
Tiga orang yang berdiri di depan pintu menghentikan langkahnya
"Angkat tangan kalian dan lemparkan semua senjata yang ada pada diri kalian!" bentak Agung
Tiga pria itu saling toleh
"Cepat!!!, jika tidak wanita ini saya tembak!"
Aku menelan ludahku mendengar teriak Agung, sementara Nia yang memegang bahuku, makin mengeratkan cengkeramannya
"Nia, ada pisau di lantai itu yang aku pakai untuk melepas ikatan Linda tadi, kamu ambil pisau itu!" kembali Agung berteriak
Nia langsung melepas cengkeramannya pada bahuku yang membuatku limbung dan langsung ambruk di lantai
"Linda!!!!" teriak sebuah suara yang sangat ku kenali
"Maaaaassss.....???! teriakku
Dengan cepat Nia mengambil pisau dan kembali menarik tubuhku untuk berdiri
"Linda...?"
Kulihat jelas mas Hendri yang menghentikan larinya ketika berdiri di depan pintu
"Agung...?!" ucapnya tak percaya
"Selangkah kamu maju, dia mati!" ucap Nia dingin sambil mengarahkan pisau ke perutku
Aku yang saat ini di cengkeram Nia memejamkan mataku ketika pisau tersebut mengenai perutku
"Jika kamu berani melukainya, aku bersumpah akan menghancurkan dirimu!! geram Hendri
"Jangan banyak omong kamu Hendri, sekarang kamu bisa apa, hah?" ucap Agung sinis
Pandangan mata Hendri melirik kearah Agung yang mengacungkan pistol kearahnya
"Bisa ku pastikan kalian berdua akan menerima balasan setimpal" jawab Hendri dingin
Baik Nia maupun Agung hanya tersenyum sinis mendengar ucapan Hendri
"Suruh seluruh anak buahmu menyerah, jika tidak, wanita ini mati, dan jika wanita ini mati sudah pasti anak yang kau harapkan ini tidak akan pernah terlahir ke dunia"
"Niaaaaa!!!!" teriak Hendri dengan mata merah dan langsung melangkah cepat, menerobos Agung yang sejak tadi mengacungkan pistol kearahnya
"Berhenti, atau kepalamu aku tembak!!!" teriak Agung
Aku yang sudah menangis ketika melihat Hendri makin tersedu tertahan
"Jangan Agung, jangan...." mohon ku dengan memelas
Hendri menghentikan langkah cepatnya, lalu menoleh kearah pistol yang mengarah kearahnya
"Bos....?!" Marko berteriak tertahan
"Jatuhkan senjata kalian semua, jika tidak dua orang bos kalian ini akan mati bersamaan" ucap Agung sinis kearah Marko dan dua bodyguard yang mengarahkan pistol mereka kedalam
__ADS_1
"Jangan turuti perintahnya!" geram Hendri
"Oh, begitu.....?" ucap Nia yang segera menusukkan pisau ke perutku
"Aaawwww...." teriakku tertahan
"Lindaaa??!" pekik Hendri tertahan karena kembali Agung mengancamnya memintanya berhenti
"Nia, jangan sakiti istriku, dia tidak ada urusan dengan semua ini, musuh kalian adalah aku, bukan dia"
Agung tertawa sinis mendengar ucapan Hendri sementara Nia tersenyum
"Oh,, jadi kamu sangat menyayangi perempuan ini?" kembali Nia berucap sambil menjambak rambutku
"Niaaaa!!!!" kembali Hendri berteriak
Aku memejamkan mataku dan berusaha melihat kearah Hendri yang mengepalkan tangannya dengan marah
Kulihat jelas rahangnya mengeras dan ada air mata keluar dari sudut matanya
"Aku tidak apa-apa mas, aku tidak apa-apa" ucapku tertahan mencoba meyakinkannya agar dia tak mengamuk
Pisau yang tadi di perutku Nia pindahkan ke leher
"Yakin, kamu tidak apa-apa?" ucapnya lembut sambil mengerling kearah Hendri yang kembali berteriak menyebut namanya
"Suruh anak buahmu menyerah!!!" teriak Agung
Dengan cepat Hendri memutar badannya kearah depan pintu, dimana di sana telah berkumpul banyak pria dengan berbagai jenis senjata di tangan mereka
Marko dan puluhan preman melempar semua senjata mereka
"Suruh mereka minggir!!" kembali Agung berteriak
Tanpa komando dari Hendri, Marko dan yang lainnya segera minggir dan memberi jalan ketika Nia berjalan menarik paksa tubuhku
"Maaass.....?!" panggilku dengan berlinang air mata ketika tubuhku yang ditarik paksa Nia melewatinya
Tangan Hendri langsung menarik tanganku yang terulur kearahnya tapi hanya sebentar karena kembali Agung membentaknya
Nia kesulitan menarik tubuh beratku, dan Agung berjalan di belakang kami dengan pistol di tangannya terus mengarah ke segala arah
"Agung, aku mohon...." ucap Hendri memelas
"Kamu diam di sana!!!" bentak Agung
Hendri mengikuti kami berjalan dengan terus memohon
Sementara Marko dan puluhan preman dan bodyguard di dekatnya juga ikut keluar dari dalam rumah ini
Nia terus menyeret ku yang kembali membuat Hendri berteriak ketika dilihatnya aku terjerembab jatuh
"Niaaaa, akan ku bunuh kamu!!!" teriaknya lantang
Aku kembali harus memaksakan tubuhku untuk tegak ketika Nia kembali menarik tubuhku berdiri
__ADS_1
"Dasar lumpuh, menyusahkan orang saja!!!" geram Nia kesal sambil mencengkeram kuat bahuku
"Jangan ada yang berani mendekat, sekali kalian mendekat, perut wanita itu hancur"
Hendri langsung mengangkat tangannya separuh ke udara ketika Agung kembali mengancam
"Katakan apa yang kalian berdua inginkan, akan aku turuti semua" ucap Hendri dengan suara penuh penekanan
"Kamu diam di sana, oke?, kamu tak inginkan dua orang yang kamu cintai mati dalam waktu bersamaan?" ucap Agung yang membuka pintu mobil
Dengan cepat Nia mendorong tubuhku sehingga bahuku membentur kursi mobil
"Linda???!!" kembali Hendri berteriak ketika melihatku terjerembab
Nia yang telah naik duluan, kembali berusaha menarik bahuku. Lalu setelah aku duduk ditutupnya pintu mobil, lalu dia pindah ke depan
Sementara Agung naik dan duduk di dekatku. Sekarang pistol yang sejak tadi diacungkan nya ditempelkannya ke pelipis ku
Aku memejamkan mataku menahan takut ketika kurasakan benda tersebut terasa dingin di pelipis ku
"Agung jangan!!!" teriak Hendri
Agung tersenyum menyeringai tak memperdulikan Hendri yang terus berteriak
Sedangkan Nia yang telah menghidupkan mesin mobil langsung memutar cepat mobil tersebut dan langsung menjalankannya dengan ngebut
Dengan santainya Agung melambaikan tangannya ketika mobil yang membawa kami melewati Hendri dan puluhan lelaki lainnya
"Lindaaaaaa!!!!" terdengar lantang di telingaku teriakan Hendri
Air mataku langsung mengalir mendengar teriakannya dan aku hanya bisa memejamkan mata ketika Agung sama sekali tidak memindahkan pistol tersebut dari pelipis ku
Mobil yang dibawa Nia berjalan ngebut di jalan yang tak rata yang mengakibatkan ku harus memegangi perutku dengan kedua tanganku
Sementara Marko dan rombongan preman dan bodyguard langsung berlari menuju kendaraan mereka masing-masing
Jarak kendaraan dengan rumah tempat penyekapan yang cukup jauh mengakibatkan mereka tertinggal jauh dari mobil yang tadi membawa Linda
Hendri yang juga berlari cepat segera naik keatas motor bodyguard
"Bos naik mobil saja, jalannya berbahaya dan agak curam" teriak seseorang yang akhirnya membuat Hendri turun dari motor dan segera naik ke mobil
Puluhan motor langsung menyerbu, mereka semua menjalankan motor dengan kecepatan tinggi, sementara Hendri yang berada di dalam mobil, berdua dengan supir pribadi villa hanya bisa menangis sambil terus mengepalkan tangannya
"Cepat pak!!!!" teriaknya
Sebuah motor memepet mobil yang membawa Hendri, dan supir langsung menurunkan kaca mobil karena dilihatnya Marko yang duduk di boncengan memberi kode
Melihat kaca mobil bagian Hendri telah turun, dengan cepat motor tadi berjalan di samping Hendri
"Bos tenang saja, kami yang akan menyusul mbak Linda....!!!" teriak Marko
Setelah berkata begitu motor yang membawa Marko langsung tancap gas
Dan kembali Hendri hanya bisa mengusap kasar wajahnya dengan berkali-kali membuang nafas panjang dan mengepalkan tangan
__ADS_1