
"Papi lebai deh, makan sendiri kan bisa?"
Aku hanya bisa diam mendengar jawaban gadis kecil di depanku saat ini
"Tangan papi kan sakit, nggak bisa pegang sendok"
Kulihat gadis itu memonyongkan bibirnya mendengar jawaban Hendri
"Tante sajalah yang nyuapin papi, kan tante asisten papi"
Aku tersenyum getir mendengar jawaban gadis itu
"Alika turun dulu dari pangkuan papi, tante Linda kan mau nyuapin papi"
Aku kembali tersenyum getir kearah gadis yang tadi dipanggil Alika oleh Hendri
Alika menyingkir, lalu aku duduk di sebelah Hendri
Dengan pelan aku meniup kuah sup yang masih mengepulkan asap, baru setelahnya aku menyuapkan ke mulut Hendri
Alika hanya memperhatikan ku dengan sesekali tersenyum
"Tante sudah makan?"
Aku mengangguk
"Kapan?"
"Tadi sekitar jam lima"
"Berarti belum makan malam?"
Aku tersenyum kearahnya
"Papi cepat makannya, kasihan Tante Linda, dia pasti lapar juga"
Aku menggeleng
"Tante nggak lapar, tadi kan sudah makan"
Alika menggeleng kuat
"Ini hampir jam sembilan malam tante, dan tante terus bekerja tanpa makan, nanti tante pingsan loh"
Hendri melirik ke arahku, dan aku segera menunduk
"Makanlah yang cepat, aku belum selesai mempelajari dokumennya"
Hendri bergeming, dan aku terus menyuapinya
Hingga akhirnya dari depan pintu kudengar suara gradak gruduk dan muncullah Khayla dengan adik besarnya
"Adik ayo tidur, besok kita sekolah, nanti kesiangan loh"
Khayla dan Mutiara tersenyum ke arahku.
Lalu keduanya memeluk dan mencium pipi Hendri, diikuti pula dengan Alika
Akhirnya ketiganya pergi dari ruangan ini dan tinggal kami saja
Aku yang masih menyuapi Hendri kembali menundukkan kepalaku
"Sudah, cukup"
Aku meletakkan sendok ke piring dan memberi gelas tapi Hendri bergeming, kembali aku harus mengalah dan menempelkan gelas ke bibirnya
Selesai itu aku menyingkirkan nampan agak menjauh lalu kembali kemeja kerja, dan berkutat kembali dengan laporan
Entah sudah berapa jam aku duduk di kursi kebesaran Hendri itu, ku lirik Hendri sudah tertidur di sofa
Aku menarik nafas melihatnya, aku bingung bagaimana aku harus pulang ke hotel, dan bagaimana jika tiba-tiba Nia pulang dan dia melihat ada aku diruang kerja Hendri, bisa pecah perang dunia ketiga nanti, bisa-bisa dia salah sangka
__ADS_1
Kulihat jam di sudut kanan bawah laptop
"Ya Tuhan hampir jam satu" ucapku tercekat
Aku bangkit dari kursi dan mendekat ke ujung kaki Hendri, menggigit bibir dengan ragu antara membangunkannya atau membiarkannya dengan resiko aku begadang semalaman di ruangan ini
Aku yang gelisah menghentikan langkahku ketika kulihat Hendri bergerak, ku toleh dan berharap dia bangun, tapi ternyata dia cuma bergerak lalu kembali terlelap
Dengan bingung aku memberanikan diri menyentuh kakinya
"Ya Tuhan alangkah lebat bulu kakinya" gumamku menahan tawa
"Hen?" aku menggoyangkan kakinya pelan
"Hen, aku mau pulang, antar aku pulang Hen"
Tak ada sahutan, kembali aku menggerakkan kakinya kali ini dengan gerakan cukup kencang
Masih juga tak ada reaksi, dengan menarik nafas panjang akhirnya aku pasrah dan kembali duduk di depan laptop
Entah sudah berapa kali aku menguap lebar, dan entah berapa kali pula aku mengucek mataku yang berair
Hingga akhirnya kantuk benar-benar tak dapat aku tahan. Dan aku menelungkupkan tanganku di atas meja dan tertidur
Suara dengung dari laptop memaksaku membuka mata kembali dan mematikan laptop
Baru setelahnya aku memilih membaringkan tubuhku di atas sofa, tak perlu menunggu lama akhirnya aku sudah nyenyak
Hendri membuka matanya ketika dilihatnya Linda telah terlelap. Dilihatnya dengan seksama perempuan yang saat ini tidur di atas sofa berseberangan dengannya
Hendri lalu duduk, dan menurun kakinya lalu berjalan kearah perempuan yang seharian ini bersamanya
Diamatinya dengan seksama tiap inci wajah Linda, tatapannya tetap datar meski saat ini yang dipandanginya adalah calon istrinya
Hanya nafas teratur Linda yang terdengar jelas olehnya. Hendri lalu berdiri dari posisi berjongkoknya lalu tanpa pikir panjang lagi, segera dia mengangkat tubuh Linda
Dengan pelan dibukanya gerendel pintu dengan tangannya yang menopang tubuh Linda
Dan meletakkan pelan tubuh Linda di atas kasur. Hendri membuang wajahnya ketika dress yang dikenakan Linda tersingkap naik keatas pahanya
"Ck...!" decaknya kesal
Dengan cepat Hendri menarik selimut dan menyelimuti tubuh Linda. Kembali dia duduk di pinggir ranjang dan menatap dalam wajah perempuan yang sama sekali tak terjaga itu
"Kasihan kamu Linda, karena keegoisan Agung hidupmu sampai kacau begini" lirihnya sambil membelai wajah Linda
Dengan cepat tangan itu terangkat ketika Linda bergerak, lalu wajah Hendri kembali datar dan menatap lurus ke depan
Tapi tak lama Hendri kembali menoleh melihat kearah Linda yang ternyata menarik selimut dan memiringkan posisinya
Hendri menarik nafas panjang lalu berdiri dan menggerakkan tangannya yang diperban
"Aku harus berpura-pura terus sakit agar Linda bisa dekat denganku dan dalam pengawasanku, aku tak yakin jika dia selalu di hotel itu, bisa stress dia lama-lama di sana" gumamnya sambil keluar dari kamar
Aku terbangun ketika ada suara ribut. Dan refleks aku langsung terduduk ketika sadar jika aku berada di kamar pribadi Hendri bukan di ruang kerjanya, karena seingat ku semalam aku tidur di sofa
Selagi aku terkaget-kaget, ketiga anak Hendri masuk dan mereka sama kagetnya denganku
"Tante?, tante ngapain disini?"
Aku segera turun dan menggeleng kuat kearah Khayla.
"Papi mana?"
Aku kembali menggeleng
"Tante nggak tidur dengan papi kan?"
Aku menutup mulutku mendengar pertanyaan Mutiara dengan nada marah
"Papi tidur di ruang kerja, tante mu tidur sendiri"
__ADS_1
Kami semua menoleh kearah pintu dimana Hendri telah berdiri di sana
Ketiga anak gadis Hendri tersebut langsung berlari kearahnya dengan masing-masing langsung menubruk kan badan mereka ke tubuh besar Hendri
"Kami mau sekolah papi, papi di rumahkan?"
Hendri menggeleng
"Kan tangan papi sakit, gimana papi mau kerja?"
"Kan papi ada asisten sekarang, jadi papi nggak usah kerja, nanti jika tangannya sudah sembuh baru kerja"
Hendri tersenyum kearah Alika
"Asisten papi masih amatiran, belum ngerti kerjaan, jadi masih butuh bimbingan"
Ketiga anak Hendri menatap ke arahku yang masih terpaku ditempat tadi
"Tapi kan ada oom Marko yang ngajarin pi"
Hendri mengangguk dan tersenyum kearah ketiga anaknya
"Iya tuan puteri, tapi oom Marko kan sibuk juga, ya kan?"
Ketiganya saling toleh dan dadaku berdegup kencang takut jika mereka akan marah
"Terus tante kerja pakai baju apa?, apa tante pulang ke rumah dulu?"
Aku mengangguk cepat kearah mereka berempat
"No, tante Linda akan kerja dari rumah kita, dan untuk hari ini tak apa kan Khe jika tante Linda minjam baju kamu lagi?"
Aku membelalak kaget. Khayla mengangguk dan menarik tanganku keluar dari kamar papinya
Aku hanya menoleh serba salah pada Hendri ketika aku melewatinya
Secepat kilat Khayla mengambil blouse rajut kombinasi bahan katun di lengannya dan celana jeans untukku
"Tante mandilah di kamarku, semua pakaian sudah aku letakkan di sini lengkap sama underwear juga"
Aku bengong ketika Khayla mendorongku masuk kamar mandi
"Pakai make up tante, jangan tidak, karena hari ini tante akan kekantor sama papi" lanjut Khayla sebelum menutup pintu kamar mandi
Aku yang masih bengong segera menyiramkan air ke seluruh tubuhku, dan terburu-buru memakai sabun dan keluar
Kembali aku bengong menatap baju Khayla yang tadi diletakkannya di atas ranjang
Dengan ragu aku memakainya. Dan kemudian aku memutar-mutar tubuhku di depan cermin sambil tak hentinya tertawa tertahan
Aku lalu melihat ke tumpukan makeup nya yang ada di meja rias
Aku perhatikan satu persatu make up tersebut
"Merk mahal semua ini" gumamku
Dengan hati-hati aku memoleskan bedak ke wajahku lalu mengambil lipstik
Dan aku menelan ludah ketika kulihat jika warna lipstiknya terlalu terang
"Haduh gimana ini?" gumamku khawatir dengan mengelapkan jariku ke bibir, tapi sialnya malah itu lipstik matte
"Terserahlah" ucapku akhirnya pasrah
Lalu aku mengikat rambutku dan kembali mematut diri sebelum akhirnya aku keluar
Dengan bingung aku kembali berjalan keruangan Hendri
Sebelum masuk aku mengetuk pintu lalu masuk dan tak memperdulikan tatapan Hendri padaku
"Mengapa dia jadi seperti ini?" maki Hendri dalam hati ketika dilihatnya Linda seperti gadis remaja
__ADS_1