
Aku tersenyum kaku karena anak Hendri tak mengenaliku, wajar sih karena memang kita jarang bertemu, seingat ku, kami berkumpul keluarga besar itu tiga tahun yang lalu ketika kakeknya Agung dan Hendri merayakan ulang tahunnya yang ke 80 tahun
"Alika nggak kenal?"
Alika menggeleng pelan mendengar pertanyaan Hendri, sambil menatap curiga padaku
"Inikan tante Linda, istrinya oom Agung, masa Alika lupa?"
Alika menoleh pada papinya
"Oom Agung itu yang mana?"
Aku menarik nafas panjang
"Ya Tuhan, anak orang kaya memang nggak kenal dengan keluarga yang biasa saja" batinku
"Oom Agung itu anaknya oma Marisa, oma Marisa itu kakaknya oma Giska, oma kamu, mamanya papi"
Alika menatap bingung kearah papinya
"Maksudnya?"
"Maksudnya tante Linda ini istrinya sepupu papi"
"Kok bisa?"
"Iya, karena papi dan oom Agung itu saudara sepupu, karena mamanya papi sama mamanya oom Agung itu saudara kandung"
Alika mengangguk dan mendekat ke arahku sambil mengulurkan tangannya
"Maafin Alika ya tante"
Aku tersenyum sambil menyambut tangannya
"Nggak apa-apa sayang, tante memaklumi karena memang kita jarang sekali ketemu"
Setelah itu kami sama-sama tersenyum, aku melirik kearah Hendri yang masih berwajah datar
Alika membalikkan badannya dan langsung duduk di paha Hendri, aku sedikit merasa ngilu ketika secara tak sengaja tangan Alika mengenai tangan Hendri
Dapat kulihat bagaimana kagetnya Alika ketika melihat Hendri meringis
"Tangan papi kenapa?"
Hendri tak menjawab melainkan terus memejamkan matanya, aku yakin dia menahan sakit
"Ini pasti gara-gara mami, iya kan?"
Hendri membuka matanya dan menggeleng, dan aku menatap serius wajah keduanya
"Alika belum ganti baju, ganti baju dulu ya sayang ya, setelah itu makan, papi mau melanjutkan makan papi"
Alika mengangguk dan meninggalkan ruang kerja papinya
"Ayo suapi aku lagi!"
Aku menurut dan mendekat, lalu kembali menyuapi Hendri
Antara kami berdua masih tak ada yang bersuara, kami sama-sama diam, sampai akhirnya isi piring Hendri habis, aku segera memberinya gelas
"Nggak bisa"
Aku mendecak, akhirnya aku mendekat dan menempelkan gelas di bibirnya, lalu kembali mengelap bibirnya dengan tissue
"Ish, jika bukan karena dia sakit dan nggak ngancam, amit-amit deh" batinku
"Wajah kamu kenapa?"
"Ehm?" jawabku gelagapan
"Kamu nggak ikhlas?"
Aku menarik nafas panjang
"Ikhlas"
Lalu aku segera mengumpulkan piring dan mangkuk meletakkannya kembali ke nampan dan membawanya keluar
Ketika aku di tangga kembali kudengar teriakan. Aku segera melihat ke depan ketika kulihat dua anak gadis Hendri berlari kedalam rumah dengan berteriak menyebut kata "Papi"
"Tante?!" kulihat anak tertua Hendri menatap tak percaya padaku yang berjalan
Aku tersenyum menatapnya
__ADS_1
"Tante ngapain di sini?" ucapnya sambil mengulurkan tangan ke arahku
Mau tak mau, nampan yang tadi kubawa ku letakkan di lantai dan menerima uluran tangannya
Perbuatan Khayla diikuti pula oleh adiknya
"Ini tante siapa ya kak?"
Khayla tersenyum kearah Mutiara
"Ini tuh istrinya oom Agung dek, masa lupa?"
"Oom Agung yang mana sih?"
Aku ikut tersenyum
"Kita emang jarang sekali kumpul-kumpul, kalo nggak benar-benar acara penting, jadi wajar jika kita nggak saling kenal" jawabku
Khayla mengangguk setuju
"Tante dari mana?"
Aku menunjuk keatas
"Dari ruangan papi?"
Aku mengangguk. Kulihat kedua anak gadis di depanku ini saling toleh
"Papi kalian sakit, makanya dia minta bantuan tante untuk nolongnya"
"Papi sakit apa?"
Baru saja aku mau menjawab, keduanya telah berlari naik ketangga sambil kembali meneriakkan kata papi
"Beruntung kamu Hen dikaruniai tiga anak perempuan yang menyayangimu" lirihku sambil mengambil nampan lalu membawanya ke dapur
Selesai dengan itu aku lalu kembali naik keatas dan niatku semulanya ingin membuka pintu ku urungkan karena mendengar suara tangisan dari dalam
Aku hanya berdiri mematung di sebelah pintu tanpa tahu harus berbuat apa
Sementara di dalam masih terdengar suara isakan tangis, aku yakin dari kedua anak gadis tadi
"Kenapa papi menyakiti diri papi, mami yang jahat pada kita, biarlah mami pergi meninggalkan kita, tapi papi jangan menyakiti diri papi, kami tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain papi"
"Berjanjilah bahwa papi tidak akan melukai diri papi lagi, berjanjilah bahwa ini adalah yang terakhir"
Hendri mengangguk dan menatap dalam mata kedua anak gadisnya
Lalu Khayla dan Mutiara mengangkat kepala mereka dari dada papi mereka dan mengusap kasar wajah mereka
Dan secara berbarengan keduanya meraih tangan papi mereka dan mencium perbannya
"Pasti sakit ya pi?"
Hendri tersenyum sambil menggeleng
"Sakit tangan papi tidak sebanding dengan rasa sakit papi melihat air mata kalian"
Mutiara yang berbadan besar seperti papinya kembali memeluk erat papinya sambil kembali terisak
"Lupakan mami pi, jangan pernah diingat lagi"
Aku yang mendengar hanya bisa menerka-nerka kemana arah omongan mereka bertiga
Hendri kembali mengusap kepala Mutiara
"Iya, papi janji, sudah Tia jangan nangis, masa anak tomboy papi cengeng?"
Mutiara tersenyum malu sambil mengusap kasar wajahnya lalu kembali memeluk papinya yang membuat Hendri kembali harus meringis karena gerakan refleks Tia yang mengenai tangannya
"Tadi di bawah ada tante Linda, kok dia ada disini?"
Hendri menelan ludahnya mendengar pertanyaan Khayla
"Dia kerja sama papi, karena oom Agung bangkrut"
Aku menarik nafas lega mendengar jawaban Hendri
"Kerja apa?"
"Jadi asisten pribadi papi"
"Tapi kok kaya pembantu?"
__ADS_1
Hendri menggelengkan kepalanya kearah Mutiara
"Nggak boleh kaya gitu sayang, walau gimanapun dia tante kamu"
"Iya tahu, maksud aku tuh Pi, masa pakaiannya kaya pakaian pembantu, kalo emang tante Linda asisten papi ya harus modis dong, emang papi nggak malu apa kalo dilihat sama teman papi?"
Hendri diam seperti tampak berfikir
"Itu kaya baju bik Ning bukan sih kak?"
Khayla diam dan menerawang kemudian dia tertawa, melihat kakaknya tertawa, Mutiara ikut tertawa juga
"Bener kan kak?"
Khayla mengangguk, kembali keduanya mengangguk
"Kok bisa tante pakai baju bik Ning?"
Aku masuk ketika mereka tertawa itu artinya suasana sudah kondusif, melihatku masuk keduanya langsung terdiam
"Tadi tante masih di rumah ketika ditelepon papi kamu, dan tante nggak sempat ganti baju, masih pakai baju tidur makanya pinjem baju bik Ning"
Khayla dan Mutiara tersenyum
"Kayanya badan kita nggak jauh beda deh Tan, gimana kalo tante pakai baju aku dulu untuk sementara, nggak enak banget aku lihat tante pakai baju bik Ning" kembali Khayla berkata padaku dengan menahan tawa
Aku diam dan melihat bentuk badan Khayla
"Apa nggak kekecilan Khe?"
"Kayanya nggak deh Tan" ucap Khayla lagi sambil membawaku keluar dari ruang kerja Hendri
Kembali aku mendengar suara tawa besar dari mulut Mutiara ketika kami keluar
"Apa tante kelihatan lucu?"
Khayla yang menahan tawa menggeleng
"Agak aneh aja tante, masa asisten papi pakainya daster?"
Aku ikut tersenyum. Akhirnya aku dibawa Khayla masuk kedalam kamarnya, kamar yang lebih mirip kamar putri-putri raja yang sering aku lihat di film kartun yang sering aku dan anakku tonton
Khayla membuka lemarinya dan memberikan aku dress ala-ala korean dress berwarna nude
"Ini kayanya cocok deh sama tante, Tante harus cantik dan modis, karena nanti tante akan bertemu dengan banyak kolega papi, dan papi itu nggak suka sama orang, maaf ya tan, sama orang yang kucel"
Aku tersenyum kaku mendengar ucapan Khayla
"Nah, ini make up aku, tante bisa pakai juga"
"Nggak usah Khe, biar besok dari rumah tante pakai make up nya"
Kulihat Khayla mengangguk dan menjauh karena aku ganti baju
"Tuhhh kan apa Khe bilang, ukuran baju kita sama tan"
Aku mengangguk sambil tertawa malu
"Body goal nih tante, udah ada anak tiga tapi bodynya masih kaya gadis"
Aku kembali tertawa
"Dulu Tante nikah umur berapa?"
"21"
"Lah umur tante berapa sekarang?"
"Mau 32"
"Nggak keliatan 32 tan, masih kaya 25"
Lalu kami kembali tertawa
"Terus kita kemana sekarang?"
"Aku mau istirahat tante, capek abis sekolah, tante lanjut kerja aja, Khe yakin papi pasti bawa kerjaan ke rumah, dan tugas tante semua itu menyelesaikannya"
Aku mengangguk lalu berjalan keluar dari dalam kamar megah Khayla
Naik kembali keruangan Hendri, setelah sampai di depan pintu aku mengetuk sebelum aku mendorong pintu tersebut
Kulihat Hendri menatap tak berkedip ketika aku masuk, tapi wajahnya masih dingin tanpa ekspresi
__ADS_1