Istri Yang Tergadaikan

Istri Yang Tergadaikan
Memberitahu Dokter Grace


__ADS_3

Hendri yang kembali masuk langsung disambut pelukan erat dari Khayla yang langsung menangis terisak


Hendri hanya mampu mengusap kepala Khayla dengan sayang ketika anak gadisnya tersebut masih tak berhenti menangis


"Sudah nak, sudah..." bujuk Hendri berusaha menenangkan Khayla


"Pi....." lirih Mutiara dengan membuka sedikit matanya


Khayla refleks melepas pelukannya pada papinya, dan Hendri kembali dengan cepat menarik kursi dan duduk di dekat Mutiara lagi


"Ya sayang.....?"


"Jangan marahin bodyguard, mereka nggak salah, memang aku yang pesan makanan itu"


Hendri mengangguk sambil mengusap kepala anaknya


"Tidak, papi tidak memarahi mereka, papi hanya bertanya apa yang terjadi sama Tia, itu saja"


Mutiara tersenyum dan memaksakan tertawa


"Mereka pasti papi tampar, ya kan?" lanjutnya sambil terkekeh


Hendri ikut tersenyum dan kembali mengusap-usap kepala Mutiara dengan sayang


"Sudah, jangan banyak bicara dulu, Tia istirahat saja dulu, nanti jika sudah sembuh baru ngomongnya banyak-banyak dan papi akan dengarkan semuanya"


Kembali Mutiara tersenyum dan tangannya yang terpasang selang infus terulur kearah papinya, dan Hendri langsung mendekap anak gadisnya tersebut dengan terus mengusap-usap kepala Mutiara


"Mami mana kok nggak ikut masuk?"


Khayla langsung mengusap kasar wajahnya mendengar pertanyaan Alika dan Hendri yang sedang memeluk Mutiara langsung membetulkan posisi duduknya


"Mami sudah pulang nak, tadi mami buru-buru makanya tidak sempat pamit" jawab Hendri memberi alasan


Alika diam mendengar jawaban Hendri, sementara Mutiara menatap kearah Papinya


"Ada mami, pi?"


Hendri mengangguk, wajah Mutiara langsung berubah tak senang


"Tapi sekarang mami kalian sudah pulang, ada urusan katanya"


"Bagus deh, ngapain mami ada di sini, aku tuh cuma maunya papi yang ada di sini"


Hendri tersenyum dan kembali menggenggam erat tangan Mutiara


Pintu kamar ruangan Mutiara diketuk dan muncul seorang dokter bersama satu orang perawat


"Bagaimana keadaannya gadis cantik?" sapa dokter tersebut ramah sambil memegang tangan Mutiara


"Sudah baikan dokter, kan sudah ada papi"


Dokter tersebut tersenyum, begitu pula dengan perawat yang mengganti cairan infus


"Oh, jadi papinya....?" tanya dokter sambil menatap dalam pada Hendri


Sedangkan Hendri langsung melirik kearah Mutiara yang tampak tersenyum malu


"Ada apa ya dokter?"


Dokter tersebut tersenyum kecil


"Tadi ada insiden kecil ketika kami akan memasang jarum infus, mbak Mutiaranya berteriak kencang memanggil papinya"


Khayla dan Alika langsung terkekeh, sedangkan Mutiara makin tak kuasa menahan malunya

__ADS_1


"Ah dokter... jangan bilang papi..."


"Memang tadi teriak apa sayang?" tanya Hendri sambil kembali memegang hangat jari Mutiara


Dokter tersebut menggeleng sambil menahan tawa, dan wajah Hendri kian penasaran terlebih karena Khayla dan Alika terus tertawa tak berhenti


"Kak....?" toleh Hendri pada Khayla


"Kakak tadi nggak mau diinfus pi, sakit katanya, padahal saat itu dia antara sadar dan nggak sadar gitu" jawab Alika


"Terus Tia marah-marah sama dokter dan perawatnya, katanya "awas kalian, akan ku adukan kalian dengan papi ku, kalian akan ditembak sama papi aku, terus ketika jarum infusnya dimasukkan dia teriak manggil-manggil papi"


Hendri tersenyum kearah Mutiara mendengar jawaban Khayla, sedangkan Mutiara semakin merah wajahnya karena menahan malu


"Aahhhh kakaaakkkk...." rajuk nya


Hendri kembali memeluk hangat Mutiara ketika dokter dan perawat selesai memeriksa keadaaan Mutiara


"Papi akan selalu ada untuk kamu nak, maafkan papi karena kemarin meninggalkan kalian"


Alika langsung menghambur kesamping papinya, tak mau kalah ikut mendekap papinya


...----------------...


Semalaman Hendri terus berjaga di sebelah Mutiara yang telah terlelap, sementara pak David, bodyguard yang khusus menjaga Mutiara juga tampak berjaga, beliau duduk di sofa dengan waspada, tanpa sedikitpun merasa ngantuk


Hendri menoleh kearah sofa, dimana pak David masih fokus menatap kearahnya dan Mutiara


"Kamu tidurlah, biar Mutiara saya yang jaga"


"Tapi bos?"


"Tidak apa, ketika saya tidur kamu akan saya bangunkan"


Pak David mengangguk, lalu meluruskan tubuhnya di atas sofa kemudian mencoba memejamkan matanya


Dikeluarkannya hpnya lalu segera menghubungi Linda


Aku yang sengaja meletakkan hp di sudut ranjang langsung terbangun ketika hp tersebut berdering


"Sayang maaf ya jika aku ganggu waktu tidur kamu"


"Iya nggak apa-apa mas, bagaimana keadaan Mutiara?" tanyaku


"Sudah agak membaik, dan tadi mas juga sudah kekantor polisi menanyai kurir dan owner restoran tempat Tia mesan makanan, dan rencananya besok mas akan ke restoran itu melihat rekaman cctv nya"


"Ya sudah mas istirahat, jangan begadang, nanti kalau mas sakit siapa yang akan ngurusin mas"


Terdengar suara Hendri terkekeh di seberang dan aku tersenyum mendengar tawanya


"Ya sudah, selamat malam sayang, bilang sama anak kita kalau mas menyayanginya"


Sekarang giliran aku yang terkekeh, lalu obrolan kami berakhir dan aku menatap hp dengan tersenyum, karena wallpaper hp ku adalah wajahnya Hendri, entah mengapa sejak aku hamil, aku jadi sayang padanya, padahal dulu aku sangat membencinya bahkan aku sempat berniat akan membunuhnya


Tapi sejak kedatangannya yang tiba-tiba kemarin, semuanya berubah, terlebih karena Hendri perhatian dan juga menyayangiku


Aku tidak tahu apakah dia betul-betul menyayangiku atau karena aku sedang mengandung anaknya?, ah entahlah, aku tak tahu, yang kutahu sekarang adalah aku menyayanginya, itu saja


Lalu aku kembali menarik nafas dalam dan tersenyum getir, karena kebersamaan ku dengan Hendri tidak akan lama lagi, sekitar enam atau lima minggu lagi aku akan melahirkan, maka pada hari itu juga, perjanjian nikah kontrak kami habis, kami berpisah, Hendri mengambil anaknya dan aku mendapatkan kebebasanku. Aku bisa bertemu dengan ketiga anakku kembali, hidup dengan ketiga anakku lagi, tapi tidak akan kembali pada Agung


Lama aku bisa tidur kembali, aku hanya membolak balikkan tubuhku tanpa bisa memicingkan mataku


Sementara Hendri yang telah selesai menelepon Linda berpindah menelepon Grace, karena dia tahu di Jerman saat ini siang hari


"Kenapa Hen?" sambut dokter Grace ketika melihat hpnya

__ADS_1


"Aku ganggu kamu nggak Grace?"


"Tidak, aku sedang santai, week end juga kan, kenapa?"


Hendri menarik nafas panjang


"Nia kembali lagi, Grace"


"Apa?? Nia di Indonesia?, bukannya kamu bilang kata anak buahmu dia di Florida?"


"Aku juga nggak tahu Grace, sebulan yang lalu saat kami liburan di Swiss dia menemui ketiga anakku di hotel Swiss, dan hari ini ketika Mutiara masuk rumah sakit, tiba-tiba ada dia"


"Mutiara masuk rumah sakit?, sakit apa?"


"Keracunan"


"Keracunan?, gimana bisa?, kamu itu gimana sih Hen, kata kamu ada tiga bodyguard yang jagain mereka, mengapa Tia sampai bisa keracunan?"


Hendri memijit keningnya mendengar Grace sudah mengocehinya


"Aku itu Grace sudah tahu jika ngomong sama kamu pasti aku bakalan kamu marahi, tapi kalo aku nggak bilang sama kamu rasanya ada yang kurang dalam diri aku"


Terdengar dokter Grace tertawa dan Hendri hanya bisa menarik nafas panjang mendengar dokter Grace tertawa penuh kemenangan


"Ya lagian masa jagain anak aja nggak bisa, gimana jaga hati perempuan" kembali dokter Grace tertawa


"Terus gimana ini Grace?"


"Apanya yang gimana?"


"Masalah Nia"


"Jika dia berani macam-macam aku akan terbang ke Indonesia, akan aku obrak abrik dia, lihat saja"


Hendri terkekeh


"Kamu itu Grace...."


"Aku serius Hen, bakalan habis dia olehku jika kembali dia berani menyakiti kamu"


Hendri tersenyum mendengar jawaban dokter Grace


"Aku tidak salahkan Grace mengusirnya karena dia memaksa masuk melihat Mutiara?"


Dokter Grace diam beberapa saat


"Ceritakan semuanya sampai tuntas biar aku bisa mengambil kesimpulan!"


Hendri lalu menceritakan awal mula teror yang menimpa kedua anaknya sampai akhirnya dia pergi menemui Linda dan langsung kembali dengan terburu karena Mutiara keracunan


Lama dokter Grace terdiam mendengar semua cerita Hendri


"Kamu punya banyak musuh Hen, baik musuh pribadi seperti Agung dan juga Nia beserta selingkuhannya, dan juga kamu tentu punya saingan bisnis, bisa jadi ini juga ulah mereka"


Sekarang giliran Hendri yang terdiam mendengar jawaban dokter Grace


"Tapi apapun itu, aku mendukung kamu dengan tidak memberi akses Nia bertemu ketiga anakmu, karena kita tidak tahu siapa dalang dibalik ini semua, aku hanya tak ingin nyawa ketiga ponakanku terancam"


"Dan yang paling penting itu adalah nyawamu Hen..." suara dokter Grace melemah


Hendri menarik nafas panjang, dia yakin pasti saat ini wajah dokter Grace berubah sedih


"Jangan sedih Grace, sampai kapanpun aku akan selalu menyayangimu Grace, selalu"


Terdengar tarikan nafas berat dari dokter Grace

__ADS_1


"Aku juga menyayangimu Hen...."


__ADS_2