
Berkali-kali Hendri menciumi perut besar ku ketika dia akan pulang malam ini
"Papi pulang nak, tapi papi janji tidak lama papi kesini lagi"
Aku hanya membiarkan dia mengelus dan menciumi terus perutku. Bak tahu jika papinya akan pulang, anak yang ada di dalam perutku berkali-kali bergerak dan membuat perutku terasa ngilu
"Sayang jangan nakal kasihan mama" bisik Hendri sambil kembali mengelus perutku ketika dilihatnya aku meringis
Hendri yang berjongkok lalu berdiri kemudian mengecup keningku dengan dalam
"Jaga kesehatan ya Lin, jangan stress" ucapnya sambil mengelus lenganku
Aku mengangguk
"Sebenarnya aku berat sekali meninggalkan kamu, tapi apa boleh buat, pekerjaan menuntut ku harus jauh dari kalian"
Aku diam
"Kapan kau akan siap aku bawa pulang ke rumah?"
Aku menggeleng
"Atau aku belikan rumah untukmu dan anak kita?"
Kembali aku menggeleng
"Ya sudah, jika kamu belum siap aku akan menunggu sampai hari dimana kamu siap aku bawa pergi dari sini"
Aku menghembus nafas panjang, lalu Hendri kembali mendekap ku, menggendongku dan meletakkan ku ke kursi roda lagi
Lalu dia menarik jariku, menyematkan cincin nikah kami yang entah di dapatnya dari mana, karena dua hari Hendri disini aku tidak pernah melihat cincin itu ada padanya
"Jangan lagi dilepas" ucapnya sambil kembali mencium keningku
Aku melihat jariku ketika Hendri mencium keningku, lalu mendongakkan kepalaku
"Kenapa?"
"Kamu dapat dari mana cincin ini?"
Hendri tersenyum sekilas sambil membenarkan rambutnya kebelakang
"Cincin ini ada di dalam lemari pakaianmu, di dalam kotaknya, kotak cincin yang dulu menjadi tempat cincin ini ketika kita menikah"
Mulutku membulat
"Kupikir cincinnya kamu buang"
Hendri terkekeh sambil menoel pipiku
"Itu cincin mahal, nggak mungkinlah aku buang" jawabnya masih sambil terkekeh
"Dan cincin kamu?"
Hendri mengangkat jarinya
"Di jariku cuma ada cincin dari kakek buyutku, bukan cincin nikah"
Aku langsung memasang wajah datar
"Cincinnya ada di rumah, hanya tidak aku pakai saja" jawabnya cepat
"Apa cincin itu terlalu berharga buatmu Hen?"
Hendri kembali menatap cincin di jarinya lalu menggeleng
"Entahlah, setahuku cincin ini tidak bisa lepas dari jariku, aku menyayangi cincin ini karena historinya"
"Dari sekian banyak anak cucu dan cicit kakek buyutku, cuma aku yang diberinya cincin ini. Kata beliau cuma aku yang pantas"
__ADS_1
Aku lalu tertawa mendengar jawabannya
"Ada yang lucu?"
Dengan cepat aku menutup mulutku
"Dan kamu percaya? tanyaku
Hendri mengangkat bahunya
"Setidaknya aku bangga pada diriku, bahwa aku dianggap layak oleh kakek buyut"
"Kenapa kakek buyut kalian tidak memilih Agung?"
Wajah Hendri langsung berubah datar dan aku sangat menunggu reaksinya
"Sudah kubilang, cuma aku yang pantas"
Aku tersenyum melihatnya yang kembali berwajah datar
Lalu Hendri melihat jam di pergelangan tangannya
"Penerbanganku satu jam lagi, dan aku harus berangkat sekarang"
Sekarang wajahku yang berubah datar
"Aku janji secepatnya akan kesini lagi"
Aku mengangguk
Dengan pelan Hendri mendorong kursi rodaku, membawaku keluar yang ternyata supir telah siap menunggu di teras
"Jaga Linda bik, jangan pernah tinggalkan dia sendiri, bila perlu bibi tidur di kamarnya"
Aku menoleh kearah Hendri yang sedang berbicara pada bibi Niluh
"Siap tuan"
Lalu Hendri kembali berjongkok di depanku, mengelus wajahku
"Aku pulang ya Lin...?"
Aku mengangguk, saat Hendri bangkit aku menarik tangannya, lalu mencium punggung tangannya
"Hati-hati ya mas...."
Hendri tersenyum kemudian mengangguk, kembali dia mengelus perutku
"Dadah anak papi"
Aku tersenyum samar lalu terus melihat kearah Hendri yang kian menjauh
Saat telah masuk kedalam mobil, kembali Hendri menurunkan kaca jendela mobil dan melambaikan tangannya pada kami yang juga melambaikan tangan kearahnya
Setelah mobil yang membawa Hendri hilang, barulah aku meminta bibi Niluh membawaku masuk
...----------------...
Jam sebelas malam Hendri telah berada di halaman istananya, pak Paino yang menjemputnya di bandara segera turun dan membukakan pintu untuk Hendri
Ketiga bodyguard dan juga pak Puji yang berjaga sedikit membungkukkan badan mereka ketika Hendri menginjakkan kakinya di halaman
"Ketiga anakku ada?"
"Ada tuan, saya rasa mereka sedang istirahat"
Hendri mengangguk lalu masuk kedalam rumahnya dimana ternyata ketiga anaknya segera berhamburan ke pelukannya
"Loh, belum tidur?" tanya Hendri dengan sayang sambil mengusap kepala ketiganya
__ADS_1
"Kita sengaja nungguin papi" jawab Alika
Hendri lalu membawa ketiga anaknya ke ruang tamu, duduk di tengah-tengah dan langsung dikelilingi oleh ketiga anak gadisnya
"Hei, kalian kenapa?, baru dua hari tidak ketemu papi...."
Kembali Alika, si bungsu memeluk Hendri dari samping
"Kemarin ada mami"
Hendri langsung menelan ludahnya dan berusaha bersikap biasa saja ketika mendengar ucapan Alika
"Tapi kami tidak menemui mami, kami langsung naik ke kamar" jawab Alika cepat
Hendri menarik nafas panjang
"Ini sudah malam sayang, dan papi sekarang sudah di rumah, tidak ada yang perlu kalian takutkan"
"Jika mami pulang ke rumah ini bagaimana pi?"
Hendri menggeleng, dan membenarkan rambut Mutiara kesamping telinganya
"Di depan ada empat penjaga rumah ini, jadi mami kalian tidak akan bisa masuk ke rumah ini lagi"
"Khe takut pi....."
Hati Hendri seperti tersayat ketika mendengar nada khawatir dari suara Khayla
"Pria itu akan papi bunuh jika dia berani macam-macam lagi sama Khe"
Khayla menarik nafas panjang, lalu menarik tangan papinya melewati tubuh Alika, lalu meletakkan ke wajahnya dengan sayang
"Apapun akan papi lakukan untuk kalian nak, walau harus mengorbankan nyawa papi"
Alika dan Mutiara yang berada di kanan kiri Hendri langsung menempelkan kepala mereka di bahu Hendri dan Hendri kembali mengusap kepala ketiganya dengan sayang
...----------------...
Hampir dini hari pak Puji dan pak Ibram yang berjaga mendadak segera berlari kearah gerbang ketika mereka lihat ada seseorang yang berusaha memanjat pagar tinggi tersebut
"Hei.....?!" teriak keduanya
Secepat kilat orang yang sedang berusaha memanjat pagar segera turun dan berlari
Ternyata tak jauh dari pagar ada sebuah motor yang telah menunggu dan secepat kilat orang yang berlari tadi langsung melompat keatas motor lalu motor tersebut langsung berlari kencang
Pak Ibram yang lebih dulu sampai di depan pagar segera berteriak sehingga membuat pengendara motor makin ngebut membawa motornya
Mendengar teriakan kedua rekannya, pak Yohannes dan pak David langsung terjaga dan segera berlari keluar dari kamar
"Ada apa?" teriak keduanya panik
Pak Puji dan pak Ibram mendekat dan menjelaskan jika ada tamu tak diundang yang akan memanjat pagar
Pak David langsung masuk kembali keruang penjagaan, dan langsung mengamati layar komputer
Dari rekaman terlihat oleh mereka ada sebuah motor yang datang dengan di dorong, karena itulah mereka tidak mendengar ada suara motor
Dan dengan jelas mereka lihat salah satu dari dua orang tersebut turun dan berusaha memanjat pagar
"Zoom plat kendaraannya!" ucap pak Ibram
Pak David menggeleng
"Motor mereka tidak menggunakan plat"
Keempatnya saling toleh lalu pak David terus memeriksa setiap sudut rekaman cctv
"Saya jadi curiga, jangan-jangan ini ulah....." pak Yohannes menggantung kalimatnya
__ADS_1