
Hendri terus memandang kearah kamar mandi dimana masih terdengar suara Linda menangis kencang
Berkali-kali dia menghembus nafas panjang dengan kebingungan, berharap jika Linda segera keluar dari dalam kamar mandi
"Matilah kalian semua yang jahat sama aku, aku berdoa semoga kalian memakan karma perbuatan kalian..!!!"
Hendri masih tak bereaksi mendengar sumpah serapah Linda, yang dia harapkan adalah wanita itu keluar dari dalam kamar mandi
Jam kian berputar dan menunjukkan lebih pukul delapan pagi. Hendri masih duduk di tempatnya dengan tak tenang
Telah berulang kali dia bangkit dan berjalan mondar mandir sambil memandang kearah kamar mandi, berharap jika pintu itu akan terbuka
Hingga nyaris angka jam menyentuh angka sembilan tapi tanda-tanda Linda keluar dari kamar mandi belum juga kelihatan
Sudah tak terdengar lagi suara teriakan histeris dan tangisan kencang dari dalam, dan hal itu makin membuat Hendri khawatir
Dengan ragu didekatinya pintu kamar mandi dan menempelkan telinganya kesana
Didengarnya suara isakan, dan dia menarik nafas panjang. Dengan ragu diketuknya pintu kamar mandi
"Lin...?, Linda...?"
Aku bergeming, sedikitpun aku tak berniat menjawab panggilan Hendri, aku terus saja terisak
Hendri mengulangi lagi panggilannya, dan kali ini dengan ketukan yang lumayan kencang
"Buka Lin, kamu sudah terlalu lama di sana"
Aku menoleh kearah pintu dengan wajah marah
"Terserah, mau lama mau seharian apa perduli kamu" gerutuku pelan
Karena masih tak mendapatkan jawaban Hendri kembali mengetuk
"Lin?"
Hendri menarik nafas panjang dan meninggalkan depan pintu kamar mandi karena hpnya berdering
"Ya Marko?"
"Bos tidak kekantor apa?"
Hendri menarik nafas berat, dan Marko mendengar jelas suara tarikan nafas beratnya
"Tenang bos, semuanya biar saya yang handle, bos istirahat saja"
Hendri hanya diam tak menjawab ucapan Marko melainkan memutus obrolan
Dan kembali berdiri di depan pintu kamar mandi
"Lin?
Aku masih bergeming dengan wajah yang ku tekuk
"Linda buka, jika tidak pintu ini aku dobrak!!!"
__ADS_1
Kesabaran Hendri habis yang akhirnya membuatnya kembali tersulut emosi
"Terserah mau kamu dobrak, mau kamu hancurkan aku tak perduli!!!"
Tangan Hendri terkepal, dan dia mendengus kesal, karena Linda kembali memancing emosinya
Dengan kesal di gedornya pintu kamar mandi dengan kencang bahkan hingga ditendangnya
Aku yang terduduk di lantai kamar mandi mau tak mau akhirnya bangkit dengan menghentak-hentakkan kakiku
"Mau apa?, mau bunuh aku?, Nih bunuhhhhh...!!!!"
Kuambil tangan Hendri dan ku letakkan di leherku
"Ayo bunuh aku!!!"
Hendri menarik tangannya dari leherku lalu pergi kembali duduk di sofa
Bajuku yang basah akibat lantai kamar mandi yang basah tak ku hiraukan. Aku terduduk kembali di lantai dan kembali menangis
"Bukannya terima kasih karena dipanggilkan dokter malah marah-marah, dasar tak punya hati" isak ku
Hendri masih saja diam mendengar ku menggerutu sambil menangis
Seperti teringat sesuatu aku segera bangkit lalu mengambil hp yang ku letakkan di atas meja hias lalu berjalan cepat kearah Hendri
"Ini ambil hp kamu, aku tidak butuh benda itu"
Habis berkata seperti itu aku langsung membuka lemari dan mengambil cincinnya yang kemarin ketinggalan
Hendri menatap cincin pemberian kakek buyutnya dengan kaget, lalu dia memandang kearah Linda yang sudah kembali ke tepi ranjang
"Dari mana kamu dapatkan cincin ini?"
Aku menoleh kearah Hendri dan mengusap kasar wajahku
"Aku tidak mencurinya, cincin itu aku temukan di bawah bantal ketika kamu tidur siang kemarin" jawabku ketus
Setelah itu kembali aku melengos dan menutup kembali wajahku
Hendri segera memasangkan cincin tersebut kejarinya dan mengusapnya sambil terus memandangi cincin itu tanpa memperdulikan Linda lagi
...----------------...
Nia duduk dengan gelisah di rumah, berkali-kali dia menelepon Hendri tetapi tak juga diangkat oleh lelaki itu
Panggilannya selalu dialihkan. Nia hanya menarik nafas panjang dan hanya bisa menyusut air matanya
Ketiga anaknya tadi pagi ketika berpamitan dengannya hanya tertegun ketika mereka melihat mata sembab sang mami
Khayla dan Mutiara yang sudah besar faham jika telah terjadi keributan antara kedua orang tua mereka
Ketika mereka masuk keruang kerja papi mereka, mereka tak menemukan adanya papi mereka di sana
Kembali wajah ketiganya berubah mendung dan tampak sekali kekecewaan di sana
__ADS_1
Diperjalanan menuju sekolah ketiganya lebih banyak diam dan hanya saling peluk ketika berpisah di sekolah masing-masing
Alika yang sekolahnya paling jauh, ketika kedua kakaknya telah turun segera menelepon papinya tapi tak aktif
"Papi kok nggak aktif ya pak?"
Pak Paino supir pribadi mereka hanya tersenyum
"Mungkin tuan sedang sibuk nduk"
Alika hanya menarik nafas panjang dengan wajah yang menyiratkan kekecewaan
Sedangkan di rumah kembali Nia mencoba menghubungi Hendri tetapi panggilan darinya masih saja dialihkan
Dengan takut dia mengirimi Hendri pesan yang sangat panjang. Berisi tentang permintaan maafnya dan khilaf nya..
Dan berjanji tak akan pernah mengulanginya lagi. Tapi pesan yang dikirimnya hanya terkirim tanpa di baca oleh Hendri
Dan kembali Nia harus menelan kecewa dan hanya bisa menangis, menyesali kecerobohannya
"Kenapa juga aku harus mabuk" sesalnya
Kembali terlintas di kepalanya bagaimana dia dan teman-teman sosialitanya kemarin malam berpesta hingga pagi hari
Dan dia tak sadar bagaimana dia bisa tidur di kamar hotel berdua dengan brondong selingkuhannya. Ketika dia sadar yang dia ingat adalah kepalanya sangat pusing dan dia minta diantar pulang
Setelah itu dia tak sadar bagaimana tahu-tahu dia sudah berada di dalam kamar di rumahnya
Terlebih ketika dia tahu dari asisten rumah tangga jika Hendri berteriak kencang membangunkannya
Sejak itulah dia sudah merasa bahwa kali ini perbuatannya selama ini bakal ketahuan dengan suaminya
Dan parahnya lagi, kekasih brondongnya malah menelepon dan dia lupa memberitahu brondongnya untuk tidak menghubunginya dulu
Kembali Nia hanya bisa menarik nafas panjang dan terus berusaha menghubungi Hendri
Sementara di hotel Hendri hanya memandang kearah Linda yang masih saja terisak
Karena dilihatnya jika baju wanita itu basah dengan segera Hendri bangkit dan berjalan menuju lemari, mengambilkan wanita itu baju
"Gantilah baju mu!"
Aku hanya mengambil baju yang dilempar Hendri ke atas ranjang dan meletakkannya di pangkuanku
"Apa mau aku yang membuka bajumu?"
Aku secepat kilat berdiri begitu mendengar kalimat itu meluncur dari mulut Hendri
Masuk kedalam kamar mandi dan berganti baju di sana. Setelah selesai aku kembali keluar dan menarik sebuah kursi lalu duduk di tepi jendela
Sesekali aku menyusut mataku dan menghembus nafas panjang. Betapa saat ini aku sangat merindukan ketiga anakku dan aku sangat membutuhkan mereka
Ku naikkan kedua kakiku ke kursi lalu aku memeluk kedua kakiku dan menenggelamkan wajahku di atas lutut
Dapat Hendri lihat jika bahu wanita itu berguncang dan kembali Hendri harus menarik nafas berat melihatnya
__ADS_1