panggilan berjalan, yakinlah dia jika panggilannya memang diangkat Linda


Aku menatap hp bengong karena tidak ada sahutan dari Hendri. Karena penasaran aku kembali meletakkan hp di telinga dan memanggil Hendri lagi


"Halo Hen, kamu di sana kan?, ada apa?"


Hendri diam tak menjawab, dia hanya mendengarkan suara Linda saja


"Hen?" ulang ku


Tiba-tiba khawatir menyelimuti dadaku. Jangan-jangan yang meneleponku Nia, bukan Hendri


Secepat kilat panggilan Hendri aku putus dan aku meletakkan kembali hp di atas meja dengan takut


Hendri kembali menatap hp karena panggilannya diputus sepihak.


Kembali dia mengulangi panggilan, dan aku yang baru saja meletakkan hp kembali kaget ketika layar hp menyala dan tampil nama Hendri


Kali ini aku mengabaikan panggilan Hendri karena aku masih deg-degan, dan akhirnya panggilan berakhir dan aku menarik nafas lega


Hendri kembali menatap layar hpnya dan mendecak kesal karena panggilannya diabaikan Linda


Karena teleponnya tak diangkat, Hendri mengetik pesan

__ADS_1


Kenapa jam segini kamu belum tidur?


Ting...


Aku mengambil hp ketika benda itu berdenting tanda pesan masuk, dan membuka pesan dari Hendri


Sekedar membaca tanpa berniat membalas


Hendri yang melihat jika pesannya centang dua dsn berwarna biru cuma tersenyum, dan berharap jika Linda membalas


Tapi hingga lima menit berikutnya masih juga tak ada balasan dari Linda


Dengan menarik nafas panjang dan senyum tipis dia kembali meneruskan pekerjaannya hingga satu jam berikutnya


...----------------...


Seperti biasa Nia akan membuka matanya ketika ketiga anaknya berpamitan padanya


Kali ini Khayla anak pertamanya yang duduk di kelas dua belas seperti celingukan karena tidak melihat papinya di sebelah maminya


"Papi pasti di ruang kerja" decak Mutiara memutar matanya dengan malas


Ketiganya masuk keruang kerja papinya, dan benar di sana mereka mendapati papinya tidur di sofa


Dengan sayang Alika mencium kedua pipi papinya, yang membuat Hendri refleks membuka matanya


Hendri memasang senyum ketika dilihatnya ketiga anaknya berdiri di depannya


Secara bergantian ketiga anak gadisnya mengecup pipi Hendri dan Hendri membalas dengan mengusap sayang kepala mereka


"Papi jadi keluar kota?" tanya Alika


Hendri menurunkan kakinya ke lantai sambil mengangguk


Khayla dan Mutiara langsung memasang wajah cemberut


"Hanya satu minggu" lanjut Hendri demi dilihatnya wajah kedua anak gadisnya cemberut


Khayla dan Mutiara tak perduli lagi, mereka segera ngeloyor pergi dengan wajah masih ditekuk


Setelah ketiga anaknya keluar, Hendri pun keluar dari ruang kerjanya. Masuk kedalam kamar pribadinya dan melihat jika istrinya masih di dalam selimut


"Nia, siapkan pakaianku, aku akan keluar kota pagi ini"


"Hemmmm" hanya itu jawaban Nia


Karena istrinya telah menjawab, Hendri segera masuk kedalam kamar mandi dan mengguyur badannya


Lima belas menit kemudian ketika dia keluar ternyata istrinya masih di dalam selimut


"Nia bangun, siapkan pakaianku, aku akan keluar kota!"


Masih tak ada sahutan. Dengan kesal Hendri membuka lemari dan berganti pakaian, lalu segera mengambil koper dan menyiapkan sendiri pakaian yang akan dipakainya


Lalu dia keluar dari dalam kamar dan berjalan keruang kerjanya.


Mengambil laptop, lalu turun kebawah. Ketika dia tiba di bawah, Marko, tangan kanannya telah ada di ruang tamu


Melihat Hendri menuruni tangga, dengan cepat Marko berlari kecil dan mengambil koper dan laptop yang Hendri bawa lalu bergantian dia yang membawanya sekarang


Hendri yang rambutnya di kuncir cepol makin tampak gagah karena dia memakai kaos oblong dipadukan dengan jeans, terlihat sangat santai namun sangat berkelas


"Semua sudah kamu urus?"


Marko mengangguk cepat


"Sudah semua pak"


Hendri segera masuk kedalam mobil pribadinya yang kali ini dikemudikan oleh supir, karena dia minta diantar ke bandara

__ADS_1


__ADS_2