
Hendri yang tak bisa berbuat apa-apa ketika Linda pergi dari kamar kini terduduk lemas di atas kasur
Dengan wajah frustasi diusapnya wajahnya, menarik nafas panjang berkali-kali, menengadahkan wajahnya ke langit-langit kamar, lalu menarik rambut gondrongnya dengan kebingungan
Di luar gelap sudah mulai berubah temaram, suara jangkrik dan hewan malam yang tadi bersenandung telah berubah dengan suara kokok ayam di kejauhan
Kembali Hendri mengangkat wajahnya, menoleh kearah pintu berharap jika Linda akan muncul
Namun hingga gelap berubah terang, Linda tak juga kembali ke kamar tersebut
Masih dengan frustasi Hendri bangkit dari duduknya, berjalan kearah pintu terlihat berdiri mematung menatap ruang tamu yang kosong
Lalu dia berjalan pelan keruang tivi, berharap jika Linda ada di sana, ternyata ruangan tersebut juga kosong
Kembali dia berjalan menuju dapur dimana hanya ada dua orang asisten rumah tangga yang sedang beraktifitas, dan keduanya tampak terkejut dengan kehadiran Hendri, lalu buru-buru berdiri, dan menundukkan kepala mereka layaknya memberi hormat pada majikannya tersebut
"Kalian melihat istriku?"
Kedua asisten itu menggeleng lalu kembali menundukkan kepala mereka
"Tolong cappuccino satu ya mbak, bawa ke kamar pribadi saya di atas"
"Baik tuan"
Hendri berlalu dari ruang belakang, berjalan ke depan, dimana didapatinya tukang kebun tengah membersihkan tanaman
Sama seperti pekerja lain, tukang kebun pun tampak kaget melihat Hendri, beliau segera berdiri membersihkan tangannya dengan mengelapkan kedua tangannya ke baju yang dikenakannya lalu mengangguk takzim kearah Hendri, kemudian menundukkan kepala
Hendri yang berjalan kearah lelaki itu tersenyum lalu menepuk pundaknya
"Bunganya banyak ya pak, bagus-bagus pula" Hendri mencoba berbasa basi
"Iya tuan, ini semua nyonya yang menanam"
Hendri diam, dipandanginya bunga yang tersusun rapi di pot dan di tanah bahkan di sana juga terdapat tanaman obat keluarga serta sayuran
"Ini semua istri saya yang menanam?"
"Iya tuan"
"Memang dia bisa?"
"Bisa tuan, bahkan nyonya sangat telaten, melebihi kami"
Hendri tersenyum segaris, diletakkannya tangannya di atas seluruh tanaman yang dikatakan tukang kebun tadi hasil kreasi Linda, merasakan kebahagiaan dan rasa aneh yang tiba-tiba menyergap dadanya
"Tuan....?"
Hendri yang sedang memejamkan matanya menikmati sentuhan tanaman yang ada di dekatnya segera menoleh kearah bibi Niluh yang telah berdiri di belakangnya
"Apa Linda di kamar bibi?"
__ADS_1
Bibi Niluh mengangguk, lalu Hendri segera berjalan masuk, dan bibi Niluh mengikutinya dari belakang berusaha mensejajari langkah majikannya
"Nyonya tertidur lagi tuan, tolong jangan diganggu"
Hendri tak menggubris omongan bibi Niluh, dia terus saja berjalan cepat kearah kamar bibi Niluh, dan langsung membuka pintu tersebut begitu dia sampai
Langkahnya melambat ketika dilihatnya Linda tengah pulas tertidur
Tubuhnya yang dimiringkan nya tertutup selimut, hanya tarikan nafas teratur yang keluar dari hidungnya
Hendri mendekat, duduk di dekat Linda, mengecup pelipisnya dengan dalam
Bibi Niluh yang melihat hanya terdiam dan terpaku di tempatnya.
Kaki Linda bergerak, dan Hendri langsung mengusap-usap kepalanya berharap jika wanita itu kembali pulas
Hendri lalu melihat kearah bibi Niluh yang berdiri di dekat pintu, kemudian dia bangkit, mencium kembali pelipis Linda lalu mendekati perempuan paruh baya tersebut
"Bibi ikut saya!"
Bibi Niluh hanya bisa mengangguk dan mengekor di belakang bos besarnya yang berjalan naik kelantai atas
Hendri segera masuk ke kamar pribadinya, dimana telah terletak secangkir cappuccino, diraihnya gelas tersebut, dibawanya kearah balkon, dan bibi Niluh yang mengekor di belakangnya turut pula berjalan kearah balkon
Hendri duduk, menyeruput sebentar cappuccino yang ada di tangannya, meletakkan cangkir tersebut lalu menyulut sebatang rokok
Dan bibi Niluh yang berdiri tak jauh darinya, hanya mampu menundukkan kepala dengan degup jantung yang berdebar keras
"Katakan padaku bi, mengapa bibi tidak memberitahuku?"
"Jawab bi, aku sudah menganggap bibi seperti mamaku sendiri, terlebih karena bibi sudah baik dengan istriku"
Bibi Niluh masih diam dan makin tak berani bersuara
"Apa Linda yang meminta?"
Dengan pelan bibi Niluh mengangguk. Hendri menarik nafas panjang
"Sejak kapan bibi tahu jika Linda hamil?"
"Sejak nyonya kembali dari ibukota"
Kembali Hendri menarik nafas panjang
"Apa alasan Linda tidak memberitahuku bik?"
Bibi Niluh diam, bingung mau menjawab apa, dia takut jika jawabannya akan membuat Hendri marah
"Katakan bik, aku telah lama meninggalkan Linda, aku tidak pernah tahu bagaimana keadaannya setelah hari itu, aku tahu bagaimana wanita hamil, dulu istriku ketika hamil dia sangat manja, cengeng, mudah marah, mood nya selalu berubah-ubah, tiap hari selalu ingin ada aku di dekatnya"
Bibi Niluh menarik nafas dalam, mengangkat kepalanya, memandang takut pada majikannya
__ADS_1
"Kami tidak tahu apa yang ada di dalam hati nyonya, karena sejak tuan tidak pernah lagi datang, nyonya berangsur kembali normal, tidak murung lagi, bisa diajak berbicara, bahkan sekarang kembali seperti nyonya yang dulu, yang ceria dan bergaul dengan kami semua"
"Bibi pasti tahu kan alasan mengapa Linda tidak memberitahuku?" kembali Hendri berusaha mengorek informasi dari orang terdekat Linda itu
"Karena nyonya tidak ingin disiksa tuan lagi, dan nyonya ingin mentalnya tidak rusak akibat selalu stress ditekan oleh tuan"
Hendri memejamkan matanya, hatinya rasanya tercabik-cabik mendengar jawaban dari bibi Niluh
"Awalnya nyonya ingin, jika siksaan dari tuan akan berdampak buruk bagi janin yang dikandungnya agar tuan merasakan penderitaan yang sama dengan nyonya ketika melihat anak tuan lahir tidak sempurna"
"Tapi naluri seorang ibu tidak akan pernah rela jika anaknya cacat atau sengsara, oleh karena itulah, nyonya selalu menjaga janinnya dengan baik"
Hendri kian menarik nafas panjang.
"Apakah Linda pernah kontrol kehamilannya?"
Bibi Niluh mengangguk.
"Setiap bulan tuan"
Hendri tersenyum getir
"Aku tidak memberinya uang sesen pun bik, dari mana dia dapat uang untuk memeriksa kandungannya?"
"Maaf tuan, selama ini nyonya periksa kandungan memakai uang bibi"
Hendri mengusap wajahnya, rokok yang sejak tadi dihisapnya telah memenuhi asbak saking banyaknya
"Apa kata dokter bik?"
"Janinnya sehat, dan tumbuh kembangnya juga baik, kalau tidak salah kemarin periksa jenis kelaminnya laki-laki, sesuai dengan harapan tuan"
Mata Hendri langsung berkaca-kaca, segera dia bangkit dari kursinya, meninggalkan bibi Niluh yang termangu melihat kepergiannya
Hendri setengah berlari keluar dari kamarnya, menuruni tangga dengan cepat lalu kembali bergegas masuk kedalam kamar bibi Niluh
Aku yang telah terbangun, terlonjak kaget ketika melihat Hendri masuk, segera aku beringsut menarik kakiku dan menatap nanar padanya yang setengah berlari ke arahku
Hendri segera mendekap ku, erat sangat erat. Dapat aku rasakan bagaimana dia menciumi puncak kepalaku berkali-kali
Aku hanya membiarkan dia memelukku, sampai akhirnya Hendri melepas dekapannya padaku, lalu memandang wajahku dengan sendu
"Mengapa kamu tidak memberitahuku Lin jika kamu hamil?"
Aku hanya memandang wajahnya tanpa berniat sedikitpun menjawab
Kembali Hendri menarik kepalaku, mendekapnya dan kembali kurasakan dia menciumi kepalaku
Setelah cukup lama dia mendekap ku, secara perlahan aku mendorong tubuhnya agar menjauh dariku
"Pergi, aku tak ingin ada kamu disini, jangan siksa aku dan anakku lagi"
__ADS_1
Hendri segera turun dari ranjang, memandang ke arahku yang terus mendorongnya menjauh
Hendri mengusap wajahnya dan kembali mendekap ku. Tapi aku terus mendorongnya agar dia segera menjauh dariku