
Disepanjang perjalanan aku masih menempelkan kepalaku di dada Hendri, entah mengapa tiba-tiba aku kepengen manja sama dia
"Hen....?"
"Hemm....?"
Aku diam ragu untuk melanjutkan kata-kataku
"Kenapa, pengen apa?" tanya Hendri sambil membetulkan posisi duduknya
Aku pun ikut membenarkan posisi dudukku
"Aku pengen...."
Aku menarik nafas panjang lalu memandang wajahnya
"Pengen apa?" ucapnya lembut
"Aku boleh ketemu ketiga anakku?"
Hendri diam, dia melengos lalu memandang lurus ke depan
"Aku kangen mereka Hen, sudah lama sekali aku tidak bertemu mereka, hampir setahun aku tidak bertemu mereka"
"Mereka baik-baik saja, tidak usah kamu pikirkan"
Aku diam lalu menarik nafas panjang mendengar jawaban Hendri, lalu aku menggeser dudukku, tidak lagi menempel di dekatnya
Dan sepertinya Hendri sadar jika aku marah, karena begitu aku menjauh, dia langsung mendekat ke arahku dan kembali mendekap ku
"Pengen ketemunya kapan?" ucapnya kembali dengan lembut
Aku langsung menoleh cepat kearahnya
"Kamu serius?"
Hendri mengangguk. Refleks aku segera memiringkan tubuhku kearahnya lalu memeluknya dengan erat
"Terima kasih Hen, terima kasih" lirihku sambil terus mendekapnya dengan bahagia
Hendri mengelus punggungku dan menciumi kepalaku
"Telpon sekarang ya?" ucapnya lagi setelah aku melepas dekapanku
Aku mengangguk, dan kulihat Hendri mengeluarkan hpnya
"Rihanna dan adik-adiknya ada?"
Mataku langsung membesar ketika Hendri menyebut nama anak sulungku.
"Iya, bilang sama mereka, mama mereka mau video call"
Degup jantungku kian berdebar kencang ketika Hendri mengatakan akan video call, itu artinya aku akan bisa melihat wajah ketiga anakku
"Iya, selagi kalian memanggil mereka, saya juga akan membawa istri saya masuk ke restoran dulu, nanti saya telpon kembali"
Lalu Hendri mematikan obrolan dan menoleh ke arahku yang terus menatap kearahnya
"Nanti ya, anak buahku sedang memanggil mereka"
Aku mengangguk, dan menurut ketika Hendri kembali menggendongku ketika kami sampai di restoran
Dan ketika pesanan kami sampai, Hendri kembali mengeluarkan hpnya
"Bagaimana?, sudah ada?"
Hendri lalu terlihat seperti menekan layar hpnya lalu memberikannya padaku
Degup jantungku makin kencang ketika kulihat layar hp dan aku makin deg-degan ketika mendengar suara anakku lalu muncul wajah mereka
"Mamaaaaa......" ketiganya berteriak
Mataku langsung panas, dan aku tak bisa berkata-kata, detik berikutnya aku telah terisak, tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun pada mereka
Kulihat ketiganya juga sama sepertiku, menangis dan hatiku sangat sakit melihat ketiga terisak
"Mama kami kangen...." lirih Roshan, si bungsuku
Aku hanya mengangguk dengan air mata yang terus mengalir
"Kalian dimana nak?" tanyaku
"Di rumah"
"Papa ada?"
__ADS_1
Hendri langsung mengerling tajam ketika mendengar kalimat Linda menanyakan keberadaan Agung
"Papa kerja, kami di rumah sama bibi dan sekarang kami sedang sama oom pengawal" jawab Rihanna
Sementara Rayhan terus menatap ke arahku dengan sedih
"Oom pengawal?"
"Iya ma, kami sekarang punya oom pengawal, kata oomnya, mereka dikirim uncle Hendri untuk menjaga kami"
Aku langsung menoleh kearah Hendri yang membuang wajahnya seolah tak melihatku
"Sejak kapan nak?"
"Sejak terakhir kita ketemu dulu, sudah lama sekali sih ma"
Kembali aku menoleh kearah Hendri, itu artinya sepuluh bulan yang lalu batinku
"Apa mereka menyakiti kalian? tanyaku takut-takut
"Tidak ma, mereka baik sama kami" sekarang yang menjawab adalah Rayhan
Aku menganggukkan kepalaku sambil berusaha tersenyum
"Mama kapan pulang?, kata papa sebentar lagi mama akan pulang dan kita akan berkumpul seperti dulu lagi"
Aku tersenyum getir mendengar ucapan Roshan
"Benarkan ma?"
"Iya nak, In Syaa Alloh dua bulan lagi mama pulang dan kita akan berkumpul lagi"
Wajah ketiga anakku langsung cerah dan mereka tersenyum sumringah
"Papa di rumah terus apa sering ninggalin kalian nak?"
Kembali Hendri mengerlingkan matanya menatap Linda
"Pergi terus ma, tapi kami punya bibi, jadi bibi yang jagain kalo kami di rumah"
Aku menarik nafas dalam mendengar jawaban anakku
"Hati-hati di rumah ya nak, bilang sama papa, jangan pergi terus, suruh jagain kalian"
"Iya ma"
"Tapi ma?, kami masih kangen"
"Sama, mama juga masih kangen sama kalian, tapi mama nggak bisa lama-lama nelpon kalian, ya?"
"Iya ma...." jawab sendu ketiga anakku
"Mama sangat sayang sama kalian nak"
"Kami juga ma...."
Aku tersenyum getir
"Mama bahagia, akhirnya mama bisa melihat kalian"
"Kami juga sangat bahagia ma, makanya mama cepat pulang, ya?"
Aku mengangguk.
Setelah melambaikan tangan, aku segera memutus panggilan, lalu bengong menatap hp yang layarnya telah gelap
"Sudah?"
Aku tergagap dan buru-buru memberikan hp pada Hendri
"Ayo dimakan"
Aku mengangguk, lalu makan makanan yang telah tersaji di depanku
"Katanya tadi bahagia, kok ini malah sedih?"
Aku hanya menarik nafas panjang ketika melirik kearah Hendri lalu kembali melahap makananku dengan pelan
"Jangan sedih, aku janji, suatu hari nanti kamu akan berkumpul lagi dengan ketiga anakmu"
Mataku langsung berbinar mendengar ucapan Hendri
"Sungguh Hen?"
Hendri mengangguk sambil mengelap mulutku
__ADS_1
Selera makanku langsung bangkit ketika mendengar ucapan Hendri, makanan yang ada di depanku aku lahap semua dengan rakus dan Hendri yang melihatku hanya tersenyum
...----------------...
Kedatangan kami di villa disambut kebahagiaan oleh seluruh penghuni villa.
Bahkan, begitu aku duduk di kursi roda, bibi Niluh langsung mendorong kursiku masuk
"Bagaimana, apa kata dokter?"
"Semuanya sehat bik"
"Syukurlah...." nada suara bi Niluh sangat senang mendengar jawabanku
Sebelum masuk aku menoleh kebelakang, dimana asisten yang lain sibuk membawa kantong belanjaan kami, dan Hendri tampak menempelkan hp di telinganya
"Iya nanti malam saya pulang"
Aku menarik nafas dalam mendengar ucapannya
"Bibi sudah masak masakan kesukaan nyonya" lanjut bi Niluh sambil mendorong kursi rodaku ke belakang
"Tapi aku sudah makan"
Bibi Niluh menghentikan dorongannya, dan aku menatap tak enak hati padanya
"Tapi kan nanti aku makan lagi, bibi kan tahu aku makannya banyak" lanjut ku cepat yang membuat bibi Niluh tersenyum
"Bibi tadi juga buatkan rujak"
"Ohya?"
"He em..."
"Aku mau....."
Bibi Niluh terkekeh, dan aku juga ikut terkekeh
"Menertawai apa sih?"
Aku dan bibi Niluh sama-sama menoleh kearah Hendri yang telah berdiri di samping kami
"Ini, bibi sudah buat rujak dan nyonya langsung pengen makannya"
Hendri tersenyum
"Ambilkan ya bik, bawa keatas"
Sambil berkata begitu Hendri segera mengangkat tubuhku dan membawaku berjalan naik ketangga
"Harusnya nggak usah bawa aku naik, kan berat" ucapku yang merasa kasihan melihat Hendri keberatan menggendongku
Hendri diam dan terus saja membawaku masuk ke kamar lalu keluar lagi dan mendudukkan ku di kursi, di sebuah balkon
Kulihat dia ngos-ngosan, dan aku tertawa melihatnya
"Ngeyel sih" ucapku
Hendri tersenyum dan mengacak rambutku
Sebuah ketukan membuat kami menoleh, dan ternyata yang muncul adalah bibi Niluh dengan membawa nampan berisikan sepiring rujak dan air putih
"Biar aku saja bik" ucap Hendri yang segera mengambil piring yang ada di tangan bibi Niluh
Bibi Niluh mengangguk lalu berpamitan pergi. Jadilah sekarang Hendri menyuapiku kembali
"Enak?"
Aku mengangguk dengan mengelap mulutku dengan punggung tanganku, sementara Hendri kulihat seperti nyengir
"Kamu kenapa?"
"Nggak asem apa?"
"Ini tuh enak banget tahu nggak sih Hen....." jawabku sambil melahap buah mangga muda yang di suapkannya ke mulutku
Hendri kembali nyengir dan itu membuatku kembali terkekeh
"Terus bahagia lah seperti ini Linda, karena aku tak ingin melihat kamu kembali bersedih"
Aku langsung menghentikan tertawaku, kembali mengelap mulutku dengan punggung tangan lalu menatapnya
"Aku harus pulang malam ini...." lirih Hendri
Aku mengangguk dan tersenyum kearahnya
__ADS_1
"Berjanjilah kamu jangan nangis lagi" lanjut Hendri sambil meletakkan piring di lantai lalu mengambil kepalaku, membawanya ke perutnya
Aku hanya bisa mengangguk dan mendongakkan wajahku kearahnya yang tersenyum sendu padaku