
Hendri kembali mengambil kepalaku, menariknya kedalam dekapannya kembali
Aku terus menangis histeris, lama sangat lama.
Sementara Hendri memejamkan matanya dengan rahang mengeras penuh penyesalan
Air mataku berhenti mengalir, aku dorong badan Hendri lalu menatap kosong ke depan
Berandai-andai jika saja tidak aku pergi naik jet ski dengan Mike tentu Hendri tak akan sekalap itu marah denganku
Seandainya aku menahan diri tidak menyusul bibi Ni Luh, seandainya aku hanya di villa saja walau Hendri meninggalkanku, seandainya aku tidak ketakutan karena sendirian di villa, seandainya seandainya seandainya
Aku kembali berteriak, kembali menangis seperti anak kecil, kali ini bahkan dengan memukul-mukul pahaku
Menggigit selimut menahan sakitnya menerima kenyataan masa depanku sebagai orang lumpuh
Aku sudah tak memperdulikan semua orang di ruangan ini yang memandang iba padaku, aku terus saja menangis histeris
Kemudian aku diam, air mataku berhenti mengalir, tatapanku kosong, sedetik semenit, lima menit setengah jam aku hanya diam memandang kosong, lalu kembali aku menangis histeris lagi
Hendri yang terus berusaha menenangkan ku, sudah tak tahu harus berbuat apa lagi, aku sangat marah padanya
Tiap dia memegang anggota tubuhku selalu aku berteriak marah bahkan dia yang kembali mencoba memelukku, aku dorong kuat
"Pergi kalian dari sini, pergi...!!!" teriakku dengan melemparkan bantal, selimut bahkan selang infus yang menjalar di tanganku ku cabut dengan kasar dan ku lemparkan ke wajah Hendri
"Linda cukup!!!" bentak Hendri
Aku memandangnya dengan mata nanar dan penuh kebencian, dadaku turun naik dengan memandang tajam kearahnya
"Teruslah memarahiku, terus. Puas kamu sekarang membuatku cacat, hah?, puas???" teriakku
Hendri diam dan kembali matanya meredup menatapku
Dokter yang masuk karena aku terus berteriak sekarang meminta dokter Grace dan Hendri keluar
Lalu perawat yang setia di ruangan ini walau tadi aku memarahinya sekarang mengusap kepalaku dan mendekap ku ke perutnya
"Kamu yang tenang, tidak ada yang ingin cacat, tapi ini sudah ketentuan dari Yang Maha Kuasa, kita harus menerimanya suka atau tidak suka"
Aku yang terisak tidak merespon ucapan dokter, aku terus saja menempelkan kepalaku ke perut suster yang masih setia mengusap rambutku
"Infusnya kita pasang lagi, ya?"
Aku tidak menjawab melainkan hanya diam ketika dokter kembali menusukkan jarum infus ke uratku lalu aku dibimbing perawat untuk berbaring kemudian dia menyelimuti tubuhku
Dokter berdiri di sampingku, menasehati ku dengan banyak sekali petuah, tapi sedikitpun tidak masuk ke otakku, hanya air mata yang terus mengalir tanpa henti
Sementara Hendri yang berada di luar bersama dokter Grace langsung meninju keras tembok yang membuat dokter Grace berteriak tertahan
Tangan Hendri memerah dan bengkak, dan dokter Grace dengan cepat melakukan tindakan pertama
"Jangan lakukan apa-apa dengan tanganku Grace, karena tangan inilah Linda jadi lumpuh"
__ADS_1
Dokter Grace tidak perduli, dengan keras dia menarik tangan Hendri dan membawanya turun meminta obat pereda nyeri dan membersihkan luka lecet di jari-jari Hendri
"Tolong aku Grace, tolong aku...." ucap Hendri bergetar dengan mata merah
Dokter Grace langsung mendekap Hendri dan mengusap punggungnya berkali-kali
"Beritahu aku Grace, Linda bisa sembuh seperti semula kan?" kembali Hendri berkata dengan nada panik sambil menggenggam erat tangan dokter Grace
"Rumah sakit ini rumah sakit kecil, kita bawa Linda ke ibukota, kita bawa dia ke rumah sakit terbaik di negeri ini"
Hendri menganggukkan kepalanya dengan cepat
"Jangankan di negeri ini, bahkan aku akan membawanya keluar negeri bila perlu"
Dokter Grace mengangguk sambil tersenyum kearah Hendri yang wajahnya masih tegang
...----------------...
Sejak mengetahui jika aku lumpuh, sejak hari itulah aku tidak berkata-kata lagi, kepada siapapun juga
Rasanya hidupku kian hancur, hanya air mata yang tak henti-hentinya mengalir sebagai respon jika aku masih bernyawa
Dan sekarang, aku telah berada di dalam pesawat, bertiga dengan Hendri dan dokter Grace
Tapi sedikitpun aku tidak bersuara, aku hanya menatap kosong. Hendri telah berkali-kali bertanya padaku, apa yang kuinginkan, bagaimana keadaanku, semuanya ku jawab dengan menggeleng atau mengangguk, selebihnya aku kembali diam
Dua jam selanjutnya pesawat take off, dan aku turun dengan digendong oleh Hendri tapi sedikitpun aku tidak bersuara, terus saja memandang kosong
Bahkan ketika sampai di sebuah mobil dan Hendri meletakkan tubuhku pun aku masih diam
Aku melirik ke sumber suara, Marko. Aku tidak menjawab pertanyaannya, melainkan hanya menatap sekilas lalu menyandarkan kepalaku ke sandaran kursi mobil
Dokter Grace menggenggam tanganku, dan aku hanya membiarkannya saja
Hingga akhirnya mobil masuk ke halaman rumah Hendri aku masih tak bersuara
Marko turun dan segera menurunkan kursi roda, dan kembali Hendri mengangkat tubuhku meletakkan di kursi roda dan mendorong kursi roda tersebut masuk
Khayla dan kedua adiknya langsung berhamburan keluar ketika mengetahui jika papi mereka pulang, dan laju lari ketiganya langsung berhenti ketika mereka lihat papi mereka mendorong kursi roda berisikan Linda
Lalu pandangan Khayla berpindah pada dokter Grace dan kembali ketiganya berlari menyerbu dokter Grace
"Aunty......" teriak mereka
Aku hanya memandang kosong melihat bagaimana ketiganya berebutan memeluk dokter Grace dan dokter Grace membalas memeluk hangat ketiganya dengan senyum bahagia
Lalu Khayla berjongkok di depanku
"Tentu Linda bagaimana keadaannya?"
Aku menggeleng, lalu Khayla mendongakkan kepalanya kearah Hendri yang juga menjawab dengan menggelengkan kepala
"Tanyanya nanti lagi ya sayang, kasihan tante Linda, dia butuh istirahat"
__ADS_1
Khayla mengangguk kearah papinya, lalu menyingkir dari hadapan kursi roda, lalu Hendri kembali mendorong kursi rodaku masuk
Bik Ning berlari tergopoh dan membungkukkan sedikit kepalanya kearah Hendri
Sementara Alika yang sejak tadi menggelayut manja di lengan dokter Grace sekarang telah membawa dokter cantik itu ke kamarnya
"Bi, siapkan kamar di lantai bawah untuk Linda"
Bik Ning tersenyum ke arahku lalu memandang cukup lama padaku
"Tapi tidak ada kamar kosong di bawah tuan, adanya di lantai atas"
Hendri menoleh kearah Khayla dan Mutiara
"Siapa diantara kalian berdua yang mau tukaran kamar dengan tante Linda?"
Khayla dan Mutiara saling toleh lalu beralih menatap papi mereka kembali
"Tante Linda akan tinggal di rumah ini"
Dada Khayla langsung berdegup kencang, kembali ingatannya terulang pada insiden ketika papinya dan Agung berkelahi tempo hari. Dan ucapan kemarahan papinya pada Agung serasa terngiang kembali di telinganya
"Linda sekarang milikku, bukan milikmu lagi"
"Kok malah bengong?"
Khayla tergagap dan Mutiara masih bersikap santai mendengar pertanyaan papinya
"Khe aja pa yang pindah kamar, biar kamar Khe dipakai tante Linda"
Hendri tersenyum kearah Khayla lalu kembali mendorong kursi roda menuju kamar Khayla
Sampai di kamar tersebut Hendri segera mengangkat tubuhku dan membaringkannya di atas kasur
"Kamu istirahat dulu ya Lin, aku akan menemui anak-anak"
Aku tak menjawab, terus diam dan menatap kosong ke langit-langit kamar
...----------------...
Hendri membawa Linda ke rumah sakit canggih di kota ini bersama dokter Grace
Dokter Grace langsung menjelaskan bagaimana kondisi Linda, lalu pihak rumah sakit kembali melakukan pengecekan dan ct scan ulang
Dokter rumah sakit yang profesinya sama dengan dokter Grace segera mengamati hasil ct scan bersama-sama
Keduanya sama-sama menggeleng ketika melihat hasil yang keluar
"Apa tidak ada harapan dokter?" tanya Hendri lemah
Dokter Grace kembali mengusap punggung Hendri
"Tulangnya remuk pak Hendri, bukan patah, dan itu tidak bisa disembuhkan dengan cara apapun"
__ADS_1
Hendri langsung menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi dan menatap keatas dengan berkali-kali menghembus nafas panjang