
Aku yang tahu jika di dekat kakiku ada Hendri yang duduk semakin merapatkan mataku dan semakin tak berani bergerak
Kudengar suara nafas panjang dari Hendri hingga kurasakan jika dia bangkit dan aku hanya mendengar langkah kakinya menjauh berjalan kearah toilet
Aku segera membuka mataku menarik nafas panjang, lalu mengubah posisi tidurku menjadi telentang
Menyibakkan sedikit selimut yang sejak tadi menutupi seluruh tubuhku lalu memandang kearah pintu kamar mandi yang tertutup rapat
Sementara di dalam kamar mandi, Hendri yang membasuh wajahnya saat ini melihat pantulan wajahnya di cermin
"Apa yang kau lakukan Hendri, begini cara kau menjaga amanah yang diberikan Tuhan padamu?" gumamnya sambil menatap tajam pantulan wajahnya
Kembali Hendri membasuh wajahnya dan kembali melihat pantulan wajahnya, ditariknya nafas panjang lalu keluar dari sana
Aku yang mendengar pintu kamar mandi dibuka, dengan cepat kembali memiringkan tubuhku, memejamkan mataku dan merapatkan kembali selimut ke tubuhku
Hendri melepas kemeja yang melekat di tubuhnya menggantinya dengan kaos oblong, dan mengganti celana jeans yang dikenakannya dengan celana pendek
Lalu merangkak naik keatas ranjang, menyibak selimut yang menutupi tubuh Linda dan mengangkat kepala wanita itu dan meletakkannya di lengannya
Dan aku yang merasakan Hendri menarik selimutku dan mengangkat kepalaku dan meletakkan di lengannya hanya diam saja dan terus memejamkan mataku
Kurasakan Hendri menciumi tengkukku berkali-kali dan tangannya menarik tubuhku agar mendekat kearahnya
Aku hanya menggerakkan kepalaku karena merasa geli dengan ciumannya dan tangan kananku menggapai tangannya yang berada di dekat kepalaku, dan menyatukan tangan kami
Lalu setelah itu entah dari mana datangnya, mataku langsung terasa berat dan terlelap dalam dekapan Hendri
Begitupun dengan Hendri yang merasa nyaman setelah memeluk tubuh Linda langsung terlelap hingga pagi datang keduanya masih betah dalam satu selimut
...----------------...
Aku terbangun dan mendapati jika aku terlelap di pelukan Hendri, rasanya enggan sekali aku bangun, masih ingin terus dalam dekapannya, tapi aku teringat bagaimana perlakuannya padaku kemarin yang membuat rasa kesal dalam hatiku tiba-tiba datang
Dengan cepat aku membuang tangannya yang melingkar di perutku lalu turun dari ranjang
Hendri yang kaget ketika tangannya aku buang segera membuka mata. Dan aku tak memperdulikan itu, aku segera mengambil ikat rambut lalu berjalan tertatih keluar dari kamar
Hendri yang melihat Linda pergi dari kamar tanpa menoleh padanya, yakin jika perempuan itu marah padanya
Hendri segera bangun dan bersandar pada sandaran ranjang lalu meraih hp yang terletak di atas meja
Ada beberapa panggilan tak terjawab dari Marko yang membuatnya segera menelepon balik Marko
__ADS_1
"Ada apa?" kalimat yang pertama Hendri ucapkan ketika Marko mengangkat panggilannya
"Hari ini jadi pulang bos?"
"Tidak, saya masih banyak urusan disini, pekerjaan kantor dan proyek kamu yang handle, secepatnya kabari saya jika ada yang urgent"
"Tapi bos?"
"Tidak ada tapi-tapian, istri saya sendirian di villa ini, saya tidak bisa meninggalkannya"
"Loh, kok bisa sendirian?, yang lain kemana bos?"
"Saya suruh mereka liburan, biar tidak ada yang mengganggu quality time saya dengan istri saya"
Terdengar suara gelak tawa dari seberang. Dan Hendri yang baru menyadari terjebak pertanyaan Marko memakinya dengan cepat
"Pantesan bos tidak bisa meninggalkan istri bos rupanya bos sedang bulan madu"
Kembali Marko tergelak dan langsung dibentak Hendri
"Sudah, jangan menggoda saya terus, kamu cepat kekantor sekarang"
"Bos, waktu kita beda satu jam, saya sekarang sudah di kantor, memangnya seperti bos yang masih saja di atas ranjang"
Dan aku yang telah sampai di dapur segera menyiapkan kopi cappuccino untuk aku seduh
Aku segera mengangkat kepalaku ketika kulihat Hendri berjalan kearah dapur, dan duduk
Kopi yang tadi telah ku seduh, aku letakkan di depannya tanpa berkata sepatah katapun
Lalu aku beralih ke pekerjaan lain, memeriksa rice cooker lalu mengisinya dengan beras.
Dan Hendri yang tengah menikmati kopi seduhan istrinya, terus menatap setiap gerak tertatih wanita itu.
Sepertinya bibi Ni Luh dan asisten yang lain memang telah menyiapkan banyak bahan makanan selama kepergiannya, buktinya stok lauk pauk lengkap di kulkas ini
Aku masih saja diam sedikitpun tak menyapa Hendri, aku yang saat ini membelakanginya karena aku sedang memotong daging masih saja tak perduli walau berkali-kali Hendri berdehem
Wajahku yang ku tekuk terus saja tak memperdulikan kodenya, sampai akhirnya kudengar Hendri mendorong kursi lalu dengan cepat menarik bahuku dan langsung ******* bibirku
Aku yang mendapat serangan ciuman mendadak darinya segera mendorong dadanya lalu kembali melanjutkan pekerjaanku
Hendri menarik nafas panjang melihat Linda yang betul-betul marah padanya
__ADS_1
Lalu Hendri kembali duduk di kursi, tempatnya semula dan kembali menyeruput cappuccino yang tinggal setengah
Dan aku yang terus menyiapkan masakan sekarang telah mengolahnya dan masih tanpa suara hingga selesai
Ketika semua masakan yang ku olah telah masak, aku segera meletakkannya kedalam tudung saji, mengambilkan nasi yang telah masak lalu meletakkannya di depan Hendri
Setelah air minum juga sudah ku letakkan, aku segera berjalan meninggalkan Hendri sendirian
Hendri kembali menarik nafas panjang melihat Linda yang masih tak memperdulikannya, lalu bergegas menyusul perempuan itu yang berjalan kearah kamar
Ketika Hendri hendak mendorong pintu kamar, dia sedikit bengong karena ternyata pintu itu dikunci dari dalam
"Lin...? Linda....?"
Aku yang mendengar panggilan Hendri dari luar makin menekuk wajahku dan memandang cemberut kearah pintu
"Lin, buka, aku mau masuk, Lin?"
Aku masih bergeming dan tetap di tempatku
Ketika suara ketukan berubah gedoran barulah aku beranjak. Dengan masih memasang wajah cemberut aku membuka pintu lebar-lebar
Lalu setelah itu aku mendorong sedikit tubuh Hendri lalu aku berjalan meninggalkan kamar
Hendri kembali menarik nafas panjang melihat Linda yang masih marah padanya
"Jika sudah begini, apa coba yang harus ku lakukan?" gumamnya sambil menggigit bibirnya
Sementara aku yang meninggalkan Hendri sendirian saat ini telah berjalan keluar villa. Berjalan tertatih di taman
Aku duduk di sebuah bangku tempat dimana aku sering duduk dengan bibi Ni Luh. Memandang berkeliling pada taman dengan wajah kesal
Lalu kepalaku memutar kearah gerbang yang didorong, dan kulihat dokter Grace tengah mendorong gerbang
Seketika kekesalanku memuncak kembali dan aku memiringkan tubuhku tak ingin melihat kearahnya yang saat ini telah turun dari dalam mobil
Wajahku kian ku tekuk ketika kulihat Hendri keluar dan telah tampak rapi. Kembali seperti biasanya dokter Grace merentangkan tangannya dan Hendri memeluknya dengan hangat
Aku segera membuang mukaku ketika melihat mereka berpelukan dan menendang batu kecil yang ada di depanku dengan kesal
Hendri yang melihat Linda masih memasang wajah masam sekarang tak memperdulikannya lagi dan segera mengajak Dokter Grace masuk
Aku makin kesal dan menggerutu tak jelas melihat keduanya masuk
__ADS_1
"Dasar pria brengsek" makiku dengan geram