Istri Yang Tergadaikan

Istri Yang Tergadaikan
Disiksa Lagi


__ADS_3

Aku terus menatap mata marah Hendri, mengedipkan pelan mataku, sementara kulihat tangan Hendri mengepal keras


Aku memajukan kursi rodaku didekatnya hingga menyentuh lututnya


Kuambil tangannya yang terkepal keras, meletakkannya ke wajahku seperti semalam


Tangan itu masih diam lalu aku pindahkan ke leherku, masih juga tak bereaksi. Lalu aku memukul-mukul kan nya ke kepalaku, berkali-kali


Karena perbuatanku, akhirnya amarah yang sejak tadi ditahan Hendri meledak


Dicengkeramnya keras daguku, wajahku yang terangkat keatas menyunggingkan senyuman, karena akhirnya dia bisa melepaskan emosi yang menguasai dirinya


Tak puas di sana, Hendri membanting keras kursi yang biasa dipakai ku duduk ketika bibi Niluh mengganti pakaianku


Kursi itu patah dan bantingan kerasnya di lantai memancing seisi penghuni villa ini masuk ke kamar kami.


"Keluar kalian!!" bentak Hendri


Dengan cepat semuanya berhamburan keluar hingga kembali tinggal aku yang terus menatap kosong pada Hendri yang terus menatapku dengan kilatan marah


"Mengapa?, mengapa kamu selalu memancing emosiku, hah?, mengapa Linda??!" teriak Hendri keras


Aku terus menatapnya tanpa menjawab sedikitpun. Kembali Hendri mencengkeram daguku dan kali ini makin kuat


Aku masih seperti tadi, tidak menunjukkan ekspresi kesakitan apalagi menolak seperti biasanya. Aku hanya membiarkan dia menyakitiku, karena itulah yang selalu dilakukannya padaku


"Siapa lelaki itu?, apa pria asing yang membawamu ketengah laut??!" teriaknya di depan mukaku


Aku memejamkan sebentar wajahku karena teriakan kerasnya


Lalu Hendri membuang kasar wajahku yang membuat kursi rodaku mundur dan membentur tepian ranjang


"Beritahu aku siapa lelaki itu??!" teriaknya


Aku menggeleng


Hendri segera berjalan ke arahku, menjambak rambutku dengan keras


"Kamu melindungi pria itu, iya?, kamu tidak sayang dengan nyawa kamu?!" geramnya


"Jawab aku Linda, kamu punya mulut bukan bisu!!!" teriaknya lagi


Aku yang masih terus dijambaknya hanya memejamkan mataku


"Kurang ajar kamu!" geram Hendri dengan melepaskan jambakannya lalu berjalan keluar dari kamar


Tak lama dia telah kembali diikuti oleh bibi Niluh yang berurai air mat


"Jangan tuan, jangan siksa nyonya terus"


Hendri tak menggubris permohonan bibi Niluh yang mengejarnya. Dan aku yang melihatnya menangis hanya menggelengkan kepalaku


"Bibi Mohon tuan, maafkanlah kesalahan nyonya kali ini"


Hendri masih tak menggubris permohonan bibi Niluh, dia segera membakar lilin yang ada di tangannya, lalu dengan kasar menarik tangan kiriku


"Jangan tuan...." bibi Niluh kembali memohon


Dan tanganku yang sekarang dicengkeram kuat Hendri hanya kubiarkan saja


Tes tes tes.....

__ADS_1


Lelehan lilin yang terbakar jatuh di jariku, aku memejamkan sebentar mataku karena merasa perih, sementara bibi Niluh telah bersimpuh di kaki Hendri


"Jangan tuan, kasihan nyonya"


Hendri yang masih diselimuti amarah tak memperdulikan air mata bibi Niluh yang mengalir dan juga tak memperdulikan bagaimana aku berkali-kali memejamkan mataku menahan perih


Tak hanya jari kiriku, Hendri juga meneteskan lilin panas ke jari kananku, hingga lilin tersebut habis separuh barulah dia berhenti.


Kupikir Hendri hanya sampai di sana menyiksaku, ternyata perlakuan kejamnya masih berlanjut ke kaki kiriku yang tidak merasakan apa-apa


"Jangan tuan!!!"


Bibi Niluh berteriak histeris ketika Hendri meletakkan lilin yang masih menyala tersebut di bawah kakiku


Aku yang tidak merasakan apa-apa hanya diam saja ketika lilin tersebut membakar telapak kakiku


Bibi Niluh dengan keberaniannya segera menarik kursi rodaku menghindari lilin yang sedang membakar telapak kakiku


Aku memegang tangan bibi Niluh menggeleng kearahnya. Mata beliau yang telah penuh air mata hanya mampu menatap iba padaku


Segera dirangkulnya aku, lalu beliau menangis kencang sambil memelukku


"Aku nggak apa-apa bik" bisikku


Beliau yang memelukku menggeleng kuat dan masih saja menangis kencang


Hendri yang melihat bibi Niluh menghalanginya segera menarik pundak perempuan paruh baya tersebut


"Bibi keluar, ini urusan saya!"


Bibi Niluh hanya menatap takut kearah Hendri dan menoleh ke arahku, dan aku menganggukkan kepalaku


Hendri lalu menarik kasar kursi rodaku, mendorongnya dengan cepat kearah kamar mandi


"Jangan ada yang berani mengeluarkan dia dari kamar mandi!!!" bentak Hendri pada seluruh penghuni villa yang menunduk ketakutan


"Kalian, cepat kembali ke resort, suruh mereka melihat rekaman cctv mobil apa yang mengantar istriku hari itu, kalian cari orang itu sampai dapat!!!"


Dua bodyguard villa ini langsung mengangguk dan segera melesat keluar, tak lama telah terdengar suara mesin motor keluar dari villa dan Hendri kembali menatap tajam kearah anak buahnya yang lain


"Awas jika ada yang berani menolong Linda!!"


Bibi Niluh yang menunduk terus saja terisak


...----------------...


Dua bodyguard yang telah sampai di resort langsung menemui bagian keamanan dan menyampaikan maksud dan tujuan mereka


Bukan perkara mudah untuk dapat melihat akses rekaman cctv, setelah Hendri sendiri yang berbicara pada mereka melalui video call, barulah pihak resort mengizinkan


Dengan mata tajam kedua anak buah Hendri memperhatikan rekaman dihari dimana Linda datang ke resort


"Zoom plat mobil itu!" ucap salah satu dari mereka ketika melihat Linda turun dari sebuah mini bus


Setelah mendapatkan plat mobil yang mengantarkan istri bos besar mereka, keduanya segera pergi dan langsung melacak keberadaan pemilik mobil itu


Hingga sore barulah keduanya menemukan rumah pemilik mobil tersebut dan langsung membawanya kehadapan Hendri


Aku yang hingga sore masih dikurung Hendri di dalam kamar mandi hanya bisa menahan dingin dan lapar


Aku tak bisa berbuat apa-apa, bahkan hanya untuk berteriak pun ku rasa percuma, karena aku yakin seluruh penghuni villa ini pasti takut untuk menolongku

__ADS_1


Hingga akhirnya menjelang malam, pintu kamar mandi terbuka, dan aku yang kaget segera membuka mataku


Hendri masuk dan kembali dengan kasar menarik keluar kursi rodaku


Kulihat di ruang tamu ada dua anak buah Hendri dan seorang lagi yang membelakangi kami


"Anda kenal siapa dia?"


Lelaki yang membelakangi kami tadi menoleh dan aku ingat jika beliau adalah pak Putu Wijaya yang telah mengantarku ke resort tempo hari


"Nona?" tanya beliau yang segera berdiri dan langsung berjalan ke arahku


Berjongkok di depanku dan memandang padaku dengan bingung


Aku tersenyum samar kearah beliau


"Apa yang terjadi pada anda nona?"


Aku menggeleng


"Saya mengenalnya tuan, dia bilang pada saya namanya Mirna, dan dia tidak bilang jika dia tinggal di villa ini. Saat itu dia bilang jika dia ingin menemui keluarganya yang sedang liburan di resort"


"Dan saat itu saya menolongnya karena saya lihat dia duduk sendirian di tepi jalan dan saya mengantarnya ke resort"


"Saat dia ingin memberi saya cincin yang telah saya berikan pada tuan tadi, saya menolak, tapi nona ini bersikeras, dia bilang jika dia ada uang makan cincin ini akan diambilnya"


"Dan saat itu saya juga memberinya kartu nama saya agar memudahkannya mencari alamat saya"


Hendri bergeming dan masih memasang wajah datar mendengar penjelasan lelaki paruh baya yang saat ini berdiri di depannya


Lalu pak Putu Wijaya berjongkok lagi di depanku


"Kamu kenapa Mirna, apa yang terjadi sama kamu?" tanya beliau sambil melihat ke arah kakiku


Aku menggeleng


"Terima kasih pak karena telah mengembalikan cincinnya, dan maaf saya belum bisa membayar ongkos mobilnya" lirihku pelan


Pak Putu Wijaya menggeleng


"Tidak Mir, dari awal bapak sudah bilang bahwa kamu tidak perlu membayar"


Aku mengangguk dan tersenyum


Hendri lalu meneriakkan nama dua bodyguardnya yang masih berada di ruangan ini


"Antarkan bapak ini pulang, dan segera kembali ke villa ini lagi!"


Setelah berkata begitu, Hendri kembali memutar kasar kursi rodaku, mendorongnya masuk kembali kedalam kamar


Dapat kutangkap kekagetan di wajah pak Putu saat melihat Hendri berlaku kasar padaku, tapi beliau tidak bisa berbuat banyak ketika pundaknya telah disentuh oleh salah seorang bodyguard yang mengajaknya pergi


Sampai di kamar, Hendri kembali mendorong keras kursi rodaku hingga membentur ranjang


"Mirna....?"


Lalu dia tertawa terbahak dan aku hanya mendongakkan kepalaku melihatnya yang sedang terbahak


"Apa maksud kamu mengaku nama itu sama lelaki tua tadi, hah?"


Aku menggeleng. Kembali sebuah cengkeraman keras mendarat di daguku

__ADS_1


"Aku benci seorang pengkhianat Linda, aku benci!!!"


__ADS_2