
Empat orang sepupu Hendri menggedor kuat ruang operasi. Dokter yang sedang berusaha menempelkan pacu jantung di dada Hendri menoleh kearah pintu yang digedor
"Apa mereka tidak bisa menunggu jika sekarang kita sedang berusaha menyelamatkan nyawa keluarganya" ucap dokter marah
Sementara dokter tersebut tak melepaskan alat pacu jantung, dan perawat yang juga tampak gugup hanya menoleh panik kearah pintu yang terus digedor
"Coba kamu lihat!"
Seorang perawat mengangguk dan dengan tergopoh dia berjalan kearah pintu, membuka pintu
Grace langsung merangkak begitu pintu terbuka
"Saya kembaran Hendri dan saya yakin dia saat ini sedang membutuhkan saya" ucap Grace masih dengan nafas tersengal
Perawat yang menutup pintu memandang bingung dan tak percaya pada Grace
"Mereka berdua kembar, dan anak saya ini bisa merasakan apa yang dirasakan oleh saudara kembarnya" ucap papanya Hendri
Karena perawat itu masih bengong keempat sepupu Hendri mendorong kasar perawat itu dan mereka mengangkat tubuh Grace
Dokter yang sedang memacu jantung Hendri menoleh, dan Grace makin berteriak histeris melihat Hendri yang telah diam tak bergerak
"Keluar kalian!!" bentak dokter
Grace yang histeris tak memperdulikan teriakan dokter, begitupun dengan keempat sepupunya.
Dengan cepat mereka membawa Grace ke dekat Hendri. Begitu sampai di dekat Hendri, kembali Grace berteriak histeris dengan langsung memeluk erat Hendri
"Bangun Hen, bangun!!!, kamu nggak boleh mati, kamu harus hidup demi aku!!!, bangun Hen....!!!"
Grace mengguncang-guncang bahu Hendri, keempat sepupunya yang berdiri di dekat mereka tampak mengusap wajah mereka
Dan papa Hendri yang masuk segera terduduk lemas di lantai ketika dilihatnya Hendri tidak bergerak sama sekali
"Hendriiiiii...... No, kamu nggak boleh mati!!!!" Grace kembali berteriak histeris
Grace menarik alat bantu pernapasan yang ada di ruangan itu, memasang alat tersebut agar dia bisa bernafas dengan sempurna seperti tadi
Lalu diambilnya pacu jantung dari tangan dokter dan menempelkannya di dada Hendri
Tubuh Hendri terangkat ketika benda itu menempel di dadanya, dengan berlinang air mata dan terus berteriak memanggil nama Hendri, Grace terus memacu jantung Hendri
"Yang sabar dokter...." ucap dokter memegang bahu Grace
Grace tak memperdulikan perkataan dokter tersebut, dia terus memacu jantung Hendri
"Kamu kuat Hen, kamu kuat. Kamu harus bertahan" lirih Grace dengan suara bergetar dan wajah basah oleh air mata
Tit tit tit tit....
Grace langsung membuang alat pacu jantung di tangannya begitu melihat layar monitor yang merekam detak jantung Hendri kembali bergerak naik
Grace kembali menghambur ke pelukan Hendri dan menangis kencang di bahu Hendri
"Aku tahu kamu kuat, aku tahu itu Hen, aku tahu kamu tidak akan pernah meninggalkan aku"
Dokter yang melihat jika jantung Hendri kembali berdenyut menarik nafas panjang dan membiarkan Grace memeluk Hendri untuk meluapkan emosinya
Papanya Hendri dan keempat sepupunya yang melihat jika Hendri selamat langsung saling berangkulan
__ADS_1
Bahkan papanya memeluk bahu Grace yang berguncang akibat Grace menangis
Setelah cukup puas meluapkan emosinya, Grace melepas dekapannya pada Hendri lalu menghapus kasar wajahnya
"Sudah selesai mengeluarkan pelurunya?" tanya Grace
"Belum dokter, masih ada satu peluru lagi yang belum dapat kami keluarkan"
Grace mengulurkan tangannya kearah dokter
"Biar saya yang mengeluarkannya"
"Tapi dokter?"
Grace menggeleng
"Untuk kali ini, tolong izinkan aku yang menolong saudaraku dokter"
Papa Grace mengusap kepala Grace dengan sayang
"Aku adalah kekuatannya Hendri pa...." ucap Grace pelan sambil kembali berlinang air mata
Papanya mengangguk sambil terus mengusap kepala Grace
"Tolong dokter, mereka kembar identik dan maaf, anak saya ini dokter di Jerman, jadi dia pasti akan melakukan yang terbaik untuk saudara kembarnya"
Dokter mengangguk lalu menyerahkan alat yang tadi dipakainya untuk mengeluarkan peluru di dada Hendri
"Papa dan mas semua keluar saja" pinta Grace
Papanya menurut, dengan dibimbing keponakannya, papa Hendri keluar dari dalam ruangan tersebut
Tak butuh waktu lama Grace berhasil mengeluarkan peluru yang bersarang di dada kanan Hendri lalu dengan mudah dia menjahit kembali luka robek tersebut
Dokter tadi mengangguk, lalu menoleh kearah perawat yang segera membawa Grace keruang transfusi
Sementara Linda yang ada satu ruangan dengan Hendri saat ini telah selesai dilakukan operasi
Peluru yang menembus dadanya telah berhasil dikeluarkan dan saat ini Linda masih belum sadarkan diri
Setelah selesai keduanya dioperasi, perawat segera memindahkan keduanya keruang icu
Marko dan dua bodyguard tampak shock melihat bos mereka terbaring tak berdaya, terlebih ketika mereka lihat bekas operasi yang kelihatan sedikit melalui pakaian yang saat ini dikenakan Hendri
Mike juga tampak shock melihat Linda yang terbaring lemas
"Bagaimana kondisi janinnya?" tanya papa Hendri ketika brankar yang membawa Linda lewat di depannya
"Masih akan kami periksa dulu, jika memang bisa dipertahankan tidak akan kami operasi, jika memang berisiko terpaksa akan kami operasi"
Setelah berkata begitu perawat mendorong brankar Linda dan memasukkannya di ruangan icu yang sama dengan Hendri
Dan Grace yang telah selesai mendonorkan darahnya, kembali masuk kedalam ruang icu tempat Hendri dan Linda saat ini
Sementara Om-omnya serta sepupunya menunggu di luar. Sedangkan papanya dan Marko turun menemui para preman, mengucapkan terima kasih atas bantuan mereka dan meminta pada mereka untuk mendokan keselamatan Hendri
"Jangan sungkan untuk memberitahu kami jika kalian butuh bantuan" ucap Marko sambil memeluk mereka satu persatu
Dan papanya Hendri yang mengetahui jika seluruh preman ini yang telah menolong Hendri dan Linda, tanpa sungkan segera mengeluarkan cek kosong dalam saku jasnya
__ADS_1
"Terserah mau anda tulis angka berapa di sini" ucap papa Hendri sambil menyerahkan cek tersebut kepada kepala preman
Kepala preman menggelengkan kepalanya sambil mengembalikan cek tersebut
"Kami memang preman tuan, tapi kami juga punya hati, kami menolong karena ikhlas bukan ingin mendapat bayaran"
"Saya tidak membayar kalian, saya hanya mengucapkan terima kasih"
"Come on bro, tuan saya telah berbaik hati, jangan kecewakan beliau" ucap Marko membujuk kepala preman untuk menerima niat baik papanya Hendri
"Kami berjumlah lima puluh orang tuan, apa tidak kebanyakan jika saya menulis angka lima puluh juta?"
Papanya Hendri menggeleng, diambilnya kembali kertas cek yang ada ditangan kepala preman, lalu tampak beliau menuliskan angka di cek tersebut lalu menyerahkannya kembali pada kepala preman
Kepala preman yang menerima cek tersebut hanya menatap bengong pada angka yang tertera di kertas lalu menoleh kearah teman-temannya, lalu temannya yang berdiri di kanan kirinya melongok kan kepala mereka melihat isi tulisan di atas kertas tersebut, lalu mereka juga menggeleng
"Kenapa?" tanya papanya Hendri
"Kami tidak mengerti ini nilainya berapa tuan, karena angka nol nya banyak sekali"
Marko tersenyum ketika kepala preman itu memperlihatkan kertas cek padanya.
"Ini artinya satu milyar" ucap Marko
"Apaaaa???!!!" teriak para preman
Papanya Hendri maju ke depan, memeluk kepala preman sambil kembali mengucapkan rasa terima kasihnya
"Uang ini tidak sebanding dengan nyawa kedua anakku dan juga nyawa menantu dan calon cucuku" lirih papanya Hendri sambil mengusap wajahnya
Dan kepala preman yang masih tampak shock tidak menjawab bahkan tetap bergeming ketika papanya Hendri dan Marko berpamitan padanya
...----------------...
Aku membuka mataku dengan pelan, berusaha beradaptasi dengan lingkungan putih yang aku lihat
"Apa aku sudah mati?" batinku
Lalu aku berusaha menggerakkan kepalaku, melihat kesamping dimana ada layar monitor dan tabung gas besar
Lalu aku kembali berusaha melihat kearah lain, dimana ada tirai biru yang tergantung di tengah ruangan
"Mas....." lirihku
Dan Grace yang tertidur dengan posisi duduk di kursi di sebelah Hendri segera membuka matanya begitu lamat lamat telinganya mendengar sebuah suara
"Linda...?" gumamnya yang langsung bangkit dari duduknya
Dan aku yang melihat Grace berjalan ke arahku hanya mampu menatap nanar wajah sembab perempuan itu
"Kamu sudah sadar?"
Aku tak menjawab pertanyaan Grace melainkan terus menatapnya
"Hendri ada di balik tirai ini, dan dia juga selamat"
Aku menarik nafas lega dengan mata yang terasa panas
"Hendri tidak akan meninggalkanku, karena Hendri tahu jika dia itu nyawaku" ucap Grace
__ADS_1
Air mata haruku karena mendengar suamiku selamat berubah menjadi air mata sedih mendengar ucapan dokter Grace
"Ya Tuhan sesakit inikah hatiku?" batinku