
Dengan cepat aku membuang bekas testpack kelantai. Lalu meraih shower dan menyiramkan ke tubuhku
"Nyonya....?"
Aku tak menghiraukan ketukan pintu dari bibi Ni Luh yang masih menungguku di depan kamar mandi
"Biar bibi saja yang mandikan"
Aku masih tak menjawab, dan kembali terdengar suara ketukan. Aku menarik nafas panjang, shower yang ada di tanganku terus mengucurkan air
"Bik....?" panggilku
Pintu kamar mandi segera terbuka dan bi Ni Luh langsung masuk
"Sabuni saja"
Bibi Ni Luh menangguk. Dan aku kembali diam ketika dengan telatennya bibi Ni Luh menggosok seluruh tubuhku.
Selesai semuanya, kembali bibi Ni Luh membantuku kembali ke kursi roda dan matanya tak sengaja melihat hasil testpack di lantai
Segera bibi Ni Luh membantu mengeringkan tubuhku, dan mengganti pakaianku, baru setelah itu dia kembali lagi ke kamar mandi
"Keluar?"
Aku mengangguk. Seperti biasa bibi Ni Luh membawaku keluar, mengajakku ke teras, dan akan mengajakku bercerita yang hanya ku respon dengan senyuman
"Nyonya mau apa?"
Aku menggeleng
"Ke taman?"
Kembali aku menggeleng
"Minum susu?"
Aku mengangguk
Lalu bibi Ni Luh beranjak kedalam meninggalkan aku sendiri yang bengong menatap ke depan
Tak lama bibi Niluh telah berjalan ke arahku dengan membawa nampan berisi susu dan juga cemilan
Masih dengan diam, aku meraih gelas susu hangat meminumnya sedikit lalu kembali menatap kosong ke depan
...----------------...
Hendri yang selalu gelisah tiap kali memikirkan Linda sore ini telah berencana akan ke kota B.
Dirinya hanya berpamitan dengan Khayla, dan memberi alasan jika ada urusan kerja di luar kota
Dan kembali semua urusan proyek dan kantor dihandle Marko.
Jam tujuh malam, Hendri telah berjalan menuju pesawat yang akan membawanya ke kota B. Marko yang mengantarkannya sampai waiting room hanya menatap kepergiaan bos besarnya dengan pandangan iba
"Angkuhnya seorang Hendri ternyata hancur dengan cinta" lirihnya sambil menggelengkan kepalanya
Sementara Hendri yang telah berada dalam pesawat makin tak sabar ingin bertemu dengan Linda
Hingga dua jam selanjutnya saat pesawat take off, Hendri segera turun dan langsung bergegas menuju parkiran dimana anak buahnya telah menunggunya sejak tadi
Di jalan tak lupa Hendri membelikan bunga untuk Linda
"Rangkai kan bunga mawar merah ini, yang bagus karena ini untuk istri saya"
Penjual bunga itu mengangguk dan segera merangkaikan bunga sesuai dengan perintah Hendri
"Ucapannya tuan?"
__ADS_1
Hendri menggeleng, dia tidak tahu kata apa yang harus ditulisnya karena dia bukanlah pria romantis
Setelah buket bunga ada di tangannya, Hendri segera masuk kembali kedalam mobil yang langsung melesat menuju villa
Aku yang duduk termangu di atas ranjang hanya memanjangkan kepalaku sebentar kearah jendela ketika mendengar suara deru mobil
Setelah terdengar suara pintu dibanting aku kembali duduk diam.
Dan seluruh penghuni villa yang memang tahu jika malam ini Hendri akan datang, begitu mendengar suara mobil masuk segera berbaris rapi di ruang depan, menyambut bosnya dengan menundukkan sedikit kepala mereka
Langkah tegap Hendri yang masuk dengan membawa buket bunga berhenti sesaat setelah dilihatnya jika karyawan villa semuanya berbaris menantikannya
"Terima kasih untuk sambutannya" ucap Hendri hangat
Karyawannya mengangkat kepala mereka, mengangguk lalu kembali berjalan kebelakang
Dan Hendri yang melihat seluruh karyawannya telah pergi tersenyum segaris kearah mereka lalu kembali berjalan cepat kearah kamar Linda
Aku yang bengong menoleh kaget ketika pintu didorong seseorang. Dan tatapan mataku sedikit membesar ketika kulihat jika yang mendorong pintu adalah Hendri
Aku hanya melihat kearahnya yang berjalan ke arahku. Duduk di pinggir ranjang mengulurkan buket bunga padaku
"Nih...Sengaja aku beli untuk kamu"
Aku mengambil buket tersebut, meletakkannya di pangkuanku, lalu menatap buket itu tersebut lekat-lekat
Hendri mendekat dan aku diam saja ketika tangannya terulur ke kepalaku
"Bagaimana keadaan kamu Linda?"
Aku diam, tidak menjawab pertanyaannya, dan kurasakan Hendri masih mengelus kepalaku dan terdengar jelas tarikan nafasnya
"Kamu suka bunganya?"
Aku mengangguk. Tapi aku masih tidak melihat kearahnya, aku masih terus memandangi bunga yang ada di pangkuanku
Perasaan hati Hendri kian hancur melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Linda masih tak ada perubahan, masih seperti mayat hidup
Aku mengangguk
"Oh iya, tadi aku juga bawa hadiah lain untuk kamu" ucap Hendri segera berdiri dan berjalan kearah jas yang ditaruhnya di pinggir sofa
Diambilnya sesuatu dari sana, lalu membawanya ke hadapanku.
"Ini...." ucapnya sambil menarik tangan kiriku
Aku yang terus diam tidak melihat jika Hendri tertegun melihat jariku. Dilepasnya tangan kiriku lalu berpindah menarik tangan kananku
Kembali Hendri tertegun dan menatap dalam ke arahku
"Linda.....?" panggilnya pelan. Aku bergeming, masih tak menoleh kearahnya
"Linda.....?" ulangnya cukup keras
Aku menoleh kearahnya memandang wajahnya yang menegang, aku hanya mengedipkan mataku tanpa berkata sedikitpun
"Cincin pernikahan kita mana?"
Aku mengedipkan mataku berkali-kali
"Cincin, aku tanya cincin nikah yang aku sematkan kejari kamu waktu kita nikah, kamu kemana kan?"
Aku menggeleng. Kulihat Hendri menarik nafas panjang lalu aku kembali menatap buket bunga di hadapanku, tidak mempedulikan Hendri lagi
Kudengar berkali-kali dia menarik nafas panjang, aku yakin saat ini dia sedang menahan amarahnya
Kembali tangan kiriku ditariknya, dibolak balikkannya
__ADS_1
"Cincinnya sengaja kamu lepas?"
Aku menggeleng
"Jika tidak, kamu kemana kan, tidak mungkin cincin itu lepas sendiri"
Aku menarik nafas panjang, melihat matanya yang berkilat yang menghindari tatapanku
Kuambil tangannya yang terkepal di kasur, ku tempelkan ke wajahku. Kulihat raut wajah Hendri seperti kaget dengan perlakuanku
Tangan itu tetap diam, tak bereaksi apa-apa ketika ku letakkan ke wajahku. Lalu aku menggerakkan tangan tersebut dengan memukul-mukul nya ke wajahku
Refleks Hendri melepas tangannya yang sedang ku pukul-pukul kan ke wajahku. Kembali tangan itu ku ambil, ku letakkan di daguku
Dan kembali Hendri menarik tangannya
"Pukul!, bukan itu yang selalu kamu lakukan?" ucapku pelan dengan tatapan kosong kearahnya.
Hendri menggeleng, segera bangkit dari duduknya berjalan kearah pintu, lalu keluar
Buket bunga yang sejak tadi di pangkuanku, ku lempar kelantai, lalu aku menelungkupkan tubuhku, mencoba untuk tidur
Sementara Hendri yang mati-matian menahan marah segera naik ke kamarnya, menutup pintu dengan keras lalu duduk di balkon hingga nyaris pagi
...----------------...
Aku segera mengambil hp dan menelepon bibi Ni Luh
"Bi aku mau mandi"
"Iya nyonya"
Tak lama pintu kamar diketuk dan muncul bibi Ni Luh yang tampak canggung masuk kedalam kamar
Kulihat tatapannya yang semula canggung berubah seperti mencari sesuatu
"Hendri tidak ada, entah dia ada di mana"
Bibi Niluh tersenyum tak enak dan segera berjalan ke arahku yang sudah duduk
Membantuku duduk di kursi roda lalu mendorongnya menuju kamar mandi
Kembali aku dibantu duduk di kursi yang memang telah tersedia di dalam kamar mandi, menyiram tubuhku lalu menyabuniku
"Sabunnya jangan banyak-banyak bik, baunya aku nggak suka"
Bibi Niluh menurut dan segera menyiramkan air ke seluruh tubuhku, lalu mengeringkan dengan handuk dan membawaku keluar
"Maaf ya bi karena merepotkan terus" lirihku
Bibi Niluh menggeleng dan membantuku berganti pakaian.
Diluar kudengar suara gladak gluduk dan seperti kursi di tarik
Aku mendongakkan kepalaku kearah bibi Niluh seakan memintanya memberitahuku apa yang sedang terjadi
"Tuan besar meminta kami mencari cincin nyonya, katanya cincin nyonya hilang"
Aku menggeleng
"Bilang sama Hendri cincinnya aku beri sama supir yang mengantar aku ke resort tempo hari"
Kulihat wajah bibi Niluh menegang dan segera berlari keluar meninggalkanku yang belum selesai ngomong
Kudengar ada langkah kaki di depan kamar dan benar, tak lama Hendri masuk dengan wajah marah
Segera dia berjongkok di depan kursi rodaku dengan nafas yang memburu dan mata menyala merah
__ADS_1
Aku memandangnya dengan mata yang terus berkedip tanpa bersuara sedikitpun
"Kamu......" geramnya