Istri Yang Tergadaikan

Istri Yang Tergadaikan
Pisah Ranjang


__ADS_3

"Keterlaluan kamu pi, kamu menyalahkan semuanya sama aku atas seluruh kejadian ini?"


"Pernah nggak papi mikir kenapa mami melakukan ini, tidak kan pi?"


"Semuanya mami yang salah, dan papi yang benar. Apa papi pikir tindakan papi yang selalu meninggalkan mami itu benar, iya?"


"Setiap hari papi sibuk di kantor, pulang kadang sudah dini hari, begitu juga ketika week end, papi hanya mengurusi kerajaan bisnis papi tanpa memperdulikan keberadaan ku"


Hendri menatap tak percaya pada Nia yang berani menjawab omongannya


"Apa aku salah jika akhirnya aku mencari kenyamanan di luar, apa aku salah jika akhirnya aku juga memilih menghabiskan waktuku dengan teman-temanku?"


Kembali Hendri mencekal kuat lengan Nia


"Apa kamu pikir aku di luaran itu senang-senang?, iya?"


"Mana saya tahu, papi beruang dan juga kaya raya, bakal banyak wanita di luar sana yang mengejar papi"


Kemarahan Hendri kembali memuncak


"Aku bukan murahan seperti kamu Nia. Aku di luar itu berbisnis, bekerja bukan menumpahkan benih di sembarang tempat"


"Dan kamu menyalahkan aku karena aku kebanyakan bekerja, iya?"


"Apa kamu tidak pernah berfikir bagaimana gaya hedon kamu?"


"Setiap saat selalu meminta transferan, padahal saldomu tiap bulan ku isi ratusan juta, kamu kemana kan uang itu, hah?"


"Kamu pakai untuk memfasilitasi kekasih gelap mu itu, iya?"


Nia menggeleng, kembali wajahnya memucat setelah tadi dia marah-marah


"Kamu melakukan kesalahan Nia. Dan kesalahanmu ini tak bisa aku tolerir, mulai sekarang aku tidak mau lagi sekamar dengan kamu, jijik aku tidur dengan perempuan yang telah tidur dengan lelaki lain"


Wajah Nia terkesiap, dan hanya mematung ketika melihat Hendri meninggalkan ruang keamanan


Nia mengusap wajahnya dengan kasar, air matanya yang sejak tadi mengalir kian tumpah dengan deras


"Arrrggh.. kenapa sih aku jadi begini ceroboh" sesalnya sambil terhenyak


Sementara Hendri yang telah naik keatas, segera berjalan menuju ruang kerjanya


Diusapnya wajahnya dengan kasar lalu menarik nafas panjang sebelum akhirnya dia mengetuk pintu


tok tok tok tok


"Apa papi boleh masuk?"


Alika segera berjalan kearah pintu dan membukakan pintu

__ADS_1


Hendri langsung masuk dan langsung disambut dengan dekapan hangat Alika


"Alika takut pi..."


Hendri mengusap lengan anak bungsunya sambil menciumi keningnya. Lalu dituntunnya Alika berjalan kearah sofa dimana dua saudaranya menatap kearah mereka


Hendri langsung merentangkan kedua tangannya, yang membuat ketiga anaknya berhamburan ke pelukannya


Hati Hendri terasa hancur ketika ketiga anaknya menangis di dekapannya


Setelah cukup lama mendekap sang papi, secara kompak Khayla dan kedua adiknya melepas dekapan mereka lalu duduk di sofa


Hendri langsung berjongkok di depan ketiga anaknya dan wajah sedihnya tak dapat dia tutupi


"Maafkan papi nak karena mengecewakan kalian, maafkan papi karena sering meninggalkan kalian maafkan papi...." suara Hendri hilang, matanya berkaca-kaca


Kembali ketiga anaknya merangkulnya dan kembali ketiganya menangis


"Kami sangat menyayangi papi...."


Hendri hanya mengangguk dan menyusut air matanya


"Papi janji, mulai sekarang papi akan ada terus untuk kalian, dan papi janji bahwa mulai besok papi akan siapkan bodyguard untuk mengawal kemanapun kalian pergi"


Khayla mengusap kasar wajahnya


"Tak perlu segitunya pi, sekarang pak Paino selalu jagain kami"


"Tidak nak, keselamatan kalian adalah prioritas papi, papi tak ingin kejadian yang menimpa kamu terulang lagi"


Sambil berkata begitu Hendri mendekap erat Khayla


"Ya Tuhan apa ini adalah karma karena aku melakukan perbuatan jahat pada Linda"


"Ingat Hen, kamu punya anak perempuan, bagaimana perasaanmu jika apa yang menimpaku ini terjadi juga pada ketiga anakmu?"


Terngiang jelas di telinganya kata-kata Linda ketika dia memohon belas kasihan darinya


"Sudah sayang, sudah malam, kalian kembali lagi ke kemar kalian, ya?"


Ketiga gadis itu mengangguk lalu kembali menatap sendu kearah Hendri


"Papi?"


Hendri tersenyum segaris


"Seperti biasa papi harus lembur dulu" tentu saja Hendri berbohong, tak mungkin dia mengatakan sejujurnya pada ketiga anaknya


Secara bergantian Hendri mencium kening ketiga anaknya lalu mengantarkan ketiganya sampai depan pintu

__ADS_1


Sepeninggal ketiga anaknya Hendri langsung menendang kursi dengan kasar yang menyebabkan kursi tersebut terpelanting lalu dia meninju keras tembok, yang mengakibatkan lukanya yang hampir kering kembali berdarah


Khayla dan kedua adiknya yang sudah sampai di atas tangga refleks menoleh ketika mereka mendengar suara benda keras terpelanting


Ketiganya menarik nafas panjang, lalu wajah ketiganya kembali murung


Di bawah tangga mereka melihat mami mereka berjalan mendekat kearah tangga


Khayla melengos seolah tak melihat ada maminya yang memandang sedih kearah mereka


Ketika sampai di depan maminya, Nia langsung menarik tangan Khayla


"Mami minta maaf Khe..."


Khayla dengan pelan melepaskan pegangan maminya lalu berjalan kearah kamarnya


Begitu juga dengan Mutiara dan Alika, mereka juga seperti tak memperdulikan tatapan memelas dari wajah mami mereka


Melihat ketiga anaknya memasang wajah datar, air mata Nia kembali mengalir deras


Sementara di ruang kerja yang telah berubah seperti kapal pecah, Hendri terduduk lemas di kursi


Berkali-kali dia menjernihkan otaknya mengingat seluruh kejadian yang ada di rumahnya ketika dia tak ada


Dan sudah tak terhitung berapa kali dia menarik nafas panjang ketika mengingat rekaman istrinya dengan selingkuhannya


Diusapnya kasar wajahnya dengan menarik nafas panjang, hingga akhirnya dia mengeluarkan hp dari dalam saku jeansnya


"Marko, besok kirim tiga bodyguard ke rumahku"


"Baik bos"


Lalu masih dengan gaya dingin, Hendri kembali mengusap layar hpnya dan melihat kembali aplikasi cctv yang ada di hpnya


"Untuk apa ada aplikasi ini di hp ku jika selama ini tak pernah aku gunakan?" sesalnya sambil kembali menarik nafas panjang


"Mungkin yang Nia katakan benar, aku bersalah karena sering mengabaikannya, tapi bukan dengan jalan dia berselingkuh untuk membalas ku"


Huffff....


Hendri menutup wajahnya lalu menarik rambutnya dengan pikiran kacau


"Sepertinya aku butuh anak buahku untuk mencari siapa sebenarnya selingkuhan Nia" gumamnya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya


Lalu kembali Hendri mengusap layar hpnya


"Besok temui saya di kantor, saya ada tugas khusus untuk kalian"


Setelah berkata seperti itu Hendri merebahkan kepalanya dan menatap langit-langit ruang kerja dengan perasaan campur aduk

__ADS_1


Sementara Nia yang telah berada di kamarnya hanya bisa menangis tersedu menyesali kebodohannya


"Bagaimana jika nanti Hendri menceraikan ku, hidupku nanti bagaimana?" gumamnya kalut


__ADS_2