Istri Yang Tergadaikan

Istri Yang Tergadaikan
Grace Datang


__ADS_3

"Ayah!!" pekik mama Hendri tertahan dan langsung berdiri, tapi langkahnya yang telah siap keluar dari kursinya ditahan oleh suaminya, papa Hendri, papa Hendri menggeleng, dan membuat sang mama akhirnya kembali duduk walau matanya sudah berkaca-kaca


Hendri memejamkan matanya sebentar menahan sakit akibat tamparan keras tangan kakeknya, walau kakeknya telah tua, tapi tenaganya masih seperti orang muda, dan tamparan kerasnya di wajah Hendri mampu membuat wajah Hendri menoleh kesamping, sehingga rambut gondrongnya yang sengaja diurai nya menutupi sebagian wajahnya


"Memalukan!!!!" teriak kakeknya kembali menampar Hendri


Hendri yang tak tahu menahu apa kesalahannya terus berusaha menghindari serangan tangan kakeknya


"Ayah stop.....!!!!" mama Hendri kembali berteriak dan kali ini suaminya tak bisa menghalanginya


Dengan berani nyonya Giska, mamanya Hendri menangkap tangan ayahnya, dan membuangnya dengan kasar


"Jangan karena Hendri cucu ayah paling kecil, semau ayah memperlakukannya, kita belum mendengar penjelasan dari Hendri, jadi ayah jangan langsung menjudge bahwa anak saya bersalah!" teriak mama Giska keras


Hendri yang berdiri di sebelah mamanya sudah bisa menduga kemana arah omongan mama nya, jika bukan masalahnya dengan Nia sudah pasti ini masalahnya dengan Agung, atau bisa jadi ini masalah antara mereka bertiga


"Kamu jangan jadi anak durhaka, Giska!" geram kakek Hendri


Mama Giska menggeleng, dengan cepat ditangkup nya wajah Hendri dengan kedua tangannya


"Sakit nak...?" tanyanya


Hendri menggeleng seraya tersenyum


Kembali dengan kasar tangan kakek Hendri mencengkeram kuat tangan kiri Hendri


"Kembalikan cincin ayahku!!!" geramnya menarik cincin yang tersemat di jari manis Hendri


Jika tadi Hendri hanya diam dan berusaha menghindari pukulan kakeknya, tapi ketika kakeknya berusaha menarik cincin pemberian kakek buyutnya yang sudah lebih dari dua puluh lima tahun ada di jarinya, membuat Hendri jadi naik darah


Dengan keras Hendri menarik tangannya yang membuat tubuh renta kakeknya terhuyung, dan refleks anak tertua kakek Hendri menyambar cepat tubuh ayahnya agar tak jatuh kelantai


"Anak kurang ajar!!!" geram om Hendri dengan mata marah kearah Hendri.


"Mas jangan ikut-ikutan!" teriak mama Giska marah kearah kakaknya yang menolong ayah mereka


"Kembalikan tidak hah cincin ayah ku!!!" kembali kakek Hendri berusaha menarik paksa jari Hendri


"Kakek stop...!!!!" teriak Hendri keras


Suasana makin mencekam, kakek Hendri makin menatap murka kearah Hendri yang membentaknya


"Kamu tidak pantas lagi memakai cincin pemberian ayahku, arwah ayahku menangis karena orang yang dia percaya ternyata tak lebih dari seorang pecundang!!!"


Hendri langsung menggerak-gerakkan kepalanya berusaha menahan amarah yang telah di ubun-ubun mendengar ucapan kakeknya


Hendri tersenyum sinis kearah kakeknya

__ADS_1


"Tidak ada orang yang paling pantas memakai cincin ini kecuali cicitku, Hendri...." ucap Hendri lantang


"Kakek ingat kan apa kata kakek buyut dulu, dan saya yakin oom tante yang cucunya dan kalian semua cicitnya saat itu mendengar dengan jelas perkataan kakek buyut, jadi sampai kapanpun cincin ini akan terus ada di jariku, apapun alasannya" jawab Hendri pasti


"Seseorang yang menikahi istri kakak sepupunya tidak pantas menjadi pilihan terbaik ayahku, kamu telah mencoreng kepercayaan ayahku Hendri, kamu tahu?!"


Rahang Hendri langsung mengeras mendengar perkataan kakeknya, dia mendongakkan kepalanya keatas sambil menarik nafas panjang


Suasana masih hening, semuanya menatap kearah Hendri dengan penuh tanda tanya


"Manusia biadab tak bermoral, apa kamu tidak punya otak sampai kamu menikahi istri kakak sepupumu, apa tidak ada perempuan lain di dunia ini???!" kembali kakek Hendri berteriak lantang


"Setelah menikahi Linda, seenaknya kau menceraikan Nia, istri yang telah menemanimu dari nol, kemana otak kamu, hah??!!"


Kembali Hendri menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum menyeringai


"Masih kamu merasa dirimu pantas memakai cincin dari ayahku?!"


Mama Giska masih berdiri di dekat Hendri ketika ayahnya terus berteriak memarahi Hendri


"Mama duduk saja, biar aku selesaikan semua ini" ucap Hendri pelan sambil mengusap pelan lengan mamanya


Mama Giska menggeleng, tapi Hendri bersikeras. Tanpa merasa berdosa, dituntunnya mamanya kembali ke kursinya, kemudian Hendri kembali ke tempatnya semula, berdiri di depan kakeknya


"Apa lagi yang kakek tahu tentang kehidupan saya?, ayo ungkapkan semua disini, biar jelas semuanya" tantang Hendri


"Stooppp.....!!!!" teriak sebuah suara


Semua mata langsung tertuju kearah luar, kearah pintu masuk ruangan besar ini


"Grace....." lirih Hendri tercekat demi melihat Grace berdiri dengan pistol mengacung kearah dalam ruangan


Grace langsung meninggalkan koper yang tadi ditariknya, berlari cepat kearah ruangan dimana semua mata sekarang tertuju padanya


Grace langsung menubruk tubuh Hendri, memeluknya dengan erat dengan berlinang air mata


Satu tangan digunakannya untuk memeluk leher Hendri, tangan yang satunya yang memegang pistol mengacung kearah kakeknya


"Grace....." gumam Mama Giska yang kembali berdiri dan kembali berlari kearah Hendri yang saat ini masih berpelukan dengan Grace


"Mama stop di sana jangan maju!!!" teriak Grace mengarahkan pistol kearah mama Giska


Mama Giska menghentikan langkahnya sementara Hendri dan Grace masih berpelukan, dan terlihat jelas jika keduanya saat ini sama-sama menangis


"Sudah Grace, sudah..." lirih Hendri sambil mengusap-usap punggung Grace yang masih terisak


"Kenapa kamu tidak bilang semua kebenarannya Hen?"

__ADS_1


Hendri menggeleng


"Mereka tidak akan percaya Grace, terlebih karena Agung dan Nia sudah memberitahu versi mereka"


Grace menggeleng, segera diturunkannya pistol yang ada di tangannya, ditariknya mundur Hendri ke belakangnya, dan ditatapnya wajah kakek Hendri dengan dingin


"Giska, apa kamu tidak mengajari anak kamu sopan santun!!!" teriak kakek Hendri


Grace tersenyum sinis


"Mengajari saya sopan santun?, kakek lupa umur berapa aku diadopsi uncel Bram dan dibawa ke Jerman?"


Kakek Hendri terdiam, begitupun yang ada di ruangan ini


"Kalian semua yang ada di ruangan ini, dengar baik-baik ya...." ucap Grace dingin sambil memutar matanya melihat seluruh yang ada di ruangan ini


"Tidak boleh ada satu manusia pun di muka bumi ini yang boleh menyakiti Hendri, jika ada yang berani menyakitinya, maka peluru yang ada dalam pistol ini akan bersarang di kepala kalian"


Hendri dan seluruh yang ada di ruangan ini menelan ludahnya, dengan pelan Hendri menyentuh pundak Grace yang membuat perempuan cantik itu menoleh dan kembali memeluk erat Hendri


"Grace...." lirih mama Giska sambil mengusap wajahnya yang basah oleh air mata, sedangkan papa Hendri yang juga berdiri di sebelah istrinya ikut meneteskan air mata


"Aku sangat menyayangimu Hen, sangat menyayangimu...." isak dokter Grace yang kembali membuat Hendri harus menghapus air mata yang mengalir di pipinya


"Grace...." kembali mama Giska memanggilnya lirih


Grace melepas pelukannya pada Hendri lalu menatap tanpa reaksi kearah mama Giska yang menangis terisak melihatnya


"Tidakkah kau rindu pada mama nak?" kembali suara mama Giska tercekat


Grace menggeleng


"Satu-satunya di Indonesia yang kurindukan hanyalah Hendri, karena aku dan Hendri satu nyawa, satu jiwa dan satu darah"


Mama Giska makin terisak di dekapan suaminya mendengar jawaban Grace


"Dan kakek, apa hak kakek menampar Hendri, hah?, apa hak kakek menyakitinya?, kakek tidak punya hak atas diri Hendri, kurang puas selama empat puluh tahun ini kakek menyiksanya???!" Grace makin kalap berteriak


"Grace sudah, jangan bilang begitu sama kakek" Hendri kembali berusaha menenangkan Grace


"Tidak Hen, biar kakek, mama papa, dan semuanya tahu bagaimana tersiksanya kita dipisahkan!!!"


"Grace......" ucap Hendri sambil menggeleng


"Kakek lihat ini!!!!" ucap Grace memiringkan wajahnya yang tampak memerah


"Kakek menampar Hendri, tapi aku yang merasakan sakitnya" ucapnya kembali terisak

__ADS_1


Kakek Hendri mundur dengan tubuh agak limbung dan terduduk kembali di kursinya dengan shock menatap kearah Grace dan Hendri secara bergantian


__ADS_2