
Aku hanya menurut ketika dua orang perempuan itu mulai membersihkan wajahku
"Tapi aku baru keluar dari rumah sakit, dan selama lebih dari satu minggu di rumah sakit aku tidak mandi" ucapku masih dengan nada kebingungan
Salah satu dari perempuan yang mengikat rambutku menghentikan gerakan tangannya
"Kalau begitu mbak kami mandikan dulu"
Aku kembali diam dan dengan pelan keduanya melepaskan pakaian yang menempel di tubuhku, ketika mereka akan melepas tangan baju sebelah kiri aku menggeleng
"Sakit...." lirihku
Dengan pelan wanita itu melepas sling arm yang kembali membuatku harus menggigit kuat bibirku
"Sakit...." kembali aku meringis
Wanita itu menghentikan gerakan tangannya dan menatapku dengan wajah meringis pula
"Terus bagaimana?"
Aku menggeleng
Salah satu dari perempuan yang tadi membersihkan wajahku mengambil hp dan langsung menempelkan di telinganya
"Kami kesulitan melepas bajunya tuan"
Tiba-tiba nafasku rasanya sesak ketika aku menyadari bahwa perempuan itu menelepon Hendri
"Coba lagi saja" ucapku keras kepala dengan berusaha mengangkat tanganku, dan kembali aku menjerit tertahan
Kami semua menoleh kearah pintu ketika kami dengar pintu dibuka. Kembali aku menelan ludah dengan susah payah ketika kulihat Hendri berjalan kearah kami
"Bagaimana, apa yang terjadi?"
Aku menunduk dan melirik takut-takut padanya
"Mana gunting?"
Seorang perempuan mencari gunting dengan cepat, begitu ketemu langsung diberikannya pada Hendri
Masih dengan wajah dingin, Hendri segera menggunting baju yang hanya tinggal bagian tangannya lagi yang belum lepas, lalu melemparnya kelantai
Aku segera menarik kain yang ada di atas meja lalu menutupkannya ke dadaku
"Bawahannya biar kami saja tuan yang mengguntingnya" ucap salah satu perempuan sambil mengulurkan tangannya
Hendri memberikan gunting tersebut lalu berdiri dengan posisi tegak sambil melihat ke arahku yang mendongak menatapnya
Kembali aku meringis ketika tangan perempuan itu tanpa sengaja menyenggol kakiku yang terpasang gips
Ketika gunting telah mendekati bagian pahaku, aku memegang tangan perempuan itu, sambil menggeleng
Perempuan itu langsung mendongak menatap kearah Hendri
"Tuan bisa menghadap kebelakang?"
Aku ikut mendongak menatap kearah Hendri yang menatap tajam ke arahku
"Memangnya kenapa?"
"Aku malu Hen..."
Kudengar Hendri mendecak lalu memutar badannya. Dengan cepat perempuan itu memotong habis sampai ke pinggang lalu segera menarik bagian kanan dengan mudah karena kakiku bagian kanan tidak patah
Perempuan satunya langsung memasangkan kain panjang untuk menutupi tubuhku dan mengambil kain yang ada di dadaku
Segera dililitkan nya kain tersebut ke tubuhku dengan agak kesulitan karena harus mengangkat ku karena harus menutupi bagian pantatku juga
Kini aku hanya memakai kain saja dan kembali menatap mereka dengan bingung
"Kamar mandinya dimana?"
"Di kamar ini ada mbak, mbak akan kami bawa kesana"
Aku mengangguk, dan Hendri memutar badannya dan menunduk melihat ke arahku yang mendongakkan kepala kearahnya
Jakun Hendri naik turun ketika melihat Linda yang hanya terbalut kain, dada dan kakinya terekspos sempurna, yang membuatnya kembali harus mengumpat dalam hati
Kembali salah satu perempuan berjalan meninggalkan kami dan kulihat dia membuka sebuah pintu yang ku ketahui adalah pintu kamar mandi
"Bawa kursi plastik kedalam kamar mandi biar mbaknya bisa duduk di kursi saat kita mandikan"
Perempuan yang telah keluar dari kamar mandi mengangguk dan mengambil kursi plastik yang tak jauh dari tempatku duduk
"Mbak bisa berdiri?"
Aku diam tapi mencoba untuk bangkit
"Aaaahhhh...." teriakku tertahan ketika aku mencoba untuk berdiri
Tubuhku langsung limbung dan dengan cepat Hendri menangkap tubuhku yang nyaris terjatuh
"Aaahhhhh....." kembali aku berteriak kesakitan ketika pundak kiriku ditekan kuat oleh gerakan refleks Hendri tadi
Dengan cepat Hendri melepaskan pegangan tangannya pada pundakku dan menarik tubuhku ke pelukannya
"Apakah itu sangat sakit?"
Aku yang sudah menangis karena kesakitan hanya bisa mengangguk. Kurasakan Hendri mengusap kepalaku
"Terus bagaimana ini tuan?"
__ADS_1
Seperti tersadar aku segera menarik kepalaku dari dada Hendri
Kaki kiri yang kuangkat masih menggantung ketika aku berusaha untuk duduk kembali
Dan tanpa kuduga, Hendri segera mengangkat tubuhku dan aku kembali menatap wajahnya
Dan kembali Hendri mengumpat dalam hati ketika dada dan kaki Linda begitu dekat dengan matanya
Dua perempuan yang tadi tampak kaget dengan gerak cepat Hendri segera mengekor di belakang kami
Hendri segera meletakkan ku di atas kursi dan begitu dua perempuan tadi masuk, dia segera mundur dan berdiri di depan pintu
Aku hanya diam saja ketika salah satu dari perempuan itu menyiramkan air keatas kepalaku yang ikat rambutnya telah dilepasnya
Hendri menelan ludah ketika air mengalir melewati leher Linda yang putih bak pualam
Selesai menyiramkan air ke seluruh tubuhku, mereka mulai menuangkan sabun cair ke spons dan mulai menggosok pelan kulitku
Kembali aku harus meringis ketika spons menyentuh bahu dan tangan kiriku
"Yang pelan mbak, jangan buat dia kesakitan lagi"
Aku langsung menatap kearah Hendri yang nada suaranya terdengar khawatir
Kembali mata kami bertemu dan dengan cepat Hendri melengos
Setelah semuanya selesai, aku berdiri dengan kembali mengangkat kaki kiriku. Dan kedua perempuan tadi segera melepaskan kain yang melilit di tubuhku dan langsung memasangkan handuk
"Sudah tuan"
Hendri menoleh dan segera mengangkat tubuhku kembali.
Dan kali ini jiwa kelelakian Hendri kembali diuji dengan melihat paha Linda yang terekspos karena dia memakai handuk pendek
Aku yang berada di dalam gendongan Hendri menatap wajahnya dengan mengedip-ngedipkan mataku
Sampai di meja rias, Hendri segera meletakkan tubuhku dan kembali dua perempuan tadi sibuk mengeringkan tubuh dan rambutku
Kembali dengan pelan mereka memakaikan hand body ke tubuh dan kakiku
Dan salah satu dari mereka langsung berjalan kearah lemari dan mengeluarkan pakaian
Kembali aku harus menahan sakit ketika dipakaikan underwear. Saking sakitnya nafasku seperti ngos-ngosan
Hendri mendekat, dan menggenggam tangan kananku, dan aku yang tengah kesakitan hanya bisa mencengkeram kuat tangannya
Selesai dengan memakaikan underwear, kembali aku harus menarik nafas panjang ketika salah satu dari mereka hendak memasangkan rok kebaya ke tubuhku
Dengan pelan aku berdiri dengan tangan kananku menumpu pada lengan Hendri ketika rok sudah sampai di lututku. Dengan masih mengangkat kaki kiriku, akhirnya rok tersebut terpasang sempurna.
Tiba giliran memakai kebaya berwarna coklat gold, kembali kedua penata rias ini membutuhkan kesabaran ekstra karena agak sulit memasangnya di tubuhku karena tangan kiriku yang sakit
Selesai semuanya, aku kembali duduk dengan menarik nafas lega dan menatap wajah Hendri dari pantulan cermin yang ada di depanku
Hendri menjauh dari kami ketika hpnya berdering dan kulihat dia berjalan keluar dari dalam kamar
Aku langsung menarik nafas lega ketika Hendri telah keluar, dan kulihat dua perempuan yang sedang mendandaniku tersenyum
"Kenapa mbak?" tanyaku
Mereka masih tersenyum
"Sikap tuan Hendri sangat manis pada mbak, pasti dia pria yang romantis"
Aku hanya tersenyum kaku mendengar pujian mereka
"Romantis?, andai kalian tahu yang sebenarnya" batinku
Cukup lama dua perempuan itu merias wajahku, bahkan saat Hendri kembali ke kamar masih belum selesai juga
"Masih lama?"
Kembali keduanya tersenyum
"Tuan tidak sabar sekali sih" goda mereka tersenyum simpul yang membuat bulu kudukku meremang
"Apa tuan tidak akan memakai beskap?"
"Tidak penting"
Wajahku langsung cemberut mendengar jawabannya
"Tentulah ini tidak penting baginya karena ini hanyalah pernikahan kontrak" batinku
Rupanya perubahan wajahku ditangkap oleh dua perempuan ini yang langsung menggoda Hendri
"Tuh tuan, calon istri tuan ngambek dengar jawaban tuan"
Aku dengan cepat merubah mimik wajahku agar tak ditangkap oleh Hendri yang langsung menatap ke cermin, melihatku
"Jika tuan berkenan, beskapnya pun telah kami sediakan, dan tuan tinggal duduk saja, kami yang akan memakaikannya pada tuan"
Hendri masih menatap ke arahku dan aku segera menatap kearah lain
"Apa perlu saya memakai beskap?"
Kedua perempuan yang sedang merias ku terkekeh
"Tuan ini bagaimana?, ini pernikahan dan momennya akan dikenang sepanjang masa, apa tuan tidak ingin tampil dengan gagah dihari pernikahan tuan?"
Aku hanya diam tak berani berkomentar karena aku tak ingin kena marah
__ADS_1
Kulihat ke cermin lagi, dan ternyata Hendri masih menatap ke arahku
"Baiklah jika begitu"
Aku menarik nafas dalam mendengar jawabannya dan hanya melihat saja ketika dia berdiri melepas tuxedo nya
Salah satu perempuan yang memasangkan hiasan di kepalaku segera menghentikan aksinya ketika aku meringis
"Kenapa mbak?" tanyanya khawatir
"Kepalaku belum sembuh, jika boleh cukup rambutku saja yang ditata, tidak usah dipakaikan hiasan"
Perempuan itu mengangguk dan perempuan yang lain begitu dilihatnya Hendri telah melepas tuxedo segera dia berjalan kearah lemari dan mengambil beskap, lalu mulai memasangkan ke tubuh Hendri
Harus kuakui jika Hendri sangat tampan dengan balutan beskap warna senada dengan kebaya yang ku kenakan
Rambutnya ditata rapi oleh penata rias tadi, lalu wajahnya diberinya sedikit foundation agar lebih segar dan cerah
Aku yang telah selesai di rias sekarang memperhatikan bagaimana perempuan tadi merapikan pakaian Hendri.
Setelah selesai Hendri menatap ke arahku yang masih duduk di kursi, kembali mata kami beradu
Sumpah, dia sangat tampan, wajah dingin dan kakunya seakan hilang ketika dia telah menjelma dengan pakaian pengantin ini
"Siap?"
Aku hanya diam tak menjawab melainkan terus saja memandang kearahnya
"Wah.... mbaknya sepertinya terpesona dengan ketampanan tuan..."
Aku tergagap mendengar godaan dari dua penata rias ini lalu tersenyum malu dengan menundukkan wajahku
"Semua sudah siap?"
Aku mengangkat kepalaku ketika aku mendengar Hendri mengucapkan kalimat itu di hpnya
"Ayo!" Hendri kembali membungkuk di depanku ketika telah memasukkan hp kedalam beskapnya
Aku kembali mengulurkan tangan kananku dan segera mengalungkannya ke lehernya ketika dia mengangkat tubuhku
Aku terus memandang wajahnya yang lurus menatap ke depan ketika berjalan keluar dari dalam kamar
Dan ketika sampai di tangga aku dengan menahan malu menoleh kebawah, kepada seluruh orang yang ada di dalam ruangan ini yang semuanya telah berpakaian rapi, termasuk Marko
Hendri mendudukkan ku disebuah kursi di depan seorang penghulu, kemudian Hendri duduk di sebelahku
"Semuanya sudah siap?"
Aku hanya menelan ludah dengan susah payah, dan degup jantungku berdebar sangat kencang ketika penghulu berkata demikian
Hendri mengangguk dan menoleh sekilas padaku
"Maharnya telah siap?"
Marko mendekat dan meletakkan sebuah kotak besar perhiasan dan sebuah bungkusan kotak warna silver di atas meja
Dan aku hanya bisa melirik kearah Marko yang juga melirik ke arahku
"Jika semuanya telah siap, mari kita mulai proses ijab kabul ini"
Hendri mengulurkan tangannya sedangkan aku hanya bisa menunduk dalam
Kudengar penghulu mengucapkan kalimat akad dan mataku membelalak ketika kudengar mahar yang diberikan Hendri padaku
"Seperangkat perhiasan berlian dan sebuah mobil mewah"
Dengan lancar Hendri mengucapkan kalimat akad dan langsung disambut ucapan sah dari para saksi
Aku langsung memejamkan mataku ketika mendengar kata sah dan meluncurkan dengan pelan air mata yang sejak tadi aku tahan
Dengan gemetar aku mengulurkan tangan kiriku ketika Hendri hendak memasangkan cincin kejari manisku
Aku langsung menghembus nafas berkali-kali ketika kembali rasa sakit itu mendera ku
Seorang perempuan paruh baya yang tadi menyambut kami memegang tangan kiriku yang membuatku refleks menoleh kearahnya
"Masih sakit?" tanyanya
Aku mengangguk, dengan dibantunya memegang tanganku, Hendri akhirnya berhasil menyematkan cincin berlian kejari manis kiriku
Tepuk tangan memenuhi ruangan ini ketika Hendri selesai memasangkan cincin di jariku, dan aku mengulurkan tangan kananku kearahnya dengan ragu
Hendri menerima uluran tanganku dan aku mencium takzim punggung tangannya
Saat aku hendak melepaskan tanganku dari genggaman tangannya penghulu nyeletuk
"Cium kening istri anda tuan, karena sekarang dia telah sah menjadi istri anda"
Mataku membelalak dan degup jantungku kembali berdegup kencang
Hendri segera memegang pelan kepalaku dan aku dengan degup jantung yang berdebar keras memajukan sedikit keningku
Dan dapat kurasakan sebuah kecupan di keningku. Cukup lama Hendri mengecup keningku dan aku yang memejamkan mataku hanya bisa terdiam
Tepuk tangan kembali memenuhi ruangan ketika Hendri mengecup keningku
Dan aku hanya bisa memasang senyum kaku pada penghulu yang tertawa melihat kami
Setelah semua proses akad selesai, kami berdua menandatangani surat nikah dan kembali tepuk tangan terdengar riuh ketika kami selesai menanda tangani buku nikah tersebut
"Teken kontrak seumur hidup" goda penghulu yang membuatku tersenyum getir
__ADS_1
"Bukan pak, tapi kontrak sampai aku melahirkan putra untuknya" batinku