
Mobil yang dikendarai supir yang membawa Hendri sengaja turun di dekat motor para bodyguard
Marko telah diberitahu agar masuk ke kawasan rumah yang diintai dengan berjalan kaki
Saat itu malam telah larut, hampir mendekati dini hari. Angin yang berhembus dari balik pohon dan semak yang ada di kanan kiri jalan berbatu menambah dinginnya suasana
Berkali-kali Hendri hampir terjatuh akibat terjalnya jalan yang mereka lalui
Bodyguard yang berjalan di depan dan di belakang terus waspada, dan mereka selalu tampak berbicara pelan di hp
"Mereka di sana" ucap seorang bodyguard menunjuk kearah semak-semak
Dan benar saja, dari balik semak muncul tiga orang pria tinggi besar yang langsung berjalan kearah dua bodyguard
"Ini bos saya" ucap bodyguard tersebut
Ketiganya langsung mengulurkan tangan mereka kearah Hendri dan Marko
"Apa ada pergerakan di dalam rumah itu?"
"Kami sejak tadi mengintai, dan kami dengar ada suara teriakan di dalam"
Jantung Hendri kembali berdegup kencang
"Linda...." desisnya
"Suara wanita yang berteriak menyebut nama seseorang"
"Siapa yang dia sebut?" ucap Hendri bergetar
"Hendri..., iya, Hendri, kami mendengar jelas suara teriakan wanita tersebut menyebut nama Hendri"
Hendri langsung menghembus nafas panjang dan mengusap wajahnya
Dan Marko langsung memegang pundak Hendri untuk menguatkan bos nya tersebut
"Saya yang dipanggilnya, saya suaminya" jawab Hendri masih dengan suara bergetar
"Marko, ternyata di sana benar Linda" ucap Hendri memegang tangan Marko erat
Marko mengangguk, walau dalam gelap dan hanya cahaya bulan yang menerangi, tapi Marko yakin jika saat itu wajah Hendri menyiratkan sebuah harapan besar
"Kita langsung kesana" ucap Hendri cepat
Tapi bahu Hendri langsung dicekal pria tinggi besar yang tadi berkata padanya, pria itu menggeleng
"Kita tidak bisa gegabah tuan, kita tidak bisa membahayakan nyawa istri tuan, kita belum tahu ada berapa orang di dalam sana"
Marko mengangguk setuju mendengar ucapan pria besar itu
__ADS_1
"Tapi di dalam ada istri dan anakku" kembali suara Hendri terdengar lemah
"Sebentar lagi fajar akan menyingsing, dan bisa dipastikan jika orang yang ada di dalam rumah itu akan keluar, jadi kita tahu ada berapa orang di dalam sana"
Hendri mendongakkan wajahnya dengan kembali menghembus nafas panjang
"Bersabarlah dulu tuan, kita menunggu sebentar. Tuan tenang saja, anak buah saya telah menyebar di seluruh tempat ini, mereka tinggal menunggu aba-aba dari saya, jika saya bilang serang, bisa dipastikan rumah itu akan hancur. Tapi kembali saya tak ingin gegabah, satu menyangkut keselamatan nyawa istri tuan, dan kedua saya juga memikirkan keselamatan anak buah saya"
"Kami faham bagaimana khawatirnya bos, tapi kita atur strategi dulu, ya?" ucap Marko membujuk Hendri
Tak ada pilihan lain bagi Hendri selain menuruti kata Marko dan juga kepala preman ini, jika selama ini Hendri selalu berurusan dengan mitra bisnis tapi berbeda dengan kali ini, ini lebih dari bisnis rumit yang pernah sukses diraihnya, ini tentang istri dan calon anaknya, yang kesemua keselamatan mereka menjadi prioritas utama bagi Hendri
Hendri terduduk di rumput, menarik nafas panjang dan hanya mendengarkan bagaimana kepala preman itu mengatur strategi dengan kedua bodyguardnya dan juga Marko
Hendri sekalipun tidak bersuara memberikan masukan, pikirannya sudah terkuras habis memikirkan keadaan Linda dan mengutuk dirinya mengapa dia tidak selalu ada di dekat Linda
...----------------...
Aku yang tidur dengan baju basah hanya bisa menahan dingin semalaman ini
Suasana sangat hening, sepertinya Agung, Nia dan dua orang pria kurang ajar yang tadi menyiram ku telah tertidur
"Brengsek Agung, aku bersumpah akan membunuhnya jika nanti aku bebas" geram ku marah
"Bebas?, bisakah aku bebas?" kembali aku membatin
"Aku pasti bebas, mas Hendri tidak mungkin tidak akan menyelamatkanku, dia sangat menyayangi anaknya, dia pasti datang, pasti, pasti" gumamku menyemangati diriku sendiri
Tak mungkin Agung dan Nia membawaku ketempat yang tidak jauh, aku yakin tempat ini pastilah tempat terpencil, mereka sudah tahu bagaimana Hendri, dan aku yakin mereka pasti telah merencanakan ini jauh-jauh hari
Aku memasang telingaku lamat-lamat, terdengar suara jangkrik dan hewan malam lainnya, serta seperti suara deburan ombak
"Ombak? ah iya, aku yakin itu suara ombak, itu artinya aku sekarang berada tak jauh dari pantai?" batinku lagi
Kembali aku berusaha menggerakkan tangan dan kakiku, berharap jika ikatan yang sejak beberapa jam lalu mengikat kaki dan tanganku mengendur, tapi rupanya ikatan tersebut masih kuat
Dan aku langsung menutup mataku dengan cepat ketika kudengar ada langkah kaki di luar, degup jantungku kembali berdebar ketika kudengar pintu ruanganku kembali dibuka seseorang
"Linda....?"
Aku diam, karena itu suara Agung
Kembali kurasakan tangan Agung menempel di wajahku, dengan cepat aku membuka mataku dan menarik wajahku menghindari tangannya
"Kamu mau apa?" bentak ku
Agung membenarkan posisi berdirinya, menunduk menatapku yang duduk di kursi, sedangkan aku mendongakkan kepalaku melihat kearahnya
"Kamu tentu tahu apa maksudku" ucap Agung dengan nafas memburu
__ADS_1
Aku menggeleng kuat dan kembali berusaha menghindari tangannya
"Lepaskan!!!" teriakku saat Agung kembali menarik tengkukku
Dan Hendri langsung berdiri begitu didengarnya suara teriakan Linda
"Bos, tahan!" cegah kepala preman memegang tangan Hendri
"Kalian dengarkan, itu tadi suara istriku berteriak, terserah kalian mau apa, yang penting sekarang aku akan kesana, aku akan menyelamatkan istriku, dengan atau tanpa kalian" ucap Hendri dingin
"Bos, jangan" kali ini Marko yang bergerak menahan Hendri
Sementara kepala preman telah tampak berkata dengan anak buahnya melalui hp
"Menurut pengintaian anak buahku, di sana ada lima orang, tiga laki-laki dan satu perempuan, dan satu lagi perempuan yang terikat di kursi"
Hendri memejamkan matanya sebentar dengan frustasi ketika mendengar jika Linda terikat di kursi
"Ini sudah fajar bos, dan anak buahku sudah merapat ke rumah tersebut, saat ini mereka telah mengepung rumah tersebut dan telah bersiap menyerbu"
Hendri menarik nafas panjang dan kembali dia bergerak ketika didengarnya suara teriakan Linda
Dan aku terus berteriak menghindari Agung yang saat ini terus memaksa mencium bibir dan wajahku.
"Mas Hendri...... Tolong akuuuu....." teriakku kencang
Akal Hendri telah hilang ketika dia mendengar jelas Linda memanggil namanya, dibuangnya tangan Marko yang memegang tangannya kemudian dia langsung berlari kencang
"Bos...!!!" teriak Marko yang menyusul di belakang
"Serbu rumah itu!!!!" teriak kepala preman yang berkata di hp yang juga berlari menyusul Hendri
Hendri tak memperdulikan tubuhnya yang jatuh bangun, dia terus berlari kearah rumah dimana Linda disekap
Nafasnya yang memburu menahan marah serasa sudah akan meledak dengan kemarahan
Dan di rumah tempat dimana aku disekap saat ini terdengar suara sangat gaduh. Dan Agung yang saat ini telah merobek bajuku menghentikan aksinya dan menoleh kearah pintu dimana terdengar banyak langkah kaki
Terdengar jelas teriakan kemarahan di luar, dan pintu tempatku disekap terbuka dan muncul Nia dengan wajah tegang
Secepat kilat Nia mengunci pintu, dan berlari ke arahku yang saat ini telah terduduk di lantai
"Brengsek kamu Agung, kan aku sudah bilang, kamu tahan nafsu kamu!!" dorong Nia pada bahu Agung
Dengan kasar Nia menarik tubuhku agar aku berdiri, tapi kemudian aku limbung karena kaki kiriku tidak berfungsi
Dengan cepat ditangkapnya tubuhku, didekapnya bahuku agar aku tidak jatuh
"Cepat kamu ambil pistol di dalam tasku" ucap Nia melempar tasnya
__ADS_1
Dengan sigap Agung mengambil pistol yang tadi dikatakan Nia, lalu Agung mengarahkannya tepat kearah pintu saat pintu tersebut di dobrak
"Berhenti kalian, jika tidak wanita ini saya tembak!"