Jacob And Alesha: Mafia Acted

Jacob And Alesha: Mafia Acted
Prolog


__ADS_3

Beberapa hari sebelumnya.......


Pukul 07.00 malam waktu Selandia Baru.


Di dalam sebuah ruangan bernuansa abu-abu, dan dingin dengan cahaya lampu yang relatif redup, ada sekitar lima orang yang tengah sibuk berkutik dengan komputer.


"Bagaimana bisa WOSA diserang kembali?" Gema suara yang menyentak dalam ruangan itu.


"Mr. Frank, kami sudah menemukan siapa dalang dibalik penyerangan WOSA. Eve, baru saja melumpuhkan beberapa orang, dan mendapatkan informasi penting seputar kelompok mafia-mafia itu," Ucap salah seorang pria.


"Apa?" Tanya Mr. Frank.


"Mereka mencoba untuk mencuri sampel virus, dan tumbuhan langka yang ada di dalam laboratorium WOSA, dan lebih parahnya lagi, kelompok mafia itu memiliki jumlah anggota yang sangat banyak, dan tersebar disetiap negara."


"SHIT!!" Umpat Mr. Frank.


"Mereka membentuk sebuah klan tersembunyi di Indonesia, dan mereka berniat untuk menyerang kantor SIO yang berada di Bandung."


"Kirim Levin ke sana! Suruh dia untuk berjaga, dan bawa lima puluh agen terbaik SIO!!" Perintah Mr. Frank dengan tegas. "Beritahu Thomson kalau SIO akan mengirim dua puluh orang untuk berjaga-jaga, dan katakan pada Eve kalau dia yang bertanggung jawab untuk memimpin pasukan SIO apabila kelompok mafia sialan itu kembali menyerang!"


Mr. Frank menghembuskan napasnya yang terasa berat. Kepalanya benar-benar pusing, setelah dua tahun WOSA aman dari serangan, dan kini ada kelompok mafia yang mencoba untuk mencuri sampel-sampel lagi? Itu tidak bisa dibiarkan, tidak ada yang boleh menyalahgunakan sampel milik SIO.


"Seandainya masih ada Jacob...." Lirih Mr. Frank sembari memijiti keningnya.


"Mr. Frank, kami mendapat informasi kalau beberapa hari ini ada tiga orang yang diam-diam memata-matai kantor SIO di Bandung, dan di Australia," Ucap seorang pria yang baru saja tiba di ruangan tersebut.


"Cari tahu tujuan mereka! Perketat pengamanan, dan oh ya suruh Brandon, dan mantan anggota kelompoknya untuk ikut bersama Levin mengamankan kantor SIO yang berada di Bandung!"


"Baik, Mr. Frank."


......****......


Di lain tempat, tepatnya disebuah mansion besar yang merupakan rumah bagi keluarga kecil Levin berada, beberapa orang yang merupakan para agent SIO pun telah berkumpul.

__ADS_1


"Tunggu, aku masih bingung, sebenarnya siapa kelompok mafia itu? Dan apa tujuannya mencuri sampel virus, dan salah satu tumbuhan langka yang ada di WOSA?" Tanya Levin.


"Mr. Frank masih mencaritahunya, Eve juga sudah berhasil menahan beberapa orang dari kelompok mafia itu di WOSA," Jawab salah seorang pria.


Sejenak suasana pun berubah hening.


Levin, dan teman-temannya sibuk dengan pikiran masing-masing. Mereka bertanya, dan menebak-nebak, apa motif sesungguhnya kelompok mafia itu menyerang WOSA, dan berusaha untuk mencuri sampel virus juga tumbuhan langka yang berada dalam laboratorium sekolah tersembunyi itu.


"Lev, SIO memberikan perintah padamu," Ucap seorang pria yang memecah keheningan sembari menatap pada layar ponselnya.


"Apa?" Tanya Levin.


"Kau diberi tugas untuk memimpin tim yang akan SIO kirim ke Bandung, Indonesia untuk berjaga-jaga. Kelompok mafia itu memiliki jumlah anggota yang banyak dan tersebar dibeberapa negara, salah satunya Indonesia."


"Kelompok mafia?"


Levin, dan beberapa agent SIO itu terkejut ketika tiba-tiba saja mereka mendengar suara seorang wanita.


"Tessa?" Levin segera menghampiri istrinya.


Sebenarnya, sejak beberapa bulan lalu Tesaa sudah memaksa Levin untuk keluar dari SIO, alasannya adalah karna Tessa tidak mau Levin terus berkecimpung dalam dunia kejahatan, dan kriminalitas, meski pekerjaan, dan tugas Levin adalah memberantas kejahatan itu sendiri.


"Tessa, dengarkan aku dulu, aku mohon," Levin menggenggam kedua bahu istrinya.


"Apa maksudnya? Kau masih bekerja di SIO?" Tessa semakin menuntut Levin dengan pertanyaannya.


"Tessa, aku mohon aku tidak bisa melepas tanggung jawabku begitu saja," Levin berusaha untuk menenangkan istrinya.


"Tidak! Kau bilang kau sudah keluar dari SIO, dan tidak akan bekerja sebagai agent intelegent lagi!" Pekik Tessa. "Kau tidak menyayangiku, dan anakmu, Levin," Lirih Tessa sembari menggelengkan kepalanya. "Kau berbohong, kau bilang kau sudah tidak bekerja di SIO lagi!" Tessa melangkah mundur. Raut kecewanya tertera jelas hingga membuat Levin panik karna bingung bagaimana cara ia menjelaskan yang sejujurnya pada Tessa.


"Tidak! Tessa, dengarkan aku dulu..." Levin bergerak menghampiri istrinya.


"Urus saja pekerjaanmu, tidak usah perdulikan aku, dan anakmu," Tessa yang sudah terlanjur kecewa pun akhirnya pergi meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


"Argh!!" Levin menghempaskan lengannya dengan kasar. Ia harus bagaimana sekarang? Tessa tidak mengizinkannya untuk bekerja sebagai agent intelegent SIO lagi, tapi disisi lain ia juga memiliki tanggung jawab untuk menuntaskan pekerjaan, dan kewajibannya sebagai pegawai SIO, dan memberantas tikus-tikus dunia itu.


"Tessa......" Levin pun membalikkan tubuhnya lalu berlari mengejar istrinya.


"Tessa, tunggu aku mohon dengarkan aku dulu...."


"Sayang......"


Seketika, Tessa menghentikan langkahnya ketika mendengar panggilan 'Sayang' yang suaminya berikan. Entah kenapa Tessa selalu luluh jika Levin sudah menggunakan panggilan itu. Pasalnya, Levin adalah tipe pria yang cuek, dan tidak terlalu romantis, maka dari itu Tessa akan sangat bahagia apabila Levin sudah memanggilnya dengan sebutan 'Sayang'.


Tapi meski begitu, tetap saja raut wajah Tessa masih dirundung oleh kekecewaan juga kesedihan. Sejujurnya ia takut, ia tidak ingin kehilangan suaminya, ia tahu risiko pekerjaan suaminya apa saja, maka dari itu ia memaksa suaminya, Levin untuk keluar dari SIO.


"Tessa, aku mohon biarkan aku menjalankan tugasku," Levin menggenggam erat kedua tangan istrinya. "Aku berjanji aku akan pulang, dan aku akan baik-baik saja. Tidak akan terjadinya sesuatu yang buruk padaku, Tessa," Ucap Levin penuh keyakinan.


"Siapa yang akan menjamin kalau kau akan kembali pulang dengan keadaan baik-baik saja?" Tanya Tessa.


"Tessa, kau tahukan siapa aku? Siapa saja yang sudah aku habisi, dan alasan kenapa SIO selalu menyuruhku untuk memimpin pasukan jika akan menyerang suatu kelompok musuh? Aku bisa Tessa, aku sudah biasa menghadapi bahaya, dan risiko besar. Aku akan baik-baik saja," Levin terus meyakinkan istrinya jika ia akan baik-baik saja.


Namun yang namanya seorang istri, tentu saja Tessa mengkhawatirkan keselamatan suaminya, belum lagi mereka juga memiliki anak yang masih berusia enam bulan. Tessa tidak mau menyandang status sebagai janda muda, ia juga tidak mau anaknya menjadi seorang yatim. Maka dari itu sejak beberapa bulan lalu Tessa selalu memaksa Levin untuk keluar dari SIO.


"Tolong izinkan aku, Tessa..." Levin benar-benar memohon saat ini.


"Permisi, Nyonya," Ucap seorang baby sitter. "Tuan muda Nicholas menangis sejak tadi."


Mendengar itu, Tessa pun melirik pada suaminya. "Terserah," Tessa berucap dingin. Lalu ia pun pergi meninggalkan suaminya, Levin dengan perasaan marah, kesal, dan pastinya kecewa.


*


*


*


...****************...

__ADS_1


Holla, author udah lanjut nih ceritanya, semoga kalian bisa suka yaπŸ™πŸ™πŸ˜πŸ˜ and happy reading guys 😊😊


__ADS_2